
“Bagaimana?” tanya Dicky pada fotografer setelah mengambil beberapa foto Grafit.
“Fantastic. Sepertinya modelmu kali ini sangat berbakat. Siapa bookernya?”
“Clara. Kenal? Yang bermasalah dengan Madam Axxa.”
“Ah, iya. Jadi dia melepas bakat desainnya untuk menjadi booker? Tapi ia hebat bisa menemukan talent seperti pria ini.” Sang fotografer menyuruh Grafit mendekat dan berbicara dengan hati-hati. “Apakah Clara booker yang baik? Kau tidak tertarik go-see ke salah satu agensi ternama? Aku kenal salah satu staf di sana dan mereka baru saja scouting, tapi aku yakin model yang mereka dapat tidak sehebat dirimu. Aku bisa menjamin kau takkan kesulitan masuk ke new face agensi itu.”
Grafit tidak menjawab. Wajahnya tegang. Begitu banyak kata yang tidak ia mengerti. Jika selama ini ada Clara dan Jonathan yang bisa menolongnya menjelaskan kata-kata dari bahasa asing, kali ini ia harus sendiri. Ia ingin bertanya, tapi takut akan mempermalukan Clara.
Aku benci bahasa asing, ujar Grafit dalam hati.
* * *
“Aku benci bahasa asing,” gerutu G:0 yang membuat The Vanishers kebingungan. “Apapun itu, aku akan menghajar kalian. Musik!”
Lalu G:0 mulai berlari ke arah The Vanishers untuk melepas serangan. Musuh-musuhnya tak mau kalah. Mereka mengeluarkan sebilah pedang dari lengan kostum besi mereka yang diayunkan bersamaan ke arah G:0.
Seperti yang sudah diduga, pedang itu tak mampu menembus tubuhnya, bahkan kostumnya. G:0 tersenyum mengejek, seperti yang sudah dilatih sebelumnya atas arahan Jonathan, lalu mencoba menepis semua pedang itu sekaligus.
Tak disangka, pedang itu mengeluarkan cahaya yang membuatnya mirip lightsaber yang bisa dilihat di film Star Wars. Tidak hanya bercahaya, pedang itu juga mengeluarkan aliran listrik bertegangan tinggi yang membuat G:0 terkena setruman dan terpelanting ke belakang.
Bukan hanya menimbulkan rasa sakit, aliran listrik itu juga merusak alat komunikasi yang terdapat di kostum G:0. Sekarang Clara dan Jonathan tak bisa lagi berkomunikasi dengannya. Tapi bukan itu yang paling membuat mereka cemas.
“Apakah G:0 tidak kebal terhadap listrik juga?” tanya Clara khawatir karena mengetahui satu lagi kelemahan G:0.
“Luar biasa tubuhmu bisa menahannya. Seharusnya manusia biasa akan hangus bahkan sampai habis tak berbekas jika terkena pedang kami secara bersamaan,” kata pria yang bernama palsu Tony.
“Itulah kenapa kami menamai diri kami The Vanishers,” sambung pria bernama palsu Dahlan.
G:0 berdiri dengan tubuh masih goyah. Ia memegang kepalanya yang mulai pusing. Baru kali ini ia merasakan setruman di tubuhnya. Prabu Arjuna mulai merasa cemas karena orang yang paling diharapkannya baru saja terpelanting.
“Tidak apakah jika aku menghancurkan barang-barang di sini?” tanya G:0 pada Prabu Arjuna.
“Ti, tidak apa-apa. Aku mengasuransikan rumah ini dan beberapa barang mahal di sini. Tapi tolong kalahkan mereka,” jawab sang anggota dewan.
Mendengar persetujuan itu, G:0 mengangkat lemari besar di belakangnya lalu melemparkannya ke arah The Vanishers. Dalam sekejap mereka membelah lemari itu menjadi puing-puing kecil dengan pedang tadi. Belum lagi sempat menyombongkan diri dengan senyum penuh kemenangan, sebuah benda dari atas mereka jatuh menimpa Ferry dan Dahlan, sementara yang lainnya berhasil menghindar. Kedua orang itu tidak bisa bergerak di bawah lampu gantung yang beratnya sudah dilipatgandakan G:0. Bahkan kostum mereka rusak karenanya.
Sisa tiga lagi. Mereka pun berpencar sehingga membuat G:0 bingung. Ia pun memilih untuk menyerang mereka secara bergantian. Kali ini yang diincarnya adalah Cahyo. Tidak terlalu sulit untuk menghadapi satu orang The Vanishers. Kemampuan bela diri mereka tidak sebagus G:0. Ia hanya perlu menghindar tiga kali sebelum tinjunya siap menghantam wajah penjahat itu.
Ia belum terbiasa bertarung dengan musuh-musuh setangguh itu tanpa bantuan Clara dan Jonathan. Kedua rekannya itu juga cemas-cemas gemas karena hanya bisa melihat dari pantauan Cameron DiePie tanpa bisa mengatakan apa-apa pada G:0.
