
Skuad G:0 duduk termenung. Mereka hanya bisa melihat kekacauan yang sedang terjadi melalui layar televisi. Memang menyebalkan ketika kita sudah tahu sesuatu yang buruk akan terjadi namun gagal untuk mencegahnya. Apalagi jika status kita adalah pahlawan pembela keadilan.
“Aku merasa seperti dipermalukan,” ujar Jonathan dengan nada serak.
“Sudahlah, kita sudah melakukan bagian kita. Seandainya kita punya lebih banyak waktu, toh tak ada yang bisa kita lakukan lagi.” Clara bukan hanya sedang menghibur rekan-rekannya, tapi dirinya sendiri. “Satu-satunya cara untuk memperbaiki keadaan adalah menemukan sosok asli dari Muzic Box dan membongkar perbuatannya di depan publik sehingga kepercayaan kepada bank bisa pulih dan keadaan bisa kembali membaik.”
Jonathan dan Grafit mengangguk. Mereka pun mulai berpikir untuk mengungkap identitas DJ misterius itu. Sementara itu, hanya produsernya yang memiliki kontak terdekat dengannya dan itu hanya sebatas komunikasi via surat elektronik.
“Kapten Rian hanya mendapat informasi itu. Pihak kepolisian juga sedang melacak alamat IP pengirim surat elektronik tersebut, Tapi Kapten Rian berkata untuk jangan berharap terlalu tinggi karena terenkripsi dengan sangat rapi. Apakah kau bisa meretasnya? Seperti yang pernah kau lakukan pada Puzzle dulu.”
“Sebelum polisi mendatangi produser itu, aku sudah lebih dulu meretas akun emailnya dan melacak alamat IP Muzic Box, tapi gagal. Seperti kata pacarmu, sangat rapi. Ia cukup hebat.”
“Baiklah, kita pakai jurus pamungkas kita.” Clara berdiri dan mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak di atas meja.
“Jurus pamungkas? Kapan kita punya itu?” tanya Grafit yang memasang wajah bingung seperti yang ditunjukkan oleh Jonathan.
“Bad Girl,” jawab Clara sambil tersenyum. “Kalian tahu salah satu alasanku ‘menciptakan’ Bad Girl?”
“Untuk membantu pekerjaan G:0 membasmi kejahatan?”
“Memang, tapi lebih tepatnya adalah dia melakukan bagian buruk dari membasmi kejahatan.”
* * *
[Bad Girl, apakah kau mendengar kami?]
Suara Clara yang memanggil melalui alat komunikasi bergema di telinga Bad Girl, namun ia mengabaikannya. Ia hanya membiarkan markas G:0 mendengar percakapannya dengan pria yang ada di depannya saat ini, yang sedang ketakutan dengan tubuh terikat di kursinya.
“Ayolah, katakan saja yang sejujurnya dan kau tak perlu merasakan penyiksaan yang lebih mengerikan lagi,” ancam Bad Girl sambil memantul-mantulkan pemukul bisbol ke telapak tangannya. Sesekali ia mengacungkan benda itu tepat ke wajah pria tersebut.
Sesuai permintaan Clara, ia menculik si produser untuk diinterogasi terkait identitas Muzic Box. Clara yakin kalau produser itu memiliki informasi tentang Muzic Box lebih banyak daripada yang telah ia beritahukan pada pihak kepolisian.
“A, aku tidak tahu. Aku sungguh-sungguh. Kami hanya berkomunikasi dengan saling mengirim surat elektronik,” kata sang produser bercampur tangis. Meski belum ada satupun luka di tubuhnya, namun mentalnya saat ini telah tercabik-cabik.
“Benarkah? Hanya melalui surel? Seorang produser dari studio musik besar percaya begitu saja dengan lagu yang dikirim oleh seseorang yang tidak jelas identitasnya? Aku juga tahu banyak tentang musik. Memang lagu-lagu Muzic Box bagus, tapi tidak cukup bagus untuk menarik perhatian seorang produser hebat sepertimu. Apalagi jenis musiknya sangat berbeda dengan yang selama ini studiomu usung.”
“Ka, kami hanya ingin melakukan inovasi dengan mencoba memproduseri lagunya dan ternyata memang berhasil.”
Bad Girl memukul meja yang ada di samping mereka hingga hancur, membuat sang produser semakin ketakutan bahkan sampai menangis. Ia meminta ampun berulang kali.
“Katakan saja siapa yang merekomendasikan lagu itu atau nasibmu takkan seperti meja itu.”
“Pak Rama, pak Rama. Ia yang merekomendasikan DJ Muzic Box padaku,” jawab sang produser dengan gugup bercampur tangis.
“Pak Rama Wiryawan, anggota dewan kota.”
