
“Aku suka musik. Waktu kecil, aku sering dipanggil sebagai jenius musik karena bisa memainkan berbagai instrumen,” bual Jonathan ketika sedang berbicara dengan Rosalia sore itu.
“Benarkah? Kau bisa main apa saja?”
“Gitar klasik, piano klasik, biola, dan lainnya.”
“Oh, jadi kau suka aliran klasik.”
“Kenapa? Kau tidak suka klasik?”
“Bukannya tidak suka, aku sering mengantuk jika mendengar musik klasik.”
“Memangnya kau suka aliran apa?”
“Segala jenis Rock.”
“Wah, aku juga.”
“Benarkah? Kau suka band apa?”
Jonathan berpikir sejenak. Ia memang sedang berbohong tentang menyukai aliran rock. Bahkan ia berbohong tentang bisa memainkan berbagai instrumen musik. Tapi kebohongan ini harus terus berlanjut. Otaknya berusaha keras mengingat satu saja grup band beraliran rock. Ah, ia tahu beberapa nama, tapi ia ragu tentang alirannya. “Michael Learn to Rock.”
Rosalia memandangnya tanpa memberikan respons, seakan mendapatkan jawaban yang tidak ia duga. Sikap itu membuat Jonathan menjadi serba salah.
“Kalau aku Panic! at the Disco.”
“Ya, aku juga suka aliran disko. Membuat tubuh kita menari disko,” kata Jonathan sambil cengengesan, yang akhirnya memudar setelah melihat ekspresi serius dari Rosalia. “Aku tahu band itu, terutama pemain gitarnya. Aksinya di panggung konser beberapa bulan yang lalu sangat keren.”
Tiba-tiba Clara masuk ke markas dengan wajah pucat. Jonathan menghela napas lega karena merasa telah diselamatkan dari pembicaraan yang topiknya sangat tidak dikuasainya.
“Gawat, ini gawat!” kata Clara, membuat Jonathan dan Rosalia terkejut.
“Ada apa?”
“Dugaanku makin terbukti.” Clara mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan lirik-lirik lagu dari Muzic Box. “Coba lihat lirik lagu Penjara yang Terlalu Sempit Untukku.”
Tubuhku yang kecil ini memiliki jiwa raksasa
Tak ada penjara yang cukup untuk memenjarakannya
Kau selalu berkata semua ini demi kebaikanku semata
Tapi jika aku tak bahagia, sebaiknya aku pergi saja
“Memang sedikit unik, tapi menurutku tidak ada yang salah,” kata Jonathan.
“Tidak salah, jika beberapa hari kemudian tidak terjadi ini.” Clara membuka tab lain di browser ponselnya sehingga tampil sebuah berita. “Ratusan pelajar secara serentak memberontak dan memilih tidak masuk sekolah.”
Jonathan dan Rosalia memperhatikan berita itu. Mereka juga pernah mendengar kasus itu, yang sampai sekarang tidak diketahui penyebabnya karena para pelajar itu mengaku pemberontakan tersebut muncul dari hati mereka dan tidak pernah dihasut oleh orang lain.
“Oke, cukup meyakinkan. Tapi aku butuh beberapa bukti lagi untuk bisa percaya.”
“Lagu Cinta Kita Kuat Bagai Maut.”
Aku mencintaimu, tapi kurasa itu tak cukup
Aroma keindahanmu sudah terlalu banyak kuhirup
Sekarang kita akhiri saja permainan kata yang menggoda
Berikan tubuhmu, mari melebur dalam satu raga
“Dan sejak saat itu kasus pemerkosaan di kota ini meningkat.” Kemudian Clara membuka lirik lagu lainnya. “Selanjutnya lagu Pria Berseragam yang Kejam.”
Wajah bengis tiada belas kasihan
Mengandalkan senjata ‘tuk menebar ketakutan
Hai, Pria berseragam yang kejam
Yang jiwanya sudah hitam bak malam
Sambil kuhancurkan tahta sucimu
“Lalu beberapa hari setelahnya terjadi pemboman di beberapa kantor polisi yang mana sempat diduga ulah t*roris,” kata Rosalia yang teringat dengan peristiwa beberapa waktu yang lalu.
Kali ini Jonathan tak lagi memberikan bantahan. Pikirannya mulai terbuka dan pada akhirnya ia setuju dengan kecurigaan Clara. Kisah tentang seseorang yang melakukan kejahatan karena terinspirasi dari lagu yang didengarnya memang ada sejak dulu. Ia melihat ke arah Clara seakan ingin memberitahukannya kalau ia sudah setuju dengannya.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Jonathan dengan nada lesu.
“Yang pasti, kita harus mencari tahu siapa Muzic Box sebenarnya. Namun kita harus tetap memantau lagu barunya. Jika dugaanku itu benar, berarti kita bisa menemukan rencana jahatnya melalui salah satu bagian lirik lagunya itu.”
Jonathan pun segera mencari tahu apakah ada pengumuman tentang perilisan lagu barunya di media sosial atau tidak. Sementara itu Clara celingak-celinguk mencari satu lagi rekannya.
“Di mana Grafit?”
