
Beberapa bulan yang lalu
“Lagi?! Sudah beberapa hari ini kau terlambat datang dan sekarang kau bilang mau libur? Apakah kau tidak tahu kalau kemarin kita akan menemukan markas Kichigai seandainya kau datang tepat waktu?”
Clara terlihat marah kepada Jonathan karena sikapnya akhir-akhir ini. Sejak berpacaran dengan Sonia, wanita penjaga toko buku di dekat kampus Clara, Jonathan mulai mengabaikan tugasnya di skuad G:0. Ia seperti tidak memiliki hati lagi untuk proyek pahlawan super yang sebenarnya ia sendiri yang gagas.
“Tolonglah, maklumi aku. Aku hanya ingin hidup bahagia dan sejak masa akil balig, baru kali ini ada wanita yang menganggapku tampan. Maksudku, wanita sejati, karena aku pernah digoda oleh waria.”
“Aku tidak pernah melarangmu untuk berpacaran. Justru aku bahagia untukmu. Tapi kau punya tanggung jawab yang sangat penting di sini. Ingat apa yang kau janjikan saat kita akan memulai proyek ini? Kau akan melakukannya dengan sepenuh hati selama G:0 masih ada, bahkan tanpa imbalan apapun.”
“Tapi saat itu salah satu motivasiku adalah agar bisa dekat denganmu. Sekarang aku punya pacar yang benar-benar mencintaiku. Aku tidak butuh dekat denganmu lagi. Mungkin sebaiknya kita akhiri saja proyek ini atau kau bisa melakukannya tanpaku.”
Akhirnya kesabaran Clara habis. Ia menjambak rambut Jonathan hingga pria berkacamata itu menjerit kesakitan. Clara sudah tidak peduli lagi dengan jerit minta tolong rekannya itu. Matanya sudah gelap karena tingkah Jonathan yang menyebalkan selama beberapa hari terakhir.
“Kau tahu? Aku sudah menghabiskan banyak uang, waktu dan tenaga untuk proyek ini! Kita sudah memulainya dengan susah payah, bahkan harus mengorbankan nyawa. Lalu kau seenaknya mengatakan untuk mengakhirinya hanya karena wanita jelek dan genit itu.”
Jonathan menyentak tangan Clara yang menjambak rambutnya dan berhasil lepas. Ia segera berlari menjauhi Clara yang sudah terlihat seperti zombie yang hendak menerkam mangsanya. Napas Jonathan sudah tersengal-sengal.
“Aku tak peduli. Resolusiku untuk tahun ini adalah memiliki pacar dan membawanya berkeliling di hari Natal dengan menggunakan motor trail. Natal sudah tiga minggu lagi, tak mungkin aku memutuskan pacarku sekarang.”
“Sudah kubilang, aku tak menyuruhmu untuk memutuskannya!”
“Tapi kalau aku tidak menuruti perintahnya, dia akan memutuskanku!”
Setelah saling mengirim teriakan, Jonathan keluar dari apartemen Clara dengan kesal. Clara kembali berteriak melepaskan kekesalannya.
Tiba-tiba ada suara ponsel berdering. Bukan ponsel Clara. Ternyata suara itu berasal dari ponsel Jonathan yang tertinggal. Clara melihat nama My Sweetie di layar ponsel itu. Pasti itu Sonia.
“Sweetie? Seperti nama popok saja. Lalu dia memanggil Jonathan apa? Mamy Poko?”
Kemudian muncul sebuah ide di kepala Clara. Ia langsung mengambil ponsel Jonathan dan melakukan pemanasan suara.
“Halo, ini siapa?”
[Lho, kamu siapa? Kenapa ponsel Jonathan ada sama kamu?]
Terdengar dari suaranya kalau wanita itu terkejut dan kesal. Clara menahan tawanya dan lanjut berbicara, “Tentu saja. Saya pacarnya Jonathan. Memangnya kamu siapa? Tukang laundry langganannya, ya? Tadi Jonathan pesan, cuciannya akan dia jemput besok pagi saja, setelah pulang dari rumah saya.”
