
“Katakan, sampai kapan aku harus menghilangkan ingatan mereka?”
Grafit mulai merasa lelah karena harus menghapus ingatan para siswi yang mengajaknya berkenalan ditambah dua guru yang menanyakan identitasnya. Clara mencoba menguatkannya.
[Bertahanlah. Kita hanya perlu mencari pengedar itu.]
Grafit tidak bisa membantah. Ia pun melanjutkan penyamarannya. Tak lama kemudian, ia melihat beberapa siswa yang memiliki lambang sekolah yang berbeda di seragam mereka masuk ke pekarangan sekolah dengan santainya. Bisa diperkirakan mereka tidak berasal dari sekolah ini.
[Oh, tidak. Aku lupa kalau acara ini mengundang siswa dari sekolah lain.]
“Lalu, kenapa aku harus berpura-pura jadi siswa sekolah ini? Jika aku menyamar jadi siswa sekolah lain, aku tidak perlu menghilangkan ingatan banyak orang.”
Jonathan terkekeh-kekeh mendengar keteledoran Clara yang sangat jarang ia lihat. Tapi ia langsung mengatupkan mulutnya saat Clara menatapnya kesal.
Acara itu berlangsung cukup meriah. Beberapa penampilan menarik disuguhkan oleh para siswa secara bergantian, baik dari SMA Socrates atau sekolah lainnya. Kebanyakan menampilkan bakat di bidang musik, baik solo atau band. Ada juga yang menari, berpuisi, drama atau bermain sulap.
Grafit masih berkeliling, sementara Clara dan Jonathan memantau melalui kamera yang ditempel di kancing seragam Grafit. Belum ada tanda-tanda mencurigakan. Hingga terlihat seorang siswa yang berjalan sempoyongan, bahkan beberapa kali hampir terjatuh. Tidak diragukan lagi, dia dalam pengaruh obat-obatan terlarang.
[Grafit, Grafit. Arah jam dua.]
Grafit sama sekali tidak mengerti dengan perintah Clara. Ia melihat jam yang ada di tangannya. Jam dua. Kemudian memutar badannya ke arah angka dua. Tapi jam di tangannya juga sudah berputar. Ia pun kembali memutarkan badannya hingga tak sadar yang dilakukannya hanya berputar.
[Berhenti! Bukan itu maksudku! Lihat ke sebelah kanan panggung. Beberapa orang secara bergantian menghampiri tempat itu. Coba kau hampiri tempat itu, mungkin di sana ada pengedarnya.]
Grafit menurut. Ia berjalan ke arah tempat yang dimaksud Clara. Sejenak ia mengintip dan melihat seorang siswa sedang duduk santai di sebuah kursi. Ia memberikan sesuatu pada siswa-siswa yang datang menghampirinya.
“Oh, hanya siswa yang menjual pena,” lapor Grafit yang berencana kembali ke tempatnya tadi.
[Tunggu! Apa maksudmu dengan pena?]
“Pena seperti biasa. Bentuknya juga seperti pena. Hanya saja pilihan warnanya cukup mencolok. Seperti pena yang digunakan anak SD.”
[Aku tahu. Di awal tahun 2000an dulu, sempat heboh kasus pena yang beraroma harum dan membuat pusing jika dihirup. Banyak yang menduga aroma itu mengandung salah satu jenis narkoba.]
[Ya, benar. Dulu aku hampir saja mendapatkan pacar karena pena seperti itu.]
[Kau membuatnya di bawah pengaruh narkoba lalu memintanya menjadi pacarmu?]
Jonathan tidak melanjutkan ceritanya karena Clara sudah mulai mengeluarkan ejekan padanya. Grafit bertanya apa yang harus ia lakukan. Clara melarangnya melakukan apapun dan memintanya menikmati perannya sebagai siswa SMA. Ia pun bergegas pergi ke sekolah untuk mengadukan kejadian tersebut pada guru SMA sehingga mereka dapat menangkap pengedar itu.
Tiba-tiba sebuah musik terdengar, mengalihkan perhatian Grafit dan Jonathan. Mereka tahu itu adalah intro lagu berjudul Me Gustas Tu yang dibawakan kelompok vokal K-Pop kesukaan mereka. Clara yang sudah bersiap untuk berangkat hanya berdiri sambil memandang Jonathan.
“Bukankah ini lagu yang selalu membuat Grafit menari?” tanya Clara yang dijawab dengan anggukan oleh Jonathan. “Sial, kita harus melarangnya untuk menari.”
“Emm, seperti sudah terlambat,” kata Jonathan sambil menunjuk layar monitor yang gambarnya bergerak tak teratur. “Ia sudah menari.”
* * *
Ruangan majelis guru terlihat tegang. Seorang siswa duduk tertunduk dikelilingi oleh para guru yang memasang wajah marah mereka. Tidak ada keceriaan di ruangan itu. Sementara itu, Clara hanya memantau dari salah satu sudut. Ia tidak memiliki otoritas di sana karena, meskipun berada di bawah naungan yayasan yang sama, ia berasal dari unit TK. Namun berkatnya, siswa yang bernama Dimas Abimanyu itu harus menghadapi persidangan atas perbuatannya yang mencurigakan.