“Sedang mendengar lagu barunya VIVIZ. Katanya baru saja dirilis,” jawab Jonathan. “Aku berharap suatu saat VIVIZ mengeluarkan lagu yang liriknya tentang pentingnya menghormati teman yang lebih tua darinya.”
“Tetap saja tak ada pengaruhnya karena lagu mereka berbahasa Korea dan lagipula kau memang tak pantas untuk dihormati. Buktinya, ia sangat menghormatiku.”
Jonathan menatap Clara. Akhirnya ia sadar kenapa Grafit tidak menghormatinya. Itu karena Clara tidak pernah menghormatinya dan Grafit menirunya.
* * *
Skuad G:0 dan satu tambahan anggota ‘freelance’ sedang serius mendengar lagu dari Muzic Box yang baru saja rilis sore ini dengan judul Balada Antara Aku dan Uangku. Mereka benar-benar memperhatikan tiap lirik dari lagu tersebut. Tak bisa disangkal, lagu itu sangat bagus dan easy listening. Bahkan ketika diulang untuk ketiga kalinya, mereka sudah hapal sebagian besar nada dari lagu tersebut.
“Kalian mendapatkan sesuatu?” tanya Clara. Jonathan dan Grafit menggeleng kepala.
“Aku tertarik dengan verse kedua. Di bagian itu nadanya mengalami improvisasi dan lebih tinggi dari verse pertama sehingga terlihat lebih menonjol. Apalagi setelah chorus yang cukup ‘kencang’, diberikan sedikit jeda intro yang lembut sehingga otak kita benar-benar telah siap untuk menerima bagian itu. Firasatku, selain bagian chorus, di sanalah bagian yang paling tepat untuk menyampaikan pesan penting.”
Clara, Jonathan dan Grafit tercengang mendengar penjelasan dari Rosalia yang cukup detail dan masuk akal. Mereka sama sekali tidak menyangka seorang Rosalia secerdas itu.
“Baik, kita coba fokus pada bagian itu.”
Mereka pun kembali mendengar lagu di bagian verse kedua.
Jika kau memintaku untuk percaya, ku kan percaya
Namun hatiku tlah terkunci untuk janji-janji
Hanya uang di tangan yang membuatku bahagia
Kau tak berhak menyembunyikannya di peti-peti tersembunyi
“Apakah ada sesuatu yang terpikirkan kalian?”
“Tentang uang. Mungkinkah ini ajakan untuk merampok secara besar-besaran?”
“Bisa jadi. Tapi judul dan lirik sebelumnya selalu menekankan kata ‘uangku’. Tidak mungkin mereka merampok uang mereka sendiri.”
“Mungkin saja. Beberapa orang selalu menyebut uang negara adalah milik mereka sebagai rakyat. Apakah mereka akan merampok kantor-kantor pemerintahan?”
Sementara Clara, Grafit dan Rosalia menganalisis lagu tersebut, Grafit hanya bengong karena benar-benar tidak mengerti. Ia pun pergi ke dapur untuk memasak mie instan. Pikirnya, diskusi itu akan segera selesai karena menurutnya mereka adalah orang-orang cerdas. Namun ketika kembali ke markas dengan semangkuk mie, ia masih melihat diskusi itu belum selesai. Banyak jawaban yang mereka dapatkan tentang kantor apa yang akan menjadi target perampokan, tapi tidak ada jawaban yang memberikan kepastian sampai angka seratus persen.
“Kenapa hanya satu? Aku mau juga,” kata Clara ketika mencium aroma mie milik Grafit. Jonathan dan Rosalia juga mengatakan hal yang sama.
“Stoknya tidak ada lagi. Jika mau beli, berikan uang tunai. Aku membelinya di supermarket bawah dan mereka tidak menerima uang elektronik.”
Clara, Jonathan dan Rosalia merogoh saku mereka. Seperti tebakan Grafit, mereka tidak memiliki uang tunai. Ia pun langsung menyatakan tidak mau membeli di supermarket lain. Memang, sudah berkali-kali Grafit dibuat kesal oleh mereka karena sering lupa menyiapkan uang tunai, khususnya ketika menyuruh Grafit membeli sesuatu, sehingga uangnya yang selalu dipakai.
“Ada apa dengan kalian? Apakah menarik uang tunai dari bank adalah sebuah dosa? Kenapa kalian jarang menyiapkan uang tunai?”
Grafit mengatakannya dengan perasaan kesal dan bertujuan agar mereka sadar akan kesalahan mereka, tapi kata-kata itu justru menjadi semacam pencerahan bagi Clara. Ia mendadak berdiri dari kursinya dengan wajah berbinar.
“Rush Money!” teriaknya yang membuat rekan-rekannya terkejut. Ia pun membuka browser di laptop milik Jonathan yang sedang menyala dan mencari sebuah artikel. “Rush Money adalah sebuah kejadian di mana masyarakat akan menarik uang tunai mereka di bank secara bersamaan dengan jumlah yang besar. Akibatnya, bank-bank akan kehabisan dana tunai sehingga sistem perbankan menjadi kacau.”
Jonathan dan Rosalia terkejut mendengarnya, sementara Grafit masih belum mengerti dengan penjelasan panjang yang diberikan oleh Clara tersebut.
“Itu artinya Muzic Box sedang mengincar kekacauan yang jauh lebih besar dari yang kita duga.”