
Clara membuka pintu apartemen dengan kondisi tubuh yang sangat letih. Hari ini ia harus mau menuruti permintaan Kapten Rian untuk menjadi sukarelawan di sebuah acara penyambutan Kapolres baru. Semua dilakukannya untuk mendapatkan kesepakatan dengan pria itu.
Ia memutar kepala sambil mengurut lehernya. Langkahnya terasa berat sehingga harus sedikit diseret. Di pikirannya adalah merebahkan diri ke atas sofa. Ia tidak pernah mau tidur di atas ranjangnya jika tidak dalam keadaan bersih. Namun, rencana itu buyar ketika ia melihat Jonathan tertidur di sofa panjangnya.
“Malam ini dia menginap di sini lagi?” tanya Clara pada Grafit yang baru saja mengakhiri panggilan teleponnya dengan Rosalia.
“Katanya begitu. Paman Jason-nya masih membenalu di rumahnya.”
“Dan dia membenalu di rumah orang,” gerutu Clara. “Kebetulan, ada yang ingin kusampaikan pada kalian terkait G:0. Menurut petunjuk yang ditinggalkan di TKP, Kapten Rian menyimpulkan Lucid akan beraksi besok. Jadi, besok kita akan kembali beraksi Aku sudah bernegosiasi dengan Kapten Rian. Ia takkan mengusik kita selama Lucid belum tertangkap.”
“Apakah sudah ada petunjuk tentang penjahat bernama Lucid itu?”
“Sayangnya belum.”
“Tadi Rosalia bilang, Lucid adalah penjahat lama. Menurut rumor yang ia dengar, tidak ada polisi yang berhasil menangkapnya. Melihatnya saja tidak ada. Bahkan ia pernah masuk ke kantor polisi dengan santainya karena semua polisi di sana ia buat tidur.”
“Ya, itu adalah kantor polis tempat Kapten Rian bertugas dulu.
“Bagaimana caranya ia bisa membuat orang-orang memberi kesaksian yang salah?”
“Modusnya hampir mirip. Ia masuk ke mimpi para saksi dan merekayasa mimpi mereka. Dua kali Kapten Rian menangkap orang yang salah karena dia. Kami masih belum menemukan bagaimana cara menangkapnya. Ia sangat hebat dalam mengendalikan mimpi.”
“Aku juga bisa mengendalikan mimpi, meski hanya mimpiku sendiri,” kata Grafit santai. Clara sempat tidak menanggapinya, tapi ucapan Grafit itu perlahan menarik perhatiannya.
“Apakah kau sering melakukannya?”
“Tentu. Sejak lahir aku telah melalui banyak meditasi. Guru pernah bilang, orang yang sering bermeditasi, ia akan bisa mengendalikan pikirannya sendiri, bahkan ketika sedang tidur.
Senyum di wajah Clara mulai mengembang. Ia mendapatkan sebuah ide yang menurutnya bisa membuat penjahat bernama Lucid itu tertangkap.
“Aku punya rencana. Jadi, kau akan -”
Kalimat Clara terhenti ketika matanya melihat Jonathan menggaruk dadanya lalu beralih ke perut dan perlahan masuk ke ******. ***** keadaan tidur, pangkal pahanya mendadak terasa gatal. Clara langsung melemparkan tasnya ke wajah Jonathan.
“Ada apa!? Ada apa!?” teriak Jonathan yang terkejut karena mendapatkan serangan tiba-tiba. Ia bingung ketika melihat di hadapannya sudah berdiri Clara dengan wajah penuh amarah.
“Seandainya Lucid memasuki mimpimu tadi, kita pasti bisa membutakan matanya.”
* * *
Clara dan Jonathan menatap layar monitor dengan serius. Sudah hampir seminggu mereka libur patroli, bahkan sebelumnya mereka juga sudah sering absen. Mereka sangat merindukan aktivitas ini hingga sejak tadi senyum tak beranjak dari wajah mereka.
“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Clara.
[Aman dan tak ada tanda-tanda kejahatan.]
“Aku ragu kita akan menemukannya dengan cara seperti ini,” tukas Jonathan. “Lihat saja kasus-kasus sebelumnya. Ia selalu lolos dari tangkapan kamera. Entah bagaimana, semua kamera pengawas dalam radius dua kilometer dari TKP tidak berfungsi. Pasti dia punya alat pengacak sinyal.”
“Ketemu! Hotel Chrysanthemum.”
