
Beberapa bulan sebelumnya
Seorang pria berlindung dari hujanan peluru di balik dinding. Dinding putih itu mulai tak terlihat putih lagi karena tercongkel oleh tembakan yang menghantam silih berganti. Meski nyawanya berada di ujung tanduk, pria itu tetap bersikap tenang. Ia lebih mengkhawatirkan topi fedora hitam kesayangannya lepas dari kepalanya daripada salah satu peluru itu menghantam jantung atau otaknya. Tapi ada yang lebih dikhawatirkannya.
Pria lain sedang meringkuk di sampingnya seperti seekor kucing yang baru saja tenggelam di selokan. Berbeda dengan pria bertopi fedora, wajah pria dengan kemeja motif bunga itu dipenuhi dengan ketakutan. Bayangan malaikat maut terpantul di matanya.
“Dorman, buka kemejamu itu,” kata pria bertopi fedora itu. Pria yang dipanggil Dorman tersebut menurut. Ia melepas kemejanya itu dan menyerahkannya pada pria bertopi fedora. “Aku ingin kau menjadi aku dan menghilang dari tempat ini.”
Dorman, pria yang masih meringkuk ketakutan itu masih bingung dengan perkataan abang sepupunya. Ia hanya menuruti perintah untuk mengenakan pakaian pria itu. Tapi rasa penasaran memaksanya untuk bertanya, “Kenapa?”
“Seorang Dorman takkan bisa membalas semua pengkhianatan ini, tapi Tuan Belati bisa. Sayangnya, kakiku tak mendukung,” kata pria itu sambil memegang kakinya yang sudah berlumuran darah. Kemudian ia melemparkan topi fedora hitam kesayangannya pada Dorman. “Pergilah. Turunkanlah penghukuman dari langit untuk para pengkhianat itu. Kau adalah Elang Besi terakhir.”
Dorman menurut. Ia bergerak pergi ketika Tuan Belati melemparkan granat terakhirnya. Setelah Dorman sudah menjauh, tempat itu meledak. Hati Dorman sangat hancur. Tuan Belati bukan hanya sekadar bos dan sepupunya. Ia telah menganggap pria itu seperti ayahnya sendiri. Kini yang tersisa di antara mereka hanyalah kenangan dan utang berupa dendam yang harus dilunasinya.
* * *
G:0 masih tidak percaya dengan pria yang sedang dihadapinya. Tak diragukan lagi, pria itu adalah Dorman, pria yang telah diklaim meninggal beberapa bulan yang lalu. Skuad G:0 seakan sedang berhadapan dengan mayat hidup.
[Pantas saja, ternyata dia adalah sepupu Tuan Belati. Mereka sama-sama dikabarkan tewas terbakar dalam sebuah ledakan di salah satu gudang milik Tuan Belati. Ada rumor yang mengatakan jasad Tuan Belati tidak ditemukan. Dan sepertinya kita tahu kalau yang hilang itu bukan jasadnya, tapi jasad Dorman. Hanya saja masih dalam keadaan bernyawa.]
Dorman, si Algojo Langit, memainkan pedangnya yang lain sambil menatap lawannya dengan serius. G:0 tidak tahu apakah pria itu sedang menunggu diserang atau bersiap untuk menyerang. Ia hanya harus tetap meningkatkan kewaspadaannya. Meski telah kehilangan pistol dan salah satu pedangnya, itu tidak membuat Algojo Langit lebih mudah untuk dikalahkan.
“Mengejutkan. Ternyata mayat itu adalah Tuan belati dan sepupunya masih hidup. Kau sangat hebat dalam memanipulasi kematianmu. Lalu apa yang kau lakukan? Apakah kau menyamar menjadi Tuan Belati yang lolos dari maut, lalu menelepon anggota Elang Besi satu per satu dan menyuruh mereka melakukan kejahatan di suatu tempat sehingga kau bisa membunuh mereka sebagai seorang pahlawan? Wah, tentu saja polisi akan menganggapnya sebagai aksi masyarakat teladan dalam memberantas para penjahat sehingga tak kepikiran untuk mengaitkannya dengan Elang Besi.”
Dorman tersenyum. Ia sama sekali tidak menyangkal, seakan menyetujui semua ucapan G:0. “Ya, benar. Sayangnya, ada satu mantan anggota Elang Besi yang memang dilahirkan sebagai pengecut sehingga lebih memilih bersembunyi daripada menebus kesalahannya pada Tuan Belati.”
G:0 bisa melihat seseorang sedang mengintip dari balik jendela rumah itu. Ia pasti tahu kalau ia yang dimaksud oleh Dorman.
