
“Non Clara belum pulang?” tanya Grafit saat baru tiba.
“Entahlah. Dia memutuskan komunikasi dengan kita. Kurasa dia sedang bersenang-senang dengan pacarnya,” jawab Jonathan ketus. Ia menggerakkan tinju dan tendangannya ke arah pintu kamar seakan wanita itu ada di sana.
Sementara itu Grafit duduk dan mengeluarkan setumpuk kaset dari lemari. Kemudian ia membimbangkan diri saat memilih salah satu kaset. Setelah berhasil memutuskan, ia memasang salah satu kaset ke pemutarnya dan duduk di sofa.
Jonathan tertarik melihat video musik yang diputar oleh Grafit. Ia ingat tiga di antara enam perempuan yang di dalam video itu. Mereka adalah anggota VIVIZ.
“Bukankah itu VIVIZ? Siapa tiga orang lagi?”
“Jadi sebelum membentuk VIVIZ, mereka itu adalah anggota grup GFriend. Karena ada satu dua hal, mereka keluar dari agensi. Sowon, Yerin dan Yuju bergabung dengan agensi yang berbeda, sementara Eunha, Umji dan SinB bergabung di agensi yang sama lalu membentuk VIVIZ. Bukankah aku pernah menceritakannya padamu?”
“Saat itu cerita tersebut tak penting bagiku,” kata Jonathan sambil duduk di samping Grafit dengan mata terus ke arah televisi. “Mereka cantik-cantik. Itu Yerin, ya? Seperti mantan pacarku.”
Grafit memberikan tatapan tak percaya pada Jonathan. “Maksudmu Sonia? Yang kata Non Clara mirip drum minyak itu?”
“Kenapa kau banyak berubah? Dulu kau selalu berkata manis padaku. Ini pasti pengaruh buruk Clara. Dia pun belakangan ini sering bersikap buruk padaku. Semoga saja suatu saat ia mendapatkan karmanya.,” gerutu Jonathan.
Sementara itu, Clara dan kekasihnya, Alec, sedang terkurung di sebuah ruangan yang gelap dan lembab dengan kondisi tubuh terikat. Di dekat mereka ada seorang pria yang sedang mempersiapkan alat-alat bedah. Pria itu tak lain adalah sopir taksi online tadi.
* * *
Sebuah rumah kecil bercat hijau berdiri di antara padatnya rumah di lingkungan itu. Rumah itu tidak berpagar, tapi terasnya cukup luas. Setiap orang yang ingin berkunjung hanya perlu melintasi teras dan mengetuk pintu saja. Seperti Jonathan, kecuali ia menggedor pintu hingga mengganggu tetangga sekitar.
“Alec, buka! Aku tahu ini rumahmu. Buka! Clara, aku akan menyelamatkanmu!”
Tiba-tiba pintu terbuka. Jonathan sudah bersiap menyerang Alec jika pria itu muncul dari balik pintu tersebut. Tapi yang muncul bukan dia, melainkan seorang nenek tua. Jonathan langsung berubah sikap menjadi sangat sopan.
“Eh, selamat siang, Nek. Ada Alec? Saya temannya.”
“Alec belum pulang dari tempat kerjanya,” kata sang nenek dengan suara yang sudah gemetaran.
Jonathan pulang dengan perasaan malu. Ia harus melintasi rumah-rumah yang terasnya sudah diisi oleh para warga yang terganggu dengan teriakannya tadi.
Ada alasan Jonathan sepanik itu. Ia baru saja menerima sinyal minta tolong dari Clara. Tanpa berpikir panjang, ia segera meluncur ke rumah Alec. Padahal ia dapat melacak lokasi alat pengirim sinyal tersebut. Ia harus segera kembali ke markas.
“Grafit, kita harus beraksi sekarang,” titah Jonathan saat baru masuk apartemen Clara. “Ketua kita sedang dalam bahaya.”
Grafit yang baru saja memejamkan matanya untuk menuju mimpi siang hari langsung berdiri tegak dan segera menghampiri Jonathan. Ia mendapat penjelasan tentang sinyal bahaya yang baru didapatnya. Tanpa diperintah lagi, Grafit langsung mengenakan kostum G:0 dan menunggu Jonathan menyebut lokasi asal sinyal itu dikirim.
G:0 mengangguk dan bergegas menuju jendela. Ia melihat sekitarnya dan memastikan tidak ada yang melihat, lalu melompat ke luar dengan cepat. Lokasi yang disebut Jonathan tadi cukup jauh dari sana dan dengan kemampuan G:0, butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di sana.
