
Beberapa tahun yang lalu
Angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Daun-daun kering berterbangan seolah sedang asyik menari. Cuaca hari itu cerah, tapi tidak dengan suasana hati para penghuni hutan. Mereka sedang berduka karena maut menghampiri tempat itu.
Grafit remaja hanya bisa terdiam. Ia gugup dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia hanya menunggu kedatangan gurunya sambil menjaga jasad seekor badak besar dengan sebuah luka tembak di kepalanya.
Tiba-tiba angin semakin kencang. Grafit tahu, itu adalah tanda kedatangan gurunya. Pria berkumis dengan rambut panjangnya datang. Ia mengenakan jubah putih dan memegang tongkat sepanjang satu setengah meter yang diwariskan secara turun temurun dari para pendiri kaum Miel.
Grafit tidak berani menatap wajah gurunya. Ia tidak tahu berbohong. Sejak dulu ia dididik untuk selalu berkata jujur. Tapi ia ingin bungkam tentang kejadian tadi karena sadar telah melakukan kesalahan.
“Apa yang terjadi?” tanya sang guru. Grafit masih bungkam
Beberapa jam sebelumnya, Grafit melihat tiga orang pendaki gunung yang hampir memasuki hutan rahasia. Tugasnya sebagai kaum Miel adalah membantu manusia yang tersesat menemukan jalan mereka secara diam-diam. Namun para pendaki itu melakukan hal yang sangat tidak menyenangkan bagi Grafit. Mereka menebas pohon-pohon secara brutal dan membunuh beberapa binatang kecil yang bahkan tak mengganggu mereka sama sekali.
Sebenarnya itu bukanlah pemandangan yang langka. Hampir semua manusia yang tersesat di hutan itu tidak tahu cara menghargai hutan dan makhluk hidup di sekitar mereka. Karenanya, kaum Miel harus segera menjauhkan mereka dari hutan rahasia dengan ilmu penghilang ingatan. Hanya saja, Grafit remaja yang kondisi kejiwaannya masih labil ingin memberikan hukuman yang lebih pada mereka.
Ia memanggil Badu, seekor badak yang sering bermain dengannya, untuk menakut-nakuti para pendaki itu sebelum ia hilangkan ingatannya. Sayangnya, keisengannya itu justru berdampak buruk. Salah satu dari pendaki itu membawa senjata api. Mereka terluka parah, sedangkan hidup Badu harus berakhir karena sebuah peluru bersarang di kepalanya.
Grafit akhirnya menceritakan kejadian itu pada sang guru. Tidak ada amarah yang keluar dari mulut gurunya. Pria itu hanya menatap muridnya. Tapi entah kenapa, Grafit merasa terluka karena tatapan itu. Lebih baik baginya dimarahi atau dihukum daripada ditatap demikian. Seumur hidupnya, baru hari itu ia melihat tatapan itu dari gurunya.
“Kau tahu, apa yang lebih jahat dari pembunuhan?” tanya gurunya. Sungguh, Grafit tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Karena Grafit tidak menjawab, sang guru berkata lagi, “Jawabannya adalah menjadi penyebab terjadinya pembunuhan.”
* * *
Grafit terbangun dari tidurnya dengan wajah pucat. Ia kembali memimpikan peristiwa kematian Badu. Kata-kata sang guru saat itu terngiang-ngiang di telinganya. Tubuhnya berkeringat dan napasnya tersengal.
"Mimpi buruk lagi?" tanya Clara yang menghampiri Grafit di sofa sambil menawarkan segelas air putih.
Ini adalah hari kelima G:0 tidak berpatroli. Waktu yang cukup lama untuk cuti. Bahkan setelah bertarung dengan Kichigai dan kehilangan wanita yang dicintainya dulu, G:0 hanya libur dua hari.
Pengeboman yang lalu telah menewaskan lima puluh tujuh orang dan melukai ratusan orang lainnya. Sebelas korban jiwa di antaranya adalah anak-anak karena salah satu lokasi pengeboman adalah sebuah panti asuhan.
Karena kejadian itu, masyarakat menyalahkan G:0 karena bersikap gegabah dan angkuh sehingga tidak membaca petunjuk yang diberikan oleh Puzzle.
Grafit merasa bertanggung jawab untuk peristiwa ini. Sepanjang kariernya sebagai G:0, ia tak pernah gagal menyelamatkan nyawa orang lain. Bahkan tak satupun dari lawannya yang sampai kehilangan nyawa saat bertarung dengannya.
Clara sudah kehabisan cara untuk mengangkat moral Grafit kembali. Ia memang benar-benar terpuruk ke dalam lubang penyesalan dan sulit untuk keluar dari sana.
