
Sebuah musik klasik menggema di seantero ruangan. Toccata and Fugue in D Minor karya legendaris dari komposer Johann Sebastian Bach, memberikan kesan misterius ruangan yang berdesain ala Eropa abad pertengahan.
Seorang pria dengan usia mendekati lima puluh tahunan sedang sibuk membersihkan koleksi senjata kesayangannya. Baginya, kegiatan itu adalah sebuah ritual favoritnya. Di momen-momen itu ia seperti sedang bermesraan dengan benda-benda yang ia cintai, mungkin yang lebih ia cintai dari anak kandungnya sendiri.
Berbicara tentang anak kandung, seorang anak laki-laki sedari tadi mengintipnya dari balik jendela. Dia adalah anak kandung pria itu, yang mungkin tidak lebih dicintai dari koleksi senjatanya. Anak laki-laki itu memang tidak memiliki hubungan yang dekat dengan ayahnya. Meski demikian, ayahnya itu adalah sosok yang paling ia kagumi. Baginya, pria berkumis itu adalah sosok yang luar biasa. Menurut cerita sang ibu, ayahnya adalah seorang legenda. Ia memimpin sebuah organisasi besar tempat berkumpulnya orang-orang hebat.
Tiba-tiba sang anak terkejut ketika ayahnya menunjuk ke arahnya lalu memberi isyarat untuk masuk.
“Lyngbakr, sedang apa kau di sana?” tanya pria itu.
“Aku hanya ingin melihat ayah.”
“Kenapa? Apakah kau tidak takut dengan senjata-senjata ini?”
“Tidak, aku tidak takut. Jika besar nanti, aku ingin menggunakan senjata-senjata itu.”
Pria itu tertawa mendengar keinginan anaknya. Kemudian ia mengacungkan salah satu pistol yang memiliki ukiran bergambar gurita ke depan mata anaknya.
“Mungkin kau bisa menggunakan senjata yang lain. Tapi untuk yang ini, hanya pemimpin Kraken yang boleh menggunakannya.”
“Kalau begitu, suatu saat aku akan menjadi pemimpin Kraken.”
“Tak mungkin.” Pria itu tertawa mengejek sambil meletakkan pistol berukiran gurita tadi, seakan ingin menghalangi anaknya agar tidak bermimpi terlalu jauh. “Kau takkan bisa menjadi pemimpin Kraken."
Hati sang anak hancur karena ayahnya sendiri tidak mempercayainya. Dengan bibir gemetar, ia bertanya, “Kenapa?”
“Kau terlalu lembut seperti ibumu. Kraken bukanlah taman bermain atau tempat untuk mendapatkan cinta kasih. Kraken adalah neraka. Di sana kau harus siap memberikan setiap hidupmu untuk bertarung. Tidak ada kawan, bahkan jika engkau pemimpin sekalipun. Kau harus memprediksi pengkhianatan dari setiap anak buahmu.”
Sebagai seorang anak kecil yang jarang berbicara dengan ayahnya, Lyngbakr mengingat terus perkataan itu, terutama ketika salah satu anak buah ayahnya yang bernama Draugr menangkap sang pemimpin Kraken yang kharismatik itu dan membunuhnya dalam aksi kudeta.
Saat pengkhianatan itu terjadi, Lyngbakr telah dibawa ibunya pergi ke kota lain untuk bersembunyi. Tapi ia mendengar perkembangan nasib ayahnya. Ia kecewa, bukan karena ayahnya mati secara tragis. Ia kecewa karena ayahnya takkan bisa melihatnya menjadi pemimpin Kraken.
* * *
Lyngbakr, atau Kapten Rian dengan nama baru (lebih tepatnya nama lama), berhenti menembaki G:0 karena bukannya mengenai sosok serba hitam itu, ia malah melukai beberapa orang Kraken. Ia harus lebih memperhitungkan tembakannya. Namun hal itu malah memberi ruang yang semakin besar bagi G:0.
