G:0

G:0
KESEMPATAN KEDUA UNTUK SEMUA ORANG



Grafit terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke sekeliling, tampak sama dengan sebelum ia tak sadarkan diri tadi. Ia merasa ada yang terlupa, tapi tak tahu apa. Ia pun mencoba berdiri dan berjalan ke arah lift.


Kemudian langkahnya terhenti ketika ia melihat satu kamar yang pintunya terbuka. Ia sangat terkejut melihat pemandangan di dalam kamar itu. Seseorang dengan pakaian serba hitam sedang mencekik sepasang suami istri dan mengangkatnya tinggi. Kelihatannya mereka sudah tak bernyawa lagi.


Grafit sangat tidak asing dengan kostum orang itu. Bukan hanya tidak asing, hampir tiap hari ia mengenakannya. Itu adalah kostum G:0!


Tak lama setelah Grafit melihat pemandangan itu, sosok serba hitam itu menolehnya. Grafit melambaikan tangan sambil tersenyum. Sosok itu melempar kedua tubuh itu dan berlari ke arahnya. Ia menabrak Grafit lalu pergi menghilang. Penghuni kamar lainnya keluar dan berdiri di pintu mereka masing-masing untuk menyaksikan pelarian sosok itu. 


Melihat semua orang di koridor menatapnya, ia bingung harus berbuat apa. Ia hanya berkata, “Dia bukan G:0, hanya pembunuh bayaran yang baru selesai pesta kostum dan dia memilih pakaian G:00


Tiba-tiba ia ingat, ketika sosok itu menabraknya, ia tidak merasakan apapun. Akhirnya ia sadar kalau saat ini ia sedang bermimpi. Semua ini adalah dunia mimpi yang diatur oleh Lucid. Kemudian ia melihat para penghuni lain yang masih berdiri di depan pintu kamar mereka. Ya, mereka akan dijadikan saksi. 


“Karena ini mimpiku dan aku menyadarinya, aku bisa berbuat sesuka hatiku,” gumam Grafit.. 


Dan beberapa detik kemudian keadaan kembali seperti semua, yaitu ketika sosok yang meniru sedang mencekik pasangan tua itu. Kemudian Grafit mengarahkan tangannya kepada sosok itu seakan hendak menerbangkan atau memberatkannya.


“Jadi kodok,” kata Grafit. Tanpa diduga, pria itu benar-benar berubah menjadi kodok. Para penghuni kamar lain terkejut dan beberapa di antaranya memberikan tepuk tangan.


“Tugasku di alam mimpi sudah selesai. Aku akan kembali dan menghajarmu.”


*          *         *


Grafit masih dalam kondisi setengah sadar. Sepertinya Lucid menggunakan sesuatu untuk membiusnya dan para calon saksi. Untung saja, Grafit bisa keluar dari mimpi yang telah direkayasanya dengan cepat. 


“Bagaimana kau bisa bangun? Seharusnya mimpi itu selesai sebentar lagi,” kata Lucid yang masih tak percaya dengan yang sedang dilihatnya.


“”Mudah saja. Karena aku sadar itu adalah mimpi,” jawab Grafit. Tentu saja ia sadar jika itu adalah mimpi. Dia melihat G:0 di luar dirinya, melakukan apa yang tidak ia lakukan.


Lucid berdiri. Meski baru saja dirobohkan, situasi saat ini masih mengunggulkan dia. Setidaknya ia tidak sedang berada di bawah pengaruh bius. Ia menendang perut Grafit berkali-kali, namun usahanya tak memberikan pengaruh apapun pada sang pengendali gravitasi. Tindakan itu justru membuat kesadarannya semakin bulat. Grafit langsung melompat berdiri dan menendang wajah Lucid hingga si pengendali mimpi terpelanting cukup jauh.


“Biar kutebak, kau adalah G:0. Wah, meski rencanaku sedikit berantakan, aku mendapatkan pancingan yang bagus hari ini,” kata Lucid sambil tertawa.


“Sekarang aku ingin tahu alasanmu menjebak G:0.”


Lucid menghentikan tawanya lalu melihat ke arah G:0. “Aku hanya muak melihatmu selalu menghiasi media. Mereka menganggapmu pahlawan, padahal kau hanya memiliki kemampuan super yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kau memang menangkap para penjahat, tapi setelah itu kau menyerahkannya pada polisi.”


“Memangnya ada yang salah dengan itu?”


“Salah satu di antara para penjahat yang pernah kau tangkap itu kini sudah bebas karena tidak memiliki bukti yang kuat! Lalu apa  yang terjadi? Ia kembali mendekati korbannya dulu lalu membunuhnya. Kau memang menangkap penjahat, tapi tidak memberikan keadilan bagi korbannya. Seharusnya kau membunuh mereka, seperti yang Algojo Langit lakukan.”


