G:0

G:0
PAHLAWAN SUPER LAINNYA



Dozo berhasil menarik Clara dan Grafit ke ruang bawah tanah mereka di tengah kekacauan. Mereka harus meninggalkan Jonathan yang tak sadarkan diri karena serangan Dancing Shadow. 


“Kita harus menolong mereka,” kata Clara dengan napas tersengal-sengal.


“Tidak mungkin. Dengan keadaan seperti ini, kalian takkan bisa melawannya,” kata Dozo. Clara ingin mengatakan sesuatu, tapi Dozo tahu apa yang ingin disampaikannya. “Kalian tak mungkin menggunakan kostum G:0 di depan mereka, bukan?”


Clara akhirnya paham maksud Dozo. Pria besar itu sedang memberikan mereka ruang untuk Grafit bisa menggunakan kostum G:0. Tanpa berpikir panjang lagi, Clara segera mengambil koper, membukanya dan menyerahkan kostum G:0 pada Grafit. Dozo menunjukkan kekagumannya saat Grafit bertransformasi menjadi pahlawan super yang selama ini hanya ia dengar kehebatannya dari media.


“Kali ini kau akan bertempur tanpa arahan lagi, seperti saat melawan The Vanishers. Percayalah pada instingmu sendiri dan kalahkan mereka.” Clara sedikit cemas karena G:0 akan beraksi tanpa bantuannya dan Jonathan. Tapi ia harus membangkitkan kepercayaan diri pahlawan supernya tersebut. Kemudian ia teringat sesuatu yang mungkin bisa membangkitkan semangat G:0. “Ingat, ini kesempatanmu untuk menebus kesalahan yang lalu. Kau masih punya utang untuk mengalahkan Dancing Shadow.”


Benar saja, G:0 menjadi lebih semangat karena rasa penasarannya untuk mengalahkan Dancing Shadow muncul kembali. Bahkan kini ia bisa mengalahkan lebih banyak.


“Ada lorong rahasia menuju bagian luar gedung. Kau bisa masuk dan menyelamatkan teman-teman kita seolah kau datang dari luar,” kata Dozo. Clara dan Grafit mengangguk.


“Ngomong-ngomong, benarkah kau mengetahui kami G:0 hanya karena merasakan aura sesama pejuang?” tanya Clara yang direspons dengan tawa geli dari Dozo.


“Tentu saja tidak. Aku melihat logo G:0 di belakang koper itu.”


Clara baru ingat jika ia memang sengaja mengukir logo itu di sana. Ia menatap Grafit yang menatapnya seakan sedang menghakiminya. Ia sangat malu karena tanpa sengaja sedang mengumbar identitas mereka sebagai G:0. Untung saja orang yang menyadarinya adalah Dozo.


“Kalau kau memberitahukan hal ini pada Jonathan, aku akan menyita semua koleksi album GFriend milikmu,” ancam Clara dengan wajah serius.


*          *         *


 Kondisi di dalam markas Feliofighters masih kacau. Para pejuang itu memberikan perlawanan yang cukup sengit pada musuh-musuhnya. Sepertinya ini bukan kali pertama mereka bentrok. Meski demikian, masih terlihat jelas kemampuan para ninja itu lebih unggul.


Tiba-tiba sesosok berpakaian hitam lainnya terbang dari luar gedung. Mereka berhenti berseteru sejenak untuk memastikan apakah sosok itu ada di pihak mereka.


“Boleh aku ikut bermain?”


G:0 mengangkat dua orang anggota Dancing Shadow. Ia merasa pekerjaannya hari ini lebih ringan karena mereka tidak menggunakan materi Ungravity. Tentu saja mereka tak menyangka akan bertemu dengan G:0 di Feliopolis.


Semangat Feliofighters melesat tinggi ketika mengetahui seorang pahlawan dengan kekuatan super ada di pihak mereka. Segera mereka membalikkan keadaan dengan menekan para Dancing Shadow. G:0 pun ikut bertarung. Incaran utamanya jelas: tapak sepatu mereka. 


Meski Dancing Shadow tetaplah Dancing Shadow dengan kemampuan bela diri level tinggi dan kecepatan yang membuat mereka hampir tak terlihat, G:0 dan para Feliofighters berhasil memimpin pertarungan. Mereka hampir mengakhirinya dengan kemenangan jika saja salah satu anggota Dancing Shadow yang terlihat sebagai pemimpin bisa dikalahkan. Tapi ia adalah lawan yang sangat tangguh.


“G:0, suatu kehormatan bisa melawanmu. Kudengar kau berhasil mengalahkan salah satu anggota kami di Dragokarta. Sejak mendengarnya, aku berhasrat untuk mengalahkanmu suatu hari. Siapa sangka hari itu adalah sekarang.”


