G:0

G:0
KITA TIDAK MUNGKIN BENAR-BENAR MENGENAL SESEORANG



Sebuah minibus berwarna abu-abu dengan tulisan Kendaraan Tahanan melaju kencang menyusuri jalanan di pinggir kota. Rotator yang menyala bersama dengan dua mobil lain yang mengiringinya cukup baik untuk menarik perhatian warga yang berada di sekitar jalan.


Komandan para petugas itu, yang sedari tadi duduk di samping pengemudi, membalikkan kepalanya untuk mengawasi situasi para tahanan. Sebelum ia kembali ke posisi duduk normalnya, sang sopir mendadak banting setir sehingga para penumpang panik. Beberapa detik kemudian, minibus itu menabrak mobil yang mengawal di depan dan belakang mereka sebelum akhirnya keluar jalur jalan.. 


Menariknya, tidak ada satu pun di antara mereka yang terluka. Hanya saja, tubuh mereka terasa berat dan tak bisa digerakkan. Yang lebih mengherankan adalah kunci dari saku sang komandan melayang menuju Candy Boy. Ya, penjahat itu bisa bergerak. Dengan kunci itu, ia membuka borgol di tangannya. Ia tertawa dan berdiri dengan santai, sementara penumpang yang berjuang untuk melawan gravitasi yang tak wajar.


Ia menghampiri kedua anak buahnya yang juga sedang kesulitan bergerak. Sebentar diperhatikannya mereka, lalu ia menjulurkan kepalanya menatap ke kanan atas melalui jendela sambil mengarahkan jari kepada mereka. Ajaib, kedua orang itu juga bisa terlepas dari gravitasi tak wajar itu. Mereka pun membuka borgol mereka sendiri dengan kunci yang diberikan bosnya. Setelah berhasil membukanya, salah satu dari mereka membuang kunci itu ke lantai, mengenai kaki tahanan di sebelahnya.. Kemudian mereka berjalan keluar dengan santai.


Tahanan yang kakinya terkena kunci borgol itu menggerakkan tubuhnya ketika mereka keluar. Tanpa diduga, ia juga terlepas dari jerat gravitasi bersama kedua anak buah Candy Boy. Setelah keadaan minibus kembali tenang, ia mengangkat kunci yang berada di kakinya sehingga bisa dijangkau oleh tangannya. Tak butuh waktu lama, ia berhasil melepas borgolnya.


Para petugas memperingatkannya untuk tidak bertindak gegabah dengan melarikan diri. Ia akan segera ditangkap dan mendapatkan hukuman yang lebih berat jika melakukannya. Tapi tahanan itu tidak peduli. Ia juga tidak peduli dengan para tahanan lain yang memohon untuk mengeluarkan mereka. Ia hanya berjalan keluar dari minibus itu setelah keadaan di luar sudah tenang.


“Hari yang cerah. Sepertinya aku masih sempat untuk menghadiri kongres Kraken.”


Beberapa detik kemudian, G:0 sudah pergi jauh dan efek gravitasinya pada kendaraan tahanan itu dan kedua mobil pengawalnya itupun hilang. Beberapa petugas segera keluar untuk mengejar para tahanan yang berhasil kabur. Sayangnya, mereka sudah tidak terlihat lagi.


*          *         *


“Sejak kapan kau takut jarum? Bukankah kau pernah menghadapi gergaji mesin tanpa rasa takut?”


Clara mulai frustrasi karena Grafit. Pria itu selalu memberontak setiap kali Clara hendak menyuntikkan antidot ke tubuhnya. Padahal jika mengingat perkataan Candy Boy, waktu mereka tinggal delapan menit lagi sebelum antidot itu tidak berguna lagi. Dan, salah satu Cameron sedang mengikuti mobil pelarian Candy Boy. G:0 harus segera menyusulnya sebelum mereka jauh dan Cameron kehabisan baterai.


“Sejak sebuah jarum menusuk dadaku dan hampir menghilangkan nyawaku.”Grafit membalas bentakan Clara. Wajahnya menunjukkan ketakutan yang luar biasa.


“Selamat, Grafit. Akhirnya kau menemukan fobiamu,” ejek Jonathan sambil tertawa.


“Jangan takut. Aku adalah sukarelawan kehormatan palang merah sejak remaja. Meski bukan dokter, aku tahu caranya menyuntik.”


“Tidak adakah cara agar tidak terasa sakit jika disuntik?”


“Ada. Dengan cara dibius.”


“Bagaimana caranya? Lakukan padaku.”


