G:0

G:0
PAHLAWAN YANG MEMBUNUH DENGAN KEJI



“Pahlawan super yang tangguh adalah pahlawan super yang memiliki kisah masa lalu yang kelam. Batman, orang tuanya tewas dibunuh perampok saat ia masih kecil. Spiderman, pamannya tewas karena kesalahannya, yang mana di Spiderman terbaru malah bibinya yang tewas. The Punisher, anak dan istrinya tewas karena dibunuh para penjahat.”


Ucapan Jonathan itu langsung disambut dengan tatapan tajam dari Clara yang membuatnya pura-pura tidak melihat. Tapi tatapan itu terlalu tajam untuk diabaikan, bahkan dengan sikap berpura-pura sekalipun.


“Ya, aku punya ide bagus. Bagaimana jika dalam kisah G:0, rekannya yang jenius dan pencipta alat-alatnya yang tewas ditampar karena mencoba memberikan ide bodoh untuk kesekian kalinya.”


Jonathan menunduk lalu pergi mendengar ancaman Clara itu. Padahal ia berencana untuk mengirim cerita masa lalu G:0 yang kelam kepada media.


Berbicara tentang media, sebenarnya Clara sedang sensitif karena dua pemberitaan media pagi ini. Pertama, berita tentang lolosnya Siren dari penjara. Meski para polisi dan sipir penjara mengikuti saran G:0 untuk selalu menghindari kontak mata dengannya, ternyata Siren bisa menghipnotis dengan mulutnya saja. Ia memberikan sugesti pada sipir penjara sehingga petugas itu membukakan pintu penjara untuknya dan bahkan mengantarnya sampai pintu keluar. Bukan hanya Clara, kepolisian juga ketar-ketir karena kejadian ini. 


Kedua, berita tentang munculnya satu lagi pahlawan bertopeng di kota Dragokarta. Clara tidak cukup picik sehingga keberatan ada seseorang yang ingin menyamai tugas G:0. Ia justru senang jika memang ada pahlawan super yang melindungi kota ini.


Hanya saja, yang mengganggunya adalah cara kerja pahlawan itu. Ia bertindak dengan sadis. Beberapa penjahat yang berhadapannya harus meregang nyawa dengan cara yang tragis. Pahlawan itu menggunakan senjata tajam dan senjata api untuk menghabisi lawan-lawannya.


Harus diakui, kemunculan pahlawan sadis itu terbukti jauh lebih cepat menekan tingkat kejahatan di kota Dragokarta dibandingkan dengan awal kemunculan G:0 dulu. Para penjahat harus berpikir ulang ketika hendak beraksi, sebab jika mereka sial, mereka akan berhadapan dengan pahlawan sadis itu dan sangat mungkin hidup mereka akan berakhir di tangan pahlawan itu.


Melalui sebuah media, ia mengaku bernama Algojo Langit. Nama yang keren dan cukup menegaskan cara kerjanya. Keberadaannya menjadi polemik di tengah masyarakat. Ada yang tidak setuju dengan cara kerjanya mengatasi kejahatan di kota ini, tapi tidak sedikit yang memberikan dukungan.


Sama seperti G:0, identitasnya saat ini juga masih menjadi misteri. Tidak ada yang tahu keberadaannya dan cara memilih kejahatan yang ditanganinya juga acak. Lucunya, sang Algojo Langit tidak pernah menangani kasus yang sama dengan G:0 atau dengan kata lain, mereka tidak pernah bertemu saat memberantas kejahatan.


“Kau belum menemukan petunjuk tentang penjahat itu?” tanya Clara pada Jonathan.


“Jangan sembarangan. Dia bukan penjahat. Dia adalah pembela kebenaran. Memang sedikit kejam, tapi ia mewakili perasaan banyak korban kejahatan. Seperti saat aku dibegal dulu, yang di otakku adalah membunuh para pembegal itu.”


“Hati-hati dengan ucapanmu. Tak jarang ucapan kita yang akan membunuh kita.”


Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan dengan sebuah suara dari pintu masuk. Seseorang sedang membuka kunci pintu apartemen.


“Kapan Grafit keluar?” Clara bertanya pada Jonathan, tapi yang ditanya tidak memiliki jawaban dan hanya mengangkat bahunya.


“Aku tidak keluar.” Ternyata Grafit sedang berada di dapur.


Mereka bertiga saling pandang lalu bersama-sama melihat ke arah pintu. Siapakah yang sedang membuka pintu itu? Bagaimana bisa ia memiliki kunci apartemen? Mereka menunggu pintu itu terbuka sambil memasang kuda-kuda untuk menyerang.


“Halo, putriku yang cantik. Papa datang!”


Sosok yang sudah sangat familiar bagi mereka sedang berdiri di depan pintu dengan wajah mengembang dan tangan terbuka seakan meminta pelukan. Ya, sosok itu adalah chef Barney, papa Clara yang sangat eksentrik.


*          *         *


“Sepertinya mereka sudah akur,” bisik Jonathan pada Grafit. Mereka sedang mengintip Clara dan papanya dari dapur. Sepasang ayah-anak itu sedang saling pandang di ruang tamu. 


“Kudengar juga begitu. Sejak papa dan mama Non berselai.”


