G:0

G:0
SARANG NAGA



“Berhasil!”


Teriakan Jonathan langsung menarik perhatian Clara. Ia segera menghampiri Jonathan dan matanya seakan meminta penjelasan yang lebih detail tentang kata berhasil itu.


“Kita sudah terhubung dengannya?”


“Belum, hanya alat pelacaknya saja yang berfungsi.”


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara gedoran dari pintu. Clara dan Jonathan melihat siapa yang datang melalui monitor interkom. Ternyata Rosalia dengan wajah marahnya.


“Mau apa dia?” tanya Clara.


Jonathan hanya mengangkat bahunya. Masih teringat di kepalanya bagaimana tidak akurnya Clara dengan mantan bos begal itu ketika mereka terpaksa bekerja sama saat Grafit terkena racun dari Candy Boy. Demi menghindari situasi yang sama, Jonathan menawarkan diri untuk membuka pintu dan menyambut Rosalia.


“Kau ke markas saja, mencari tahu di mana G:0 berada.”


Jonathan mendorong Clara hingga ke dalam markas. Kemudian ia segera membukakan pintu untuk Rosalia. Baru saja pintu terbuka dan senyum Jonathan belum berkembang dengan sempurna, sebuah bogem mentah mendarat di wajahnya, membuatnya tersungkur hampir pingsan.


“Kau yang menyuruh Grafit putus denganku, kan? Apakah kau juga yang menyuruhnya untuk bertanya padaku bagaimana caranya mengakhiri hubungan tanpa menyakiti hatiku?”


Rosalia benar-benar membuat Jonathan ketakutan. Di tengah situasi menghilangnya Grafit dibawa oleh naga ke dalam tanah, ia harus menjawab pertanyaan konyol itu. Ia seharusnya tidak mencoba untuk ikut campur dalam urusan percintaan Grafit.


“Ada apa ini? Kenapa kau datang ke apartemen orang dengan marah-marah lalu memukul orang dengan seenaknya?”


Jonathan semakin lemas ketika melihat Clara sudah berdiri di depannya, memelototkan matanya kepada Rosalia yang juga memelototkan matanya pada Clara. Ia sama sekali tidak menyukai situasi ini.


“Clara, sebaiknya kau mengalah. Dia bukanlah tandinganmu. Bahkan G:0 saja sempat kewalahan meladeninya,” bisik Jonathan.


“Jangan coba-coba meremehkanku, apalagi ketika membandingkanku dengan berandal ini. Apakah Joice tidak pernah cerita kalau ketika masih sekolah dulu aku les karate dan sudah sabuk hitam?”


“Wah, ternyata nona kaya raya ini menguasai karate. Bagaimana kalau kita sedikit adu kekuatan?”


Tantangan Rosalia itu langsung disambut dengan lahap oleh Clara. Ia pun mendorong Jonathan hingga tersungkur lalu menghampiri Rosalia.


“Benar dugaanku, kau adalah pengaruh buruk untuk Grafit. Untung saja aku menyuruhnya untuk memutuskanmu.”


“Sepertinya kau sudah lama tidak melihat cermin. Kaulah yang selama ini memanfaatkan Grafit untuk kepentingan pribadimu. Kau juga terlalu mengontrol hidupnya. Dia menjadi pahlawan super dan model adalah karena kemauanmu, bukan kemauannya. Aku akan mengeluarkan Grafit dari rumah ini dan dari nenek sihir sepertimu.”


Kemudian perkelahian fisik itu terjadi. Ternyata tidak sesuai dengan yang Jonathan perkirakan. Tidak ada pertarungan ala film Kill Bill. Yang ada hanya adu jambak layaknya dua ibu-ibu yang sedang berkelahi di depan rumah mereka.


“Hei, kalian berkelahi karena Grafit, tapi apakah kalian benar-benar tidak ingin tahu dengan apa yang mungkin sedang ia alami sekarang?” tanya Jonathan yang masih diabaikan oleh kedua wanita itu.


*          *         *


G:0 masih mencari celah di sekelilingnya yang bisa ia manfaatkan untuk meloloskan diri. Sayangnya, sampai selama ini, ia belum menemukan celah itu. Sekelilingnya hanyalah jeruji yang terbuat dari Ungravity dan dialiri listrik, kedua elemen yang adalah kelemahannya. Sepertinya Geppetto selama ini mengawasinya.


O ya, di mana wanita itu? Kini mata G:0 fokus mencari keberadaannya. Ia melihat sebuah tangga yang menuju ke atas. Di sanalah ia terakhir melihat Geppetto, atau yang ia kenal sebagai Patricia. Ia memandang tangga itu dan berharap wanita yang pernah memenuhi hatinya dengan cinta itu muncul.


Kemudian pikirannya berkelana. Apa yang telah terjadi setelah kehancuran Black Samurai? Bagaimana ia bisa bergabung dengan Kraken? Bagaimana Kraken bisa memilihnya untuk menjadi anggota mereka? Lalu, apa yang ia lakukan sehingga hanya dalam waktu satu tahun bisa mencapai posisi penting di organisasi itu?


Di tengah setumpuk pertanyaan yang menyerang pikirannya, perhatian G:0 tertuju pada robot yang menamakan dirinya sebagai Padoha. Kemudian muncul ide di pikirannya. Ungravity  hanya terdapat di kulitnya saja. Ada kemungkinan isi di dalamnya tidak terbuat dari materi itu. 


G:0 mulai berkonsentrasi. Ia menggerakkan tangannya ke arah naga itu dan sepertinya membuahkan hasil. Naga itu mulai bergerak. Lama kelamaan gerakannya semakin terlihat jelas, bahkan membuatnya berdiri tegak. Tapi ada sedikit masalah.


