G:0

G:0
SI JENIUS YANG RAPUH



Grafit menatap pena yang berada sekitar lima meter darinya. Kemudian ia mengangkat tangan dan pena itu juga terangkat. Dengan berhati-hati ia menggerakkan pena itu lalu menulis beberapa huruf. Pena itu jatuh bangun seperti yang terjadi saat ia mengirim pesan pada anggota dewan Prabu Arjuna.


“Sulit, sangat sulit,” keluh Grafit. Ia sudah mencobanya berjam-jam dan hasilnya kurang memuaskan.


“Tidak, kau bisa. Aku sangat memahamimu, makanya aku tahu kau bisa. Bahkan sangat bisa karena kau sering melakukannya,” kata Jonathan yang sejak tadi hanya mengintip dari balik pintu markas. 


“Maksudnya?”


Jonathan tidak langsung menjawab. Ia duduk di sebelah Grafit lalu menyeruput kola dinginnya.


“Pertama kali mengenalmu, aku berpikir kau tak masuk akal. Kemampuan dasarmu adalah pengendalian gravitasi dan manipulasi massa benda. Lalu, kenapa kau bisa terbang ke sana kemari seperti seekor burung? Kau juga bisa menerbangkan benda tanpa menyentuhnya terlebih dulu. Pikirku, tak mungkin kekuatanmu hanya pengendalian gravitasi dan manipulasi massa benda. Pasti ada kekuatan kinestetik. Tapi akhirnya aku mendapatkan jawabannya, yang bahkan kau sendiri tak mengetahuinya. Kata kuncinya adalah angin.”


“Kalau itu aku juga tahu. Aku memang mengandalkan angin untuk bergerak di udara. Tapi ketika mengendalikan benda dari jauh, aku -”


Jonathan meletakkan telunjuknya ke atas bibir Grafit yang berarti menyuruhnya berhenti berbicara karena ia belum selesai dengan penjelasannya.


“Kau tidak mengandalkan angin, tapi menciptakannya,” kata Jonathan yang membuat Grafit bingung. “Penyebab umum terjadinya angin adalah perbedaan tekanan udara. Udara akan mengalir dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Tekanan udara sendiri adalah suatu tenaga yang bekerja untuk menggerakkan massa udara dalam setiap satuan luas tertentu dan biasanya dipengaruhi oleh suhu udara.


“Uniknya, kemampuanmu bisa mempengaruhi tekanan udara. Ketika kau bergerak di udara, kau memang menurunkan massa tubuhmu. Tapi tanpa kau sadari, kau juga menurunkan tekanan udara di sekitarmu dan menaikkan tekanan udara yang bertolak belakang dengan tujuanmu. Misalnya kau ingin bergerak ke selatan, kau akan menaikkan tekanan udara di utaramu. Demikianlah kau bisa menciptakan anginmu sendiri.”


Grafit melongo. Ia benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Jonathan. Apalagi pria berkacamata itu mengatakannya dengan tempo yang cukup tinggi dan Grafit lebih tertarik dengan intonasinya daripada isinya.


“Jadi, bagaimana aku bisa menggerakkan pena itu?” Grafit mempersingkat kuliah singkat Jonathan dengan pertanyaan tersebut.


“Jangan fokus mengendalikan pena itu saja, tapi juga udara yang ada di sekitarnya.”


Grafit mengangguk. Satu kalimat pendek itu lebih mudah dipahami olehnya dibandingkan penjelasan panjang tadi.


Kemudian Grafit memasang kuda-kuda lalu mengarahkan telapak tangannya ke pena tersebut. Ia mengikuti kata-kata Jonathan. Dan benar, pena itu bergerak sesuai dengan keinginannya. Meski belum kokoh, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya.


“Luar biasa. Kau memang jenius,” puji Grafit yang membuat Jonathan jumawa.


“Berapa kali harus kuingatkan padamu kalau aku ini jenius dan sangat bisa diandalkan? Pokoknya, jika kau ada masalah, tanyakan saja padaku,” kata Jonathan sambil berjalan kembali ke markas. Gaya jalannya pun tidak seperti biasa, terkesan sangat angkuh.


Clara keluar dari kamarnya dengan rambut berantakan. Ia menuju dapur dan membuka kulkas lalu mengambil sekaleng minuman soda. Langkahnya terhenti ketika melihat Jonathan di depan pintu markas.


“Jenius dan sangat bisa diandalkan? Sekarang jelaskan padaku kenapa setiap kali kau keluar dari kamar mandi, aku melihat ada cairan berwarna kuning di sekitar dudukan toilet? Apakah kejeniusanmu membuatmu tidak bisa mengangkat dudukan ketika buang air kecil? Bagaimana aku bisa mengandalkanmu untuk hal lain jika kau sendiri tidak bisa menyiram toilet dengan benar?”


