G:0

G:0
LUCID



Seorang pria masuk ke dalam kafe. Ia terlihat sangat mencolok karena badannya yang tinggi besar menggunakan trench coat seperti yang digunakan Keanu Reeves di film Matrix. Tidak ada yang melihatnya masuk ke dalam kafe karena seluruh pengunjung kafe tertidur. Kebetulan jendela kafe menggunakan kaca jenis one way mirrored glass, artinya terlihat transparan dari dalam saja sehingga orang luar tidak bisa melihat bagian dalam kafe.


Pria itu berjalan dengan tangan yang menengadah. Ia pun sampai ke depan meja kasir, mendekati seorang pria yang mengenakan celemek warna berbeda dengan yang digunakan karyawan lain. Ia adalah pemilik kafe. Kemudian pria berbadan tinggi besar itu membangunkannya lalu mengambil sebilah pisau yang ada di dekatnya dan menikamkannya ke dada sang pemilik kafe.


Kemudian tertawa dan pergi dari tempat itu.


*          *         *


“Bagaimana bisa kau bersaksi kalau G:0 yang membunuhnya? Kau tahu sendiri kalau Grafit bersama denganmu dan kalian baru lima menit berpisah. Pembunuh itu masuk tak lama setelah Grafit keluar. Jadi, bagaimana bisa?”


Jonathan hanya bisa menunduk pasrah mendengar omelan dari Clara. Ia tahu kalau omongan Clara benar, tapi kesaksiannya juga tidak salah. Ia benar-benar melihat G:0 masuk dengan cepat lalu menerbangkan pisau yang ada di dekat korban dan menikamkannya ke dada korban lalu pergi.


“Aku sangat yakin. Bahkan bukan hanya aku saja yang melihatnya.”


“Seandainya saja memang benar G:0 yang melakukannya, kau tetap tidak pantas mengatakan ia pelakunya pada polisi. Itu yang dinamakan kesetiakawanan.’


“Bagaimana bisa hanya aku yang mengatakan hal yang berbeda dengan saksi-saksi lainnya? Aku akan dituding pembohong.’


Clara menghela napas sambil menggeleng kepala. Kemudian ia bertanya pada Grafit, “Apakah ia mungkin dihipnotis? Bisa saja ini perbuatan Siren.”


Grafit mendahulukan jawabannya dengan gelengan. “Jika itu hipnotis, seharusnya efek hipnotis itu sudah hilang sekarang.”


“Kau sudah mengecek kamera pengawasnya?” tanya Clara pada Jonathan.


“Semua kamera pengawas di toko itu tidak berfungsi. Bahkan kamera di radius dua kilometer dari tempat itu juga mati.” Jonathan menatap Grafit seakan hendak meminta sesuatu. “Grafit, kau benar-benar tidak membunuhnya?”


“Tentu saja tidak! Aku ke apotik untuk membelikanmu obat anti mabuk. Jika kau tidak percaya, tanya saja penjaga apotik di sana!”


Jonathan merasa tidak enak karena telah menuduh Grafit dan membuatnya marah. Ia pun memilih diam dan kembali menerima gerutuan Clara.


“Lalu, siapa yang membunuhnya? Apakah ada yang meniru G:0 dan melakukan kejahatan itu?”


Kemudian Clara teringat akan percakapannya dengan Kapten Rian tadi. Kemudian ia kembali melihat ke arah Jonathan dan bertanya, “Ketika melihat kejadian itu, bagaimana perasaanmu? Apakah seperti mimpi?”


Jonathan berpikir sejenak lalu matanya mulai membelalak. “Benar, benar sekali. Saat itu aku seperti sedang berada di awang-awang. Aku juga ingat, sebelumnya tubuhku pegal-pegal dan perutku seakan hendak mengeluarkan isinya karena latihan Grafit. Tapi saat kejadian itu, aku tidak merasa sakit.”


Clara dan Grafit heran mendengar pernyataan itu. Mereka mendapat satu petunjuk, tapi masih sangat mentah dan belum bisa menunjukkan apa-apa. 


“Kau yakin tidak tidur saat itu?”


“Tentu saja tidak! Dan jika aku benar-benar tidur, bagaimana jawabanku sama dengan jawaban seluruh pengunjung kafe?”