G:0 langsung menuju lokasi yang disebutkan oleh Jonathan. Tidak butuh waktu lama, ia sudah sampai di hotel itu. Masalahnya, hotel itu sangat besar, memiliki hampir tiga puluh lantai dan terdiri dari sekitar tiga ratus kamar. Ia tidak tahu Lucid akan beraksi di kamar berapa. Bahkan rupa wajah penjahat itu saja mereka belum tahu.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Jonathan yang membuat Clara berpikir sejenak..
“Bukankah kau bilang dia membawa alat pengacak sinyal? Kalau begitu, jika G:0 berada di dekatnya, kamera yang ada di kacamatanya tidak akan berfungsi.”
“Bukan hanya kamera, alat audionya juga tidak berfungsi. Kita takkan bisa berkomunikasi dengan G:0 lagi.”
[Aku akan keliling hotel. Jika komunikasi kita terputus, berarti aku sudah menemukannya. Aku akan menanganinya dari sana.]
“Tidak! Yang harus kau lakukan pertama kali saat bertemu dengannya adalah menemukan dan menghancurkan alat pengacak sinyal itu agar kita bisa segera berkomunikasi. Sekarang, ganti pakaian ke mode Grafit dan masuk ke dalam hotel.”
Beberapa menit kemudian, G:0 a.k.a Grafit sudah masuk ke dalam hotel. Kemungkinan alat pengacak sinyal itu punya kekuatan hingga radius dua kilometer. Artinya, Grafit hanya perlu naik lift dari lantai satu ke lantai paling atas untuk mengetahui keberadaan alat itu.
[Ternyata tanpa kartu hotel, aku hanya bisa naik lift sampai lantai sepuluh.]
“Maaf, Grafit. Sepertinya kau harus naik menggunakan tangga darurat. Ingat, tidak boleh terbang!” kata Jonathan yang disambut helaan napas panjang Grafit..
“Kau tersenyum? Kenapa tersenyum? Kau senang temanmu menderita, ya?” Clara tiba-tiba menyerang Jonathan yang memang sedang menyeringai.
“Ti, tidak.”
Mau tak mau, Grafit naik ke lantai paling atas menggunakan tangga. Untungnya, ia memiliki fisik yang sangat bagus sehingga tidak kesulitan menaiki tangga sejauh itu dengan berlari.
Tiba-tiba komunikasi terputus. Clara dan Jonathan memanggil nama Grafit dan tak ada jawaban. Artinya, Grafit sudah berada di lantai yang sama dengan Lucid.
“Apa yang terjadi saat ini? Aku ingin sekali melihat wajah penjahat itu,” celoteh Jonathan.
“Kita berharap saja agar Grafit bisa menanganinya.”
Sementara itu, Grafit sudah berada di lantai tiga puluh satu ketika komunikasinya dengan markas terputus. Ia pun membuka pintu darurat dan masuk ke koridor. Matanya menjelajah untuk menemukan sosok mencurigakan yang berpotensi sebagai Lucid. Namun keadaan koridor sepi dan tak ada orang yang lewat. Grafit pun berjalan ke arah timur.
Hingga ia hampir mencapai jendela, tubuhnya mendadak merasakan hal yang aneh. Ia tidak tahu perasaan apa itu, tapi membuatnya mengantuk. Ia menggeleng kepalanya kencang untuk menjaga kesadarannya, tapi rasa kantuk itu terlalu kuat. Ia sampai menampar pipinya berulang kali.
Kemudian ia melihat seorang pria keluar dari salah satu kamar. Pria itu menyadari keberadaan Grafit dan wajahnya cukup terkejut. Kemudian ia mengarahkan tangannya kepada Grafit sehingga rasa kantuk Grafit semakin menggila. Akhirnya Grafit menyerah kalah dan tertidur.
Pria itu tersenyum. Ia mengibaskan ujung jas panjangnya lalu membuka pintu kamar yang lain. Di dalam kamar itu ada sepasang suami istri yang sedang terlelap. Ia memegang leher mereka di masing-masing tangannya lalu mengangkat mereka setinggi yang ia mampu. Skenarionya, G:0 mencekik mereka sampai ke langit-langit kamar.
Tiba-tiba ia merasakan sentuhan di bagian kakinya. Ia menoleh, seseorang yang sedang berbaring di lantai yang melakukannya. Kemudian orang itu menggulingkan badannya sehingga mereka saling pandang. Ternyata Grafit. Tanpa diduga, Grafit menepis kakinya sehingga ia terjatuh.
“Aku akan mengejarmu, meski sampai ke alam mimpi.”