Jonathan menatap Grafit dengan wajah kesal setelah mengerti kesalahan kata yang ia ucapkan. “Maksudmu, bercerai?”


“Ya, itu dia.”


Jonathan memutuskan untuk berhenti berbicara dengan Grafit dan memilih untuk lebih fokus menguping pembicaraan Clara dan papanya. 


“Bagaimana bisa kunci itu ada pada Papa?”


“Sejak apartemen ini dibeli. Mama yang memberikannya agar papa bisa sesekali datang untuk memantau keadaanmu.”


“Lalu, Papa pernah datang ke sini?” Clara agak cemas karena beberapa kali ia meninggalkan rumah kosong di siang hari, terutama ketika Grafit ikut. Jika itu benar terjadi, mustahil papanya tidak tertarik untuk masuk ke markas mereka. 


“Classic you.” Clara menggeleng kepala dan tidak merasa heran dengan jawaban papanya itu. "Lalu, kenapa Papa ke sini?"


“Apa lagi? Tentu saja untuk tinggal denganmu,” jawab chef Barney santai yang ditanggapi serius oleh Clara. “Mamamu hebat. Sejak dulu ia telah membuat surat kontrak yang isinya jika kami bercerai, tidak ada pembagian harta gono-gini. Kami akan membawa semua harta yang atas nama kami.”


“Dan tak ada satupun harta yang atas nama Papa?”


“Ada, tapi tidak ada yang bisa ditinggali, seperti peralatan memasak dan home theatre. Dan sejak kemarin Papa diperintahkan untuk keluar dari rumah kita.”


Lagi-lagi Clara menggeleng kepalanya. Meski yakin papanya sebodoh itu, tapi ia tetap saja tak habis pikir.


“Tapi Papa tidak boleh tinggal di sini. Papa harus menghargai privasiku.”


“Kenapa? Kau memiliki dua kamar dan Papa tahu kau juga minta Mama membeli kamar di sebelah.”


Clara tidak bisa mengatakan kalau Grafit sudah menempati kamar itu dan kamar di sebelah sudah dijadikan markas skuad G:0. Tapi ia harus menggagalkan keinginan papanya untuk tinggal bersamanya.


“Tempat ini kujadikan kantor untuk bisnisku. Mereka berdua adalah karyawanku. Kehadiran Papa akan menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu kinerja kami. Aku tahu, suatu saat Papa akan membawa wanita asing ke apartemen ini.”


“Jadi papa harus tinggal di mana?” Chef Barney memasang wajah memelasnya sehingga mulai menimbulkan rasa iba di hati Clara. Biar bagaimanapun, dia adalah papanya, apalagi hubungan mereka belakangan mulai membaik. 


“Baik, aku akan membelikan papa sebuah rumah. Kecil dan sedikit di pinggir kota. Tabunganku tidak cukup banyak untuk membelikan Papa apartemen, tapi aku janji takkan memberitahu mama. Dan ingat, rumah itu atas namaku, jadi jangan pernah berpikir untuk menjualnya.”


Sang chef mengangguk dengan wajah ceria. Akhirnya masalah tempat tinggalnya telah menemukan solusi. 


Kemudian perhatian mereka teralihkan oleh sebuah berita dari televisi. Clara menaikkan volume televisi karena berita itu terkait dengan Algojo Angkasa.


Diberitakan tadi pagi ditemukan sesosok mayat yang diduga korban sang pahlawan baru. Seorang saksi mengatakan korban sempat menjambret tasnya. Namun, baru beberapa langkah, penjambret itu dicegat oleh seseorang berkostum putih. Selang beberapa detik, sosok itu menebaskan pedangnya pada korban. 


"Apakah pantas pelaku penjambretan mendapatkan hukuman sesadis itu? Jika ia memang pahlawan, seharusnya ia meniru G:0 yang menyerahkan para penjahat pada aparat hukum," omel Clara. 


"Mungkin dia pernah dikecewakan hukum sehingga dia bertindak seperti itu."


Clara diam dan tidak bisa menyangkal ucapan papanya itu. Tapi kemudian ia kembali tidak membenarkan perbuatan brutal itu, meski terhadap pelaku kejahatan. 


"Tapi bagiku dia hanya seorang psikopat. Aku curiga, motivasi utamanya bukanlah untuk menumpas kejahatan, tapi untuk melampiaskan na*su binatangnya."


"Papa pikir tidak begitu."


"Papa berbicara seperti mengenalnya saja."


"Tentu, papa mengenalnya."


Bukan hanya Clara, Jonathan dan Grafit yang menguping terkejut mendengar ucapan chef Barney. 


"Bagaimana Papa -"


"Kau ingat film Pendekar Pedang Maut yang pernah papa perankan? Meski hanya menjadi pemeran pendukung, papa tetap menunjukkan totalitas. Papa berlatih pada seorang ahli pedang bernama Sensei Ryuuto selama tiga bulan. Meski singkat, papa tahu sayatan khas dari jurus-jurus yang diajarkan Master Ryuuto. Mirip dengan sayatan dari korban-korban Algojo Langit."


"Maksud Papa, Sensei Ryuuto adalah Algojo Langit?"


Papa Clara menunjukkan wajah ragu. Dan ia mengatakan sesuatu yang cukup membingungkan. "Sepertinya bukan dia. Maksud papa, tepatnya bukan dia."