“Untuk apa si brengsek itu menelepon Clara? Dan kenapa Clara menjawabnya? Bukankah dia juga membenci pria itu?” gerutu Jonathan yang tidak digubris oleh Grafit.


“Kau tahu? Ternyata Jonathan juga merasa seperti mimpi saat menyaksikan kejadian pembunuhan itu. Mirip dengan saksi di kasus sebelumnya,” lapor Clara penuh semangat.


[Maaf, tapi aku menelepon bukan untuk membicarakan itu. Aku baru saja mendapatkan laporab hasil forensik. Menurut laporan hasil itu, korban tidak ditusuk dengan pisau terbang, melainkan ditusuk secara langsung. Tusukan itu merusak arteri ruang bawah jantung sebelah kiri sehingga menewaskan korban seketika. Meski aku pernah berkata orang yang memiliki kekuatan super sepertinya tidak akan pernah melakukan pembunuhan yang sembrono, aku sangat mengenal G:0. Ia tidak terlalu ahli menggunakan senjata dan pasti tak tahu tentang anatomi tubuh.]


Clara menahan kemarahannya karena G:0 mendapatkan penghinaan secara halus. Ia mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam. 


“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Clara.


[Bukan kita, tapi kau. Aku minta tolong kau berbicara dengan G:0 dan meminta ia menceritakan apa yang ia ketahui. Misalnya, orang lain yang juga memiliki kemampuan atau alat untuk mengendalikan gravitasi seperti dia. Aku juga ingin kau memastikan alibinya ketika kejadian itu. Jika beruntung, kita akan menemukan petunjuk untuk menangkap pembunuh yang sesungguhnya.]


“Baiklah, akan kusampaikan jika ia menghubungiku.” Clara hendak mengakhiri panggilan itu, tapi urung dilakukan. Lalu ia kembali berbicara, “Apakah sekarang kau mempercayai G:0 sepenuhnya?’


Tidak ada jawaban. Untuk beberapa saat, hanya hening yang menguasai percakapan mereka.


[Aku masih belum percaya kalau dia ada di pihak yang baik. Tapi untuk kasus ini, aku merasa bukan dia pelakunya. Tenang saja, meski aku ingin menangkapnya, aku tetap akan menangkap orang yang layak untuk ditangkap. Kita akan menemukan pelaku sebenarnya.]


Clara tersenyum. Ia sangat menyukai jawaban yang bijak itu. Memang, meski ia adalah orang yang menyebalkan, Kapten Rian adalah satu di antara sedikit pria di sekitarnya yang bersikap dewasa dan mampu memberikan rasa aman baginya.


Di tengah khayalannya tentang Kapten Rian, ia mengingat sesuatu yang menurutnya ada kaitan dengan kasus ini.


“Kau pernah mendengar tentang Lucid Dream? Itu adalah fenomena ketika seseorang sadar jika dirinya sedang bermimpi. Aku sering mengalaminya. Selain sadar sedang berada di dalam mimpi, terkadang aku bisa mengontrol jalan cerita mimpiku itu.”


Butuh waktu beberapa lama bagi Kapten Rian untuk memahami hubungan antara cerita Clara dengan kasus yang sedang mereka hadapi. Bahkan seharusnya ia bisa langsung mengerti ketika mendengar kata Lucid. 


[Aku pernah mendengar legenda tentang penjahat yang bernama Lucid.]


“Lucid?”


[Ya, Lucid. Konon ia bisa mengatur mimpi orang lain dan membuatnya seperti nyata. Jangan-jangan ia membuat para saksi tertidur dan memberikan mereka mimpi tentang G:0 yang melakukan pembunuhan. Jika dalam kasus ini bukan G:0 pelakunya, maka dia adalah kandidat terkuat untuk meraih gelar tersangka itu.]


“Bagaimana kita bisa menemukannya?”


[Seperti yang kukatakan, dia adalah legenda. Artinya, dia tidak pernah tertangkap. Bahkan banyak orang percaya kalau dia tidak pernah benar-benar ada.]


Clara kembali lemas ketika mendengar ucapan Kapten Rian itu. Tiba-tiba senyum mulai berkembang di bibirnya. Ia punya ide untuk menangkap penjahat itu. 


“Kita akan membuat Lucid Dream menjadi Nightmare.”