Pengendali gravitasi itu muncul dari belakang Lyngbakr tanpa diduga. Ia melakukan tendangan lutut dan langsung menghantam wajah Lyngbakr yang belum siap menerimanya. Lyngbakr bangkit dengan amarah yang memuncak. Ia menekan tombol di lengannya dan seketika kostumnya berubah. Melihat tubuhnya sedikit melemah ketika melihat perubahan kostum Lyngbakr, G:0 tahu kalau kostum itu kini dilapisi oleh Ungravity. Bukan yang selama ini ia lihat, Ungravity di kostum Lyngbakr sepertinya lebih kuat dari biasanya.
“Kau pasti menyadarinya. Ungravity telah berhasil disempurnakan oleh Geppetto sehingga sekuat Batu Raya. Kekuatannya sekarang bahkan melebihi kekuatan baja terbaik.”
Lyngbakr segera melompat ke arah G:0. Kini gilirannya untuk menghajar. G:0 tidak sempat menghindar dan terpaksa harus melayani serangan Lyngbakr. Ia mencoba menangkis dengan menyilangkan tangannya, tapi pukulan Lyngbakr kali ini jauh lebih dahsyat dari sebelumnya, apalagi ia menggunakan Ungravity. G:0 hanya bisa pasrah menjadi bulan-bulanan serangan Lyngbakr yang bertubi-tubi. Dan sesi itu berakhir dengan pukulan keras ke perut G:0 yang membuat ia terpental cukup jauh.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Mago. Kebetulan G:0 mendarat tepat di dekat wanita penyihir tersebut.
“Kudengar namamu Mago,” kata G:0 tanpa menjawab pertanyaan Mago. “Aku menyukai lagu itu dan sering kujadikan lagu temaku ketika melawan musuh.”
Mago tidak mengerti dengan ucapan G:0. Ia pun bersikap ramah dengan tersenyum. “Terima kasih.”
“O ya, bukankah kau penyihir? Apakah kau tidak kepikiran untuk membuat portal ke tempat lain? Sepertinya kita akan kalah.”
Senyum ramah Mago berubah menjadi terlihat kesal. “Kau pikir aku Dr. Strange?”
Mago mengarahkan tongkatnya ke beberapa orang Kraken dan sebuah sinar muncul dari benda itu. dalam sekejap, orang-orang Kraken itu berubah menjadi batu. G:0 terkejut dan mulai takut pada Mago. Ia pun memilih untuk menjauh agar tidak membuatnya semakin marah.
"Satu hal yang paling kubenci darimu sejak dulu adalah kau terlalu menganggap remeh Kraken," ujar Lyngbakr di tengah pertarungan mereka. "Kraken adalah neraka, bukan taman bermain."
Melihat dirinya sulit mengatasi serangan lawannya, G:0 terbang untuk mengatur napas. "Aku sudah melihat bagaimana Kraken dan menurutku tidak terlalu spesial."
Lyngbakr tertawa lalu mendadak berhenti. Matanya menatap G:0 dengan tajam. “Jika kau berpikir Kraken hanya sesempit yang kau lihat di gedung ini, kau salah. Kraken jauh lebih besar. Banyak anggota-anggota penting yang tidak ambil bagian dalam Kongres.”
Lyngbakr melompat sehingga sekarang tingginya setara dengan G:0. Ia tidak terjatuh, melainkan melayang di udara. Ia terbang.
"Aku hanya tak habis pikir, meski selama ini kau menyebalkan, aku melihat kesungguhan hatimu dalam memberantas kejahatan, khususnya semua kejahatan yang melibatkan Kraken."
“Tentu saja. Aku muak mendengar Kraken dianggap sebagai penjahat kelas teri yang terlalu bodoh untuk menyandang gelar sebagai penjahat. Karena itu, aku aku memang sungguh-sungguh ingin menghancurkan Kraken.”