Jonathan benar-benar tidak bisa membalas perkataan Clara itu.


*          *         *


Seperti yang pernah dibahas sebelumnya, Jonathan memiliki otak yang jenius, meski kejeniusannya menurun drastis sejak masa remaja. Ia juga pernah berkata kalau dirinyalah pencetus ide G:0. Tidak seratus persen salah. Tapi tidak seratus persen benar juga.


Ketika pertama kali membawa Grafit dari hutan rahasia, Clara berniat untuk menyembunyikan kekuatan Grafit dan menjadikannya sebagai manusia normal. Jika memungkinkan, Clara ingin Grafit melenyapkan kekuatannya.


Tapi rencananya itu gagal karena Jonathan menyembunyikan kamera rahasia di kamar mandi dan ruang tamu. Tujuannya adalah untuk menguntit kehidupan sehari-hari seorang Clara, namun rekaman penguntitannya itu justru membuatnya mengetahui tentang kekuatan Grafit.


Sebelum akrab dengan Clara dan Grafit, ia merupakan pribadi yang tertutup namun otak jeniusnya itu dipenuhi dengan pikiran licik, berdampingan dengan pikiran mesum. Ia memanfaatkan pengetahuannya tentang kekuatan Grafit untuk memeras mereka. Untungnya, permintaan pertama yang ia lemparkan pada Clara dan Grafit adalah menolongnya menghajar para preman yang telah menganiayanya.


Ternyata menaklukkan penjahat menjadi sebuah kecanduan baru, bukan hanya bagi Jonathan, tapi bagi Clara juga. Kebetulan Clara juga ingin menghukum mantan calon tunangannya yang brengsek, yang ternyata juga anggota Black Samurai. Perlahan mereka menjadi sebuah tim yang hebat. Jonathan juga memberikan kontribusi yang sangat besar bagi tim tersebut, terutama dalam bidang teknologi.


Perlahan Jonathan yang tertutup dan murung berubah menjadi ceria dan optimis. Demikianlah yang dikatakan Joice pada Clara suatu hari. Keluarganya berpikir Jonathan sedang menjalin hubungan dengan Clara. Mereka tidak percaya kalau Jonathan selalu ke apartemen Clara dari malam sampai pagi untuk mengerjakan sebuah proyek.


“Grafit, apakah tidak ada cara agar kau mentransfer sedikit saja kekuatanmu padaku?” tanya Jonathan suatu ketika.


“Kenapa? Kau diganggu para preman itu lagi?”


Bukan hanya Jonathan yang sangat memahami Grafit, tapi Grafit juga sangat memahami Jonathan. Ia tahu Jonathan bisa bersikap angkuh dan pamer, tapi tiba-tiba ia kehilangan kepercayaan dirinya. Menurut Grafit, pria itu adalah orang yang baik dan pintar, tapi sayangnya rapuh. Selama ini orang-orang di sekitarnya sering meremehkannya. Bahkan Clara sering melakukan itu padanya.


Jonathan tidak pernah ragu untuk meminta tolong pada Grafit ketika membutuhkan sesuatu. Namun jika ia tidak memintanya walaupun membutuhkannya, ia tahu kalau ia sendiri yang harus menyelesaikannya. Grafit pernah membantunya mengerjai para preman itu. Tapi ternyata hal itu tak membuat mereka berhenti merundung Jonathan.


“Jika aku melawan, apakah aku akan baik-baik saja? Apakah mereka akan berhenti merundungku? Aku lelah jika seperti ini terus. Ingin rasanya aku berkata akulah yang menciptakan G:0 dan akulah yang membantu G:0 di setiap aksinya. Tapi kembali lagi pertanyaan itu datang. Apakah aku akan baik-baik saja? Apakah mereka akan berhenti merundungku?”


Grafit prihatin  melihat temannya yang memasang wajah murung itu. Kemudian ia mendekat dan menepuk pundak Jonathan seakan sedang mentransfer semangat.


“Kalau begitu, lawanlah mereka tanpa G:0, tanpa cara G:0. Lawan mereka dengan cara Jonathan. Kupikir seorang Jonathan yang jenius dan sangat bisa diandalkan dapat mengalahkan para preman itu. Kau masih ingat bagaimana takutnya dirimu saat menuntunku melawan musuh tanpa Clara? Kau berhasil mengatasi ketakutanmu dan karena kejeniusanmu aku bisa mengalahkan musuh.”


Mendengar kata-kata itu, Jonathan tersenyum dan kepercayaan dirinya mulai bangkit.


