G:0

G:0
G:0 IS IN THE PARTY



Semenit sebelumnya 


"Aku tidak mau! Aku tidak mau! Aku takkan keluar jika pesawat ini tidak berada di atas tanah."


Bad Girl mengeraskan hatinya. Ia tidak mau lagi terjun dari pesawat seperti tadi. Meski pendaratannya di penjara Heriotza tadi berjalan mulus, ia berpikir akan ada kedua kalinya. Untuk itu, kali ini ia sengaja memilih tidak duduk di dekat pintu keluar. 


"Ayolah, jika pesawat ini mendarat, pasti akan menjadi pusat perhatian. Kita akan ditembaki bahkan sebelum menyentuh tanah."


"Pokoknya aku tidak mau terjun."


Sang pilot memberi peringatan bahwa mereka akan sampai ke titik tujuan.


"Aku akan membantumu. Sekarang -"


"Tidak, aku tidak akan memejamkan mata. Jangan kau pikir aku akan tertipu dua kali." Bad Girl menggeleng kepalanya seakan trauma dengan tipuan G:0.


"Baiklah, aku saja yang turun," kata G:0 setelah menghela napas panjang. "Doakan aku agar berhasil menolong para pejuang Persekutuan Sembrani."


G:0 mengulurkan tangannya seakan meminta dukungan. Meski hatinya sudah teguh untuk tidak terjun, Bad Girl merasa tidak enak hati. Ia pun menggenggam tangan G:0 seakan sedang mentransfer kekuatannya. Lalu ia menyadari G:0 balas menggenggam tangannya sangat erat. 


"Jangan macam-macam!" bentak Bad Girl. 


"Kita sudah sampai!" teriak sang pilot. 


"Aku janji akan menjagamu," kata G:0 lirih, seakan merasa bersalah.


Ia pun menjatuhkan tubuhnya ke belakang, keluar pesawat. Bad Girl yang tangannya ia genggam ikut tertarik keluar. 


"GRAFIT BRENGSEK!!!"


G:0 memeluk Bad Girl yang terus memukulinya dengan penuh amarah. Lalu mereka menembus awan dan gedung kongres yang atapnya hancur itu terlihat. G:0 memberi kode pada Bad Girl kalau dia akan menaikkan gravitasi tubuhnya sendiri, sementara untuk Bad Girl akan ia turunkan agar pendaratannya tidak menyebabkan luka. 


Lalu G:0 melesat dengan cepat menuju gedung itu. Bahkan pendaratannya menghasilkan dentuman yang kencang sehingga membuat keadaan gedung yang sebelumnya rusuh mendadak tenang untuk sejenak. 


[Terima kasih karena tidak menungguku untuk memulai pesta ini.]


G:0 pun mengulang kata-kata Jonathan itu dengan nada suara lebih keren. 


[G:0, di mana Bad Girl?]


Mendengar pertanyaan Clara itu membuat G:0 kalau Bad Girl yang seharusnya sudah mendarat tidak ada di dekatnya. Ia pun melihat ke langit. 


"Dasar bodoh!"


Bad Girl turun secara perlahan, seperti dedaunan yang jatuh dari ranting pohonnya. Saking perlahannya, ia sampai menjadi tontonan semua orang yang ada di dalam gedung. Bad Girl menunduk malu. Ia menutup wajahnya dengan salah satu tangan. 


"Aku hanya berpikir untuk memberikan pendaratan yang aman karena tadi kau sangat ketakutan. Tak kusangka malah jadi sepelan itu," ujar G:0 yang justru membuat Bad Girl semakin malu. 


[G:0! Bad Girl! Fokus! Kalian sedang di tengah pertarungan.]


Mereka berdua pun kembali fokus pada keadaan di sekitar mereka, seperti yang diperintahkan oleh Clara. Memang, keadaan terlihat sangat kacau. 


Setelah mendapatkan informasi tersebut, skuad G:0 memutuskan untuk membantu para pejuang. Dozo pun memberikan lokasi kongres. Dan akhirnya, di sinilah skuad G:0 berada. 


“Well, well. Sahabat dekatku sudah datang,” sambut Kapten Rian pada G:0. “Kupikir kalian tidak diundang di pesta ini.”


G:0 dan Bad Girl menatapnya dengan penuh amarah. Mereka teringat dengan bagaimana perjuangan mereka untuk mencoba membebaskannya. Sangat menyebalkan untuk sekadar diingat. 


"Sudah kuduga, Clara memiliki selera yang sangat buruk," kata Bad Girl yang membuat Jonathan di markas tertawa terbahak-bahak. Ia berhenti ketika Clara mengangkat sebuah pemukul bisbol.


