
Sore ini Jonathan mendapatkan pekerjaan tambahan, yaitu menemani Grafit ke pemotretan. Untuk satu minggu ke depan, Clara akan disibukkan dengan acara ulang tahun sekolah. Berhubung Jonathan sedang rehat setelah menyelesaikan proyek aplikasi Terserah, ia dengan senang hati menerima pekerjaan itu. Apalagi Clara menjanjikan upah yang lumayan.
Dan ia punya sebuah rencana besar.
“Kita nongkrong!” kata Jonathan ketika Grafit baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
“Ke mana?” tanya Grafit.
“Berburu wanita.”
Grafit memberikan tatapan aneh pada temannya itu. “Bukankah Non menyuruh kita untuk segera pulang?”
“Dia bukan majikan kita.” Jonathan berpikir sejenak, lalu meralat pernyataannya itu. “Maksudku, dia bukan ibu kita. Dia tidak berhak mengatur kehidupan kita, terutama kehidupan asmara kita. Kau ingat berapa kali dia gonta-ganti pacar selama G:0 dibentuk? Lalu bandingkan dengan kita. Bahkan aku harus putus dengan Sonia demi skuad ini.”
“Tapi aku tidak tertarik untuk berburu wanita karena aku sudah -”
“Jangan banyak alasan. Sebagai sesama pria, kita harus saling mendukung. Aku tahu wajah dan tubuh yang kau miliki memberikanmu jaminan untuk mendapatkan wanita cantik kapan pun kau mau. Tapi bagaimana denganku?”
“Lalu, bagaimana aku bisa mendukungmu?”
“Kau hanya pancingan saja. Jika aku bersamamu, para wanita akan mendekati kita. Tentu mereka punya teman yang bisa dipasangkan denganku.”
Grafit bingung harus menjawab apa. Ia hanya bisa menatap wajah temannya yang tersenyum lebar namun terlihat memprihatinkan. Akhirnya ia setuju.
* * *
Nama wanita itu adalah Emilia. Clara mengenalnya sebagai guru terbaik di tempat ia bekerja. Wanita itu selalu menunjukkan etos kerja yang luar biasa. Sangat jarang Clara melihatnya duduk santai. Selalu ada pekerjaan yang dilakukannya sejak tiba di sekolah hingga menjelang pulang. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang ceria dan selalu tersenyum, baik pada siswanya atau pada orang lain. Bahkan hanya dia yang bisa memberikan senyuman yang tulus untuk dua orang yang paling dibenci di sekolah ini: pak Dodo dan sir Edi.
Namun hari ini Clara untuk pertama kalinya melihat miss Emilia menangis. Penyebabnya adalah dua orang yang paling dibenci di sekolah ini. Sejak dua bulan yang lalu, ia dipilih untuk menjadi seksi dekorasi di acara ulang tahun sekolah. Sejak saat itu juga ia mengajukan puluhan rancangan dekorasi pada kepala sekolah. Clara mengetahuinya, karena wanita berkacamata itu selalu mengirimkan rancangannya di grup chat para guru. Hal itu juga yang membuatnya puluhan kali dipermalukan oleh kedua manusia menyebalkan itu.
Terakhir, ia memberikan rancangan yang menurut sebagian besar guru sangat mengagumkan, yaitu konsep galaksi. Guru yang dikenal paling ramah dan bersuara lembut itu bahkan sampai membuat sendiri miniatur planet dengan barang-barang bekas meski idenya belum mendapatkan persetujuan pak Dodo. Hingga di hari ketiga sebelum acara digelar, sang kepala sekolah menolak rancangan itu dan penjilatnya membantu menguatkan alasannya dengan serangan kritik atas rancangan itu.
Dan semua guru pun mengerti ketika mereka berdua menunjukkan sebuah rancangan dengan tema starry night, tema yang menurut Clara umum digunakan untuk pesta dansa. Ternyata sejak awal mereka memang berencana tidak akan memakai rancangan dari miss Emilia, sehebat apapun itu, agar rancangan mereka bisa digunakan.
