
Jonathan masih terlihat syok setelah mengetahui salah satu teman baiknya dicurigai sebagai pengedar narkoba. Padahal yang ia ingat tentang Yosia adalah anak laki-laki yang lucu, puitis dan sangat baik padanya.
“Tak mungkin Yosia menjadi pengedar narkoba. Dulu dia bercita-cita menjadi pengusaha.” Untuk kesekian kalinya, Jonathan mencoba menyangkal kenyataan itu.
“Kurasa cita-citanya itu sudah tercapai,” kata Grafit santai, membuat Jonathan memberikannya tatapan kesal.
“Dengar, aku sudah sering melihat orang yang berubah secara drastis hanya dalam waktu sehari. Kau terakhir melihat Yosia adalah belasan tahun yang lalu, jadi bukan tidak mungkin jika dia mengalami perubahan drastis.”
Jonathan ingin sekali mematahkan opini Clara itu, tapi ia tidak bisa menemukan kalimat yang tepat. Ia menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. Ia kesal karena merasa gagal membela teman baiknya.
“Tapi kalian tidak mengenal Yosia seperti aku mengenalnya.”
“Ayolah, memang kau benar-benar mengenalnya sekarang? Berarti kau bisa menjelaskan kenapa tadi malam ia berada di klub itu dan menjual kertas narkoba itu.”
Sekali lagi, Jonathan tak bisa membalas ucapan Clara. Ia pun berteriak lalu memukul dinding. Rencananya ia akan melakukan beberapa pukulan, tapi ia berhenti di pukulan pertama karena tak menyangka akan sesakit itu.
“Daripada berdebat, kenapa kau tidak bicara saja sekarang padanya?”
Clara setuju dengan saran Grafit. Ia memberi isyarat pada Jonathan untuk melakukan yang Grafit katakan itu. Dengan langkah ragu, ia melangkah menuju kamar Grafit. Kemudian ia membuka pintunya dan mengintip sejenak sebelum masuk ke dalam ruangan itu.
Ia melihat Yosia sedang duduk dalam kondisi tubuh terikat dan mulut disumpal sebuah kain. Ini adalah pertama kalinya skuad G:0 menyandera penjahat, karena biasanya mereka mengantar pelaku ke depan kantor polisi.
“Halo, Yosia. Kau masih ingat aku? Jonathan, teman baikmu di SMP.”
Pria bernama Yosia itu terkejut dan mengangguk. Ia masih ragu jika pria yang ada di hadapannya itu mengenalnya, bahkan mengaku sebagai teman baiknya dulu. “Oke, Jonathan, kenapa kau menyekapku di sini? Apakah kau mengincar uang tebusan? Aku hanya mengingatkanmu kalau aku bukanlah orang kaya dan aku atau istriku takkan bisa menebusku jika sudah di atas satu juta.”
Jonathan mengernyitkan dahinya. Ia tidak menduga pria yang pernah jadi teman baiknya itu mencurigainya seperti itu..
“Tidak, aku hanya ingin tahu tentang narkoba yang kau jual pada para remaja itu. Dari mana kau mendapat barang itu?”
“Apakah kau polisi?”
“Bisa dikatakan demikian. Aku sangat mengharapkan kerjasama darimu.”
Tiba-tiba Yosia tertawa. Ia sama sekali tak menyangka akan diinterogasi oleh teman lamanya yang dulu dikenal sebagai siswa paling sering dirundung.
“Jika kau bukan polisi, untuk apa aku harus menjawab pertanyaanmu?”
Yosia berdiri dan meminta Jonathan untuk mengantarnya sampai ke pintu keluar. Tapi Jonathan menolak. Ia meminta Yosia untuk kembali duduk di sofanya. Hanya saja, Yosia bukan orang yang bisa diintervensi. Ia mengucapkan terima kasih lalu bersiap untuk meninggalkan apartemen itu meski Jonathan belum berhasil mengorek informasi penting darinya.
“Kenapa kau berubah seperti ini? Dulu kau adalah anak yang baik. Sedikit iseng, tapi tetap baik.”
Pertanyaan itu cukup mengejutkan bagi Yosia. Ia menatap lekat Jonathan dan menemukan sesuatu yang terkadang ia rindukan dari mata itu, yaitu kehangatan. Bukan hanya Jonathan yang menganggap Yosia adalah anak yang baik, Yosia juga selalu percaya kalau orang yang paling baik padanya adalah Jonathan. Hanya saja, ia memiliki jawaban untuk pertanyaan Jonathan yang berpotensi merenggangkan kembali hubungan mereka.