“Ada pesan dari Clara untukmu. Katanya: 'Kapten Rian, aku mau putus darimu karena kau banci, ngan?'” semua orang yang mendengar perkataan G:0 itu bingung. Ia pun menekan alat komunikasi di telinganya untuk mendengar perkataan Clara lebih jelas. "Oh, maksudku bajingan."


Kapten Rian tersenyum kecut. Kemudian ia menggerakkan lengan kanannya seperti sedang memompa senapan. Ia pun melompat ke arah G:0 dan bersiap melepaskan pukulan. Pukulan yang mirip dengan yang membuat Dozo terpental tadi. 


“Katakan padanya kalau Kapten Rian sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah Lyngbakr dan dia memang sedang tidak tertarik untuk urusan romansa,” katanya.


G:0 menyilangkan kedua tangannya membentuk perisai dan bersiap menahan pukulan. Maka terdengar suara seperti ledakan yang menarik perhatian orang-orang di sana. Mereka berpikir, jika pukulan itu bisa membuat Dozo yang bertubuh besar terpental, pasti pukulan itu bisa membunuh pria bertubuh standar seperti G:0.


Namun mereka semua terkejut ketika melihat G:0 masih berdiri teguh. Ia sama sekali bergeming seakan pukulan itu tak berpengaruh padanya. Kapten Rian yang tahu betul kekuatan pukulannya adalah yang paling terkejut. 


"Ouch." Hanya kata itu yang terucap dari mulutnya.


G:0 segera memasang kuda-kuda dan balas memukul Kapten Rian (yang ingin dipanggil Lyngbakr). Berbeda dengan pukulan Lyngbakr, pukulan G:0 berhasil membuat lawannya terpental. Dan pukulan itu seperti menumbuhkan semangat dan harapan yang baru bagi para pejuang. Mereka bersorak dan pertempuran kembali terjadi.


“Sudah lama aku menunggu momen ini, yaitu bertarung dengan G:0. Selama ini aku hanya bisa melihatmu mempermalukanku dengan tingkah-tingkah sok pahlawanmu. Sekarang saatnya untuk membungkam mulut sombongmu.”


“Menurutku, namamu sangat aneh dan sulit untuk diucapkan,” kata G:0. “Sebaiknya kau ganti nama, karena itu akan menyulitkan orang yang ingin memanggil namamu.”


Lyngbakr kesal karena G:0 merespons ucapannya dengan pembahasan remeh. Ia pun melepaskan tembakan ke arah G:0 yang berhasil dihindari dengan sangat baik.


Sementara itu, Bad Girl menghampiri Siren yang sejak tadi belum sekali pun melakukan pertarungan. Ia memiliki dendam setelah pertemuan pertama mereka di rumah Muzic Box. Bad Girl merasa telah dipermalukan oleh Siren.


“Wah, perempuan nakal sedang mendatangiku. Apakah aku harus bilang kalau aku sedang tidak membutuhkannya?” sindir Siren.


“Tidak perlu, karena aku datang untuk menagih utangmu.”


“Anggap saja sudah lunas.”


Siren bergerak cepat sehingga Bad Girl kehilangannya dengan cepat. Tiba-tiba saja ia sudah berada di depan Bad Girl dan menempelkan telapak tangannya ke wajah pahlawan wanita itu.


“Selamat karena kau mendapatkan penghormatan untuk menjadi bonekaku. Sekarang bagaimana jika kau membantuku untuk mengalahkan para kutu busuk itu?”


Dan sesuatu yang tak Siren duga terjadi. Bad Girl memegang tangannya lalu menepisnya dengan lembut. Bibirnya yang tak tertutup topeng tersenyum seakan mengejeknya. Tentu saja Siren terkejut karena memegang wajah targetnya adalah cara menghipnotis yang paling efektif. Hanya G:0 yang bisa mengatasi cara seperti itu. Mustahil jika ia bisa mengajarkannya pada orang lain, terutama pada Bad Girl yang tidak memiliki bakat hipnotis sama sekali.


“Aku mungkin nakal, tapi aku bukan bodoh. Aku tak pernah jatuh ke dalam kesalahan yang sama.” Bad Girl memukul kepalanya yang ternyata mengenakan helm. “Aku meminjam helm milik Magneto, jadi kau tak bisa menghipnotisku.”


Setelah melihat Siren yang kebingungan karena helm barunya, Bad Girl tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menghajar wanita penghipnotis itu. Dengan sekali pukulan, Siren terpelanting cukup jauh. Bad Girl kembali tersenyum puas.


“Ah, aku senang dengan kekacauan ini.”