
Beberapa jam sebelum penculikan Jocelyn
Waktunya istirahat. Anak-anak mengeluarkan makanan mereka setelah mencuci tangan di wastafel. Clara berkeliling untuk memastikan semua anak telah mempersiapkan makanan dan minuman mereka dengan benar. Kemudian ia memimpin doa sebelum makan.
Di tengah kegiatan makan, seorang murid melemparkan makanannya ke murid lain. Kemudian kedua murid itu berkelahi. Clara segera melerai dan menginterogasi kedua murid tersebut. Meski tahu siapa yang memulai dan memberinya peringatan, Clara juga memberi peringatan kepada murid yang lain karena langsung menyerang, bukannya melaporkan terlebih dahulu kepada guru. Setelah memastikan kedua anak tersebut tahu kesalahan masing-masing, Clara meminta mereka untuk saling meminta maaf dan memaafkan. Ia juga mengingatkan kembali kepada murid yang lain untuk tidak melakukan hal yang sama.
“Tapi G:0 tidak pernah melakukan itu,” protes Jocelyn. Clara bingung dengan perkataan murid perempuannya itu.
“Maksudnya?”
“Ya, ketika melihat orang melakukan kejahatan, G:0 tidak pernah melapor kepada pak polisi, tapi langsung menghajar mereka. Padahal kata mama, jika kita melihat ada orang yang melakukan kejahatan, kita harus segera melapor pada pak polisi. Apakah G:0 juga sama jahatnya dengan orang yang ia hajar.”
Untuk beberapa saat, Clara tidak bisa membuka mulutnya. Yang ia hadapi adalah Jocelyn. Salah satu hal yang menakutkan darinya adalah dia selalu ingat dengan apa yang orang katakan dan sewaktu-waktu dia akan menggunakannya untuk menyerang orang tersebut.
Selama ini cara Clara menghindari hal itu adalah dengan memberikan jawaban yang tepat dan tidak bertele-tele atau yang justru menimbulkan pertanyaan baru. Namun yang dikatakan anak itu memang benar. Selama ini bisa dikatakan G:0 menegakkan keadilan dengan melanggar peraturan. Itu karena ketidakmampuan polisi dalam menjalankan tugasnya secara maksimal dan G:0 memiliki kekuatan super yang membuatnya mampu mengalahkan penjahat dengan mudah. Tapi bagaimana ia mengatakannya pada seorang anak kecil?
“G:0 bukannya tidak melapor, tetapi ia harus bertindak cepat agar penjahat itu tidak sempat melakukan kejahatannya dan merugikan orang lain. Lagipula, setelah mengalahkan penjahat itu, G:0 selalu melapor kepada pak polisi dan menyerahkan penjahat itu.”
“Lho, kalau penjahat itu tidak sempat melakukan kejahatan, berarti dia bukan penjahat, dong? Kan penjahat adalah orang yang melakukan kejahatan.’
Dada Clara terasa sesak dan kakinya gemetar seakan tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Satu-satunya cara untuk mengakhiri perdebatan ini adalah dengan mengakui jika G:0 telah melakukan kesalahan. Tapi ia tidak bisa mengatakannya, apalagi di depan anak-anak lain. Itu sama saja dengan pengkhianatan dan merusak citra baik G:0 di mata anak-anak.
Ia hanya menunduk dan pura-pura lupa dengan pertanyaan itu.
* * *
“Ya, pada akhirnya polisi di kota ini tahu walau kita tidak melaporkannya,” kata Jonathan menyindir Clara yang sedari tadi melarangnya untuk melapor.
Situasi saat ini semakin kacau. Robot raksasa itu mendarat di tengah kota. Untuk waktu yang cukup lama, benda itu tak bergerak. Tangan kanannya masih terangkat menggenggam ruangan berdinding logam dan Ungravity. Bukan hanya ruangan itu, robot besar itu juga dibaluri dengan Ungravity.
Sementara itu mobil polisi telah mengelilinginya. Beberapa helikopter juga berputar-putar mengitari bagian atas tubuh robot itu. Para polisi masih belum tahu apa yang sedang terjadi. Mereka hanya tahu ada seonggok besar besi yang berdiri di tengah jalan raya pusat kota dan memberi kesan berbahaya.
Para polisi itu melepaskan tembakan, tapi robot itu bergeming. Tidak ada terjadi apa-apa. Kapten Rian segera menelepon untuk meminta bantuan dari para tentara. Pikirnya, mereka memiliki persenjataan yang lebih cocok untuk merobohkan logam besar ini.
Tak lama kemudian, G:0 mendarat di hadapan robot tersebut. Ia melihat ke atas sambil membayangkan keadaan di dalam ruangan itu. Clara dan Jonathan berpikir keras untuk menemukan cara mereka bisa menurunkan ruangan itu dengan aman.