Sementara itu, di lokasi penyekapan, Clara dan Alec sedang berusaha melepaskan diri. Ia tidak menduga akan memakai beberapa peralatan yang diberikan Jonathan. Selain tombol pengirim sinyal yang ia selipkan di jam tangannya, Jonathan juga memberikan resleting palsu untuk ditempelkan Clara di bagian belakang roknya. Dikatakan palsu karena itu bukan resleting, melainkan gergaji kecil fleksibel yang akan kaku jika dilepas dari rok itu. Berhubung tangan Clara terikat ke belakang, ia tidak kesulitan mengambil gergaji itu dan kini sedang berusaha melepaskan ikatan Alec tanpa ketahuan si penculik.
Alec terlihat lebih ketakutan dibandingkan Clara. Beberapa kali ia menangis sehingga menari perhatian si penculik dan tentu saja mengganggu misi melarikan diri mereka. Clara harus memaki agar Alec bisa tentang. Meski masih mengganggu, pria itu bisa lebih tentang dari sebelumnya.
“Oke, ikatanmu sudah lepas, sekarang giliranmu melepas ikatanku.”
Sambil sesenggukan, pria itu melakukan perintah pacarnya. Clara tak menyangka, untuk ukuran tubuh sebesar itu, tenaga Alec sangat lemah. Ia masih belum berhasil memotong ikatan Clara dalam waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya Penculik itu datang menghampiri.
Clara berbisik pada Alec untuk berhenti memotong dan tetap tenang. Wajah pria itu sangat menakutkan, terutama setelah ia melepas kacamata dan rambut palsunya. Ia membungkuk seakan ingin menempelkan wajah menakutkannya itu pada mereka.
Tanpa diduga, Alec menangis dan meminta maaf pada penculik itu. Ia bahkan menunjukkan ikatannya yang lepas beserta gergaji itu dan menuduh Clara yang menyuruhnya. Penculik itu marah dan menendang perut Clara. Wanita itu merintih kesakitan seraya memaki pacarnya itu di dalam hati.
Tidak sampai di situ. Penculik tersebut memukul wajah Alec hingga pingsan dan menarik rambut Clara. Ia menyeret dan membaringkan Clara ke atas sebuah meja. Di sekitar meja sudah terdapat berbagai alat medis yang biasa dipakai untuk operasi. Pria itu memeriksa tubuh Clara dan tersenyum senang.
“Tubuh yang bagus. Organ tubuhmu juga sepertinya masih sempurna,” kata pria itu. “Wanita, golongan darah O, mata baik, jantung baik, ginjal dan hati juga baik.”
Saat itu firasat Clara semakin tidak enak. Ia merasa pria itu akan mengambil organ-organ tubuhnya untuk dijual. Akhirnya, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun yang lalu, ia menangis. Ia merasa hidupnya akan segera selesai. Di dalam hatinya ia mengucapkan permintaan maaf pada orang-orang yang disayanginya, terutama papa dan mamanya. Sempat terpikir nama pak Dodo dan kapten Rian, tapi segera dilupakannya.
Pria itu menyuntikkan sesuatu di lengan kiri Clara, yang membuat seluruh tubuhnya seakan tak bisa digerakkan lagi. Pandangannya juga mulai kabur, tapi ia masih bisa melihat sekilas sosok pria itu memegang sebuah bor. Pendengarannya juga masih cukup baik dalam menangkap suara.
Bunyi bor semakin kencang terdengar, demikian juga dengan doa-doa dan tangsisan yang keluar dari mulut Clara. Saat ini ia hanya bisa berharap semua kejadian ini segera terlewati tanpa rasa sakit.
Tiba-tiba pintu didobrak dan G:0 muncul. Ia melihat si penculik dengan pakaian dokternya sedang memegang alat bornya yang sudah hampir mengenai kepala Clara. Dengan sigap ia menerbangkan bor itu dan melemparkannya sejauh mungkin dari Clara.
“Wah, wah, suatu kehormatan seorang pahlawan super mendatangi klinik kecilku ini. Untung saja aku sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambutmu. Sayangnya, aku sudah menunggumu sejak korban pertamaku dan ternyata kau baru datang untuk korban kedua puluh tigaku.”
Penculik itu mengambil sebuah gergaji mesin besar yang dilapisi Ungravity. Meski mengetahuinya, G:0 sama sekali tidak gentar. Bahkan ketika beberapa orang datang membawa senjata yang hampir sama, ia tak goyah sedikitpun. Saat ini hatinya dipenuhi dengan amarah karena pria itu telah menyakiti temannya dan itu tidak bisa dimaafkan.
“Jonathan, musik tema,” kata G:0 sambil menekan tombol di lengannya.
[Tentu saja. Yeoja Chingu forever, my buddy!]
Kemudian Jonathan memutar lagi Mago dari grup GFriend, yang terdengar juga melalui speaker di lengan G:0. Di balik topengnya, G:0 tersenyum dan beberapa detik kemudian, ia langsung berlari ke arah si penculik itu.