G:0

G:0
PENCULIKAN BERIKUTNYA



“Grafit, apa yang harus kita lakukan jika sedang menyelidiki dua kasus atau lebih yang saling terkait?” tanya Clara pada Grafit yang sedang diberikan penjelasan tentang kasus penculikan anak yang akan mereka tangani.


“Mencari kesamaan para korbannya?”


“Benar sekali,” puji Clara. Kini ia mengarahkan fokusnya pada Jonathan. “Kau sudah dapat?”


“Selain sama-sama anak kecil, mereka juga sama-sama berasal dari keluarga kaya. Karena itu, sangat aneh jika mereka tidak meminta uang tebusan. Jika mau, mereka bisa meminta sebanyak yang mereka mau,” sambung Jonathan.


“Lalu, apa lagi yang harus kita lakukan jika sedang menyelidiki dua kasus atau lebih yang saling terkait?”


Grafit berpikir keras. Ia tidak ingat Clara pernah mengatakan jawaban kedua untuk pertanyaan itu. “Mengungkap penjahatnya?”


“Tentu saja semua penyelidikan harus bermuara pada itu. Jawabannya adalah memprediksi rencana kejahatan mereka yang berikutnya. Kita tidak tahu pola penculikan mereka seperti apa. Melihat dari tiga kasus sebelumnya, lokasi penculikannya acak, demikian juga dengan korbannya. Petunjuk yang kita punya hanyalah plat mobil penculik. Jonathan, kau sudah dapat identitas pemilik mobil itu?”


“Polisi biasanya melacak plat kendaraan dari database yang mereka miliki. Bahkan sekarang warga sipil bisa mengecek sendiri identitas pemilik kendaraan berdasarkan platnya melalui aplikasi resmi dari pemerintah. Masalahnya adalah mobil dengan plat nomor yang kau sebutkan terdaftar di database kepolisian memang ada, tapi untuk jenis mobil yang berbeda. Kau tahu artinya?”


“Mereka menggunakan plat nomor palsu. Hal itu membuka kemungkinan kalau ia memiliki plat nomor palsu lainnya.”


“Benar sekali. Dan menurut rekaman kejadian pertama, mobil yang mereka gunakan sama tapi plat nomornya juga palsu.”


Clara memperhatikan data-data yang tertempel di papan kasus mereka. Matanya memperhatikan dengan seksama dan berharap bisa menemukan petunjuk tersembunyi dari sana. Kemudian ia melihat foto Jocelyn terpampang di sana dan hatinya mendadak sedih kembali. Tapi ia menyadarkan dirinya agar bisa berpikir lebih jernih.


“Hei, jadi kau benar-benar menyukai pria lain?” bisik Jonathan di tengah perbincangan mereka. “Benarkah levelnya di atas kami?”


“Konsentrasi! Sekarang bukan waktunya membahas hal itu.”


Tapi Jonathan tidak peduli. Ia lebih peduli dengan rasa penasaran di hati dan pikirannya. Ia terus mendesak Clara untuk mengatakan hal yang sebenarnya karena hanya dengan cara itu ia bisa menenangkan makhluk yang bernama penasaran di dalam dirinya.


“Baiklah, itu benar.”


“Apakah aku mengenalnya.”


Clara melihatnya dengan ragu sambil menggigit bibirnya. “Entahlah. Kemungkinan  tidak, kemungkinan iya karena ia tinggal di kota ini juga.”


“Siapa dia?”


“Kau yakin ingin mengetahuinya? Kau tidak takut cemburu? Ingat, cemburu adalah kata lain dari iri. Menurut wikipedia, iri adalah suatu emosi yang timbul ketika seseorang yang tidak memiliki suatu keunggulan, menginginkan yang tidak dimilikinya itu, atau mengharapkan orang lain yang memilikinya agar kehilangannya. Ingat itu, seseorang yang tidak memiliki suatu keunggulan. Aku akan menyebutkan siapa pria itu. Tapi jika kau cemburu, itu berarti kau mengakui tidak memiliki keunggulan. Dia adalah -”


“Cukup, cukup. Tidak usah sebut namanya kalau kau memang tidak mau,” potong Jonathan yang membuat Clara tertawa.


“Sudah, kita berhenti membahasnya dan konsentrasilah pada kasus ini.”


*          *         *


Jonathan memperhatikan layar monitor dengan seksama. Ia mencari mobil dengan jenis yang sama dengan yang digunakan para penculik itu. Ada belasan mobil yang berhasil diidentifikasinya dan ia sudah mengecek hampir separuh nomor plat kendaraannya dan belum ada yang menunjukkan plat kendaraan palsu.


“Sudah ketemu? Apakah kau perlu bantuan?” tanya Clara yang membawakan sekaleng minuman soda untuk Jonathan, sementara tangannya yang lain memegang segelas kopi untuk dirinya sendiri.


“Boleh. Kau bisa periksa nomor polisi yang baris ini. Yang paling penting adalah jenis kendaraannya, harus sesuai dengan mobil penculik itu.”


Di tengah patroli mereka, alat penangkap sinyal radio polisi milik Jonathan berbunyi. Seorang operator menyampaikan laporan penculikan yang terjadi di jalan Kenanga blok J5. Jonathan langsung menampilkan tangkapan kamera di daerah sana dan Clara memerintahkan G:0 ke lokasi tersebut.


“Van hitam dengan plat BRX4336SK, itu mobil penculiknya.” Jonathan kembali  mengetikkan sesuatu dan mendapatkan informasi yang ia cari. “Itu adalah mobil palsu yang terdaftar sebagai mobil sedan putih. Tak salah lagi.”