Tak ada lagi jawaban dari wanita itu. Clara hanya mendengar suara hentakan keras lalu panggilannya ditutup. Ia tersenyum puas karena masalahnya dengan Jonathan sudah hampir selesai.
Sekarang aku hanya perlu membelinya motor trail, gumam Clara dalam hati.
* * *
Tiga kamera canggih buatan Jonathan baru saja kembali ke markas setelah melakukan tugas mereka. Si empunya pun menyambut mereka dengan bahagia. “Cameron NoLimit, Cameron Hine, Cameron Arap. Selamat atas aksi pertama kalian.”
“Apa? Sudah kubilang, jangan beri mereka nama. Apalagi dengan nama-nama aneh.”
“Itu bukan nama-nama aneh. Aku mengambilnya dari nama-nama panutanku. Masa mudaku banyak kuhabiskan dengan menonton video-video mereka.”
Mereka berhenti bertengkar ketika menyadari ada Grafit di sana, yang sedang duduk dengan wajah murung tanpa banyak berkata-kata. Wajar saja, ia pasti terkejut karena wanita yang dikenalnya, mungkin yang disukainya juga, ternyata adalah bos komplotan begal yang pernah menyerang Jonathan.
Clara dan Jonathan tidak tahu harus berkata apa. Mereka tidak pernah melihat Grafit segundah ini selain ketika kekasihnya dulu diculik oleh Kichigai. Menurut pengalaman mereka dulu, mengajak Grafit berbicara dalam kondisi seperti ini bukanlah ide yang bagus.
“Bisakah kita tidak melaporkannya ke polisi?” tanya Grafit. Clara sebenarnya ingin menentang, tapi suara Grafit yang lirih itu menggugah belas kasihannya. Apalagi pria itu jarang meminta sesuatu padanya.
“Jadi, kita membiarkannya melakukan kejahatan?”
“Tidak, tapi biarkan aku menangkapnya sendiri. Bukankah tadi dia bilang akan beraksi nanti malam? Artinya, ia ingin berhadapan dengan G:0.”
Clara dan Jonathan hanya mengangguk. Kemudian mereka menyusun rencana untuk menghadapi aksi komplotan begal itu. Sayangnya, Cameron NoLimit yang menemukan markas Rosa hampir kehabisan baterai sehingga ia tidak bisa memata-matai sampai komplotan itu membahas detail rencana nanti malam. Skuad G:0 hanya tahu lokasi dan waktu aksi mereka.
Malamnya, G:0 sudah bersiap menunggu di sebuah jalan yang sepi ditemani salah satu Cameron. Jalan itu menghubungkan suatu daerah industri dengan daerah pemukiman warga sehingga pada jam pulang kerja, jalan itu sangat padat. Pada jam selarut ini, terkadang ada beberapa pekerja yang lembur melewati jalan tersebut. Orang-orang itulah yang akan menjadi incaran para begal itu.
Tak lama kemudian, sebuah mobil SUV dari merk ternama lewat. Pengemudinya adalah seorang eksekutif berusia sekitar awal tiga puluhan yang harus bekerja lembur karena ada masalah di perusahaannya. Wajahnya terlihat frustrasi dan beberapa kali ia membentak seseorang melalui telepon mobilnya. Ia sampai tidak menyadari bahaya yang mungkin lebih besar dari masalah perusahaannya sudah bersiap untuk menghampiri.
Beberapa motor muncul satu per satu agar si korban tidak langsung curiga. Ketika mereka sudah berada pada formasi yang tepat, salah satu begal yang berada di boncengan mengetuk jendela mobil sambil mengacungkan tongkat pemukul dengan memasang wajah seramnya dan menyuruh si korban menepi.
Jika melihat rencana, seharusnya si korban ketakutan dan berhenti. Tapi karena korban mereka saat ini sedang berada pada emosi yang memuncak, ia justru menyenggolkan mobilnya ke motor yang ditumpangi si pengancam itu sehingga satu motor harus terperosok ke parit yang ada di tepi jalan.