“Hei, apakah dia kekasihmu? Jika kalian punya masalah pribadi, sebaiknya kalian selesaikan di rumah dan tidak membiarkannya datang ke tempat ramai dalam keadaan merajuk.”
Kapten Rian berteriak melalui pengeras suara seakan sedang mengejek G:0. Ia tak pernah melepaskan kesempatan untuk merendahkan G:0.
G:0 mengabaikan ejekan itu dan terbang menuju ujung tangan kanan si robot. Tapi ketika ia sudah hampir mencapainya, tangan kiri robot itu bergerak cepat dan memukulnya. Dengan cepat G:0 menghindar lalu memutar. Pikirnya, robot itu pasti akan kesulitan menyerang jika lawan berada di balik punggungnya. Sayangnya, rencana itu runtuh ketika sang robot memutar tubuh bagian atasnya seratus delapan puluh derajat lalu kembali memukul G:0. Kali ini kena dan membuat G:0 terpental untuk kedua kalinya.
[Apa-apaan itu? Apakah dia kembarannya Mugunghwa dari Squid Game?] pekik Jonathan dari markas.
Untungnya, serangan itu tidak merobohkan tubuh G:0. Pahlawan super itu dapat berdiri dengan cepat dan kembali berhadapan dengan sang raksasa besi. Ia memperhatikan tubuh lawannya dengan seksama untuk mencari kelemahan yang bisa dimanfaatkannya.
“Apakah kalian tahu apakah robot itu dikendalikan dari dalam atau dari jauh?”
[Entahlah. Melihat responsnya yang cepat, kemungkinan besar robot itu menggunakan kecerdasan artifisial di mana ia bisa mengambil keputusan sendiri sesuai keadaan di sekitarnya. Tapi mengingat ia terbang dan memilih tempat ini untuk mendarat, sepertinya sulit jika hanya mengandalkan kecerdasan artifisal. Artinya, mungkin salah satunya, mungkin juga keduanya. Tapi kecil kemungkinan ada orang yang mengendalikannya dari dalam seperti robot Power Rangers.]
Tiba-tiba tangan robot itu mulai bergerak dan mengarah ke G:0. Tanpa diduga, tangan itu mengeluarkan cahaya dan meledakkan G:0. Untungnya, G:0 tidak terluka, tapi ia harus terpental kembali. Ledakan itu membuat keadaan semakin panik.
“Aku harus mengambil resiko. Aku harus mencapai ruangan itu.”
G:0 segera bergerak mendekat. Ia kembali terbang, tapi kali ini lebih dekat dengan tubuh sang robot, bahkan nyaris menempel. Robot itu kembali menggerakkan tangannya dan memukul G:0, tapi ia berhasil menghindar sehingga mengenai tubuh robot itu sendiri.
Akan tetapi ia tidak menduga efek dari rencananya itu. Tubuh sang robot berguncang sehingga terlihat seperti ia akan melepas ruangan yang ada di tangan kanannya. G:0 kembali mundur.
Lalu datanglah beberapa truk berisi tentara dengan senjata berat mereka beserta beberapa tank. Mereka mengarahkan senjata ke arah robot itu dan bersiap untuk menyerang.
“Jangan tembak atau melakukan serangan apapun padanya. Di atas sana ada ruangan berisi beberapa anak kecil,” teriak G:0. Tapi para tentara itu seperti tidak mendengar dan tetap melancarkan serangan.
G:0 melihat itu sebagai kesempatan. Ia pun segera melompat terbang ke arah ruangan itu. Dan berhasil. Ia segera mencari pintunya tapi tidak ada. Semuanya adalah tembok.
[Tidak mungkin. Ini berbahaya.] gumam Clara.
[Maksudmu?]
[Berapa lama anak-anak itu akan bertahan di ruangan tertutup tanpa saluran udara? Ditambah lagi ruangan itu berkali-kali mengalami guncangan keras.]
Mendengar ucapan Clara, G:0 menjadi panik. Ia pun melepaskan pukulan ke arah dinding ruangan meski tahu kekuatan supernya tak bekerja pada benda itu.
[G:0, arah jam lima. Ada pesawat jet yang mencurigakan terbang ke arahmu. Ya, aku tahu. Robot itu mengangkat ruangan berisi para peneliti dan kelinci percobaannya agar pesawat yang lain bisa menangkap dan membawanya ke markas mereka yang lain. Kau harus mencegah pesawat itu.]
G:0 segera naik ke atas ruangan itu dan berdiri menghadap pesawat jet yang sedang menghampirinya. Ia tahu pesawat itu juga dibaluri Ungravity karena ia tidak bisa mengendalikan gravitasinya.
Ia melakukan lompatan tinggi dan kembali menjadikan dirinya seperti meteor dengan menambahkan gravitasi tubuhnya secara cepat untuk ditabrakkan ke pesawat itu. Dan rencananya berhasil. Namun akibatnya, ia juga ikut terjatuh dengan pesawat tersebut.