Hati miss Emilia hancur. Tidak ada yang membelanya, termasuk Clara yang sudah diperingatkan mamanya agar tidak membuat keributan lagi. Yang bisa dilakukannya hanya mengajak miss Emilia ke mal untuk menghibur diri. Ia sudah menyediakan depositonya untuk mentraktir rekannya itu makanan dan berbagai barang.
Kenapa dia lama sekali? Apakah dia bunuh diri di kamar mandi? gumam Clara dalam hati.
“Halo, perkenalkan, aku temannya Emilia. Dia sedang ngobrol dengan temanku di kedai es krim dan menyuruhku menemaniku menunggu mereka. Keberatan jika aku duduk di sini?”
Clara terkejut mendengar seseorang di belakangnya menyapa. Ia sangat familiar dengan suara itu. Benar saja, ketika berbalik, ia pun berteriak, “Jonathan.”
Ya, memang Jonathan. Pria itu mendadak pucat ketika mengetahui wanita yang sedang dirayunya adalah Clara.
Ketika keterkejutan Jonathan belum pudar, Grafit masuk ke restoran itu bersama Emilia sambil membawa dua mangku es krim di tangan masing-masing mereka. Seperti Jonathan, Grafit juga terkejut. Ia sangat takut Clara akan memarahinya karena tidak menuruti pesannya tadi pagi.
“Bagus, kalian tidak langsung pulang, tapi menggoda wanita.” Clara mengacungkan telunjuknya pada Jonathan. “Kau mau merusak Grafit, kan?”
Jonathan dan Grafit langsung menunjukkan wajah panik mereka, yang membuat Emilia tertawa geli. Clara terkejut mendengarnya. Itu adalah tawa pertama Emilia yang ia dengar sepanjang hari ini. Kini ia melihat kedua sahabatnya itu sebagai penyelamat. Sebuah ide pun muncul di kepalanya.
“Miss, masih simpan planet miniatur yang kemarin?” tanya Clara, sedikit mengejutkan.
“Punya. Untuk apa?”
“Menegakkan keadilan sekaligus mempermalukan para bajingan itu."
* * *
Beberapa anggota yayasan Socrates datang untuk menyaksikan acara yang diadakan unit TK sebagai tuan rumah untuk tahun ini. Sayangnya, tidak seperti yang diharapkan oleh pak Dodo, tidak ada satu tamu pun yang menunjukkan kekagumannya pada dekorasi yang dirancangnya. Mereka hanya bertepuk tangan untuk penampilan para siswa, khususnya siswa TK.
“Bagaimana dengan acaranya,” tanya pria berkumis itu pada kepala unit lain dan beberapa pejabat yayasan.
“Lumayan. Acaranya disusun dengan sangat baik,” jawab pak Putra, kepala SMA yang disetujui oleh yang lainnya.
Bukan itu yang ia inginkan. Menurutnya, pujian terkait acara hanyalah untuk seksi acara, yang mana ia tidak melibatkan diri. Ia hanya ingin mereka memuji dekorasi acara ini, yang mana telah ia dan sir Edi rancang jauh sebelum panitia dibentuk.
“Bagaimana dengan dekorasinya?” Pak Dodo memberanikan diri untuk ‘meminta’ pujian.
“Mohon maaf, dari tadi saya juga sedikit terganggu dengan dekorasinya. Hanya menonjolkan lampu kelap-kelip dan kain hitam. Kalau boleh tahu, Bapak ambil tema apa?” tanya bu Rahma yang menjabat sebagai staf Litbang. “Jangan bilang temanya bintang di langit.”
“Unit TK memang selalu seperti itu, Bu. Mereka takkan mungkin menampilkan sesederhana ini. Pasti akan ada kejutan,” ujar bu Linda, kepala SD.
Mereka semua tertawa, sementara pak Dodo hanya tersenyum kecut. Ia melirik sir Edi yang sedari tadi berdiri di dekat sana untuk menguping pembicaraan. Anak buahnya itu pun tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu bosnya keluar dari perasaan malu.
