
Belasan tahun yang lalu
Tidak ada di sekolah ini yang tidak mengenal Jonathan. Sudah beberapa minggu belakangan namanya menjadi perbincangan karena berhasil menjuarai olimpiade matematika tingkat SMP, padahal dia masih kelas lima SD.
Kabar tentang kejeniusannya menyebar cepat. Banyak awak media yang meliput dan mewawancarainya. Hal ini berdampak juga pada sekolahnya. Sudah beberapa kali SD Pelopor Bangsa masuk televisi. Pak Sardi, kepala sekolah yang memiliki jasa besar atas publisitas kejeniusan Jonathan, selalu tampil dominan dalam euforia ini.
Jonathan sadar telah menjadi pusat perhatian dan mendapatkan banyak pujian. Tanpa ia sadari, sifatnya mulai angkuh dan seringkali meremehkan kemampuan teman-teman sebayanya. Tak heran jika tak ada yang mau bergaul dengannya. Tapi ia tak peduli. Yang ada di pikirannya hanya belajar dan belajar.
Suatu hari, Jonathan melihat dua orang siswa sekelasnya sedang merokok di halaman belakang sekolah. Bukan hanya dia, adiknya Joice dan Clara yang dua tingkat di bawahnya juga melihat.
Clara yang memiliki rasa keadilan yang tinggi sejak kecil memaksa Jonathan sebagai kakak kelas untuk mengadukannya pada bu Susi, wali kelas Jonathan dan komplotan perokok itu. Tapi Jonathan menolak. Sudah cukup baginya tidak memiliki teman karena kejeniusannya. Ia tidak ingin menciptakan musuh karena menjadi pengadu.
Jonathan berpikir keputusannya itu tepat. Ia memilih untuk tak acuh agar tidak ada yang berubah. Ia sudah cukup puas dengan kondisinya sekarang. Tapi sayangnya, keputusannya itu justru mengubah banyak hal.
Keesokan harinya, tersiar kabar pak Jasper, guru olahraga yang terkenal kasar, memukul dua orang siswa yang kedapatan merokok di halaman belakang. Siswa yang dilihat Jonathan kemarin. Akibat pemukulan tersebut, kedua siswa itu harus dilarikan ke rumah sakit.
Sialnya, kejadian itu tercium oleh beberapa wartawan yang datang dengan tujuan meliput Jonathan. Dan tak terelakkan lagi, pemberitaan tentang SD Pelopor Bangsa yang sebelumnya harum berubah menjadi busuk. Berita tentang pemukulan itu pun merembet ke banyak hal yang berujung pada dugaan kepala sekolah yang menyelewengkan beberapa bantuan untuk kepentingan pribadinya.
Jonathan merasa bersalah karena seandainya kemarin ia melapor pada bu Susi, mungkin kedua anak itu hanya diberikan peringatan. Ia telah mengambil keputusan yang buruk.
Akibat pemberitaan negatif tentang sekolah mereka telah tersebar, banyak lomba yang seharusnya diikuti oleh Jonathan batal. Orang tuanya pun memindahkannya ke sekolah lain agar bisa kembali berkompetisi. Sayangnya, kejadian tadi mengganggu mental Jonathan dan ia sering ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Tak berapa lama, prestasi Jonathan menukik tajam dan perlahan keistimewaannya mulai dilupakan. Ia pun menjadi anak yang biasa.
Sejak itu, kehidupannya berubah dan ia hidup seperti seorang pecundang.
* * *
Sudah hampir setengah jam G:0 bertarung tanpa kekuatan supernya melawan sekitar tujuh sampai sepuluh orang bersenjata. Memang, ia berhasil menumbangkan tiga di antaranya. Tapi sekarang tenaganya sudah mulai terkuras dan gerakannya melambat. Hingga akhirnya sebuah pukulan dari tongkat baseball mengenai pundak kanannya.
"Argh, sepertinya kekebalanku juga hilang."
"G:0, bertahanlah sebentar lagi. Aku akan memanggil Clara."
"Jangan, itu takkan sempat dan aku membutuhkanmu untuk memberikan perintah untuk apa yang harus kulakukan. Aku tak bisa melihat mereka secara jelas."
Jonathan benar-benar panik. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Sementara itu G:0 kembali menerima serangan. Pergelangan tangan kirinya menangkis pukulan dari pemimpin komplotan itu.
"Jonathan, aku percaya padamu. Clara memang hebat dan selalu menemukan solusi dari setiap masalah kita, tapi bukan berarti kau tidak bisa sepertinya. Kau hanya sering ragu dan takut melakukan kesalahan. Ingat, kesalahan di masa lalu bisa membentuk dirimu yang sekarang, baik menjadi pecundang atau menjadi orang yang lebih bijaksana."
Setelah mengatakan itu, G:0 menghindari tikaman salah satu lawannya lalu berbalik menghajar. Ia mulai menyadari mereka sudah berganti senjata, dari benda tumpul ke benda tajam.
Jonathan berusaha menenangkan dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan. Seperti kata G:0 masalahnya bukan karena ia bodoh dalam mengambil keputusan, tapi karena ia langsung berpikir kalau keputusan yang ingin ia ambil adalah salah. Kemudian ia mulai berpikir.
"Jonathan! Kau masih di sana? Apakah kau tertidur? Tolong aku!"
Tiba-tiba Jonathan menegakkan kepalanya dengan wajah gembira. "G:0, aku punya ide."
"Bagus untuk kita. Sekarang katakan apa idemu."
Lalu Jonathan memberi instruksi kepada G:0 untuk mencari sebuah ruangan di rumah itu. Ruangan yang pasti dimiliki semua rumah.
G:0 menghindar sambil membuka setiap pintu yang ada di sana. Kemudian ia menemukan ruangan yang Jonathan maksud.