“Kau tahu? Aku melakukan urusan pahlawan ini hanya untuk menyelamatkan orang yang dari bahaya yang dihadapinya, termasuk penjahat-penjahat itu.” Ucapan Grafit tersebut mengejutkan Lucid. Ia tidak mengerti kenapa penjahat-penjahat itu juga menghadapi bahaya. “Bagiku, menjadi penjahat adalah menciptakan masa depan yang menyedihkan. Sementara semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk berubah. Seperti kau. Jika hukum di negara ini masih belum bisa memberikan keadilan, aku minta maaf. Tapi aku tak harus menjadi pelanggar hukum karenanya. Kemampuanku hanyalah menangkap penjahat. Sayangnya, aku tidak mengerti hukum. Namun, aku selalu berharap orang-orang pintar sepertimu bisa melakukannya.“


Lucid terdiam. Ia berhenti menunjukkan sikap melawan. Kemudian Grafit mendekatinya. Ia menatap Lucid seakan ingin meminta padanya untuk mengakhiri semua kegilaan ini. “G:0 memang bukan pahlawan yang sempurna. Tapi kami berjuang untuk dunia yang lebih baik.”


Grafit sadar kalau kalimat terakhirnya itu berasal dari iklan. Lalu ia meletakkan kedua telapak tangannya di kening hingga mata Lucid untuk menghilangkan ingatannya. Perlahan pria itu mulai kehilangan kesadaran dan tertidur di koridor. Hari ini tidak ada pembunuhan yang terjadi, tapi polisi tetap akan datang untuk menjemput Lucid. Clara telah menghubungi pihak kepolisian sesaat setelah mereka berhasil berkomunikasi kembali dengan Grafit.


*          *         *


[Terima kasih atas kerjasamanya.]


Clara tersenyum mendengar ucapan itu dari Kapten Rian. “Jangan berterima kasih padaku, tapi pada G:0. Aku hanya penghubung kalian.”


[Tidak, aku takkan berterima kasih padanya. Harusnya dia yang berterima kasih padaku karena memberinya kesempatan membersihkan nama baiknya. Dia harus membawakanku makanan.]


Kali ini Clara tidak hanya tersenyum, tapi juga tertawa. Percakapan mereka berlanjut dan Clara berbicara sambil memelintirkan rambutnya. Dari jauh, Jonathan menatap dengan sinis. 


“Kenapa?” tanya Grafit yang melihat wajah Jonathan sudah terlihat keriting.


“Lihat Clara, nada bicaranya lebih lembut dari biasanya dan seringkali mengakhiri kalimat dengan sedikit ******* manja. Lalu ia banyak tertawa yang dipaksakan. Tangannya juga sering memainkan rambut. Dan yang lebih parah adalah dia berdandan sebelum melakukan  panggilan telepon itu. Kau tahu semua itu menandakan apa?” Grafit menggelengkan kepalanya. “Dia sedang jatuh cinta. Dengan siapa? Kapten Rian, musuh besar kita!”


“Menurutku terlalu berlebihan jika menganggap Kapten Rian musuh besar kita. Dia banyak membantu di kasus terakhir. Dan hanya dia yang percaya jika pelakunya bukan G:0.”


Jonathan menatap Grafit lalu menghela napas sambil menggeleng kepalanya pelan. Kemudian ia memegang kedua pundak Grafit dan berkata, “Jangan berpikiran terlalu polos, Anak muda. Dia hanya ingin membuat musuhnya lebih dekat padanya. Jika ia membiarkan G:0 membersihkan nama baiknya, ia bisa memantau lebih dekat. Ingat, musuh-musuh kita lebih licik.”


Grafit sudah terbiasa mendengar Jonathan memberikan spekulasi seenaknya, terutama tentang semua cowok yang sedang dekat dengan Clara. Ia pun mengabaikan sahabatnya itu dan berjalan ke arah Clara yang masih menelepon. Namun Jonathan menahannya.


“Mau apa?”


“Mumpung Non Clara sedang menelepon Kapten Rian, aku ingin Non menyampaikan padanya kalau Lucid yang baru ditangkap itu bukanlah Lucid yang legendaris. Dari percakapannya dengan G:0 kemarin, terlihat kalau ia melakukan semua aksinya karena kecewa dengan G:0. Sementara Lucid yang legendaris telah melakukan aksinya sejak bertahun-tahun yang lalu. Lagipula jiwa Lucid yang kemarin terlalu labil untuk ukuran legendaris dan rekayasa mimpinya banyak memiliki celah.”


Tatapan Jonathan pada Grafit mulai terlihat sendu dan mulai berkaca-kaca. Ia sampai menggigit bibir bawahnya seakan hendak menahan tangis. “Kau ingin memberitahukan hal itu pada Kapten Rian lebih dulu daripadaku? Kemarin ia masih musuh kita, sekarang ia lebih penting bagimu dan Clara.”


“Kau menangis?”


“Aku melankolis!”