
Tarjo menggigil ketakutan. Tubuhnya yang terikat sudah penuh dengan luka. Ia menangis tiada henti, berharap mendapatkan belas kasihan. Seumur hidupnya, ia telah melakukan banyak sekali kejahatan yang membuatnya diburu oleh banyak orang. Tapi ini adalah masa yang paling menyeramkan di dalam hidupnya, seakan maut yang sedang ditatapnya tidak cukup menyeramkan lagi.
“Bukankah sudah kukatakan kalau aku tidak pernah melanggar perjanjian kita?” Dengan sisa tenaganya, Tarjo masih berusaha memberikan pembelaan diri.
Sosok berjubah itu kembali memukul wajah Tarjo sehingga darah mengalir deras dari hidungnya. Tangis Tarjo semakin kencang, sekencang teriakan meminta maafnya. Namun sosok berjubah itu tidak peduli. Ia bahkan menjambak rambut Tarjo dan membenturkannya ke sandaran kursi.
“Berhenti menyangkal. Aku tahu yang telah kau lakukan padaku. Aku sudah memberikanmu target terbaik, seorang eksportir emas yang terobsesi dengan jabatan pemerintahan. Bahkan aku juga memberikan daftar kekayaannya yang bisa kau keruk. Tapi apa selanjutnya? Setelah berhasil, kau malah membuat semua bukti mengarah padaku. Kau mengkhianatiku.”
“Aku tidak mengkhianatimu. Itu hanya kecelakaan. Aku benar-benar tak sengaja menjatuhkan arlojimu di rumahnya. Aku hanya -”
“Tarjo, Tarjo. Kau pikir aku tidak tahu apa-apa?” Sosok berjubah itu mendekatkan wajahnya ke wajah Tarjo yang sudah penuh dengan darah. “Aku tahu segalanya. Aku bahkan tahu baru-baru ini kau berkomunikasi dengan Geppetto.”
Tarjo terkejut. Pertemuannya dengan Geppetto seharusnya menjadi rahasia. Tak ada yang tahu kalau mereka pernah bertemu. Lebih tepatnya, tak ada yang boleh tahu. Geppetto alias Patricia adalah salah satu anggota penting Kraken. Namun semua anggota tahu kalau ia memiliki kondisi psikologi yang paling labil. Maka di dalam tubuh Kraken ada semacam peraturan tak tertulis untuk tidak mengusik Geppetto. Itu artinya, jika ada anggota Kraken yang tahu pertemuan itu, terutama pembicaraan mereka tentang masa lalu Geppetto, maka tidak diragukan lagi nyawa Tarjo akan terancam melayang.
“Kumohon, jangan ceritakan itu pada siapa-siapa.”
Sosok berjubah itu tertawa. Ia menampar-nampar pipi Tarjo dari belakang.
“Geppetto. Beraninya dia menggunakan nama dari tokoh dongeng. Apakah dia pantas menggunakan nama itu?”
“Dia menciptakan banyak senjata dan peralatan canggih untuk Kraken,” kata Tarjo yang sepertinya tidak memberikan kepuasan bagi sosok berjubah itu. “Dan dia memiliki pabrik mainan.”
“Baiklah, dia memenuhi syarat untuk memakai nama Geppetto.” Sosok berjubah itu tersenyum puas. Kemudian ia berjalan sedikit menjauhi Tarjo. “Hanya saja dia tidak membuat Pinokio, karena boneka kayu itu sudah lama tercipta dengan sendirinya.”
Tubuh Tarjo semakin gemetaran ketika menerima tatapan tajam dari pria berjubah itu.
“Aku akan melakukan apapun untukmu. Asalkan kau mau membiarkanku hidup..”
Sosok berjubah itu tertawa dan kembali mendekati Tarjo. Tangannya dikalungkan ke leher Tarjo sehingga penipu itu kesulitan bernapas. “Kau ingin membuat kesepakatan denganku?”
“Ma, mau. Aku mau,” kata Tarjo sambil mengangguk kencang. “Aku punya sesuatu yang pasti kau inginkan.”
“Wah, wah. Seorang penipu merasa tahu apa yang kuinginkan. Katakan, apa itu?”
“Identitas asli G:0,” jawab Tarjo. “Aku tahu siapa nama aslinya, di mana dia tinggal dan siapa saja teman-temannya.”
“Kenapa kau berpikir aku menginginkannya?”
“Karena dia telah menggagalkan rencana pembunuhanmu. Dua kali, bukan?”
Sosok berjubah mulai tertarik dengan penawaran yang diberikan Tarjo. Kemudian ia menjambak wajah penipu itu dan mengangkatnya. Ia pun memberikan senyum, senyuman yang tak kalah menyeramkan dibandingkan penyiksaan yang dilakukannya.
“Baik, kita akan membuat kesepakatan, asal kau bisa menyebut nama lengkapku.”
“Rumpelstiltskin, namamu Rumpelstiltskin.”
Sosok berjubah itu menempelkan jari telunjuknya ke atas bibir Tarjo sebagai tanda untuk menyuruhnya diam. Ia pun mengambil pisau lalu menyayat telapak tangan kiri Tarjo sehingga pria itu menjerit kesakitan. Setelah itu, ia menyayat telapak tangannya sendiri lalu menempelkannya ke telapak tangan kiri Tarjo.
“Bukan Rumpelstiltskin.” Pria berjubah itu membuka tudungnya sehingga wajah seramnya semakin jelas terlihat. “Panggil saja Sang Pendongeng.
* * *
Pikirannya sekarang sangat buntu. Ia sangat ingin menyelamatkan kedua temannya, tetapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Semua petunjuk tentang penculikan itu tertinggal di apartemen dan semua milik para petugas kepolisian. Ia sadar kalau otaknya tidak sepintar Clara atau Jonathan.
