
Grafit menatap televisi dengan serius. Ia terlihat sedang menunggu sesuatu muncul di layar. Ketika sebuah takarir muncul, ia segera membaca dan dalam waktu sepersekian detik mulai meningkatkan kerja otaknya. Ia harus mendapatkan jawaban yang dimaksud Jonathan sebelum karakter dalam film itu membuka mulutnya.
“It must be a dream come true for you.”
Grafit mengatakannya bersamaan dengan karakter tersebut. Jonathan merespons keberhasilan itu dengan tepuk tangan pujian.
Sudah hampir sebulan Clara dan Jonathan secara bergantian mengajarkan Grafit berbahasa Inggris. Selain karena Grafit sangat membencinya, Clara pikir suatu saat kemampuan itu akan sangat berguna bagi Grafit, terutama dalam pekerjaannya sebagai model.
Clara mengajarkannya dengan metode konvensional, sementara Jonathan menggunakan cara yang sedikit unik, yaitu dengan film. Pertama, Grafit akan menonton film berbahasa Inggris dengan takarir. Ia tidak benar-benar menonton, tapi mencocokkan takarir dengan dialog asli. Lalu ia kembali menontonnya dengan takarir yang diatur dua sampai lima detik lebih cepat dari sebagaimana mestinya. Jadi, Grafit akan membaca takarir tersebut lalu menerjemahkannya dan mengucapkannya bersamaan dengan karakter yang memiliki dialog tersebut. Tidak banyak yang berhasil diterjemahkan Grafit, tapi cukup menyenangkan.
“Apakah kau belajar bahasa Inggris menggunakan cara ini juga?” tanya Grafit.
“Tidak, aku belajar di sekolah dan sebentar di tempat kursus. Tapi lebih banyak belajar sendiri melalui internet.”
Mendengar salah satu kata yang diucapkan oleh Jonathan itu membuat Grafit termenung. Wajahnya terlihat sedikit murung. Jonathan yang menyadarinya bertanya ada apa.
“Aku ingin tahu bagaimana rasanya belajar di sekolah,” kata Grafit. “Pertama kali aku melihat Minori, ia juga mengenakan seragam sekolah. Andai aku pernah sekolah, pasti aku akan bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Minori.”
“Emm, kurasa tidak.”
Minori adalah salah satu karakter dari komik yang pernah Grafit miliki saat di Hutan Rahasia. Komik itu hanya selembar dan sepertinya milik salah satu pendaki yang terjatuh. Meski selembar, komik itu menampilkan tokoh Minori yang mengenakan seragam sekolah dengan pose sempurna. Percaya atau tidak, sebelumnya Grafit tidak tahu kalau ada makhluk bernama perempuan. Namun ia mengalami cinta pandangan pertama pada karakter itu. Jika alasan gurunya mengijinkan Grafit mengikuti Clara ke kota agar ia mendapatkan hidup yang normal, Grafit sendiri memiliki alasan lain, yaitu menemukan Minori.
“Andai saja kau datang ke kota sepuluh tahun yang lalu, mungkin kau sempat merasakan bangku sekolah,” kata Jonathan.
“Merasakan? Maksudmu, memakannya? Memang bangku di sekolah bisa dimakan, ya?”
Jonathan memaki dirinya karena mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan. Bukan kali ini Grafit mengartikan idiom secara harfiah. Mungkin di awal terdengar lucu, tapi jika sering menghadapinya seperti itu, rasanya menyebalkan.
“Hei, aku punya sebuah misi penting,” ujar Clara yang baru tiba dengan napas masih tersengal-sengal. Di tangannya tergantung sepasang seragam putih abu-abu. “Aku ingin Grafit menyamar jadi siswa SMA kami.”
Jonathan dan Grafit saling menatap. Perlahan senyum mereka mengembang.
* * *
“Oke, jadi beberapa bulan belakangan ada rumor tentang peredaran narkoba di SMA Socrates. Menurut rumor itu, beberapa siswa kedapatan dalam kondisi high di jam pelajaran sekolah. Rumor itu sangat mengganggu mamaku selaku pimpinan yayasan Socrates. Ia sudah memerintahkan investigasi internal sebelum rumor itu ditanggapi serius oleh aparat penegak hukum dan media, tapi hasilnya nihil. Tidak ada barang bukti, tidak ada tersangka dan tidak ada saksi.”
Grafit menyipitkan matanya sambil mengelus dagu seperti orang yang sedang berpikir. “Ada apa dengan hukum sehingga ia membutuhkan seseorang bernama aparat untuk menegakkannya? Mendengar betapa panjangnya penjelasan Algojo Langit beberapa waktu yang lalu, aku pikir hukum memang sesuatu yang penuh dengan bermasalah.”
Clara menatap Jonathan seakan meminta dukungan agar kekesalannya tidak pecah. Jonathan yang memahami perasaan Clara hanya bisa menepuk bahunya sebagai tanda simpati.
