
Sehari sebelumnya
“Berbicara tentang fobia, besok kau ada pemotretan. Temanya adalah Claustrophobia,” kata Clara pada Grafit.
“Klaustu, takut apa itu? Takut pada Santa Claus?”
Clara berusaha menahan senyumnya mendengar ucapan polos Grafit. "Itu adalah takut terhadap ruangan yang sempit. Jadi konsepnya, kau akan dikurung di sebuah peti mati dan kau harus menunjukkan wajah takut.”
“Ah, itu pasti akan sulit karena aku tidak pernah takut.”
“Baiklah, baiklah, aku akan mengirim foto ekspresi orang ketakutan dan malam ini kau harus mempelajarinya.”
Jonathan menatap Clara. Setelah setahun berada sedekat ini dengan wanita itu, baru akhir-akhir ini ia sadar betapa lembutnya Clara jika berbicara dengan Grafit. Ia pikir karena lawan bicaranya adalah Grafit, pria polos yang baik dan lucu. Siapa yang tidak akan bersikap lembut ketika menghadapi orang seperti Grafit? Tapi entah kenapa Jonathan melihat cinta di dalam sikap Clara itu.
“Kau menyukainya?” tanya Jonathan pada Grafit ketika Clara sedang tak di sana.
“Siapa? Non Clara?” Jonathan mengangguk. “Tentu saja. Non adalah wanita paling baik yang pernah kukenal.”
“Bukan seperti itu, tapi seperti sukamu pada Patricia, ‘Minori’mu.”
Jonathan langsung menutup mulutnya. Ia sadar telah melakukan kesalahan karena telah menyebut nama yang seharusnya tidak ia sebut. Benar saja, ia melihat mendung kelabu di wajah Grafit saat ini.
“Baiklah.”
Satu kata yang diucapkan Grafit itu membingungkan Jonathan. Apanya yang ‘baiklah’? Menyukai Clara seperti cinta pertamanya dulu?
“Jangan-jangan kau -”
“Sejak bertemu dengan Minori, aku memberikan cinta yang terlalu besar padanya. Bahkan sekarang, ketika hubungan kami telah berakhir, perasaanku padanya tetap sama. Padahal, jika dipikir-pikir, apa yang telah dilakukan Non Clara padaku jauh lebih banyak dibandingkan apa yang telah dilakukan Minori. Tidak, bahkan aku lebih banyak melakukan sesuatu untuk Minori. Ya, mungkin aku harus menyukai Non Clara lebih besar dari menyukai Minori. Apa istilah yang pernah kau katakan untuk menyebut keluar makan bersama orang yang kita sukai? Ah, kencan. Besok aku akan mengajak Non Clara kencan sepulang pemotretan. Semoga saja hasil pemotretannya cukup untuk biaya kencan.”
Jonathan hanya bisa mematung, bahkan ketika Grafit pergi meninggalkannya. Kemudian ia mulai menampar mulutnya dan mengutuki apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
* * *
Jonathan turun dari taksi tepat di depan area pemakaman yang disebut Grafit. Ia gelisah karena mengenakan pakaian yang dirancang untuk Grafit. Kemudian ia mengarahkan sebuah benda ke langit dan memutarnya. Benda itu adalah pendeteksi sinyal yang bisa mengetahui keberadaan alat elektronik pengguna sinyal seperti alat penyadap atau kamera pengawas.
“Aku menemukan dua di sini. Sekarang aku berada di tempat yang aman dari pantauan kamera pengawas. Sekitar lima meter dari tempatmu dikubur,” kata Jonathan yang sedang tersambung dengan Grafit melalui alat komunikasi mereka.
[Baiklah, sekarang apa yang akan kita lakukan?]
“Aku akan mengenakan kostum G:0. Sekarang coba gerakkan suatu benda di sebelah kananmu agar kau bisa mengetahui posisiku.”
Grafit menuruti perintah Jonathan. Ia mulai berkonsentrasi dan menggerakkan sesuatu di kanannya yang tidak ia ketahui.
“Baiklah, cukup. Kau hampir mencabut nisan orang lain,” ujar Jonathan. “Aku berada di sebelah kirimu. Sekarang coba gerakkan sesuatu di kirimu. Ingat, secara perlahan.”
Grafit kembali menuruti perintah Jonathan. Ia menggerakkan sebuah benda yang berada di sebelah kanannya. Sesuai arahan Jonathan, akhirnya ia bisa mendeteksi sesuatu yang ingin digerakkannya.
“Oke, dalam hitungan ketiga, kau bisa melakukannya. Satu, dua, ahhh!”