“Seandainya kau punya hidup normal sejak lahir, kau pasti akan hebat jika menjadi psikiater atau motivator,” kata Jonathan bercanda, diiringi tawa mereka berdua.


“Apa itu psikiater dan motivator?”


*          *         *


Jonathan melangkahkan kakinya menyusuri jalan menuju rumahnya. Sebentar lagi ia akan melewati pos ronda tempat para preman  itu bisa berkumpul. Ia berharap mereka masih tidur di rumah mereka masing-masing. Sayangnya, harapan tinggal harapan. Ternyata mereka sedang berkumpul di sana.


“Eh, itu Jonathan,” kata seorang di antara mereka menunjuk ke arah Jonathan. Yang lain ikut melihat dan mereka tersenyum. Sementara Jonathan mulai ketakutan. Apalagi para pengangguran itu datang untuk mendekatinya.


“Tatan kami yang manis baru pulang dari rumah pacarnya. Bagaimana? Nyenyak tidur di dalam pelukan pacarmu? O ya, pacarmu cewek atau cowok? Atau bukan keduanya?”


Mereka tertawa setelah salah satunya mengeluarkan lawakan kasar. Jonathan sangat malu sampai ia menutup matanya. Namun ketika menutup mata, ia justru melihat sosok Grafit sedang menatapnya dan memberikan semangat padanya. Kemudian ia membuka mata dan menatap mereka  satu per satu.


“Aku muak dengan sikap kalian yang kekanak-kanakan. Kalian pikir selama ini kalian sedang membuatku menderita. Kalian salah. Yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Andai kalian punya setengah saja dari kecerdasanku, kalian pasti sudah lama tahu.”


Mereka terkejut dan bingung dengan ucapan Jonathan. Tidak seperti respons yang selama ini selalu ditunjukkannya, kini Jonathan terlihat angkuh dan berkarisma.


“Apa maksudmu? Kau sedang mengejek kami?” Tabaroni, pria yang bertubuh paling besar di antara mereka, meremas dan mengangkat kerah baju Jonathan. Namun Jonathan tetap bersikap santai.


“Tabaroni, Tabaroni. Kau masih ingat kecelakaan yang kau alami tujuh tahun yang lalu, yang membuat bekas luka di pipimu itu? Apakah kau tidak pernah bertanya-tanya kenapa itu terjadi seminggu setelah kau dengan sengaja menabrakkan motormu padaku?”


Mendadak mereka terdiam. Pria bernama Tabaroni itu pun mulai berpikir. Kemudian Jonathan mengalihkan pandangannya kepada yang lain.


“Ucup, menjadi duda karena istri yang sangat dicintainya lari dengan pria lain. Kau pasti tidak sadar kalau pria itu pertama kali datang ke lingkungan ini adalah untuk menemuiku. Kau juga pasti tidak menyangka siapa yang pertama kali memperkenalkannya pada istrimu. Maaf, mantan istrimu. Anggap saja itu adalah hukumanmu karena sering mengataiku banci.


“Kemudian Permana, mantan calon polisi. Kau mau tahu kenapa kau gagal di pantaukhir? Aku kenal baik dengan anak pak Bambang, polisi yang kau andalkan sebagai backing untuk lolos tes masuk polisi. Pasti sangat sakit sudah mengeluarkan banyak uang keluarga tapi gagal menjadi polisi.


“O ya, Ridwan, bukankah dua bulan yang lalu rumahmu terbakar dan kau hampir saja kehilangan nyawa? Bukankah dua hari sebelumnya kau mengambil banyak uang dari dompetku?”


Jonathan berhenti berbicara. Ia melihat wajah-wajah mereka yang sudah mulai pucat. Sepertinya sudah cukup. Kemudian ia bersiap untuk pergi karena genggaman tangan Tabaroni di kerahnya sudah mulai longgar.


“Ingat, aku tak pernah mengatakan kalau aku yang melakukan semuanya itu, termasuk bagaimana cara melakukannya tanpa meninggalkan bukti dan kecurigaan. Aku berharap ke depannya kita bisa saling menghargai. Tak perlu berteman karena aku yakin kalian takkan suka berteman denganku, aku hanya ingin kalian berhenti menggangguku ketika kita bertemu. Anggap saja kalian tidak mengenalku.”


Setelah selesai berbicara, Jonathan meninggalkan mereka yang masih terlihat syok. Senyumnya merekah dan perasaan puas melingkupi hatinya. Ia sangat bersyukur telah membicarakannya dengan Grafit. Kini bukan hanya G:0 yang membuat harga dirinya melambung tinggi, dirinya sendiri juga.