Di tengah kegalauannya, Grafit ingat dengan Rosalia. Wanita itu pasti akan membantunya, setidaknya dalam hal makanan dan tempat tinggal. Saat ini perut kosongnya seakan sedang memberontak melawan dirinya. Untungnya, ia tahu alamat bengkel Rosalia.
Namun sayang, bengkel itu tutup ketika Grafit mendatanginya. Rasa laparnya saat ini benar-benar mengganggunya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu sambil memikirkan tempat yang bisa ia tuju. Toko milik Dicky menjadi kandidat terkuat tujuan berikutnya.
“Grafit! Sedang apa kau di sini?”
Sebuah suara yang familiar di telinga Grafit datang dari belakangnya. Ia menoleh, dan tebakannya benar. Itu adalah suara Rosalia. Wanita itu segera membawa Grafit ke sebuah gang sempit. Di ujung gang itu ada pintu belakang sebuah gedung. Clara membuka pintu itu dan mengajak Grafit masuk. Di dalam gedung itu, mereka masih harus menuruni tangga untuk mendapati sebuah rubanah. Di sanalah Rosalia biasa menghabiskan waktu istirahatnya.
“Kita tidak boleh terlihat. Ingat, orang yang pertama kali dicurigai dalam sebuah kasus adalah keluarga dan orang terdekat dari korban. Mereka akan curiga jika tahu kau tidak apa-apa sedangkan dua orang yang tinggal di apartemen tempatmu tinggal menjadi korban penculikan.”
Grafit mengangguk, entah karena mengerti dengan maksud perkataan Rosalia atau karena perhatiannya sekarang hanya pada roti yang ada di meja Rosalia. Melihat wajah lapar itu, Rosalia pun melempar roti itu padanya.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Grafit.
“Entahlah. Aku juga bingung.” Rosalia menyalakan televisinya dan berharap ada berita yang bisa memberikan petunjuk untuk mereka. “O ya, bagaimana hasil pembicaraanmu dengan Pak Presiden? Apakah ia memberitahukanmu identitas Sang Pendongeng?”
Suasana hati Grafit kembali memburuk ketika mengingat kejadian di rumah sakit tadi. Ia tahu telah bersikap gegabah sehingga tidak mau menunggu Tarjo memberikan petunjuk tentang Sang Pendongeng. Seandainya saja tidak demikian, mungkin saat ini ia sedang menyelamatkan kedua temannya.
“Tidak ada. Ternyata dia tidak melihat wajah pelakunya.” Grafit terpaksa berbohong. Bukan karena takut Rosalia marah padanya, tapi karena ia ingin menutupi rasa bersalahnya. “Ah, aku ingat dia mengatakan sesuatu. Seperti ransel dan ketel.”
Butuh waktu beberapa detik bagi Rosalia untuk dapat memahami maksud dari perkataan Grafit itu. “Mungkin maksudnya Hansel dan Gretel.”
“Benda seperti apa itu?” tanya Grafit yang baru pertama kali mendengar kedua kata itu. Bahkan ransel dan ketel, benda yang ia kenal, sudah membuatnya bingung.
“Itu adalah judul dan nama karakter sebuah dongeng. Ceritanya tentang dua kakak beradik yang dibuang ayah kandung dan ibu tirinya di hutan. Kemudian mereka menemukan rumah yang terbuat dari permen dan kue, atau lebih dikenal dengan Rumah Kue Jahe. Ternyata itu adalah rumah penyihir. Singkat cerita, penyihir itu hendak memasak dan memakan mereka, tapi mereka berhasil membunuh penyihir itu selagi ia lengah dan melarikan diri dengan membawa beberapa harta benda dari rumah tersebut.”
“Ada apa dengan semua dongeng yang ada di dunia ini? Kisah Cinderella menceritakan tentang seorang wanita yang tidak bersyukur dengan keadaannya sehingga menipu satu istana untuk bisa berpesta. Kisah Putri Salju menceritakan tentang mendapatkan ciuman dari orang asing itu bisa memberikan dampak yang baik. Lalu kisah Ransel dan Ketel menceritakan tentang anak-anak yang masuk ke rumah orang lain tanpa izin, membunuh pemiliknya dan mengambil harta benda yang ada di sana. Dongeng memang sangat buruk bagi anak-anak.”
Rosalia tersenyum geli melihat ekspresi resah namun terkesan lucu yang ditunjukkan Grafit saat mengatakannya. Seakan pria itu benar-benar mengkhawatirkan keadaan anak-anak yang mendengar dongeng.
Tiba-tiba Grafit berdiri. Wajahnya terlihat pucat seakan baru melihat sesuatu yang menyeramkan.
“Ada apa?” tanya Rosalia.
“Alat komunikasi yang biasa menghubungkanku dengan Clara dan Jonathan menyala.” Rosalia segera mendekatkan telinganya ke telinga Grafit yang terpasang alat komunikasi itu. “Halo.”
Mereka menunggu jawaban dari seberang. Tapi tidak terdengar apa-apa. Beberapa detik kemudian, terdengar sebuah suara yang berat nan berkharisma. Bahkan mereka merinding saat mendengarnya.
[Halo, G:0. Senang berkenalan denganmu.]
“Di mana Non Clara dan Jonathan?!”
[Maksudmu, Hansel dan Gretel? Tenang saja, mereka aman di rumah biskuit. Mungkin sebaiknya kau datang ke sini. Air untuk merebus hampir mendidih dan aku akan memasak mereka. Percayalah, aku butuh teman makan untuk menghabiskannya.]
Wajah Grafit dan Rosalia mendadak pucat. Mereka sama-sama berfirasat kalau orang itu tidak sedang bercanda.