“Tapi maaf, aku tak bisa membiarkanmu menyelesaikan pekerjaan balas dendammu itu. Dia takkan kubiarkan mati malam ini.”
“Kalau begitu, aku akan membunuh kalian berdua saja.”
Tiba-tiba Dorman bergerak cepat ke arah G:0 dan mengayunkan pedangnya. G:0 sedikit terlambat mengantisipasinya sehingga pedang itu sempat menebas bagian dadanya. Untungnya, tebasan itu cukup tipis dan tidak terlalu memengaruhi G:0.
[Hati-hati! Dia belum mendapatkan luka sedikit pun, jadi gerakannya masih sangat berbahaya.] Clara memberikan peringatan.
[Apakah kau tidak bisa melakukan gerakan menyilangkan tangan seperti tadi lagi?]
“Tidak. Ia mengubah gaya bertarungnya. Caranya memegang pedang juga sedikit berubah. Sepertinya Utsuryu bukan satu-satunya aliran pedang yang ia kuasai.”
[Tetaplah waspada, G:0.]
[Ya, kami tidak bisa banyak membantu karena kau lebih paham tentang bela diri.]
G:0 masih memperhatikan setiap gerakan Dorman. Ia tidak ingin lengah lagi. Sayangnya, ia kembali lengah karena tanpa disadarinya Dorman bergerak menuju pedangnya yang satu lagi. Kini kedua tangannya dipenuhi oleh senjata lagi.
“Terlepas dari motifku membalaskan dendam pada para bajingan itu, sebenarnya salah satu alasanku memakai konsep pahlawan yang membunuh penjahat adalah untuk mengajarimu menjadi pahlawan yang sebenarnya.”
“Maksudmu, dengan menjadi penjahat juga?”
“Penjahat hanya sebutan untuk orang yang melakukan hal yang salah untuk keuntungan pribadinya. Membunuh penjahat bukanlah kejahatan. Itu seperti membantu karma mencapai orang yang layak mendapatkannya.”
“Tapi kita adalah manusia yang memiliki adab. Kita punya hukum yang memberikan karma sesuai dengan seharusnya diterima setiap orang yang melakukan kesalahan.”
Dorman tertawa seakan sedang mengejek opini yang baru saja disampaikan oleh G:0.
“Hukum, katamu? Aku sudah hidup sebagai pelanggar hukum sejak anak-anak seusiaku baru masuk sekolah. Yang kupelajari adalah hukum hanya alat bagi para pemilik otoritas untuk mengendalikan rakyatnya. Ia takkan berdaya di hadapan orang-orang yang bisa mengendalikan para pemilik otoritas. Hukum itu bias, ambigu dan inkonsisten. Mempercayakan hukum sebagai alat untuk menegakkan keadilan adalah pemikiran paling polos yang dimiliki oleh seorang pahlawan. Untuk itu, dunia ini memerlukan algojo sepertiku untuk memberikan hukuman bagi para penjahat itu dengan cara yang benar.”
G:0 hanya melongo. Kemampuan intelektualnya belum di tingkat yang cukup untuk memahami kata-kata itu. Ia hanya bisa mengangguk seakan memahaminya.
Seketika itu juga Dorman menebaskan kedua pedangnya ke arah G:0. Gerakannya sedikit aneh. Jika sebelumnya gerakan pedang Algojo Langit seperti air yang mengalir sehingga alurnya bisa terlihat, sekarang bisa diibaratkan sebagai angin yang gerakannya tak teratur dan tak terlihat.
“Tidak ada cara lain. Aku harus melawannya dengan senjata juga,” kata G:0 yang disambut dengan senyuman oleh Jonathan. Senyum yang seakan meneriakkan kata ‘Sudah kubilang’ pada Clara. Senyum yang segera memudar ketika Clara menatapnya tajam.
[Senjata apa yang kau butuhkan? Pedang? Pistol? Granat? Cambuk laser? Boomerang api? Cakar bergerigi? Katakan saja apa yang kau butuhkan.]
Clara memukul kepala Jonathan yang berbicara sembarangan.
[Bagaimana kau bisa mendapatkannya sekarang? G:0 membutuhkan senjata saat ini juga.]
“Tenang saja, aku punya senjata.”
G:0 mengambil sebuah ranting yang berserakan di tanah.
[Maksudmu, senjatamu ranting itu?]
“Aku pernah belajar satu jurus dari guruku. Tidak hanya sekadar membuat sebuah benda menjadi semakin berat atau semakin ringan, jurus ini bisa membuat benda yang rapuh seperti ranting ini menjadi sepadat logam.”
