G:0

G:0
KATA-KATA DAN YOYO



Satu tahun yang lalu


 “GRAFIT! APA YANG KAU LAKUKAN!?”


Tak ada lagi yang terkejut mendengar teriakan itu karena hampir setiap hari mereka mendengarnya. Bahkan teriakan itu sudah menjadi salah satu identitas pabrik ini. Berbeda dengan ketika pertama kali mereka mendengarnya, seperti mendengar gemuruh petir. Bahkan Mbah Inem, karyawan tertua pabrik itu, hampir pingsan karena jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.


“Apa yang kau lakukan kali ini, Grafit? Bukankah ini masih terlalu pagi untuk membuat Patricia semarah itu?” tanya Bibi Ratna.


“Tidak terlalu pagi jika dia melakukan kejahatannya kemarin,” tukas Bibi Putri. “Dia meminta bagian percetakan untuk mengubah salah satu desain bongkar pasang. Wajah gambar anak perempuannya diganti dengan wajah Patricia. Katanya biar lebih cantik. Dan kalian tahu? Bongkar pasang itu sudah dicetak sekitar lima ratus lembar.”


Semua karyawan geleng kepala mendengar tingkah Grafit. Memang, Grafit kerap kali melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang telah diperintahkan. Misalnya saja gasing yang ia buat menjadi bentuk penari balet karena Grafit pernah melihat foto Patricia kecil sedang menari balet yang terpajang di kantornya. Atau kapal Otok-Otok yang biasanya didesain mirip kapal perang, ia ubah menjadi kapal bajak laut dan kepala mirip Patricia dengan dandanan ala Jack Sparrow menggantikan kepala tentara. Dan masih banyak lagi mainan yang temanya diubah menjadi berkaitan dengan Patricia.


“Mana anak itu? Mana dia!?” tanya Patricia dengan nada dan wajah marah. Di tangannya ada selembar mainan bongkar pasang. Para karyawan hanya mengangkat bahu mereka, mengisyaratkan kalau mereka tidak memiliki jawaban yang diminta oleh bos mereka. “Pasti Mbah Inem yang menyembunyikannya. Kalian terlalu memanjakan dia sehingga makin hari tingkahnya makin aneh!”


Memang, kelakuan Grafit bisa dibilang sering melewati batas. Tapi tak ada satu karyawan pun yang keberatan dengan tingkahnya. Sejak ia menjadi bagian dari mereka, Grafit selalu memberikan keceriaan di pabrik. Kepolosan dan kebaikan hatinya mampu mencuri hati mereka dengan cepat. Selain itu, sejak kedatangan Grafit, tak ada anak buah bos Kura-Kura yang berani datang untuk mengganggu mereka. Sepertinya Grafit pernah melakukan sesuatu pada mereka.


Sebenarnya Patricia bukanlah wanita yang kasar. Ia selalu memperhatikan para karyawannya dengan sangat baik dan penuh rasa hormat. Bahkan pada Grafit yang sering membuatnya marah juga. Di balik kegalakannya itu, ia sangat perhatian pada Grafit. Ia juga sering mengajak Grafit untuk menemaninya ke suatu tempat seperti mengantar pesanan, survey bahan baku atau pada saat mengajukan pinjaman ke bank. Ia masih sedikit trauma pergi ke tempat itu sejak perampokan dulu.


Hari itu, setelah masalah tentang mainan bongkar pasang selesai, Patricia mengajak Grafit pergi mengunjungi suatu tempat. Dengan vespa bututnya, Patricia membawa membawa mereka berdua ke daerah yang cukup jauh dari pabrik, sekitar tiga puluh menit perjalanan. Mereka menelusuri daerah perbukitan yang sudah berada di luar kota. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah pemakaman. Patricia memarkirkan motornya, sementara Grafit turun dari motor dengan wajah bingung.


“Tempat apa ini, Bos?” tanya Grafit yang baru pertama kali melihat tempat seperti itu.


“Kau tidak pernah melihat area pemakaman?” Grafit menggelengkan kepalanya. “Oke, ini adalah tempat kita menguburkan orang-orang yang telah meninggal.”


“Oh, iya.”


Setelah tahu Grafit telah mengerti, Patricia meneruskan perjalanannya masuk ke area pemakaman. Grafit mengikutinya dari belakang tanpa bertanya lagi. Setelah berjalan beberapa langkah, Patricia berhenti di depan sebuah makam. Grafit membaca tulisan yang ada di nisannya: FREDERICK WIJAYA. Nama belakangnya sama dengan yang dimiliki bosnya.


