G:0

G:0
RAHASIA YANG TAK LAGI MENJADI RAHASIA



Clara hanya duduk mematung. Tenaganya seperti sudah terkuras dan ia seperti tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Tak dihiraukannya polisi dan penjahat yang baru ditangkap lalu lalang di hadapannya. Yang ada di benaknya hanyalah kejadian tadi siang.


Seorang pria datang dengan langkah tergopoh-gopoh. Ia langsung menghampiri Clara ketika baru melihatnya dari kejauhan. Polisi lain melihatnya dengan heran. Tentu saja, semua orang tahu kalau dia adalah kepala dari polsek lain. 


“Kau tidak apa-apa, Bu Guru?”


Ya, pria itu adalah AKP Ferianto, atau yang sering dipanggil dengan gelar Kapten Rian. Ia terlihat panik sejak datang. Clara merasa canggung dengan perhatian yang diberikan oleh pria itu.


“Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin pulang.”


Kapten Rian segera beranjak dan berbicara dengan salah satu polisi yang ada di sana. Sepertinya ia hendak mengabulkan permintaan Clara secepatnya. Clara memandang percakapan kedua polisi itu. Ia masih tak percaya sikap kapten Rian masih seperhatian itu padanya padahal ia membuatnya berpikir kalau dirinya adalah seorang pria.


“Sebenarnya kau sudah bisa pulang, tapi mereka meminta sedikit lagi kesaksianmu untuk mengidentifikasi seseorang yang berada di sekeliling TKP dan bersikap mencurigakan.”


Clara mengangguk tanda setuju. Ia dibawa ke sebuah ruangan yang terpisahkan cermin besar dengan ruangan di sebelahnya. Sepertinya itu adalah cermin satu arah. Seorang polisi memerintahkan salah satu anak  buahnya untuk membawa seseorang ke ruangan di sebelah. 


Kapten Rian meminta Clara memperhatikan orang yang akan masuk ke ruangan itu dengan seksama. Jika ia pernah melihatnya atau mirip dengan sosok penculik tadi, ia tak perlu takut untuk mengatakannya.


Tapi ketika melihat orang itu, ia bukan takut. Ia terkejut. Ia sangat kenal dengan orang itu dan tak menyangka akan melihatnya di tempat dan situasi seperti ini. Tanpa sadar mulutnya menyebut nama orang tersebut.


“Jonathan!”


*          *         *


Borgol yang dari tadi mengikat tangan Jonathan telah dilepaskan, tapi ia belum boleh pergi ke mana-mana. Polisi masih membutuhkan keterangan darinya. Dengan wajah kesal, ia menjawab semua pertanyaan yang dicecar padanya, termasuk alasannya berkeliaran di sekitar gerbang sekolah.


“Clara adalah temanku. Ini adalah hari pertamanya kembali bekerja di sana setelah dipecat secara semena-mena. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja,” kata Jonathan dengan nada tinggi.


Kapten Rian memandangi Clara yang mendampingi interogasi Jonathan dari jauh. Hatinya bertanya-tanya, ada hubungan apa di antara mereka berdua. Untung saja, polisi yang menginterogasi pria berkacamata itu mewakilinya untuk menyampaikan pertanyaan itu.


“Memangnya kamu siapanya dia? Kakaknya?”


“Bukan, dia -” Jonathan melihat Clara dan ragu untuk menjawab. Ia menutup mata sejenak seakan ingin meyakinkan dirinya lalu menjawab, “Dia adalah sahabatku dan wanita yang kusukai sejak lama.”


Kapten Rian terkejut mendengarnya. Ia melihat kembali wajah Clara dan tidak ada perubahan emosi di sana. Ia berasumsi kalau Clara tidak menyangkalnya.


“Apakah dia tahu kalau kau -”


“Tahu,” kata Clara memotong ucapan Kapten Rian.


Entah kenapa, saat itu rasa cemburu mulai berkobar di hati pria berpangkat AKP itu. Meski telah mencoba menutup hatinya karena tahu Clara tidak bisa dicintainya, ia seperti tidak terima karena ada pria lain yang mencintai ibu guru itu walau sudah tahu siapa dia sebenarnya. Ia merasa telah kalah tulus.


Kemudian Kapten Rian mendekati Jonathan dan menepuk pundaknya. “Kau tidak boleh mencintainya. Sebesar apapun perasaan itu, kau salah jika membiarkannya. Mungkin di luar sana hal itu lumrah, tapi di negeri ini, hal itu adalah sebuah kesalahan. Sebaiknya kau akhiri saja perasaan itu.”


Polisi yang menginterogasi Jonathan tercengang mendengar nasihat Kapten Rian. Ia masih tidak paham maksud dari perkataan itu. Lalu ia mencoba memastikannya. “Jadi menurut Bapak, ia sedang melakukan kebohongan atau bagaimana?”


