G:0

G:0
YANG TAK TERSENTUH



G:0 sudah tak bisa menyangkal lagi. Saat ini tubuhnya sudah hampir mencapai titik lelah. Kakinya sudah mulai gemetar dan pandangannya perlahan mengabur. Keringat mengucur deras dari pori-pori kulitnya. Napasnya juga sudah tersengal-sengal. Hanya semangat dari amarahnya yang masih menyala, selebihnya sudah tak mampu bergerak dengan baik lagi.


Sementara dirinya sudah kehabisan tenaga, Sang Pendongeng terlihat masih bugar. Dari ratusan percobaan serangan G:0, tak satu pun yang berhasil menyentuhnya. Sedangkan ia sendiri selalu berhasil menyerang G:0. Ia memang benar-benar seperti hantu. 


“Dalam setiap dongeng, hanya ada satu orang yang paling berkuasa. Ia bisa menentukan alur cerita, mengendalikan emosi penonton dan tentu saja yang paling tahu akan akhir cerita. Jika ia ingin berhenti, maka cerita akan berhenti. Jika ia ingin bermain-main dengan salah satu tokoh, maka ia akan memberikan konflik untuk tokoh itu. Tak ada yang bisa menyentuhnya. Ah, tak kusangka nama ini sangat hebat. Jauh lebih hebat dibandingkan dengan Rumpelstiltskin.”


G:0 sudah tidak mendengar lagi semua perkataan lawannya. Ia sedang mencoba mengembalikan kesadarannya yang sudah mulai hilang. Luka-luka akibat serangan Sang Pendongeng mulai terasa sakit. Ingin sekali rasanya ia berhenti, tapi ingatan akan Clara dan Jonathan menghentikan niatnya itu. Ia berusaha berdiri tegak sebagai bentuk pemberitahuan kalau pertarungan ini belum selesai.


“Dasar keras kepala,” kata Sang Pendongeng sambil bersembunyi di balik pohon. G:0 tahu kalau Sang Pendongeng akan menghilang dan muncul untuk menyerangnya entah dari mana.


Benar saja, tiba-tiba psikopat itu muncul di belakangnya dan menyerang rusuk G:0 hingga terdengar seperti suara benda yang patah. G:0 tersungkur dan berteriak kesakitan. Ia sudah tidak bisa lagi menahan sakit. Dan ternyata itu bukanlah serangan terakhir. Sang Pendongeng menggunakan kesempatan itu untuk kembali menyerang. Saat G:0 menoleh ke arahnya, ia sudah mengangkat tinjunya dan bersiap mendaratkannya ke wajah G:0.


Dengan sigap G:0 meraup dedaunan yang berguguran di tanah dan melemparkannya ke arah Sang Pendongeng lalu menaikkan gravitasinya sehingga menjadi sekokoh besi. Dedaunan itu menjadi seperti tameng baginya. Bukan hanya itu, ketika Sang Pendongeng mengembalikan kesadarannya karena terkejut dengan tameng dadakan itu, G:0 kembali menjatuhkan dedaunan yang masih ada di pohon tepat ke atas kepala Sang Pendongeng. Penjahat itu tak sempat menjauh dan hanya melindungi dirinya dengan jubah yang ia kenakan.


Itu adalah serangan pertama G:0 yang berhasil mengenai Sang Pendongeng, meski tidak terlalu memberi pengaruh. Sang Pendongeng masih bugar dan hanya sedikit terkejut. Terlihat jubahnya sedikit rusak. Sekilas G:0 menyadari ada aliran listrik yang bocor dari jubah itu.


“Sepertinya jubah itu yang membuatmu menghilang,” tebak G:0 yang membuat Sang Pendongeng sedikit terkejut. Saat ini jarak antara G:0 dan Sang Pendongeng sudah kembali merenggang.


“Wah, wah. Ketahuan juga.” Sang Pendongeng mengangkat ujung jubahnya seraya memamerkannya pada G:0. “Benar sekali, ini adalah jubah kamuflase. Pemberian dari Kraken. Sepertinya salah satu karya dari Geppetto.”


G:0 tidak menyangka akan mendengar nama Kraken dan Geppetto dari mulut Sang Pendongeng. Ia menebak pria itu tahu hubungannya dengan Geppetto alias Patricia dari Tarjo.


“Sepertinya Tarjo memberikanmu terlalu banyak informasi,” kata G:0.


“Tentu saja. Bahkan aku memilih tempat ini karena informasi yang diberikan olehnya.”


G:0 masih memikirkan maksud dari perkataan itu, sementara Sang Pendongeng kembali bergerak. Dalam waktu sepersekian detik, ia sudah berada di hadapan G:0 dan langsung memberikan serangan. G:0 yang belum siap tidak bisa melakukan apa-apa, termasuk melindungi dirinya. Ia seperti pasrah menerima pukulan dan tendangan dari Sang Pendongeng.


Namun akhirnya ia berhasil meraih jubah penjahat itu. Ia menariknya ke atas dan melepasnya sehingga tubuh pemakainya ikut terbang. Sang Pendongeng tahu kalau kondisi G:0 mulai membaik. Ia pun kembali memprovokasi.