Kemudian Patricia jongkok dan tangannya mulai mencabuti rumput-rumput kecil yang mulai tumbuh di sekitar makam. Grafit yang tidak tahu harus berbuat apa ikut mencabuti rumput.


“Papa, kemarin aku mendapat uang. Cukup untuk membayar seluruh utang kita dan mengembangkan pabrik kita. Jadi, Papa tidak perlu khawatir lagi padaku.”


Grafit semakin bingung dengan apa yang dilakukan Patricia. Ia pun mendekatkan wajahnya ke arah bosnya lalu berbisik, “Kenapa mereka berbicara dengan makam? Apakah orang yang di dalam tanah ini mendengarnya?”


Patricia tertawa kecil karena kepolosan pegawainya itu. “Tentu saja tidak. Aku hanya ingin mengatakan apa yang tak sempat kukatakan pada papaku.”


“Untuk apa? Bukankah ia tidak mendengarnya?”


“Memang benar.” Kini giliran Patricia yang bingung. Ia harus memilih kata yang tepat agar jawabannya tidak menimbulkan pertanyaan yang lain lagi. “Terkadang kata-kata itu seperti sebuah yoyo. Kita melemparnya meski tahu akan kembali pada kita. Karena hanya dengan cara demikian ia bisa menghibur kita.”


“Lain kali, jika ada kata yang ingin Bos dengar, berikan saja padaku. Dengan senang hati akan kukatakan untuk Bos.”


Patricia sempat melongo karena tak mengira pria yang selama ini ia kenal lugu dan menyebalkan mengatakan hal semanis dan sedalam itu padanya. Tawaran itu memang sederhana, tapi sangat bermakna bagi Patricia.


*          *         *


Jantung Grafit berdetak lebih kencang. Sosok yang tak terduga muncul di hadapannya. Wanita itu yang pernah memenuhi hatinya dengan cinta, bahkan sebelum mereka bertemu. Wanita itu juga yang pernah membuat hatinya hancur meski ia tak melakukan kesalahan apa pun. Wanita itu yang sekarang dicurigai sebagai salah satu musuhnya.


“Bo, Bos Patricia.”


Wanita itu menaikkan alis dan membelalakkan matanya karena terkejut. Ia tak menyangka ada yang memanggilnya seperti itu setelah sekian lama.


“Maaf, Anda siapa, ya? Apakah mantan pegawai pabrik ini?”


Grafit sadar jika seharusnya ia tak ada lagi di ingatan Patricia. Ia tak mungkin memperkenalkan dirinya sebagai Grafit, mantan karyawan yang dulu selalu membuatnya marah. 


“Sa, saya Tristan, cucu dari mendiang Mbah Inem yang dulu pernah bekerja di sini. Ketika kecil, beliau pernah membawa saya ke tempat ini. Kebetulan saya lewat sini, lalu terpikir untuk mampir sebentar dan kembali mengenang masa-masa itu. Beliau juga sering menyebut nama ‘Bos Patricia’, jadi saya pikir itu adalah Anda.”


Grafit terkejut dengan kemampuan berbohongnya yang meningkat pesat. Clara dan Jonathan melatihnya dengan sangat baik.


“Pantas saja wajah Anda seperti familiar di ingatan saya. Ternyata cucunya Mbah Inem. Ya, sepertinya Anda mirip dengan mendiang.”


Patricia tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Grafit pun segera menyambutnya. Karena tidak yakin ia bisa berbohong lebih banyak lagi, Grafit pun pamit.


“Sekali lagi, saya minta maaf karena masuk tanpa izin.”


“Tidak apa-apa. Saya paham dengan alasan Anda masuk ke sini. Tempat ini memang penuh dengan kenangan. Bahkan saya sering membayangkan tempat ini seperti dulu.”


“Kalau begitu, saya permisi.”


Grafit berjalan menuju pintu keluar. Meski tak melihat, ia tahu Patricia masih mengawasinya. Tiba-tiba Patricia memanggil nama Tristan dan langkah Grafit terhenti. Ia pun menoleh ke belakang.


“Mumpung di sini, bagaimana kalau kita minum kopi sejenak? Saya ingin tahu apa saja yang Mbah Inem ceritakan tentang saya.”


Grafit benar-benar syok. Ia termangu beberapa detik sebelum sebuah senyum mengembang di wajahnya.