“Dia bergerak di luar kendaliku,” gumam G:0.


Tak disangka, mata naga Padoha terbuka dan menatap G:0 tajam. G:0 semakin yakin kalau itu bukanlah perbuatannya.


G:0 benar-benar bingung. Robot itu berbicara tidak seperti sedang dikendalikan dari jarak jauh. Ia semakin bingung ketika melihat Patricia turun dari lantai atas sambil mengucek matanya. Sangat jelas ia tidak menggerakkan bibirnya atau bertingkah sedang berbicara ketika Padoha berbicara.


“Lho, bukankah kau yang mengendalikan Padoha? Bagaimana bisa ia bergerak tanpa kau kendalikan?” tanya G:0.


“Padoha memang menuruti perintahku, tapi aku tidak mengendalikannya,” jawab Patricia sambil tersenyum. “Aku menanamkan kecerdasan artifisial di dalam dirinya sehingga ia bisa mengambil keputusan dan bertindak sendiri.”


“Maksudnya, ia seperti makhluk hidup? Wah, kalian manusia modern memang mengerikan.”


“Dan sekarang kau membuatnya marah karena mengganggu tidurnya.”


Patricia menatap Padoha, yang membuat G:0 menatapnya juga. Tiba-tiba makhluk itu mendekati G:0 dan menyemburkan aliran listrik dari mulutnya, yang membuat tubuh G:0 bergetar sangat hebat. Pahlawan super kita itu terpelanting ke belakang dan nyaris pingsan. Kemudian sang robot naga mengeluarkan suara tawa yang menyeramkan.


“Aku memberimu kesempatan untuk beristirahat. Besok kita akan teruskan percakapan kita,” kata Patricia yang kemudian berlalu pergi. Robot Padoha juga melingkarkan tubuhnya lalu kembali tidur.


G:0 mematung untuk beberapa saat. Ia sadar, untuk saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan. Kemudian ia merebahkan dirinya di lantai dan berusaha untuk tidur. “Ah, sangat tidak nyaman tidur dengan menggunakan kostum ini.”


*          *         *


Mobil Clara berhenti di depan sebuah bangunan tua yang tak terawat. Hanya Jonathan yang familiar dengan tempat itu mengingat ia pernah mengantar Grafit menemui pujaan hatinya tahun lalu. Mereka melihat ke arah bangunan itu, mencari apakah ada tanda-tanda kehidupan.


“Kau yakin ini tempatnya?” tanya Rosalia yang duduk di bangku belakang. Ia memaksa untuk ikut mencari pacarnya.


“Aku yakin. Di sini sinyal terakhir dari pelacak G:0, sebelum tiba-tiba menghilang tadi malam,” jawab Jonathan dengan nada gemetar. Ia masih merasa takut dengan wanita itu.


“Tunggu apa lagi? Kita masuk ke sana.”


Clara membuka pintu mobilnya dan keluar. Ia melangkah menuju bangunan itu. Seperti tak mau kalah, Rosalia pun segera turun untuk menyusul. Sementara itu, Jonathan masih memeriksa alatnya, berharap pelacak yang terdapat di kostum G:0 mengeluarkan sinyal lagi.


Bangunan bekas pabrik mainan itu sama sekali kosong. Tidak ada manusia yang bisa ditemui di sana. Clara dan Rosalia benar-benar mencari dengan teliti. Bahkan mereka mengetuk-ngetuk dinding dan lantai untuk memastikan apakah ada pintu rahasia di sana.


“Hei, coba ke sini,” panggil Jonathan.


“Ada apa?” tanya Clara yang datang disusul oleh Rosalia.


Mereka melihat Jonathan sedang berdiri di sebuah tanda bulat berwarna merah yang bertuliskan BAHAYA! DILARANG BERDIRI DI SINI!


“Bukankah seharusnya kau tidak berdiri di sana?” Rosalia masih bingung dengan sikap Jonathan.


“Psikologi terbalik. Begal mana tahu tentang hal itu. Semakin dilarang, maka kita akan semakin ingin melakukannya.”


“Tapi seharusnya -”


Rosalia berhenti berbicara ketika melihat Clara ikut berdiri di tanda itu lalu melihatnya seakan sedang mengatainya pengecut. Tanpa berpikir lagi, ia ikut berdiri di atas tanda itu.


“Sekarang apa lagi?”


Mereka hanya terdiam dan saling pandang karena tidak tahu apa lagi yang harus mereka lakukan berikutnya. Ya, mereka terlihat bodoh. 


Tiba-tiba tanda itu terbelah dan mereka masuk ke dalamnya. Ada sebuah pipa yang membuat mereka meluncur ke bawah. Mereka pun menjerit sekuat mungkin.


Selang berapa lama, mereka akhirnya mendarat di sebuah tempat yang mirip kandang. Setelah berusaha berdiri, mereka melihat ke sekeliling. Tempat itu terlihat menyeramkan. Perhatian mereka tertuju pada Padoha, makhluk yang telah menculik G:0.


“Hei, kalian di sini?” Terdengar sebuah suara yang seperti tak asing di telinga mereka. Ternyata benar. Di ‘kandang’ sebelah sudah berdiri G:0 yang sedang melambaikan tangan pada mereka.


Kemudian Padoha bangkit dan menghampiri mereka. Matanya yang menyala dan mulutnya yang menyeringai seakan hendak menyantap mereka. Dengan suaranya yang membahana dan menyeramkan, robot itu pun menyapa, “Selamat datang di sarang naga.”