Melihat adanya perlawanan yang diberikan korban pada salah satu rekan mereka, para begal lain bertindak beringas. Mereka mengetuk-ngetuk mobil dari berbagai sisi sambil berteriak. Salah satunya mencegat dari depan, tapi mobil itu tanpa gentar menabraknya.
Hingga akhirnya muncul sebuah mobil sport merah dari depan. Dengan kecepatan tinggi, mobil itu mengarah tepat di depan si mobil SUV. Sang eksekutif muda itu panik dan membanting stir ke kiri. Ia harus menginjak rem karena hampir menabrak pohon.
Tiba-tiba para begal itu menyadari ada yang aneh. Tubuh mereka terasa lebih ringan dari biasanya. Saat itu mereka tahu jika G:0 sudah hadir. Kemudian mobil sport merah tadi bergerak kembali dan mengincar G:0 yang sedang bermain dengan gravitasi para pembegal itu. G:0 pun mengarahkan tangannya ke arah mobil itu. Tapi mobil itu tidak dapat dikendalikannya hingga akhirnya ia tertabrak dan terpelanting jauh ke belakang.
[G:0, kau tidak apa-apa? Kenapa kau tidak mengendalikan gravitasinya?]
Di markas, Clara dan Jonathan panik karena hal yang menimpa G:0. Mereka memfokuskan Cameron ke arah wajah pengendara mobil, tapi tak terlihat. Sementara itu, G:0 masih belum aman. Mobil itu masih menyasarnya. Untuk kedua kalinya, G:0 tertabrak dan kali ini tidak berakibat sefatal tadi karena ia berhasil mengendalikan gravitasi tubuhnya. Hanya saja, ia masih merasakan sakit.
“Sepertinya mobil itu dilumuri Ungravity. Aku tak bisa mengendalikannya.”
Mobil itu kembali menyerangnya dan kali ini mencoba menabrak G:0 dengan sisi kirinya. G:0 melihat sebuah kesempatan untuk menyerang pengemudinya. Ia tidak terbang, melainkan menunggu. Dan ketika sisi kiri mobil itu mulai mendekatinya, ia segera melemparkan tinju ke arah mobil supirnya.
Tapi ternyata pintu itu terbuka dan sebuah tinju juga menyambut tinju G:0. Tanpa diduga, G:0 kalah dalam duel tinju itu. Ia mundur dan terbang.
Pengemudi mobil sport itu keluar. Tampilannya sangat sangar dan serba hitam. G:0 mengenalnya. Dia adalah Rosa.
“Sudah lama aku menanti pertarungan ini. Bagaimana jika kita bertarung secara adil? Tidak ada permainan gravitasi,” kata Rosa. Clara tahu, itu hanya sebuah provokasi agar G:0 tidak menggunakan kekuatannya sehingga ada kemungkinan baginya untuk menang.
[G:0, dengar, kita tidak punya waktu untuk meladeni permainannya. Ia ingin memanipulasimu. Jangan mau. Tetap gunakan kekuatanmu.]
Sayangnya, G:0 tidak mengikuti perintah Clara. Ia menyetujui ide Rosa. Setelah mendapatkan persetujuan itu, bos begal itu langsung menyerang G:0 dengan cepat. Tak disangka, kemampuan bela diri Rosa sangat luar biasa. G:0 hampir saja kewalahan. Sementara mereka bertarung, para pembegal dan si eksekutif muda sudah melarikan diri. Rosa tidak mempermasalahkannya karena aksi malam ini memang awalnya dikhususkan untuk melawan G:0.
Mereka bertarung cukup sengit. Belum ada yang terluka, meski G:0 sudah menerima tiga kali pukulan dan sekali tendangan. Seperti mobilnya, pakaian Rosa juga dipenuhi oleh materi Ungravity. Itu yang membuat G:0 sedih, karena wanita yang ia kenal telah bersekutu dengan pemimpin Kraken.
“Kenapa kau hanya menghindar dan tidak menyerang? Apakah kau punya aturan untuk tidak memukul wanita? Kalau begitu, jangan anggap aku wanita,” kata Rosa yang napasnya sudah tersengal-sengal. Ia sudah mulai kelelahan.
