G:0

G:0
PACAR



Sesaat sebelum Clara mengirim sinyal bahaya


Jonathan masih menatap foto-foto para member ex-GFriend. Ia sedang memutuskan foto mana yang akan dipasang di wallpaper ponselnya menemani foto Boa dari kartun One Piece dan Hinata dari kartun Naruto. Kata Grafit, jika menyukai suatu grup, kita harus memiliki bias, atau anggota favorit.


“SinB terlihat dingin tapi cantik, seperti Clara. Umji ketika diam nampak judes tapi menggemaskan, seperti Clara. Sowon memiliki tubuh yang proporsional layaknya model, seperti Clara. Yuju wajahnya bisa terlihat glamour, bisa juga terlihat imut, seperti Clara. Dan Yerin, ah, dia sangat lembut dan tatapannya meneduhkan, dan tentu saja seperti Clara. Aku tak berani memikirkan Eunha karena Grafit akan marah jika aku memilihnya.”


Jonathan sempat memutuskan foto Yerin, tapi akhirnya ia memasukkan foto semua member untuk menjadi wallpaper ponselnya. Tiba-tiba dia kepikiran dengan nama grup itu: GFriend.


Apakah kepanjangannya memang girlfriend? tanyanya dalam hati.


Memang menjadi ironis karena di tengah gejolak hatinya ingin memiliki kekasih, ia malah sedang sibuk memilih foto perempuan yang tak mungkin menjadi kekasihnya. Ia melihat dirinya sendiri sangat menyedihkan. Mau menyangkal, tapi memang itu kenyataannya.


Pikiran Jonathan pun menghampiri sosok bernama Clara,  wanita yang selama ini mengisi hatinya. Seandainya wanita itu mau membuka hati untuknya, mungkin hidupnya akan lebih indah daripada yang saat ini dijalaninya. Tapi sejak mereka beranjak remaja, ia hanya melihat gadis idamannya bergonta-ganti pacar. Tentu saja hal itu membuatnya berkali-kali terluka. 


Jika berbicara tentang usaha, ia telah melakukan sangat banyak usaha, bahkan jauh lebih banyak dibandingkan akumulasi usaha para mantan pacar Clara. Ia yang dulu dikenal sebagai anak yang baik dan pintar, harus berpura-pura nakal agar bisa sesuai dengan selera Clara. Sayangnya, Clara tidak pernah menyukai jenis ‘nakal’ yang perankan. Padahal karena usahanya itu, jalan hidupnya banyak berubah.


Seandainya aku tak pernah mencintai wanita itu, batin Jonathan.


*          *         *


G:0 berlari ke arah penculik itu. Namun beberapa anak buahnya mencoba menghadang. Dengan sigap ia menghindar dari gergaji-gergaji mesin itu. Bahkan beberapa orang berhasil dilumpuhkannya dengan pukulan dan tendangannya. Butuh sekitar tiga setengah menit baginya untuk melumpuhkan mereka, sama dengan durasi lagu Mago.


Si penculik tidak menyangka anak buahnya yang telah ia bayar cukup mahal hanya bisa menahan G:0 sesingkat itu. Padahal ia belum sempat melakukan apa-apa pada ‘pasien’nya. Sebelum lawannya mendekat, ia segera mengacungkan gergaji mesinnya ke dekat leher Clara.


“Jika kau mendekat, leher perempuan ini akan putus,” ancam penculik itu.


[G:0, jangan gegabah. Nyawa Clara sedang terancam.] kata Jonathan dengan nada cemas.


“Tapi aku membiarkannya, nyawa Clara tetap terancam. Aku harus segera melumpuhkannya.”


[Jangan ambil resiko. Dia adalah Clara, salah satu orang terpenting di hidup kita. Sedikit saja kita melakukan kesalahan, kita akan menyesalinya seumur hidup.]


Kata-kata Jonathan itu menghentikan gerak G:0. Bukan karena isinya, tapi karena caranya mengatakan itu yang membuat G:0 menurut. Jonathan yang ia kenal tak pernah memarahinya sekasar itu.


“Baiklah,  sekarang katakan apa yang harus kita lakukan.”


Jonathan berpikir keras. Ia melihat gergaji mesin itu semakin dekat dengan leher Clara. Tiba-tiba ia memiliki ide setelah melihat sesuatu di telinga Clara.


[G:0, kau melihat anting Clara yang berwarna biru? Apakah kau bisa menerbangkannya ke arah gergaji mesin itu? Anting tersebut bisa mengacaukan aliran listrik, termasuk pada gergaji listrik itu.]