“Tadi Bapak melihat sendiri bagaimana caramu menjualnya. Seperti seorang bandar heroin. Kalau kamu tidak mau mengaku, Bapak akan langsung menyerahkanmu pada polisi dan membiarkan mereka memberikan hukuman yang pantas untuk pengedar sepertimu.”
“Saya bukan pengedar, Pak. Dan itu bukan narkoba.”
“Masih ngotot juga? Baiklah, Bapak akan menelepon orang tuamu. Setelah itu, Bapak akan menelepon polisi.”
Pak Satya tidak menggertak. Ia benar-benar menelepon orang tua Dimas sesuai dengan nomor yang ada di data pribadinya. Untuk dua kalimat pertama, guru Kimia itu masih berbicara dengan lantang dan dadanya membusung. Namun setelahnya, ia mulai memelankan nada bicaranya dan tubuhnya mulai membungkuk.
“Sepertinya Bapak hanya perlu sekali menelepon saja.”
Clara tidak tahu apa telah terjadi dengan pak Satya selama menelepon orang tua Dimas. Hingga ketika seseorang datang, Clara mengerti.
“Halo, Kapten Rian. Apa kabar?”
Ya, Kapten Rian. Clara sama terkejutnya dengan guru-guru yang ada di sana. Meski ia sedang tidak berseragam, kharismanya sebagai seorang AKP masih terpancar sehingga orang-orang di ruangan itu merasa terintimidasi dengan kehadirannya. Bahkan beberapa guru berpura-pura memiliki urusan mendadak untuk bisa keluar dari tempat itu.
“Kau punya anak sebesar ini? Wah, kenapa kau masih menggodaku?” tanya Clara dengan nada mengejek. Kapten Ria terkejut melihat keberadaan wanita yang pernah (atau masih) disukainya itu.
“Clara? Sedang apa kau di sini?”
“Menangkap anakmu.”
Pak Satya menjelaskan apa yang terjadi, termasuk informasi yang diberikan oleh Clara sehingga mereka dapat menemukan ‘jualan’ Dimas. Kapten yang selalu memasang senyumnya setiap kali berbicara dengan Clara itu mulai mengerutkan wajahnya. Ia seperti ingin menunjukkan kemarahannya pada Clara. Hal itu membuat Clara salah tingkah dan merasa bersalah meski tak tahu kesalahannya apa.
“Dia bukan anakku. Dia keponakanku.”
“Oh, begitu. Baiklah, karena urusanku sudah selesai, aku akan pergi dari tempat ini. Silakan menasehati ponakanmu agar dia tidak melakukan kejahatan lagi.”
Clara membungkukkan badannya untuk memberi hormat dan melangkah ke arah pintu keluar. Namun tanpa diduganya, Kapten Rian menggenggam tangannya. Perbuatannya itu membuat mereka menjadi pusat perhatian para guru dan orang-orang yang berada di ruangan tersebut.
“Bisa saya bicara empat mata?”
Pertanyaan yang cukup sulit untuk Clara jawab. Ia ingin menolak, tapi ia tidak memiliki alasan untuk menolak. Lagipula itu akan membuatnya terlihat seperti anak kecil. Akhirnya, dengan terpaksa ia menyetujui permintaan Kapten Rian.
Mereka berdua diberi ruangan kepala sekolah untuk berbicara oleh penghuninya sendiri. Jantung Clara berdegup kencang. Ia sangat belum siap untuk berbicara dengan pria itu, pria yang sekarang duduk di depannya, menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun selama beberapa menit. Ingin rasanya Clara memecah kesunyian itu, tapi ia tidak memiliki topik menarik yang bisa dijadikan pembukaan untuk pembicaraan mereka. Untung saja Kapten Rian akhirnya berbicara.
“Saya tahu kalau miss memiliki jiwa keadilan yang tinggi dan saya tahu miss punya hubungan spesial dengan G:0, tapi alangkah bijaknya jika miss tidak bertindak semaunya ketika melihat sebuah kejahatan dan segera menghubungi polisi untuk menanganinya.”
Clara benar-benar bingung dengan pernyataan sang kapten. Ia merasa tidak melakukan sesuatu yang salah dan pantas untuk pernyataan itu.
“Tidak bisakah kau katakan saja apa salahku? Jangan berputar-putar. Aku muak menghadapi pria sepertimu. Di rumahku ada yang sepertimu dan itu sudah cukup menguras emosiku.”
Nun jauh di sana, hidung Jonathan mendadak gatal dan ia bersin cukup kuat. Ia merasa ada seseorang yang sedang membicarakannya.
“Dimas bukan keponakanku, dan juga bukan bandar narkoba. Ia adalah informan yang kutugaskan di sekolah ini untuk menyelidiki sebuah kasus.”
Clara benar-benar terkejut. Otaknya seakan berhenti bekerja sehingga ia hanya bisa mematung dan ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.