“Tentu saja kau wanita. Bahkan kau terlalu cantik untuk tidak dianggap wanita.”
Rosa terkejut mendengar suara itu. Clara dan Jonathan juga. Itu karena G:0 tidak mengaktifkan pengubah suaranya.
“Grafit.”
Clara dan Jonathan kembali terkejut ketika Rosa menyadari bahwa di balik kostum G:0 adalah Grafit. Mereka semakin terkejut ketika G:0 melepas topengnya.
[Grafit, apa yang kau lakukan? Kau sadar itu sangat berbahaya bagi kita? Pasang lagi topengmu dan hilangkan ingatannya.]
Grafit tidak menghiraukan perintah Clara. Fokusnya kini hanya untuk Rosa.
“Aku tak tahu apa yang membuatmu melakukan semua ini, tapi aku tahu, kau adalah wanita yang lembut dan baik hati. Kau adalah bagel, bukan begal.”
Clara dan Jonathan saling pandang seakan hendak bertanya tentang arti kalimat terakhir yang diucapkan oleh Grafit itu.
“Kau hanya tidak tahu siapa aku. Inilah aku yang sebenarnya. Aku adalah pimpinan komplotan begal terbesar di kota ini. Anggotaku sudah merampok banyak motor dan mobil, melukai banyak orang, bahkan pernah salah satu korban kami terbunuh. Aku bukan bagel yang lembut dan murni. Aku adalah begal, bahkan bos begal.”
“Kalau begitu, berhentilah.”
Kata-kata Grafit itu menyentak hati Rosa. Ia melihat mata pria polos itu. Terakhir ia melihat mata seperti itu menatapnya adalah dari mendiang ibunya. Mata itu yang membuatnya merasa sebagai seseorang yang berharga. Mata itu yang tidak pernah menganggapnya hina.
“Kau tidak mengerti. Sekali penjahat, maka selamanya ia akan menjadi penjahat.”
Grafit maju dan mendekati Rosa. Ia memegang kedua tangan wanita itu dengan lembut.Kemudian ia berkata, “Pelukis adalah orang yang membuat lukisan, pematung adalah orang yang membuat patung. Sama dengan penjahat adalah orang yang membuat kejahatan. Kata guruku, yang menunjukkan jati diri seseorang bukanlah apa yang ia miliki, tetapi apa yang ia perbuat. Berhentilah melakukan kejahatan, maka kau akan berhenti menjadi penjahat. Jadilah Rosa yang kukenal, yang tangguh di luar tapi lembut di dalam. Yang murni dan manis.”
Rosa mulai menangis dan Grafit memeluknya. Sementara di markas, Clara dan Jonathan juga tidak dapat menahan tangis mereka.
“Kau tahu? Ini adalah pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan. Aku akan berusaha untuk berubah. Tapi maukah kau berjanji untuk selalu menjadi temanku?” kata Rosa setelah tangisnya mereda.
“Tentu saja. Kau harus menemaniku naik level. Masih banyak jenis roti yang harus kita coba.”
Rosa pun pergi dengan mobil sport-nya, meninggalkan Grafit yang memasang kembali topengnya. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar tempat itu, Jonathan menyampaikan keberatannya atas tindakan Grafit pada Clara.
“Kenapa dia tidak menghilangkan ingatan wanita itu? Bukankah itu akan berbahaya bagi kita?”
Clara tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum melihat ke arah monitor pengawas yang menampilkan G:0.
“Tentu saja berbahaya. Tapi jika G:0 menghapus ingatan wanita itu, bukan hanya identitas asli G:0 yang ia lupakan, tetapi momen bersama Grafit yang telah mengubah hidupnya juga akan hilang. Bukankah itu akan mengembalikannya pada Rosa yang lama?”
Jonathan tidak berkomentar lagi. Ia hanya mengangguk sambil melanjutkan tugasnya membawa Cameron NoLimit kembali pulang.
“Tak kusangka, sebuah hubungan dengan wanita membuat Grafit semakin dewasa,” gumam Clara.
“Ya, kecuali hubungan denganmu,” sambung Jonathan yang dihadiahi tamparan di kepala oleh Clara.