Lyngbakr melesat ke arah G:0. Clara dan Jonathan yang memperhatikan dari markas akhirnya sadar apa yang membuat Lyngbakr terbang.
[Sepatunya. Lyngbakr terbang karena sepatunya.]
G:0 tidak sempat memperhatikan sepatu itu. Ia sudah disibukkan dengan serangan si pemilik sepatu. Jual beli serangan kembali terjadi. G:0 mulai bisa sedikit mengimbangi karena meskipun Lyngbakr bisa terbang, G:0 masih lebih terbiasa berada di udara.
“Jika kau benar-benar ingin menghancurkannya, kenapa sekarang kau membelanya?”
“Aku menghancurkannya justru karena ingin memperbaikinya. Gedung yang sudah reot dengan pondasi yang tidak kokok sebaiknya dihancurkan agar bisa dibangun kembali gedung yang lebih baik.”
“Maksudmu?”
“Selama beberapa tahun belakangan, Kraken dipimpin oleh orang lemah. Meski menjadi organisasi yang paling berkuasa di negeri ini, Kraken masih belum bisa mendapatkan kepercayaan penuh dari publik dan terbukti gagal menangani para pengganggu yang menganggap diri mereka pejuang.”
“Apakah, tujuan Misi Perseus membunuh Draugr bukan untuk membuat Kraken mudah dikalahkan, tapi untuk membuatmu menjadi pemimpin Kraken menggantikanmu?”
Lyngbakr tertawa terbahak-bahak. G:0 pun bingung melihat sikapnya itu. “Ternyata kau lebih pintar dari yang kuduga. Aku memang merancang Misi Perseus untuk menjadi pemimpin Kraken.”
G:0 dan para pejuang yang mendengar perkataan Lyngbakr terkejut. Mereka yang selama ini menaruh harapan besar pada Misi Perseus kecewa karena tahu tujuan utama misi tersebut adalah demi kepentingan pribadi Lyngbakr, orang yang telah mengkhianati mereka.
“Kau memang iblis,” maki Mago. Tapi Lyngbakr seakan tak peduli dengan makian itu.
G:0 berhasil melihat celah. Kemudian ia segera melompat dari atas Lyngbakr dan menyerang bagian belakang lawannya itu. Lyngbakr cukup kerepotan melayani serangan itu.
“Aku hanya tak habis pikir, bertahun-tahun kau berhubungan dengan para anggota Persekutuan Sembrani, namun kau tega mengkhianati mereka.”
“Tentu saja aku tega. Dalam tubuhku mengalir darah Kraken. Seperti yang kukatakan, Kraken bukanlah taman bermain. Terkadang kami harus berkhianat demi kebaikan Kraken.”
“Maksudmu, selama ini kau berpura-pura menjadi polisi yang baik, melawan Kraken dan membentuk Persekutuan Sembrani hanya untuk mendapatkan posisi pemimpin Kraken?”
Lyngbakr tidak menjawab dan hanya tersenyum sambil terus menyerang. G:0 berhasil menangkap tinju Lyngbakr yang sedari tadi pergerakannya sangat liar dan merepotkan. Ia tersenyum, namun seketika senyumnya lenyap ketika mendengar tawa Lyngbakr.
[G:0, menghindar! Di tangannya itu ada pistol.]
Dan benar saja, besi yang membungkus sisi dalam tangan Lyngbakr tiba-tiba terbuka dan muncul sebuah pistol tua berukiran gurita yang langsung bergerak ke telapak tangannya. Dalam hitungan sepersekian detik, terlontar beberapa peluru dari benda itu. Salah satunya mengenai perut G:0. Sial baginya, peluru itu terbuat dari Ungravity.
“Jika kau mati, sampaikan salamku pada ayahku. Katakan padanya kalau anaknya akan menjadi pemimpin Kraken.”
G:0 merintih kesakitan. Darah mulai mengalir dari lukanya. Sambil menahan sakit, ia berkata, “Ayahmu pasti masuk neraka, takkan mungkin bertemu denganku.”