Pahlawan super kita itu berdiri kembali dengan sempoyongan. Kakinya seakan tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Belum lagi kesadarannya pulih sepenuhnya, ia sudah melihat dua orang The Vanishers terbang ke arahnya dengan pedang bercahaya mereka. G:0 tahu ia tak memiliki waktu untuk menghindar. Secara mengejutkan, ia maju ke arah mereka dan membiarkan kedua pundaknya tertebas pedang-pedang itu.
Clara tercengang dan Jonathan tertawa melihat apa yang terjadi selanjutnya. G:0 memegang kostum kedua lawannya itu. Listrik yang mengalir ke tubuh G:0 dari pedang tersebut diteruskan kepada mereka berdua sehingga tidak hanya G:0 yang menikmati setruman itu. Bahkan kostum mereka pun mulai berasap dan akhirnya meledak. Mereka terpelanting, namun kondisi G:0 lebih baik dari keduanya.
“Oke, satu orang lagi,” kata G:0 yang bahkan ucapannya sudah tak jelas lagi terdengar. Ia mencari sisa lawannya dengan kepala pusing, tapi tak menemukannya. “Di mana kau?”
Tiba-tiba sebilah pisau menancap kakinya. Seharusnya, tidak ada yang bisa menembus tubuhnya saat ini mengingat kostumnya tahan terhadap serangan Ungravity. Tapi karena berbagai serangan listrik yang telah diterimanya, beberapa bagian kostumnya robek dan dijadikan celah bagi Toni untuk menusukkan pedangnya.
Tubuh G:0 semakin sempoyongan karena tikaman itu. Untungnya ia segera mencabut benda tersebut sebelum mengeluarkan listrik. The Vanishers Toni tertawa melihat keberhasilannya. Sementara itu G:0 sudah tidak sanggup berdiri lagi. Ia hanya pasrah ketika Toni mengangkat pedang ke arahnya.
Namun pedang itu tak pernah sampai ke tubuhnya. Tak disangka, Toni terkena setruman yang tak tahu entah dari mana. Kostumnya berasap lalu meledak dan The Vanishers terakhir itu tumbang. G:0 menghampirinya dan melihat Cameron DiePie sedang sekarat di dekat musuhnya itu.
“DiePie, terima kasih atas pengorbananmu,” kata Jonathan sambil menangis. Clara mencoba menenangkan rekannya tersebut karena sekali lagi harus mengorbankan benda kesayangannya.
Malam itu, sekali lagi, G:0 Squad berhasil menumpas kejahatan. Mereka membuat Prabu Arjuna kembali berani untuk menentang kehendak Kraken. Bukan hanya itu, ia melaporkan apa yang diketahuinya tentang organisasi itu pada polisi dan awak media. Untungnya, negeri ini masih memiliki banyak pejabat dan aparat baik yang tak bisa dipengaruhi oleh Kraken seperti Kapten Rian. Kepolisian Dragokarta menjamin sepenuhnya keamanan sang anggota dewan berani itu dan memang sejak itu tidak ada lagi ancaman yang ia terima.
* * *
Clara, Jonathan dan Grafit merayakan kemenangan pertama mereka atas Kraken dengan pesta makanan dan minuman ringan. Clara memberikan hak penuh atas seluruh isi kulkas pada Jonathan dan Grafit yang sangat tak disia-siakan.
“Kenapa kita tidak menyerahkan The Vanishers pada polisi?” tanya Jonathan.
“Itu bukan ide bagus. Mereka akan dibunuh oleh Kraken karena kegagalan mereka. Kisa sudah mendengar cerita Prabu Arjuna tentang kekejaman Kraken terhadap anggota yang gagal menjalankan misinya. Biar bagaimanapun, mereka juga manusia,” terang Clara yang disambut dengan anggukan dari Jonathan.
“Lalu, di mana mereka sekarang?”
Grafit tersenyum geli sebelum menjawabnya.
“Aku membawa mereka ke negeri asing yang menggunakan bahasa asing setelah menghilangkan ingatan mereka untuk kejadian tadi malam. Sekarang mereka pasti sedang kebingungan.”
Mereka bertiga tertawa membayangkan betapa bingungnya kelima anggota The Vanishers itu di negeri orang. Hukuman yang cukup menyenangkan.
Untuk pertama kalinya, mereka menang saat berhadapan langsung dengan Kraken. Tapi sebaiknya mereka tidak lupa kalau ini bukanlah akhir. Kraken tentu akan memandang G:0 lebih serius dan itu bukanlah sesuatu yang baik. The Vanishers dan Dancing Shadow hanyalah anggota dengan level terendah di organisasi tersebut. Masih banyak musuh dari tingkat yang lebih tinggi yang harus mereka hadapi untuk dapat mencapai puncak dan mengalahkan si penguasa Kraken sehingga organisasi itu berakhir.