“Bukan, bukan sekarang dan bukan kapan pun, karena kau takkan pernah mengalahkanku.”


Grafit di balik topeng G:0 tertawa geli. Ia bangga karena berhasil memilih kata-kata yang bagus tanpa bantuan Jonathan.


Tak butuh waktu lama, pimpinan Dancing Shadow itu berhasil mengikat kedua tangannya. Ia bahkan menambahkan ikatan ke seluruh tubuh sehingga G:0 tak bisa bergerak sama sekali. Ia melihat semua anak buahnya sudah kembali ke formasi mereka. Meski sebagian besar tak lagi bisa berlari cepat karena sepatu mereka rusak, tapi mereka masih sangat siap untuk bertempur.


Tiba-tiba (ya, tiba-tiba lagi) pintu ruang bawah tanah terdobrak dan Dozo keluar. Ia memegang tameng dan sebilah pedang besar. Sekilas ia terlihat seperti anggota Viking yang bersiap untuk menaklukkan sebuah pulau.


“Terima kasih sudah mampir. Saatnya tamu untuk pulang,” katanya dengan suara membahana. 


Anehnya, para Dancing Shadow itu menuruti perkataannya. Mereka segera pergi seakan tahu hasilnya jika benar-benar melawan sosok itu.


Di belakangnya, Clara memandang dengan kagum. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia pikir pria itu bersembunyi dengannya sejak tadi karena takut.


“Eh, bisakah kalian menolongku untuk melepas ikatan ini?” 


G:0 menggerakkan tubuhnya seperti seekor ulat sambil memohon bantuan.


*          *         *


 Situasi sudah kembali normal. Jonathan telah sadar dan Grafit telah berganti kostum tanpa terlihat para anggota Feliofighters. Dozo berpikir cukup dia sendiri yang tahu jati diri G:0. Bukan tak percaya dengan anak buahnya, ia hanya menghargai kerahasiaan yang dibuat oleh skuad G:0.


“Aku tak menduga kau membuat para penjahat itu lari terbirit-birit tanpa melakukan apa-apa,” kata Clara yang belum selesai mengagumi penampilan Dozo tadi.


“Itu karena pedang dan tameng yang kupegang. Mereka pasti tahu takkan bisa mengatasi kesaktian benda-benda itu.” Dozo kembali mempersilakan mereka untuk menyantap makanan di atas meja.


“Memangnya, benda-benda itu memiliki kesaktian?”


Dozo pun bercerita. Kedua benda itu adalah peninggalan dari leluhur Feliopolis. Konon jika dipegang oleh keturunannya, pedang itu dapat menebas benda setebal apapun dari jarak jauh dan tameng itu bisa menahan ledakan bom. 


Dozo beberapa kali mendemonstrasikan kesaktian itu di depan para anggota Kraken. Bisa dikatakan, yang membuat Feliofighters bertahan sampai sekarang adalah Dozo dan yang membuat Dozo bertahan sampai sekarang adalah kedua benda itu. Pedang dan tameng tersebut adalah simbol tertinggi dari kelompok Feliofighters. 


“Sebaiknya kami kembali ke Dragokarta sekarang. Kami sudah mendapatkan cukup banyak gambaran tentang Kraken,” kata Clara pamit. Dozo tersenyum.


“Kekuatan Kraken memang besar. Mereka telah menguasai banyak daerah di negeri ini. Tapi kalian harus tahu kalau kalian tidak sendiri melawan mereka. Banyak para pejuang seperti kita di daerah lain yang juga melawan Kraken. Aku sering berkomunikasi dengan mereka dan mereka pasti akan sangat senang jika mendengar seorang pahlawan super bernama G:0 bergabung dengan kami. Suatu saat kami akan menyerang pusat dari Kraken, tempat pimpinannya bersemayam. Pada saat itu kami akan sangat membutuhkan bantuan G:0. Kami berharap kalian bersedia untuk bergabung dengan kami.


Clara, Jonathan dan Grafit tersenyum. Mereka mengangguk.


Hari itu di Feliopolis, harapan skuad G:0 kembali melambung tinggi. Tidak seperti perjuangan mereka melawan Black Samurai dulu, sekarang mereka membutuhkan bantuan dari luar. Bertemu dengan Feliofighters dan khususnya Dozo seakan memberikan asa bagi mereka untuk bisa mengakhiri perjuangan dengan kemenangan.


Sekarang mereka hanya perlu fokus untuk menyelamatkan kota mereka, Dragokarta.