G:0

G:0
TAPI BUKA DULU TOPENGMU



G:0 baru tiba saat keadaan di dermaga nomor tiga puluh sudah dalam keadaan kacau. Algojo Langit sedang tersudut melawan beberapa preman bersenjata. Ia hanya memiliki pedang dan kehilangan senjata apinya di pertempuran tadi. Di sekitar mereka sudah bergelimpangan beberapa preman yang kebanyakan bersimbah darah.


“Oke, sepertinya pahlawan kita sudah melakukan banyak pekerjaan dan sekarang sedang membutuhkan bantuan.”


G:0 langsung membantu Algojo Langit menangani sisa preman yang mencoba menyerang si pahlawan sadis. Tanpa perlu waktu lama, ia berhasil mengumpulkan mereka dan melindungi Algojo Langit di belakang punggungnya. 


“Salam kenal. Pasti kau mengenalku. Aku seniormu di dunia perpahlawanan Dragokarta. Tapi jangan merasa sungkan, kita memang harus saling membantu.”


Baru saja selesai berbicara, G:0 merasakan sesuatu yang perih dari tubuhnya. Tak disangka, Algojo Langit menebasnya dari belakang dan ternyata pedang yang dipegangnya mengandung Ungravity. G:0 berbalik dan menatapnya tajam.


“Apakah kau antek Kraken?” tanya G:0.


“Bukan urusanmu.” Suara Algojo Langit terdengar berat, seperti suara G:0 yang telah dimanipulasi oleh alat Jonathan.


Tiba-tiba beberapa preman yang berhasil bangkit kembali menyerang G:0. Sedikit menyakitkan karena mereka mengenai luka tebasan itu sehingga G:0 harus menangani mereka terlebih dulu. Sayangnya, setelah selesai menangani para preman itu, G:0 mendapati tempat Algojo Langit berdiri tadi telah kosong.


“Dia sudah pergi,” kata G:0 memberikan laporan pada Clara dan Jonathan. “Apakah aku harus mengejarnya?”


[Sebaiknya kita tunda dulu urusan dengannya. Kau sedang terluka, sebaiknya kau kembali ke markas dulu.]


G:0 mematuhi perintah dari Clara itu. Dan malam ini rahasia identitas asli Algojo Langit masih berlanjut.


*          *         *


“Jika dia benar-benar pahlawan, kenapa dia menyerang sesama pahlawan? Bahkan yang menyelamatkan nyawanya!”


Sejak tadi Clara menumpahkan amarahnya pada Algojo Langit melalui kata-kata yang mengganggu pendengaran Jonathan dan Grafit, yang mana tak bisa mereka hindari. Mereka hanya manggut-manggut karena tak diberi kesempatan menyelipkan sepatah kata pun di tengah lautan omelan wanita itu.


“Kita harus menangkapnya. Dia bukanlah pahlawan. Dia hanya pria berkostum dengan keahlian menggunakan senjata dan hobi membunuh, yang sengaja memilih penjahat sebagai korbannya agar tidak disalahkan, bahkan dianggap pahlawan.” Clara terdiam sejenak dan mulai sadar kalau kedua temannya itu hanya diam sejak tadi. “Hei, berbicaralah. Apakah kalian tidak memiliki beban untuk masalah kita ini?”


Jonathan dan Grafit saling menyenggol bahu. Mereka tidak ingin terjebak oleh tawaran Clara. Bukan sekali dua kali Clara mengatakan hal sama di diskusi-diskusi sebelumnya. Dengan emosi setinggi itu, mereka tahu apapun pendapat yang mereka berikan hanya menjadi alasan untuknya semakin mengamuk.


“Aku hanya kepikiran sesuatu,” kata Grafit setelah Clara berhenti berbicara cukup lama, seperti sebuah sinyal kalau emosinya mulai surut. “Kenapa Algojo Langit membunuh? Sebagian besar videonya menunjukkan kalau para penjahat itu tidak berniat memberi perlawanan padanya. Seakan ia memang sudah berniat untuk membunuh, meski mereka tidak melakukan kejahatan.”


Lagi-lagi ‘kepikiran’ Grafit memberikan sebuah pencerahan penting. Nalar Clara dan Jonathan berputar, mengembangkan ‘kepikiran’ Grafit tersebut.


“Ya, kita harus memikirkan motif lain. Bisa saja Algojo Langit membunuh mereka bukan demi menumpas kejahatan, tapi memang karena harus dibunuh,” opini Jonathan.


“Jika itu benar, maka kita harus mengganti statusnya sebagai pahlawan penumpas kejahatan menjadi pembunuh berantai. Dan salah satu dasar penyelidikan kasus pembunuhan berantai adalah mencari kesamaan korban. Jonathan, kau tahu apa yang harus kau lakukan?”


 Jonathan mengangguk dan langsung mengutak-atik laptopnya. Ia mencari informasi tentang para penjahat yang telah menjadi korban pembunuhan Algojo Langit. Tak lama kemudian, Jonathan bersorak kegirangan tanda ia telah menemukan apa yang dicari.


“Bingo! Mereka adalah anggota geng Elang Besi. Pada masa Black Samurai masih berkuasa, mereka adalah pemasok senjata terbesar untuk organisasi itu. Pimpinannya dikenal dengan panggilan Tuan Belati, ahli berbagai jenis senjata api dan tajam. Keruntuhan Black Samurai berpengaruh besar terhadap kelangsungan organisasi ini. Bisnis senjata mereka mulai beralih ke bisnis narkoba, yang mana harus bersaing dengan bisnis milik Il Capitano. Beberapa bulan yang lalu, Tuan Belati tewas dibunuh dan banyak orang percaya kalau itu adalah perbuatan Il Capitano. Sayangnya, karena tak ada bukti, sampai kasus itu ditutup, tak ada tersangka yang ditetapkan.”