"Guruku pernah berkata, yang lebih kejam dari membunuh adalah menjadi alasan seseorang membunuh. Aku telah melakukannya. Aku telah membunuh orang-orang itu karena kesombonganku."
“Aku akan memberikanmu waktu tambahan untuk kembali seperti dulu lagi. Banyak orang yang membutuhkan G:0,” ujar Clara sambil berdiri dan meninggalkan Grafit.
Jonathan datang dengan terburu-buru. Ia segera mengajak Clara ke markas karena ingin menunjukkan sesuatu.
“Aku berhasil melacak alamat IP komputer yang digunakan Puzzle untuk meretas. Sangat klasik. Ia hanya menggunakan VPN gratisan untuk menyembunyikan alamat IP-nya. Dia tidak tahu kalau Jonathan Vevardi bahkan bisa meretas situs VPN yang dia gunakan. Aku tinggal melakukan spear phising dengan iklan berupa game teka-teki dan dia memakan umpanku. Lalu dia -”
“Berhenti. Aku tidak punya waktu untuk mendengar secara detail. Langsung saja ke intinya.”
Jonathan kecewa karena harus berhenti memamerkan kecerdasannya di bidang yang tak dikuasai oleh Clara. Kemudian ia berpikir sejenak untuk meringkas informasi yang sudah tersusun rapi di kepalanya.
“Puzzle adalah seorang pria berusia sekitar akhir tiga puluhan bernama Adolf Frederick. Ia dulu bekerja di sebuah bank swasta dan menurut teman-temannya, ia sangat jenius. Sayangnya, hampir dua puluh tahun bekerja di sana, ia tidak pernah dipromosikan dan hanya menjabat sebagai sales officer. Tidak ada yang tahu alasannya bertahan selama itu dengan kondisi demikian, padahal dengan otak jeniusnya, ia bisa bekerja di kantor lain dengan jabatan yang lebih baik.”
“Kita harus segera menangkapnya!”
“Andai semudah itu. Setahun yang lalu ia menghilang dari tempat kerja dan kontrakannya. Tidak ada yang tahu keberadaannya. Bahkan keluarganya pun tidak.” Clara tidak menyangka jika Jonathan sudah melakukan riset sejauh itu. “Bagaimana jika kita serahkan informasi ini pada polisi? Setidaknya mereka punya tim penyidik yang lebih hebat daripada kita.”
“Tidak! Polisi tidak boleh tahu! Kau tidak lihat bagaimana mereka menjatuhkan nama baik G:0 sejak kejadian pemboman itu? Karena menonton salah satu wawancara dari si Rian bodoh itu, mental Grafit terjun bebas. Kita harus melacak keberadaannya.”
“Atau kita mengikuti teka-tekinya lagi,” sambung Jonathan saat melihat ke ponselnya. Ia menunjukkan sebuah video pada Clara. Video tantangan dari Puzzle yang baru tayang di megatron dan berbagai situs.
Clara segera berlari menghampiri Grafit yang masih terbaring di sofa dengan tatapan kosong. “Hei, bangun. Saatnya beraksi.”
“Aku juga akan melacak keberadaan Puzzle sekarang,” kata Jonathan sambil membuka laptopnya.
“Bukankah tadi kau bilang akan memberikanku waktu tambahan?” Grafit duduk. Ia sama sekali tidak menghiraukan ajakan Clara.
“Tapi bukan sekarang. Cepat bersiap-siap. Puzzle kembali muncul.”
“Kalau begitu aku tidak ikut. Aku tidak ingin lagi ada yang mati karenaku. Guruku pernah berkata, yang lebih jahat dari membunuh adalah -”
Tiba-tiba Clara menampar pipi Grafit dengan sekuat tenaga, yang akhirnya ia sesali karena membuat tangannya memar sementara korbannya tak merasakan apa-apa. “Guru baletku yang pernah menghukumku karena merusak motornya pernah berkata, dosa terbesar adalah dosa yang tak pernah disesali, tak pernah diperbaiki dan diulang lagi. Kau memang duduk di sini menyesali dosamu, tapi kau tak pernah berusaha memperbaikinya dan jika Puzzle kembali membunuh, itu artinya kau mengulangi dosamu.”
Grafit terbengong. Bukan pipinya, tapi hatinya yang terasa sakit karena perkataan Clara. Ia sadar beberapa hari ini telah bertingkah seperti pecundang. Ia juga menyadari maksud dari perkataan gurunya itu. Bukan untuk membuatnya terpuruk, tapi untuk memberikannya sebuah pengingat agar ia tidak mengulangi kesalahan tersebut.
“Baiklah, mari kita selamatkan Dragokarta.”