“Singkatnya, apa yang harus ia lakukan?” tanya Jonathan. Wajahnya terlihat kesal tanpa alasan.
“Grafit akan menyamar di acara itu untuk mencari pengedarnya. Kami hanya memerlukan itu.”
“Kenapa Grafit harus menyamar?”
“Selama ini pihak sekolah kesulitan menemukannya karena para siswa seakan kompak menyembunyikan identitas pengedar itu. Yah, kesetiakawanan masa remaja.”
“Kenapa harus Grafit?”
Clara menatap Jonathan tajam, tapi akhirnya ia mengerti maksud dari rekannya itu. “Kau bisa menilai sendiri. Wajah Grafit jauh lebih muda dari umurnya yang, aku juga tidak tahu pasti. Tapi ia masih cocok mengenakan seragam SMA. Sedangkan kau, lihat wajahmu sekarang. Di mana ada anak SMA yang punya kantung mata sebesar yang kau punya itu? Dan kau tidak bisa menutupi keriput di beberapa bagian wajahmu dan rambutmu yang sudah mulai menipis. Astaga, ternyata penampilanmu jauh lebih tua dari umurmu.”
Clara dan Grafit tertawa, tapi itu bukan hal yang lucu bagi Jonathan. Dia duduk di sofa dengan wajah penuh amarah bercampur kesedihan. Tapi di balik ekspresi itu, ia sedang meminta simpati dari Clara. Sayangnya, ia tidak mendapatkan itu. Clara sibuk memberikan arahan pada Grafit tentang apa yang harus dilakukan besok.
“Bagi kebanyakan orang, masa SMA adalah yang paling indah. Tapi bagiku itu adalah masa paling menyedihkan di sepanjang hidupku. Periode transisi menjadi kedewasaanku terganggu oleh perundungan, penyepelean dari guru dan orang tua, kisah cinta yang kering dan bayang-bayang masa depan yang tak jelas. Periode itu yang bertanggung jawab besar atas kegagalan hidupku sekarang. Sampai saat ini, jika aku memiliki kesempatan untuk memutar waktu, aku ingin kembali ke masa itu untuk mengubah takdirku. Aku akan menjadi siswa keren yang kuat, cuek dan memiliki visi yang kuat. Andai aku memiliki kesempatan untuk itu, sehari saja, mungkin aku akan bisa menghadapi beratnya sisa masa mudaku dengan kepala tegak, tangan tegar dan kaki tangguh.”
Jonathan mengintip ke arah Clara, tapi wanita itu sudah tidak ada lagi di sana. Yang ada hanya Grafit, yang juga tidak mendengarnya karena sibuk mengagumi seragam SMA yang akan dikenakannya besok. Tanpa sadar air mata sudah mengalir di pipi Jonathan.
* * *
Grafit melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah dengan hati yang berdebar-debar. Senang bercampur gugup seakan mengaduk isi perutnya saat ini. Sepanjang hidupnya, ia hanya pernah memiliki perasaan seperti ini sebelumnya, yaitu ketika pertama kali melihat Patricia. Dan itu adalah kenangan yang terindah baginya.
Semakin mendekat gerbang, kepanikannya semakin meningkat. Ia bisa melihat betapa ramainya para siswa yang mengenakan seragam dan sebentar lagi ia akan menjadi bagian dari itu. Meski tidak mirip dengan seragam yang dikenakan Minori, ia merasa salah satu mimpinya sudah menjadi kenyataan.
[Grafit, ingat! Bersikap yang wajar dan jangan terlalu menarik perhatian. Akan sangat merepotkan jika ada yang sadar kau bukan siswa dari sekolah itu.]
Seperti aktivitas patroli G:0, saat ini Grafit tetap terhubung oleh markas. Kebetulan sekarang adalah hari Sabtu sehingga Clara dan Jonathan yang memang tidak bekerja bisa membantu mengawasi.
[Tenang saja. Grafit itu adalah contoh paling tepat untuk pelajar yang normal. Selain membuat keributan, takkan ada orang yang memperhatikannya.]
Clara memukul kepala Jonathan yang baru saja melontarkan ejekan. Untungnya, Grafit sama sekali tidak merasa tersinggung. Ia sibuk menenangkan hatinya yang masih diliputi oleh kegugupan. Clara mengingatkan kembali latihan mereka kemarin tentang bersikap normal. Grafit pun mempraktikkannya dengan cukup baik.
Ya, ia benar-benar mempraktikkannya dengan cukup baik. Sayangnya, ia memiliki wajah dan kharisma sedikit di atas normal. Baru saja ia melangkahkan kakinya di dalam pekarangan sekolah, para siswi langsung memperhatikannya dan beberapa sudah menyusun rencana untuk mendekatinya.
[Kenapa hidup ini sangat tidak adil padaku?!] teriak Jonathan penuh amarah.