“Aku akan membalasmu ketika semua ini selesai,” gerutu Jonathan. Ia melihat sepetak tanah yang seperti baru digali. Pasti itu tempat Grafit dikubur. “Baiklah, aku akan mengarahkan tanganku ke atas kuburanmu. Sekarang kau harus menerbangkan dinding yang ada di depanmu.”
[Baik. Berikan saja tandanya.]
“Tapi tunggu dulu,” kata Jonathan sambil berpikir. “Kalian benar-benar tidak berkencan, kan?”
[Tidak! Kami tidak berkencan dan aku tidak pernah mengharapkannya. Sekarang cepat beri tanda karena waktu kita terbatas!]
Jonathan terkejut karena sangat jarang baginya untuk dibentak oleh Grafit. “Lakukanlah sekarang.”
Di dalam tanah, Grafit mencoba berkonsentrasi. Serangan panik yang tadi sempat menyerangnya sudah hilang sejak berhasil berkomunikasi dengan Jonathan. Ia meletakkan tangannya ke dinding yang berada di hadapannya. Kemudian dinding itu bergetar kencang dan terbang menjauhi tubuhnya.
[Berhasil! Aku akan keluar sekarang.]
“Tunggu!” teriak Jonathan. “Keluarlah dengan posisi rebah seakan aku mengeluarkanmu dalam keadaan lemas tak berdaya.”
Grafit menuruti perkataan Jonathan. Ia menerbangkan tubuhnya dalam posisi rebah. Bahkan saat sudah berada di atas permukaan tanah, ia meletakkan tubuhnya di atas tangan rekannya itu.
“Aku akan menerbangkan kita berdua. Berusahalah bersikap tetap tenang,” bisik Grafit.
Mereka berdua pun terbang ke area buta kamera yang telah dipasang oleh Siren. Setelah mencapai tempat mendarat, Grafit langsung turun dan meminta Jonathan bertukar pakaian dengannya.
“Clara juga dikubur. Aku tak tahu di mana. Tapi bisa kupastikan semua yang berada di dalam tanah sekitar sini tidak ada yang berteriak. Kemungkinannya ada dua, dia masih tidak sadarkan diri atau tidak dikubur di sini.”
“Jadi, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kita bisa mengetahui di mana Clara saat ini?”
Grafit berpikir. Tidak ada jawaban pasti di kepalanya kecuali satu hal, “Hanya orang itu yang tahu.”
* * *
Siren duduk di tepi atap gedung dengan wajah bosan sambil melihat kekacauan yang terjadi di bawahnya. Beberapa orang yang berada di bawah kendalinya sedang menyerang para pengunjung sebuah pasar dengan menggunakan senjata tajam. Sudah hampir setengah jam ia melakukannya, rentang waktu yang cukup lama bagi G:0 datang ke sebuah kekacauan seheboh ini.
“Berarti pria itu adalah G:0. Ah, membosankan. Tak kusangka pahlawan super yang selama ini membuat beberapa pejabat Kraken khawatir hanyalah pemuda lugu yang sangat mudah ditaklukkan,” gumam Siren.
Di tengah kebosanannya, ia mengecek keadaan tempatnya mengubur pria yang ia pikir G:0 melalui ponselnya. Ia sedikit terkejut karena melihat kuburan itu sudah dalam keadaan terbongkar. Asumsinya bahwa pria itu adalah G:0 semakin menguat, sebelum ia memutar mundur rekaman itu. Ternyata seseorang berkostum G:0 yang melakukannya, bukan pria model itu.
“Menungguku, Siren si Penghipnotis?”
Siren terkejut ketika menyadari seseorang sudah berdiri di belakangnya. Sosok berpakaian serba hitam yang menurut kabar sempat menimbulkan kehebohan di kalangan para petinggi Kraken. Aura dari sosok itu berbeda dengan saat ia melihatnya di restoran tempo hari. Saat ini, auranya sangat menyeramkan. Bahkan ia yang seorang pengendali pikiran sempat kehilangan kendali pada pikirannya sendiri.
“Ya, padahal aku sudah sempat bosan karena terlalu lama menunggu.”
“Maaf, aku sedikit sibuk karena harus mengeluarkan seseorang dari kubur. Yah, ada orang bodoh yang mengubur seorang pria lugu karena berpikir ia adalah G:0.”
Siren mengepalkan tangannya karena merasa terhina. Sebenarnya bukan karena perkataan itu, tapi karena kebodohannya yang sempat percaya jika pria bodoh itu adalah G:0.
“Baiklah, kita bisa mulai pestanya sekarang.”