G:0 segera mengarahkan tangannya ke anting yang disebut Jonathan. Kebetulan anting tersebut sudah berada dekat dengan gergaji mesin si penculik. Dan benar, setelah anting itu menempel di gergaji mesin, rantai pada alat itu berhenti bergerak. Ketika sang penculik sedang memeriksa gergajinya, G:0 langsung mendekat dan menghajarnya hingga terjungkal. Hanya dengan sekali hajaran, pria itu pingsan.


“Untung saja kau datang tepat waktu.. Sedetik saja kau terlambat, mungkin aku sudah mati,” kata Clara ketika G:0 selesai melepaskan ikatan di kaki dan tangannya.


[Clara, Clara, apakah kau baik-baik saja? G:0, suruh dia meneleponku segera! Cepat!]


Clara yang mendengar suara teriakan Jonathan dari alat komunikasi G:0 langsung mencari tas dan mengambil ponselnya lalu menelepon Jonathan.


“Halo, Tampan. Aku baik-baik saja. Kau tak usah cemas. O ya, aku memanggilmu Tampan bukan karena kau tampan, tapi hanya untuk menghiburmu.”


“Baik, baik, aku mengerti. Setelah ini aku akan memutuskannya, melihat bagaimana pengecutnya ia,” kata Clara. “Seseorang seperti itu takkan bisa melindungiku. Tidak seperti kalian berdua.”


G:0 dan Jonathan tersenyum puas. Mereka sangat bersyukur bisa menyelamatkan Clar. Sungguh tak bisa mereka bayangkan seandainya harus kehilangan sosok wanita yang selama ini memimpin mereka.


*          *         *


Sirine mobil polisi semakin jelas terdengar, tanda mereka akan segera tiba. Clara sedang memeriksa keadaan Alec yang masih pingsan. Penculik gila itu beserta seluruh anak buahnya juga dalam keadaan pingsan dan sudah terikat.


“Ibu guru, kau tidak apa-apa?”


Clara mengenal suara itu. Ia menoleh, dan sesuai dugaannya, itu adalah suara kapten Rian. Ia melihat ke seluruh tubuh Clara untuk memastikan ia baik-baik saja.


“Hanya beberapa luka kecil. Aku bisa mengurusnya. Sebaiknya kalian urus saja pria ini,” kata Clara.


“Siapa dia?”


“Pacarku. Lebih tepatnya mantan pacar. Aku baru memutuskannya tadi, ketika ia mengkhianatiku.” Clara melihat wajah kapten Rian yang ceria karena mengetahui dirinya baru putus. “Untung saja G:0 menyelamatkanku tepat waktu. Sebenarnya siapa pelaku penculikan itu?”


“Dia adalah dokter Haryanto. Dulu ini adalah kliniknya, sebelum ia jatuh bangkrut karena kecanduan judinya. Rumor tentangnya yang memperdagangkan organ tubuh manusia sudah tersebar di kalangan para dokter. Hanya saja dia sudah lama tak terlihat dan tak adanya bukti yang kuat. Kau harus bersyukur karena organ tubuhmu lengkap setelah diculiknya.”


Clara terdiam. Wajahnya mendadak sedih. “Padahal aku berharap korban-korban sebelumnya masih hidup.”


Kapten Rian menatap Clara. Ia mengerti bagaimana perasaannya, sama dengan apa yang dirasakannya sekarang. Pelan-pelan ia menggenggam tangan Clara dan memeluknya untuk memberikan ketenangan dan mencegah perasaan bersalah berkembang di hatinya.


“Aku akan pastikan bajingan itu mendapatkan hukuman yang setimpal.”


“Lepaskan dia!”


Sebuah teriakan mengejutkan para polisi yang sedang sibuk mengamankan para penjahat dan barang-barang bukti. Clara juga mengenal suara itu. Ia menoleh, dan benar saja, pemilik suara itu adalah Jonathan. Wajah dan tubuhnya basah karena keringat dan napasnya masih tersengal-sengal.


“Siapa dia?” tanya Rian bingung.


“Dia adalah -”


“Aku adalah BFriend-nya. Namja Chingu,” kata Jonathan yang masih dengan volume dan nada yang tinggi.


“BFriend? Maksudmu best friend?”


“Bukan, tapi -”


Clara langsung membekap mulut Jonathan dan berkata pada kapten Rian, “Benar, dia adalah best friend saya. Sepertinya karena saya baru saja diculik, ia kelihatan ngawur. Mohon maaf, kami harus pergi.’


Setelah pamit dengan kapten Rian, Clara menarik tangan Jonathan dan memarahinya karena tiba-tiba datang dan membuatnya malu.


Sementara itu kapten Rian masih menatap Clara, wanita yang pernah menyentuh hatinya.


“Ah, aku sempat lupa kalau dia pria,” gumam kapten Rian.