Tanpa menunggu lama, G:0 segera menyerang Algojo Langit dengan ranting kayunya itu. Maka terjadilah sebuah pertarungan pedang yang seru. Tak disangka, G:0 memiliki keahlian menggunakan pedang yang sangat bagus. Bahkan Algojo Langit yang dibekali dengan dua pedang kewalahan menghadapinya.
Hingga ia melihat momentum ketika lawannya mengangkat kedua pedangnya terlalu tinggi. Ia bisa melihat bagian perut Algojo Langit terlalu terbuka dan cukup empuk untuk menjadikannya sasaran.
“Kau tahu? Aku sempat malu karena pernah dibanding-bandingkan dengan seorang pembunuh sepertimu,” kata G:0 sesaat sebelum menyerang tubuh sang Algojo Langit hingga pria itu jatuh kesakitan.
“Lihat saja, suatu saat kau akan menyesal karena terlalu menjunjung tinggi hukum. Kau akan melihat jika lebih banyak penjahat yang mengendalikan hukum daripada penjahat yang kau tangkap dan kau serahkan pada hukum,” kata Algojo Langit yang tersungkur kesakitan.
G:0 mengeluarkan seutas tali dari sabuknya untuk mengikat Algojo Langit sebelum diserahkan pada pihak yang berwajib. “Sepertinya tidak akan, karena yang kulakukan selama ini bukanlah untuk memberantas kejahatan, tapi untuk menolong dan melindungi orang sebanyak mungkin.”
Clara dan Jonathan saling pandang. Itu bukanlah kata-kata yang mereka ucapkan untuk G:0 tiru, tapi itu memang benar-benar berasal dari G:0. Mereka tersenyum dan merasa bangga karena G:0 memiliki pemikiran seperti itu.
* * *
Jonathan tak berhenti tersenyum sejak tadi. Ia sangat senang karena akan mendapatkan sebuah pelajaran penting dari seseorang yang selama ini ia jadikan panutan. Chef Barney, seorang ahli dalam menaklukkan wanita.
“Syarat pertama untuk menjadi muridku adalah tampan. Sayang sekali wajahmu tidak seperti temanmu yang model itu. Tapi tidak apa, kau hanya perlu kaya.”
“Apakah wanita lebih suka pria kaya daripada tampan?” tanya Jonathan.
“Untuk beberapa kasus, ya. Tapi saranku, jika kau kaya, pikirkanlah untuk operasi plastik.”
Kata-kata yang cukup menusuk bagi Jonathan. Secara tak langsung, chef Barney ingin mengatakan jika ia sangat tidak tampan.
“Syarat kedua adalah berani malu. Menaklukkan wanita adalah perkara menarik perhatiannya. Bahkan dengan wajah setampan ini saja aku harus bisa menahan malu agar para wanita mau memperhatikanku. Apalagi dengan wajah seperti itu, pasti membutuhkan usaha yang lebih besar. Apakah kau siap?”
Jonathan mengangguk. Ia sudah cukup sering menahan malu selama hidupnya. Dengan bonus perhatian wanita, ia rasa takkan rugi jika harus melakukannya.
“Syarat ketiga adalah tidak boleh menjadi menantuku.” Jonathan tersentak mendengar syarat berikutnya itu. Artinya, ia tidak boleh bermimpi untuk menikahi Clara. “Meski reputasiku terhadap wanita sangat jelek, aku tidak ingin putriku mendapat pria sepertiku. Ia pantas mendapatkan yang jauh lebih baik daripada ayahnya.”
Jonathan merenung. Itu adalah syarat yang sangat berat. Ia kembali merenung, apa yang sebenarnya ia inginkan? Sekadar mendapatkan cinta dari seorang wanita atau menjadi pria yang dapat dicintai oleh Clara seperti yang selama ini ia impikan?
“Maaf, Chef. Sepertinya aku mundur saja. Aku merasa belum siap untuk menaklukkan wanita.”
Chef Barney terkejut dengan ucapan teman anaknya itu. Ia pun hanya bisa mengangguk dan membiarkan pemuda itu pergi meninggalkannya, meninggalkan kesempatan untuk menjadi penerusnya sebagai penakluk wanita.
“Bagaimana dengan model itu? Apakah ia mau menjadi muridku? Ah, tidak. Aku berharap dia bisa menjadi suami Clara. Dia cukup tampan, baik dan punya potensi besar untuk menjadi model terkenal,” gumam chef Barney dalam hatinya.