Sang robot menadahkan tangannya untuk menangkap pesawat itu. Untung saja G:0 juga berhasil menangkap tangan itu sehingga ia terhindar dari kejatuhan dan kembali mengatur gravitasi tubuhnya. Tanpa sengaja G:0 melihat ada komponen di persambungan tangan dan tubuh robot itu yang tidak terdapat Ungravity. Ia pun segera menyerang bagian itu.
“Tidak ada cara lain, aku harus menjatuhkan robot itu.”
[Tapi kau akan menjatuhkan ruangan itu juga. Jangan lakukan itu, G:0!]
Larangan Clara itu tidak didengar. G:0 tetap menyerang bagian yang tak mengandung Ungravity itu. Dan benar saja, tangan kanan sang robot lepas dan secara otomatis menjatuhkan ruangan itu. G:0 langsung melompat ke bawah ruangan itu layaknya patung Atlas yang sedang menopang bumi.
[Bodoh, kau tidak bisa mengendalikan gravitasinya. Kau akan tertimpa benda itu. Segera menghindar, G:0! Kau membahayakan nyawamu!]
Lagi-lagi G:0 mengabaikan perintah Clara. Ia menerbangkan benda-benda yang dibawahnya untuk menghambat kejatuhan ruangan itu bersamanya, tapi benda berbentuk kubus itu tetap meluncur ke bawah dan akhirnya terdengar sebuah benturan benda keras.
[Grafit!]
Clara berdiri dari kursinya dan segera keluar dari markas. Jonathan yang juga panik ingin mengejarnya, tapi ia tetap harus di sana untuk mengawasi keadaan.
Beberapa menit setelah jatuhnya benda itu bersama G:0 tidak terjadi apa-apa. Sang robot yang sudah kehilangan tangan kanannya tidak bergerak sama sekali. Para polisi dan tentara yang masih bertahan di sana juga tidak bergerak. Mereka menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tiba-tiba ruangan yang jatuh tadi perlahan-lahan bergeser. Kepulan debu yang berterbangan di sekitarnya mulai memudar dan terlihat G:0 berusaha berdiri. Tubuhnya penuh luka dan beberapa bagian kostumnya robek. Ia menempelkan tinjunya ke dinding ruangan yang sudah sedikit penyok karena pukulannya tadi. Kemudian ia kembali melepaskan pukulan dan kali ini berhasil menembus dinding itu. Terdengar suara tangis beberapa anak bergema.
Ternyata robot itu masih bergerak. Ia melemparkan pesawat jet yang tadi berhasil ditangkapnya lalu mengangkat tinju kirinya dan bersiap menghajar G:0.
Namun G:0 juga masih berniat melawan. Ia berlari ke arah tank yang telah ditinggalkan awaknya dan melemparkannya tepat di leher robot itu. Serangannya itu berhasil. Leher sang robot putus dan benda itu roboh, mengakhiri pertarungan hari itu.
Kapten Rian melihat ke arah G:0. Ia tak pernah melihat sang pahlawan super dalam kondisi selemah itu. Ia melihatnya sebagai peluang untuk menangkap sosok yang selama ini mengalahkan pamor kepolisian.
Belum lagi ia bergerak, seorang wanita berlari dengan kecepatan tinggi ke arah G:0 dan langsung memeluknya. Wanita itu menangis, menemani tangisan anak-anak itu di dalam ruangan itu. Kapten Rian mengenalnya. Wanita itu adalah Clara.
“Bodoh, kenapa kau bertindak sebodoh itu?” kata Clara di sela tangisannya.
“Tapi kita harus mengeluarkan anak-anak itu. Mereka sudah cukup lama -”
“Tunggu beberapa saat lagi.” Clara mempererat pelukannya sehingga G:0 tidak bisa melepaskan diri. “Lagipula salah satu di antara anak itu menganggap G:0 penjahat. Jadi, biarkan saja.”
Clara mendapat dua puluh waktu ekstra untuk memeluk G:0 tanpa gangguan siapa pun sebelum G:0 terbang dan kembali ke markas.
“Tenang, aku kenalan salah satu anak yang ada di dalam. Aku juga guru TK. Jadi, aku akan membantu menenangkan anak-anak ini,” kata Clara saat polisi hendak menghampirinya.
Kasus penculikan itu akhirnya terpecahkan dan tak ada yang menyangka akan melibatkan sebuah robot besar. Yang pasti kasus ini berakhir bahagia. Tidak ada anak yang terluka karena mereka terikat di atas ranjang yang menempel dengan lantai sementara para peneliti yang juga berada di dalam ruangan itu mengalami luka cukup parah karena goncangan yang terjadi.
Tapi ada kasus lain yang juga terpecahkan saat itu. Kasus yang sedang dikerjakan oleh Kapten Rian dan Jonathan, yaitu tentang pria yang selama ini Clara cintai. Akhirnya mereka menemukan jawabannya.