Ketika akan mencapai penampilan puncak, yaitu sebuah paduan suara yang terdiri dari perwakilan siswa dari semua unit dan diikuti oleh pidato ketua yayasan, tiba-tiba semua lampu mati. Para tamu sempat panik dan menghidupkan senter dari ponsel mereka masing-masing. Bahkan beberapa anak, terutama anak TK, menjerit ketakutan. Pak Dodo dan sir Edi yang merasa sudah dipermalukan karena percakapan tadi, semakin malu.
Tanpa diduga, sebuah benda berbentuk bola yang mengeluarkan cahaya turun dari atas menuju panggung, tepat di tengah para peserta paduan suara yang sudah berdiri menunggu lampu menyala. Bukan hanya satu bola, ada beberapa bola yang juga bercahaya dengan berbagai rupa menyusul naik panggung. Mereka berputar layaknya planet-planet di sebuah galaksi.
Di antara para penonton, ada miss Emilia yang berbisik pada miss Helena selaku seksi acara, meminta paduan suara segera dimulai. Miss Helena segera tanggap dan memberikan instruksi pada pemain musik dan pemimpin paduan suara.
Banyak yang berkata, jadilah menawan seperti Venus
Atau makmurlah seperti bumi
Dan beranilah layaknya Mars
Menjadi besar, sebesar Jupiter
Indah seperti Saturnus
Menyejukkan bak Uranus dan Neptunus
Namun ibuku berkata, tak apa jika harus kecil seperti Merkurius
Meski dengan tubuh dan langkah yang kecil
Asalku tetap bertindak benar, Matahari ‘kan setia menemaniku
Semua orang terpana dengan paduan suara itu. Bukan hanya karena nyanyiannya, tapi juga karena tampilannya yang sangat megah. Demikian juga ketika ketua yayasan, ibu Rahita Soetjipto, ia terlihat seperti sedang berada di antara planet-planet di galaksi ini. Semua orang terpukau, termasuk kepala sekolah berkumis tebal dan anak buah penjilatnya itu.
Clara melirik ke arah miss Emilia, rekan kerjanya yang baru beberapa jam yang lalu terlihat sebagai orang yang paling ‘hancur’ di muka bumi ini. Sekarang wajahnya terlihat sumringah dan bahagia. Semuanya jauh melebihi ekspektasinya.
“Aku hanya ingin mengingatkan kalau ini adalah pertama kalinya kau menyuruh Grafit menggunakan kekuatannya di depan umum untuk urusan pribadi,” bisik Jonathan. Clara tahu kalau pria itu tidak sedang menyalahkannya, hanya menggoda. Mereka sedang berdiri berdampingan sambil berusaha menutupi gerakan tangan Grafit yang sedang mengendalikan planet-planet itu.
“Kau tahu? Sepertinya urusan dengan Kraken membuat kita lupa untuk melakukan kebaikan kecil,” kata Clara yang terus memasang senyum di wajahnya.
“Benar sekali. Padahal seringkali kebaikan-kebaikan kecil itu yang justru memberikan timbal balik paling nyata pada kita Seperti sekarang, kita bisa melihat keindahan ini. Segala kelelahan, kejenuhan dan kekhawatiran yang selama ini menghantui kita seakan terlupakan, meski sejenak. Tapi itu cukup, setidaknya sebagai self healing bagi kita.”
“Ya, setiap kali melihat senyuman dari orang yang telah kita bantu, aku seperti mendapatkan semangat dan kekuatan baru untuk menjadi pahlawan yang lebih baik lagi ke depannya.” Grafit yang masih sibuk ikut menimpali.
Clara menatap kedua rekannya itu, masih dengan senyuman yang sama. Kemudian ia berkata, “Mari ke depannya kita saling mengingatkan, kalau tujuan dari keberadaan G:0 adalah untuk menebarkan kebaikan, meski sekecil apa pun.”
Jonathan dan Grafit membalas ucapan Clara itu dengan anggukan, tentu saja sambil tersenyum.