“Cari tahu jumlah anggota geng Elang Besi yang masih tersisa.”


Jonathan kembali sibuk dengan laptopnya dan tidak butuh waktu lama, dia mendapatkan sebuah angka. “Data yang kutemukan ada dua, tapi sepertinya salah satunya baru saja dihujani peluru di dermaga tadi. Jadi tinggal -”


“Baik, sekarang kita akan mengawasi orang itu.”


*          *         *


“Kalian yakin kalau dia adalah Algojo Langit?” tanya G:0 yang mulai bosan menunggu.


[Kemungkinannya ada dua: dia adalah Algojo Langit atau calon korbannya. Firasatku berkata kemungkinan pertama yang benar. Dan firasatku yang lain berkata, jika kemungkinan kedua yang benar, ia akan mengeksekusi satu-satunya sisa anggota Elang Besi malam ini.]


[Ya, sepertinya kejadian tadi malam akan membuatnya tidak tenang. Melihat ia sempat terpojok oleh para preman itu, tentu yang terjadi tidak sesuai dengan rencananya. Apalagi G:0 mendatanginya, hal itu pasti menyadarkannya kalau ia harus segera menuntaskan misinya sebelum ada pahlawan super yang mengganggunya. Aku yakin malam ini ia akan membunuh penjahat yang tidak sedang melakukan kejahatan.]


Mereka berhenti berbicara ketika menyadari kehadiran seseorang yang berkostum serba putih. Dia adalah Algojo Langit. G:0 mengambil sikap bersiap-siap dan menunggu instruksi dari markas untuk bergerak. Sementara Clara menunggu hingga Algojo Langit berada di posisi yang takkan membuatnya lolos dari G:0 dengan mudah.


[Baiklah, sekarang waktunya!]


Tanpa menunggu lama, G:0 langsung meluncur ke arah Algojo Langit. Sosok berkostum serba putih itu segera menyadarinya dan menghindar sebelum G:0 mendaratkan tendangan ke wajahnya. Ia segera mengeluarkan pedang di tangan kirinya dan pistol di tangan kanannya.


“Bukankah kau si penumpas kejahatan? Sebagai sesama penumpas kejahatan, aku hanya ingin bilang kalau di sini sedang tidak ada kejahatan. Kau bisa pulang sekarang,” kata G:0 mengikuti ucapan Jonathan, yang sedang ditatap tajam oleh Clara yang menganggap kalimat itu terdengar norak.


“Kau lagi. Sebaiknya kita tidak saling mengganggu dan urus urusan masing-masing.”


Algojo Langit mengeluarkan peluru dari pistolnya. G:0 menghindar karena ia tak bisa mengendalikannya. Tak salah lagi, peluru-peluru itu juga dibaluri Ungravity seperti pedangnya. Dan juga seperti kostumnya.


“Aku tidak bisa mengendalikan gravitasinya,” lapor G:0. “Dan aku kesulitan menyerangnya karena ia melakukan pertahanan ketat dengan pedangnya.”


[Untuk saat ini, usahakan agar kau tidak tertembak. Kita hanya perlu menunggu ia kehabisan peluru.]


Seperti kata Clara, Algojo Langit berhenti menembak karena kehabisan peluru. Namun, belum sempat G:0 memanfaatkan momentum itu, lawannya menyingkapkan jubah putihnya dan terlihat beberapa magazine atau tempat peluru tersangkut di sabuknya.


“Kupikir akan memakan waktu yang cukup lama untuk menunggunya kehabisan peluru.”


G:0 berlari ke belakang rumah dengan cepat dan muncul dari sisi yang lain sehingga posisinya sekarang berada di belakang Algojo Langit. Waktu yang tepat untuk menyerang, sebelum sang lawan menyadarinya dan menebaskan pedang ke arahnya.


[Nyaris saja. Seandainya G:0 memiliki senjata selain pengendalian gravitasi mungkin tidak seperti keadaannya. Ia pasti akan -]


[Kenapa kau tidak percaya kalau aku bisa memecatmu dari skuad?]


Jonathan menutup mulutnya ketika mendengar kembali ancaman Clara itu. Ia tak berani lagi membahas tentang senjata untuk G:0 meski ingin.


G:0 masih sibuk menghindari hujanan peluru yang mengarah padanya. Ia punya rencana dan rencana itu bisa dijalankannya ketika Algojo Langit mengisi pelurunya. Dan momen itupun datang. G:0 segera berlari ke arah lawannya lalu menendang pistol yang ada di tangan sang Algojo Langit.


[Hati-hati! Dia akan menggunakan pedang jika kau menyerangnya!]


Seperti yang Clara duga, Algojo Langit menebaskan pedangnya ketika G:0 mendekat. Bukannya menghindar, G:0 malah bersiap menerima tebasan itu dengan menyilangkan tangannya. Ajaib, bilah pedang itu tersangkut di antara tangan G:0 tanpa menyebabkan luka. Dengan cepat G:0 memutar pedang itu dan menyikut wajah lawannya hingga topeng yang dikenakannya hancur.


Clara, Jonathan dan G:0 terkejut ketika melihat wajah di balik topeng itu. Meski tidak kenal, mereka tahu siapa nama pemilik wajah itu.


“Dorman!”