G:0 masih dalam perjalanan menuju lokasi tersebut. Tidak seperti kondisi di malam hari di mana kota ini sudah lebih sepi, melompati gedung-gedung di siang hari sedikit lebih sulit karena suasananya yang cukup ramai dan banyak sekali penghambatnya seperti orang-orang yang nongkrong di atap gedung, drone, burung-burung dan layangan yang memenuhi langit atau beberapa aparat keamanan yang mencoba untuk menghentikannya.


Pergerakan van itu masih di dalam pantauan Jonathan yang langsung disampaikan pada G:0, termasuk saat van itu mendadak berhenti untuk mengganti plat kendaraannya. Namun, ketika posisi G:0 sudah dekat dengan para penculik itu, Clara menyuruhnya untuk tetap menjaga jarak.


“Kita harus tahu lokasi mereka,” kata Clara. “Mungkin mereka akan menuntun kita ke tempat Jocelyn dan korban sebelumnya berada.”


G:0 menuruti perkataan Clara. Ia hanya mengikuti van itu dan menahan diri untuk menyerang. Sayangnya, salah satu penghambat merusak rencana mereka.


“Hei, siapa di sana? Turun!” teriak seorang polisi sambil mengacungkan pistol ke arah G:0 yang sedang bersembunyi di atap sebuah gedung.


Para penculik itu sempat ketakutan karena menyangka polisi itu sedang berbicara pada mereka. Setelah sadar sasarannya adalah seseorang di atas atap, yang bisa langsung mereka tebak adalah G:0, diam-diam mereka melarikan diri dengan mengambil jalan dari sebuah gang kecil yang berada di luar jangkauan kamera Jonathan.


Mereka pun kehilangan para penculik itu.


*          *         *


Clara mengetuk pintu sebuah rumah sambil menunggu dengan cemas. Tak berapa lama kemudian, seorang wanita dengan wajah lesu membuka pintu. Ketika wanita itu melihat Clara, mendadak tangisnya pecah. Tanpa sadar Clara juga ikut menangis.


Itu adalah rumah Jocelyn. Meski agak terlambat, Clara memutuskan untuk menjenguk orang tua Jocelyn dan mencoba untuk memberikan dukungan moral. Dan seperti dugaannya, mama Jocelyn masih terlihat down. Wajar saja, mengingat putri semata wayangnya diculik dari tangannya sendiri.


Sebenarnya Clara memiliki agenda tersembunyi dari kunjungan itu. Setelah penculikan terakhir, skuad G:0 mengalami kebuntuan. Selain karena penculik itu nyaris saja mereka tangkap, status korban memiliki perbedaan mencolok dari korban-korban sebelumnya. Ia bukan berasal dari keluarga kaya. Ayahnya adalah pekerja kantoran dengan gaji sesuai UMR dan ibunya harus berjualan di pasar untuk dapat membantu biaya hidup kelima anak mereka.


Mereka memutuskan untuk mencari petunjuk lain. Sayangnya, mereka bukan polisi yang memiliki akses penyelidikan yang hampir tak terbatas. Dari keempat korban, hanya rumah Jocelyn yang bisa mereka selidiki. Itupun dengan cara berpura-pura mengunjungi orang tuanya seperti yang dilakukan oleh Clara sekarang.


Clara mendengar semua keluh kesah ibunda Jocelyn dengan sabar. Wanita itu merasa Clara adalah orang yang paling tepat baginya untuk mencurahkan seluruh isi hatinya karena menganggap Clara sebagai guru idola Jocelyn yang tentunya juga menyayangi putrinya. Apalagi Clara juga menyaksikan penculikan itu.


“Jocelyn adalah anak yang jenius. Saya yakin dia pasti akan bisa mengatasi ketakutannya. Tapi dia tetaplah anak-anak. Dia takkan bisa berbuat apa-apa jika penculik itu berbuat kasar padanya.”


Clara mencoba menenangkan wanita itu dengan memeluknya. Tanpa sadar air matanya ikut menetes. Ia ingat kembali segala tingkah lucu Jocelyn dan bagaimana serunya mereka ketika sedang mendebatkan sesuatu. Seperti kata ibunya, Jocelyn memang anak yang jenius. Ia berbicara tidak seperti anak seusianya, melainkan jauh lebih dewasa. Selain itu, ia adalah muridnya yang paling cepat menangkap pelajaran yang diberikan. 


Tiba-tiba Clara teringat akan sesuatu. Ia pun mengirim pesan pada Jonathan untuk mencari sebuah informasi. Kemudian ia bertanya pada orang tua Jocelyn. “Dari mana ibu tahu kalau Jocelyn adalah anak jenius?”


Ibunda Jocelyn berhenti menangis dan menyapu air matanya. Ia sedikit tersinggung karena pertanyaan itu seperti meragukan kejeniusan putrinya dan menuduhnya sebagai pembohong. “Saya pernah membawa dia tes IQ.”


“Di mana tesnya, Bu?”


“Genio Clinic.” Ibunda Jocelyn masih menatap Clara dengan sedikit kesal.


Clara tidak peduli tatapan itu dan mendadak pamit pulang, membuat mama Jocelyn semakin kesal dan menganggapnya tidak sopan. Dalam perjalanan pulang, ia segera menghubungi Jonathan.


“Jadi, korban terakhir juga pernah tes IQ di Genio Clinic?”