“Mungkin ia tidak bohong, tapi salah.” Kapten Rian menghembuskan napasnya lalu menatap Clara. Wanita itu tidak memberikan penjelasan itu karena mentalnya sudah cukup lelah karena penculikan tadi dan tak sempat untuk mengurus perkara sepele ini. Melihat ekspresi tak peduli itu, Kapten Rian melanjutkan kalimatnya. “Itu karena Bu guru Clara adalah seorang pria.”


“Apa? Putriku seorang pria? Siapa yang berani mengatakannya?”


Kali ini Clara ikut terperanjat ketika mendengar suara itu. Ia kenal dengan suara itu. Tak salah lagi, itu adalah suara ibunya. Dan benar saja, di pintu masuk ruangan itu sudah berdiri Nyonya Soetjipto, ibundanya tercinta.


“Maaf, Nyonya siapa?” tanya seorang polisi.


“Saya Rahita Soetjipto, ibu dari Clara Gabriella Soetjipto. Saya bisa pastikan kalau sejak lahir putri saya adalah wanita tulen. Kalau saya salah, saya akan berhenti menjadi ibunya.”


Mendadak suasana ruangan itu menjadi sunyi. Semua orang sedang berusaha mencerna atas apa yang baru saja terjadi. Kemudian Kapten Rian melihat ke arah Clara yang sedang pura-pura tidak menyadari sedang dilihat.


“Jadi, kalian sedang menyelidiki kasus penculikan anak, seorang pecinta yang kebetulan berada di sekitar TKP atau jenis kelaminnya?” tanya Jonathan memecah kesunyian.


*          *         *


Clara dan Jonathan berjalan menuju apartemen. Jonathan masih mengeluh sakit yang ia rasakan di pergelangan tangannya akibat bekas borgol. Sementara itu Clara masih memikirkan tindakan ibunya yang langsung mendatangi kantor polisi untuk melihat keadaannya. Ia tahu kalau selama ini ibunya selalu mengkhawatirkannya. Tapi sejak Clara menolak untuk mengikuti jejak karirnya sebagai pengusaha, sang ibu seakan malu untuk mengakuinya di depan publik. 


“Jadi, apakah G:0 harus turun tangan untuk kasus penculikan ini?” tanya Jonathan yang kembali menarik pikirannya kepada kasus yang menimpa muridnya, Jocelyn.


“Kau sudah dengar tadi kalau ini adalah kasus penculikan ketiga yang terjadi dua minggu terakhir. Di kasus sebelumnya, penculik sama sekali tidak meminta uang tebusan hingga kini. Kemungkinan besar motif penculikannya bukan uang tebusan. Artinya, nyawa anak-anak itu dalam bahaya.”


“Bahaya? Kenapa?”


“Jika bukan uang tebusan, motifnya bisa mengarah pada human trafficking atau perdagangan organ tubuh. Keduanya bukanlah hal yang baik untuk anak seusia Jocelyn,” kata Clara bercampur dengan kemarahan. “Polisi gagal menangani kasus ini, penculikannya dilakukan bukan demi tebusan dan mereka telah melakukannya tepat di depanku. Tidak ada lagi alasan untuk tidak melibatkan G:0. Dengan cara apapun, aku akan menangkap para penculik itu dan menyelamatkan Jocelyn.”


Jonathan mengangguk sebagai bentuk dukungan untuk tekad rekannya itu. Ketika sedang membangun semangat untuk memecahkan kasus ini, mereka dikejutkan oleh bunyi klakson dari mobil yang berjalan pelan di samping mereka. Mobil Kapten Rian.


“Masuklah. Aku ingin berbicara denganmu,” katanya.


“Aku sedang ingin berjalan dengan penguntitku.”


Kapten Rian tahu sangat tak pantas dan menghilangkan respek Clara jika ia memaksa wanita itu untuk masuk ke mobilnya. Kemudian ia bertanya dari dalam mobilnya, “Kenapa kau membohongiku?”


“Karena aku tak menyukaimu dan sudah menunjukkannya dengan jelas, namun kau terus memaksaku untuk menyukaimu.”


Kata-kata yang cukup tajam. Kapten Rian sempat bingung memilih kata yang tepat untuk menjawabnya. “Oke, kalau begitu, kenapa kau tidak ingin mencoba untuk menyukaiku?”


“Karena kau berada di posisi paling dasar tipe pria idamanku, menggusur tempat pria ini.” Clara menunjuk Jonathan yang senang karena posisi kapten itu lebih buruk darinya. “Dan aku punya seseorang yang kusukai.”


“Maksudmu Alec? Bukankah kau sudah putus darinya?” bisik Jonathan.


“Bukan, bukan Alec. Bahkan aku belum mengungkapkan perasaanku padanya. Ya, tingkatannya jauh di atas kalian sehingga aku sendiri masih merasa belum pantas untuknya.”


Clara tersenyum karena berhasil membuat kedua orang itu mematung. Dengan santai ia meninggalkan para pria yang sedang patah hatinya.