“Dengan cara disuntik.”


Grafit menatap Clara tajam. Ia tahu sedang digoda, khususnya karena Clara tertawa terbahak-bahak. Jonathan yang masih mengendalikan Cameron melalui laptopnya juga ikut tertawa.


“Sudah, jangan manja. Kau mau pilih disuntik atau mati? Waktumu hanya tinggal lima menit lagi.”


Akhirnya Grafit mengumpulkan keberaniannya. Ia memberikan lengan atasnya pada Clara. Kepalanya dipalingkan ke arah berlawanan. Tak cukup sampai di sana, ia memejamkan matanya sambil berkata, “Lakukanlah dengan cepat.”


Sesuatu yang seharusnya bisa mereka prediksi terjadi. Jarum suntik itu patah. Tentu saja. Bahkan peluru tidak bisa menembus kulit itu.


“Bagaimana ini?”


Sekarang bukan hanya Grafit yang histeris. Clara terlihat panik dan mulutnya terus bertanya apa yang harus ia lakukan sekarang. Jonathan pun akan berbuat demikian seandainya ia tidak tertahan oleh tugasnya.


“Aku ada ide,” kata Clara sebelum ia berlari ke kamarnya. Sesaat kemudian, ia keluar kamar membawa kotak P3K dan sebuah besi kecil. “Jonathan, di mana perkakasmu?”


“Di kotak hitam yang ada di bawah mejaku. Mau ambil apa?”


Clara tidak menjawab dan langsung menuju lokasi yang Jonathan katakan. Tak lama ia keluar sambil membawa alat kikir kemudian mengikir besi itu.


“Aku sempat mengambil salah satu materi ungravity dari robot raksasa itu. Tinggal mengikirnya menjadi lebih tipis.” Clara pun mulai mengikir benda tersebut.


Jonathan mengintip pekerjaannya. Beberapa kali wanita itu mengecek ungravity koleksinya dan kembali mengikir karena merasa kurang tipis. Sementara wajah Grafit sudah mulai tenang dan ia terus bertanya tentang rupa malaikat maut yang akan menjemputnya sebentar lagi. Akhirnya bersorak dengan wajah tersenyum, tanda pekerjaannya sudah selesai. Ia mengangkat benda yang sedari tadi dikikirnya dengan bangga.


“Mau Non apakan benda itu?”


Kemudian Grafit menjerit kesakitan karena tanpa ia duga, Clara menusukkan benda itu ke lengan kiri atasnya lalu mencabutnya kembali.


“Oke, aku punya lubang untuk menyuntikmu.”


Clara langsung mengganti jarum suntik yang patah dengan miliknya yang baru kemudian menyuntikkan antidot itu ke lubang bekas tusukan tadi.


“Akhirnya! Bagaimana perasaanmu sekarang? Ada pengaruhnya?” tanya Clara pada Grafit.


“Sepertinya ada. Rasa ngilu di dadaku mulai berkurang dan aku merasa segar. Bukan hanya itu, aku merasa sangat mengantuk.” Setelah mengatakan kalimat itu, Grafit tersungkur di atas sofa dan mulai mengeluarkan suara dengkuran.


“Grafit, bangun! Kita harus segera menangkap Candy Boy,” teriak Clara sambil menggoyang-goyangkan tubuh Grafit. Tapi tidak ada respons sedikit pun.


“Sepertinya tidak perlu. Lihatlah,” kata Jonathan sambil menunjukkan monitor laptopnya.


Terlihat mobil yang ditumpangi oleh Candy Boy berhenti karena menabrak sebuah tiang listrik. Tak lama kemudian, Kapten Rian mendekati mobil itu sambil  mengacungkan pistolnya. Ia membuka pintu mobil dan melihat ke dalam lalu menutupnya kembali dengan wajah kesal. Ponselnya berdering dan ia menekan salah satu tombol untuk menjawab panggilan itu.


“Halo? Iya, aku berhasil mengejarnya. Tapi tidak ada. Sepertinya ia tidak pernah ikut dengan para bajingan ini. Ia pasti kabur sendirian. Pokoknya aku harus menemukannya sebelum ia menghadiri kongres. Aku ingin menitip pesan padanya untuk para petinggi Kraken. Aku berjanji ini takkan seperti di Feliopolis.”


Clara dan Jonathan terkejut mendengarnya. Apakah Kapten Rian memiliki hubungan dengan para petinggi Kraken? Atau dia sebenarnya adalah anggota Kraken? Lalu, siapa yang sedang dicarinya?