“Sepertinya pertarungan kita harus selesai sampai di sini,” katanya yang membuat G:0 bingung. “Waktunya sudah habis. Penahan rantai itu sudah lepas dan sepertinya teman-temanmu telah tewas.”


Mendengar ucapan lawannya itu, G:0 mendadak pusing. Tubuhnya kembali lemas, pandangannya kembali kabur dan pendengarannya kembali menghilang. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena gagal menyelamatkan teman-temannya. Semua hasratnya untuk mengalahkan Sang Pendongeng langsung luruh. Ia membuka pertahanannya dan seakan menunjukkan sikap menyerah.


Sang Pendongeng tertawa. Ia pun tidak mau melepas kesempatan itu. Ia segera melancarkan serangan bertubi-tubi pada G:0. Pahlawan super itu benar-benar tidak memberi perlawanan. Ia pasrah saja menerima serangan-serangan itu.


“Sudah kukatakan, tak ada yang bisa menyentuh Sang Pendongeng. Aku yang menentukan jalannya cerita.”


G:0 sudah tergeletak di tanah. Di balik kostum itu, tubuhnya sudah mengeluarkan darah dari beberapa area. Di balik kostum itu, ada air mata yang mengalir dari matanya. Ia menangis karena kematian kedua sahabat baiknya. Ia menangis karena mengenang wajah-wajah mereka.


“Tenang saja, kau akan mati sebagai G:0. Aku takkan mendandanimu sebagai salah satu tokoh dongeng. Bagiku kau adalah dongeng tersendiri. Dongeng yang memiliki akhir tragis. Kuharap kau menerima kematianmu dengan tenang. Sampaikan salamku pada Hansel dan Gretel.”


Di tengah masa berkabungnya, tiba-tiba G:0 mendengar sebuah suara bising. Ia tidak tahu dari mana asal suara itu. Ia mencari ke sekelilingnya dan memperhatikan Sang Pendongeng. Sepertinya lawannya itu tidak mendengar. Lalu terdengar sebuah suara yang mengejutkannya.


[Halo! G:0! Grafit! Kau masih hidup?]


Air mata G:0 semakin mengalir deras. Ia sangat kenal suara itu. Ia sangat yakin kalau saat ini ia tidak sedang salah dengar. Dengan suara lirih, mulutnya berkata, “Non.”


Sang Pendongeng bingung dan berusaha memahami kata yang diucapkan G:0. Tanpa sadar ia menghentikan pukulannya dan menunggu kalimat yang akan G:0 ucapkan berikutnya. Bukannya mengucapkan sesuatu lagi, G:0 malah tiba-tiba menendangnya sehingga membuatnya mundur beberapa langkah. Ia benar-benar terkejut dengan perubahan lawannya itu.


“Bagaimana kalau kita atur kembali akhir ceritanya?”


G:0 memasang kuda-kudanya, membuat Sang Pendongeng mulai merasa cemas.


*          *         *


“Tolong! Tolong! Tuhan, tolong aku! Aku berjanji, jika aku selamat hari ini, aku akan segera meminta maaf pada kedua orang tuaku dan akan rajin beribadah. Aku akan lebih percaya padaMu daripada kata-kata Stephen Hawking. Aku akan berhenti, eh, mengurangi nonton film-film dewasa. Aku -”


“Berhentilah berjanji jika kau ragu bisa menepatinya.” Clara mengomentari rengekan Jonathan dari tempatnya. Tubuhnya seperti mengalami kelumpuhan dan ia hanya bisa melihat Jonathan yang bergantung di atas oven yang menyala sambil mengeluh.


“Bagaimana ini? Sampai sekarang G:0 belum menemukan kita. Aku punya firasat dia takkan bisa menemui kita.”


“Ya sudah kalau dia memang tidak bisa menemukan kita,” balas Clara santai, seakan nyawanya tak ikut terancam juga.


“Jangan bicara seperti itu. Mungkin kau sudah siap mati, tapi aku tidak. Masih banyak dosaku yang belum sempat kuperbaiki.”


“Termasuk koleksi film-film dewasa yang kau sembunyikan di kamarmu?”


“Jangan bercanda!”


Clara malah tertawa melihat sikap Jonathan yang mulai menggila sehingga tubuhnya yang tergantung itu mulai berputar-putar. Semakin lucu karena Jonathan mulai panik akibat putaran itu.


Tiba-tiba salah satu pintu di ruangan itu terbuka. Mereka sama-sama menatap ke arah pintu itu. Ada seseorang yang berkostum ketat dengan topeng di wajahnya. Di pinggangnya bergantung senjata semacam pistol. Rambutnya tergerai, membuatnya mendekati profil seorang wanita. Orang itu berjalan mendekati mereka. Lama kelamaan, sosok itu semakin jelas. Bibirnya yang tak tertutup topeng tersenyum dan Clara membalas senyuman itu.


“Sudah lama menunggu?” tanyanya sambil melepas ikatan rantai di leher Clara.


“Sangat. Aku hampir mati mendengar rengekan bayi bergantung itu.”


Jonathan bingung karena Clara mengenal sosok misterius itu. “Siapa dia?”


“Bad Girl,” kata Clara. “Alias Rosalia.”