"Aku sudah di kamar mandi. Pintunya sudah kukunci. Tapi sepertinya kapak mereka sudah mulai menembus pintunya."
"Apakah di sana ada air? Terserah mau shower, keran atau bak mandi."
"Ada."
G:0 mulai mengerti maksud Jonathan. Ia pun melakukan apa yang Jonathan suruh. Pintu sudah mulai jebol dan para penjahat itu berhasil masuk. Mereka tersenyum dengan napas tersengal-sengal karena berpikir musuh mereka telah terpojok.
Tapi mereka terkejut karena G:0 juga tersenyum di tengah aliran air yang menyembur dari shower.
"Merindukanku?"
Para penjahat itu merinding mendengar pertanyaan G:0 yang bercampur dengan tawa cekikikan. Salah satu dari mereka yang memegang kapak mulai menyerang dengan mendaratkan senjatanya ke arah G:0. Tapi benda itu tidak mampu melukai tubuh pahlawan super itu, bahkan sampai patah.
Butuh waktu beberapa detik untuk mereka menyadari bahwa kekuatan super G:0 sudah kembali. Tapi terlambat bagi mereka.
G:0 melempar tubuh si pemilik kapak ke langit-langit dan menghilangkan gravitasi di tubuhnya. Sedangkan yang lain berlari menjauhi kamar mandi. G:0 melempar lemari ke arah tiga di antara mereka lalu menjatuhkan lampu gantung untuk melumpuhkan dua di antaranya.
Sisa tiga orang termasuk si pemimpin. G:0 meningkatkan gravitasi di tubuh salah satunya dan satunya lagi ia buat melayang-layang.
"Mau ke mana?" tanya G:0 pada si pemimpin yang sudah terpojok di sudut ruangan. "Jadilah pria dan selesaikan apa yang kau mulai."
Tubuh si pemimpin komplotan itu gemetar karena ketakutan. Berkali-kali ia memohon ampun hingga sujud, namun tak dihiraukan. G:0 mengangkat tubuhnya lalu menyangkutkannya di lampu gantung yang tersisa.
"Misyen kompleth."
Jonathan bersorak senang hingga ia melonjak kegirangan. Ia memerintahkan G:0 untuk kembali ke markas. Akhirnya, ia berhasil membuat keputusan hebat yang telah mengeluarkan G:0 dari masalah besar.
"Sudah kubilang, kau selalu bisa diandalkan," puji G:0 yang ikut senang mendengar sorakan Jonathan.
* * *
Clara duduk berhadapan dengan Rian, pria yang semakin hari semakin ia benci. Ia sudah bertekad untuk mengakhiri hubungan mereka, apapun status hubungan mereka, hari ini. Ia sudah menyusun rencana yang matang untuk menjalankan misinya itu.
Beberapa kali Rian menatap wajahnya sambil menyantap makanan. Mereka kembali berkencan di restoran mahal karena Rian berpikir Clara pergi dari kencan mereka yang terakhir karena ia tidak suka makan makanan di tempat kecil dan tidak higienis.
Di kencan itu, seperti biasa, Rian yang lebih banyak bersuara. Ia menceritakan banyak hal, yang hampir semua tidak dianggap penting oleh Clara. Sebenarnya wanita itu ingin segera pergi dari sana, tapi ia selalu meyakinkan dirinya untuk bertahan.
"Aku permisi sebentar."
Seperti di kencan sebelumnya, Rian pamit ke toilet setelah selesai menghabiskan makanannya. Ia berjalan menuju toilet restoran dengan hati bahagia. Wajar saja, melihat bagaimana Clara meninggalkannya begitu saja di kencan terakhir mereka, Rian berpikir hubungan mereka akan berakhir.
Rian menatap dinding di atas urinoir sambil membayangkan wajah Clara. Sangat cantik. Tanpa diduga, pikirannya sudah memvisualisasikan hubungan mereka di masa depan. Mulai dari kencan-kencan mesra, memperkenalkan Clara ke keluarganya, hingga duduk berdampingan bersama wanita itu di pelaminan.
Tiba-tiba seseorang masuk ke toilet dan segera berdiri di depan urinoir yang ada di sebelah Rian. Semua orang yang ada di sana memperhatikan karena pakaiannya sangat feminin. Tapi di antara mereka, Rian yang paling terkejut. Pakaian itu sangat mirip dengan yang dikenakan oleh Clara tadi. Ia memperhatikan wajah orang itu. Meski menggunakan masker, ia sangat yakin itu adalah Clara.
Orang yang dianggap Clara itu membuka resleting celananya. Rian terkejut dan langsung buang muka. Tapi rasa penasaran memaksa kepalanya untuk kembali memutar untuk memastikan sesuatu.
Rian menjerit. Ia langsung menyelesaikan prosesi buang air kecilnya lalu segera berlari keluar toilet.
Beberapa saat kemudian, Clara sudah menunggu di depan restoran. Ia melihat Rian yang terbirit-birit menuju parkiran mobil. Lalu ia melihat seseorang keluar dari restoran menggunakan pakaian yang mirip dengan yang ia kenakan. Orang yang dilihat Rian di toilet tadi.
"Bagus. Dia sudah lari ketakutan. Aku yakin dia takkan menghubungiku lagi," kata Clara.
Orang itu membuka masker dan rambut palsunya. Ternyata Jonathan.
"Aku ingin segera mandi kembang agar tidak mengalami kesialan," gerutu Jonathan.
"Jangan protes. Siapa suruh kau menerima taruhan itu?"
Clara pergi meninggalkan Jonathan. Pria itu memang kesal, tapi di dalam hatinya ada sukacita yang luar biasa. Ia telah berhasil mengakhiri hubungan romantis antara Clara dan polisi menyebalkan itu.