“Apa!? Bukankah senior kita cowok? Aku pernah mengintipnya. Dia berkumis, punya jakun dan mengenakan celana. Apakah dulu kau -”
“Bukan, dia bukan cowok. Kupikir saat itu yang kau lihat adalah teman sekelasnya ia kebetulan saat itu sedang duduk di kursinya. Ia cewek asli dan aku bisa menjaminnya. Namanya Tiara Mayang.”
“Cantik?”
“Sempurna!” Yosia menutup mulutnya ketika menyadari ada mendung yang menghampiri wajah Jonathan. Kemudian ia mencoba untuk menetralkan keadaan dengan mengatakan, “Jangan merasa iri denganku karena pacaran dengannya adalah awal mula kehancuran hidupku.”
Jonathan kembali mengernyitkan dahinya, menunjukkan kebingungan yang menumpuk di hatinya. Lalu Yosia melanjutkan kisahnya.
“Ia pengaruh buruk bagiku. Jauh lebih buruk dari yang kuduga. Pacaran dengan cewek yang lebih tua ternyata tidak mudah. Aku harus mau berada di bawah kendalinya. Sayang, pemegang kendaliku saat itu punya latar belakang yang gelap sehingga aku ikut terseret ke dalam kegelapan itu. Hingga akhirnya nasibku berakhir sebagai pengedar narkoba.”
Jonathan tidak tahu harus berkata apa. Selama ini ia berpikir kehidupan Yosia setelah tamat SMP mudah dan membahagiakan, mengingat Yosia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ternyata hidupnya berubah drastis hanya karena seorang wanita.
Di tengah simpatinya itu, Clara memberinya kode untuk mengingatkan agar Jonathan bertanya tentang bos Yosia. Cerita sedih pria itu pun harus berakhir. Jonathan kembali memberikannya pertanyaan terkait pekerjaannya sekarang. Clara dan Grafit terkejut karena kali ini Yosia mau menceritakan tentang narkoba yang ia jual.
“Orang-orang memanggilnya Candy Boy, Tidak seperti namanya yang ‘manis’, ia adalah pria yang mengerikan. Ia adalah jenius, khususnya dalam bidang kimia. Konon ia sendiri yang meracik narkoba yang dijualnya, termasuk stinky note, jenis narkoba yang berbentuk kertas. Tapi, menurut rumor yang beredar, ia sedang mengerjakan proyek besar, jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan masalah narkoba.”
Jonathan tersenyum. Ia tak bisa menahan kesenangannya karena merasa kasus ini semakin menarik. “Proyek besar apa?”
“Meracuni seisi kota ini.”
Tak ada lagi senyum di wajah Jonathan. Ia benar-benar sangat terkejut dengan informasi yang baru diterimanya. Clara dan Grafit yang mendengarnya juga terlihat syok.
“Meracuni dengan apa?”
“Aku tidak tahu pasti. Yang kudengar, ia meracuninya secara perlahan dan efeknya jangka panjang. Ketika sudah banyak orang yang sakit karenanya, ia akan berpura-pura melakukan riset dan menemukan obatnya, yang mana sebenarnya sudah ia temukan jauh sebelumnya. Dengan demikian, selain dapat mengeruk banyak keuntungan, ia akan dianggap sebagai pahlawan.”
“Bagaimana cara meracuninya? Melalui air seperti Ra's Al Ghul di film Batman Begins atau melalui udara seperti Lizard di The Amazing Spiderman?”
Yosia menatapnya aneh. Kenapa harus diilustrasikan dengan menggunakan film superhero?
“Entahlah. Tapi yang kutahu, Candy Boy adalah orang yang sangat kejam, cerdas dan memiliki jaringan yang luas. Jika ia sangat serius dengan proyek ini, berarti akan ada sesuatu yang besar dan mengerikan. Kalian tidak akan bisa mengatasinya sendiri. Aku sarankan kalian melaporkan ini pada polisi yang bisa kalian percaya,” saran Yosia.
“Baiklah, akan kami terima saranmu itu.”
Kemudian Grafit masuk ke ruangan itu dan mengarahkan telapak tangannya ke wajah Yosia untuk menghilangkan semua ingatannya selama disandera.
“Seperti kata temanmu itu, kita takkan bisa mengatasinya sendiri, bahkan dengan kekuatan G:0. Kita harus melaporkan ini pada polisi dan meskipun ia sangat menyebalkan, saat ini hanya Kapten Rian polisi yang kupercaya dan takkan menganggapku gila meski omonganku terdengar tak masuk akal. Kita akan melapor padanya.”