Clara, Jonathan dan Bad Girl cukup terkejut mendengar nama itu. Seperti kata sang produser, dia adalah anggota dewan kota Dragokarta. Pengaruhnya di dewan kota hampir sama besarnya dengan anggota dewan Prabu Arjuna. Hanya saja, citra Rama Wiryawan berbanding terbalik dengan Prabu Arjuna yang dikenal sebagai pahlawan rakyat. Anggota dewan Rama terkenal sebagai mantan preman yang masih sering bertingkah layaknya preman di dewan kota. Ia kerapkali mengusulkan rancangan undang-undang yang cenderung menguntungkan beberapa pihak saja. Meski demikian, ia memiliki basis pendukung yang cukup besar, baik dari masyarakat maupun dari sesama anggota dewan. Wajar jika banyak orang berpikir ia disokong oleh ‘kekuatan tak terlihat’.
“Baiklah, untuk saat ini cukup dulu. Beristirahatlah sejenak,” kata Bad Girl sebelum menghajar sang produser hingga pingsan.
[APA YANG KAU LAKUKAN?! KENAPA KAU MEMBUNUHNYA?!]
Jonathan menjerit karena terkejut. Ia sangat tidak terbiasa dengan cara kerja wanita itu. Anehnya, Clara bersikap biasa saja. Tentu saja, ia bukan hanya sudah dapat menduganya, tapi ia sendiri yang memberikan izin pada Bad Girl untuk melakukan sedikit kekerasan dengan syarat tidak menimbulkan luka yang parah.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Bad Girl. Clara tersenyum seakan menyimpan sesuatu yang jahat di pikirannya.
[Hmmm, sudah lama aku ingin seseorang melakukannya pada penjahat dewan kota seperti Rama Wiryawan. Melakukan sesuatu yang tak bisa G:0 lakukan.]
Beberapa jam kemudian, Bad Girl sudah menggantung anggota dewan Rama Wiryawan secara terbalik di atap sebuah gedung. Clara tertawa senang ketika mendengar bagaimana pria bertubuh kerempeng itu merengek minta tolong pada Bad Girl.
Jonathan melihat rekannya yang sedang bahagia itu dengan tatapan ngeri. Seakan ia baru melihat sisi menyeramkan temannya itu. “Ternyata dugaanku selama ini benar, kau adalah seorang psikopat.”
* * *
G:0 menatap jendela salah satu apartemen dari kejauhan. Menurut pengakuan anggota dewan Rama, apartemen itu adalah alamat sang DJ. Mantan preman itu juga mengatakan hanya ingin membantu mengorbitkan Muzic Box karena musisi tersebut berteman baik dengan anaknya dan kebetulan ia juga memiliki talenta musik yang sangat mengagumkan.
Menurut rencana, Bad Girl akan masuk dan menggunakan cara yang hampir mirip dengan yang dilakukannya pada si produser dan anggota dewan Rama untuk mendapatkan pengakuan dari Muzic Box atas perbuatannya itu. Pengakuan tersebut akan direkam dan disebarkan melalui internet agar masyarakat tahu kalau beberapa waktu terakhir mereka telah dikendalikan oleh musiknya.
Namun kali ini Bad Girl melakukan pekerjaannya lebih lama dibandingkan sebelumnya. Bahkan alat komunikasinya tidak berfungsi lagi. Untuk itu, G:0 dikirim untuk mencari tahu apa yang telah terjadi di dalam apartemen.
“Jendela terbuka. Apakah aku bisa masuk sekarang?”
[Kau bisa masuk sekarang.]
Setelah mendapatkan izin dari Clara, G:0 segera terbang dan masuk ke dalam apartemen melalui celah jendela yang terbuka. Di dalam apartemen, ia disambut oleh alunan musik yang sangat merdu. Ia melihat ke sekeliling, ternyata saat ini ia berada di ruang tamu. Ia mencari Bad Girl ke seluruh ruangan yang ada di apartemen itu, namun hasilnya nihil.
Tiba-tiba ia dikejutkan oleh sosok yang berdiri di depan pintu sebuah kamar. Ternyata Bad Girl.
“Ah, hampir saja jantungku copot. Bagaimana kau bisa tiba-tiba di sana? Apakah kau menemukan Muzic Box?” tanya G:0. Namun Bad Girl tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum.
Tanpa diduga, Bad Girl melempar pisau dari pinggangnya ke arah G:0. Untung saja G:0 berhasil mengelak. Ia melihat ke arah rekannya itu, sepertinya ada yang berbeda. Matanya bukanlah mata yang selama ini dimiliki Rosalia. Sementara itu Clara dan Jonathan bertanya tentang apa yang telah terjadi dan mengapa Bad Girl menyerangnya. G:0 menghela napas dan tubuhnya mulai lesu.
“Bad Girl telah dihipnotis. Sekarang ia sedang menjadi lawan kita.”