G:0

G:0
SAATNYA MEMILIH



“Aku pulang!”


Clara dan Jonathan segera menghampiri Grafit yang datang dengan senyuman. Meski ia mencoba merahasiakannya, mereka tahu kalau Grafit menjumpai Patricia. 


“Bagaimana kabarnya? Kau berhasil mengorek informasi tentangnya? Menurutmu, sejak kapan dia menjadi Geppetto?” Clara dan Jonathan mencecarnya dengan pertanyaan demi pertanyaan.


Grafit menatap mereka tajam. “Dari mana kalian tahu aku bertemu dengannya?”


“Tentu saja. Sejak kau melihat Patricia di stasiun, wajahmu selalu murung. Jangankan senyum, bahkan ketika kami bertanya saja kau seperti hendak menyantap kami.”


Mendengar perkataan Clara itu, Grafit langsung menunduk malu. Terutama ketika Jonathan menanyakan apakah ada hubungan romantis yang terjalin di antara ia dan Patricia.


“Wah, sepertinya cinta lama bersemi kembali. Untuk kali ini, kau harus berjuang. Jika dulu kau tidak ada pengalaman pacaran, bukankah sekarang sudah? Kau sudah pernah pacaran dengan Rosalia, bukan?” Wajah Jonathan dan Grafit mendadak datar. Mereka teringat sesuatu yang seharusnya sangat penting. “O iya, kau masih pacaran dengan Rosalia.”


“Apa? Sejak kapan kau pacaran dengan Rosalia!?” tanya Clara dengan nada membentak. “Dan sekarang kau mau mendua dengan Patricia, anak buah dari musuh kita? Kau telah melakukan banyak dosa besar, Anak muda!”


Benar kata Clara, Grafit telah melakukan banyak dosa. Karena tahu masih banyak persediaan omelan dari rekannya itu, ia langsung berlari ke kamar untuk menyelamatkan dirinya dan suasana hatinya yang masih berbunga-bunga.


“Hei, kau mau ke mana!? Cepat bersiap-siap. Sekarang sudah mulai larut, kita harus patroli. Siapa tahu kita akan bertemu dengan Geppetto dan menangkapnya. Kau dengar? Menangkapnya!”


Tidak ada jawaban dari kamar Grafit. Sementara itu, Jonathan juga pamit dengan suara pelan, bahkan sangat pelan dan berharap Clara tidak mendengarnya. “Aku ke markas dulu, ya.”


“Hei, kau juga mau melarikan diri?” teriak Clara yang langsung menghentikan langkah Jonathan. “Kau harus menceritakan padaku tentang Grafit yang sudah resmi pacaran dengan Rosalia. Bagaimana bisa kau biarkan dia pacaran dengan bos begal.”


“Dia bukan bos begal lagi. Dia hanya -”


“Tetap saja kau harus memberitahukannya padaku!”


Dan sore itu Clara mengeluarkan segala bentuk omelan yang membuat telinga Grafit dan Jonathan terasa sakit.


*          *         *


“Kau tidak bisa memiliki hubungan romantis pada dua wanita. Kau harus memutuskan salah satunya. Pilihlah wanita yang benar-benar kau cintai, tapi akhiri hubunganmu dengan yang lainnya tanpa menyakiti hatinya.”


Kata-kata Jonathan itu terus terngiang di kepala Grafit ketika ia sedang menunggu Rosalia di kafe kesukaan mereka. Semalaman ini ia telah memikirkan siapa yang akan ia pilih. Mengingat kemarin ia memiliki hari yang indah dengan Patricia, di mana wanita itu sangat ramah dengannya, ia memilih Patricia. Apalagi ia tak bisa menyangkal kalau cintanya pada ‘Minori’nya belum hilang.


Perhatian Grafit teralihkan pada Rosalia yang melambaikan tangan padanya dari luar kafe. Tidak seperti penampilan sehari-harinya yang berantakan, setiap kali bertemu dengan Grafit, ia selalu berdandan sefeminin mungkin. 


“Hai, sudah lama menunggu?” tanya Rosalia ketika ia sudah duduk di depan Grafit.


“Tidak terlalu lama.”


“Sepertinya pacarku sudah mulai naik daun, ya. Aku semakin sering melihat fotomu di majalah atau papan iklan.” Rosalia terlihat sangat ceria. 


Wajar saja, ini adalah kencan pertama mereka setelah resmi berpacaran seminggu yang lalu. Grafit menyetujui peresmian hubungan asmara mereka karena Rosalia banyak membantunya ketika ia hampir mati karena racun Candy Boy dan ketika difitnah karena perbuatan Lucid beberapa waktu yang lalu.


“Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku? Katakan saja. Jika itu permintaan, aku akan berusaha untuk memenuhinya.”


Tidak perlu otak pintar untuk memahami maksud perkataan Grafit itu. Wajah Rosalia langsung merah seakan ingin berubah menjadi monster. Grafit pun mulai sadar kalau ia telah mengatakan sesuatu yang salah. Ia mencoba meralatnya, tapi terlambat. Rosalia mengambil garpu yang ada di meja dan menancapkannya ke atas meja, tepat di depan Grafit.


“Seminggu. Kita baru saja seminggu pacaran, tapi kau sudah mau mengakhiri hubungan kita? Kau pikir aku ini apa?”


“Eh, aku pikir kau adalah wanita baik dan pengertian.”


“Kenapa kau mau mengakhirinya? Karena ada wanita lain, ya?”


Wajah Grafit yang ketakutan berubah menjadi ceria. “Benar sekali. Bagaimana kau tahu? Jadi, kemarin aku bertemu dengan wanita yang dulu sangat aku cintai. Lalu kami -”


Belum selesai Grafit berbicara, Rosalia mencabut garpu itu lalu menusukkannya ke tangan pacarnya itu. Sayangnya, garpu itu tak berhasil menembus kulit Grafit dan patah. Hal itu membuat Rosalia semakin kesal.


“Aku memiliki banyak persediaan ungravity di bengkelku. Aku akan membuat pedang yang besar dan menikamkannya ke dadamu. Aku akan menghancurkan hatimu yang tidak punya perasaan itu.”


Semua pengunjung kafe memperhatikan mereka. Grafit sampai tersenyum dan mengangguk tanda meminta maaf atas kelakuan pacarnya itu.


“Kenapa kau marah? Aku hanya berbicara yang sesungguhnya. Patricia itu adalah orang yang baik. Dia pasti -”


“Aku tidak mau mengetahui namanya!”


Bersamaan dengan teriakan Rosalia, terjadi sebuah gempa. Semua pengunjung kafe memberikan tatapan yang berbeda padanya, seperti ingin menuduhnya sebagai penyebab gempa itu. Rosalia bingung dan merasa tidak memiliki kekuatan super untuk menimbulkan gempa itu. Akhirnya mereka sadar kalau gempa itu bukan karena teriakannya setelah melihat hal yang sama terjadi di luar kafe. 


Gempa itu semakin kencang. Bahkan sekarang sudah mulai meruntuhkan atap beberapa bangunan dan membelah jalan. Para pengunjung kafe segera berlindung ke bawah meja dengan panik. Hanya Grafit dan Rosalia yang bergeming. Mereka sama-sama merasakan ada sesuatu yang aneh. Ini bukan fenomena alam biasa.


Tebakan mereka benar. Sebuah benda berwarna hijau keluar dari dalam tanah. Wujudnya seperti ular dan membentuk ulir layaknya mata bor. Tak cukup menimbulkan gempa, benda itu pun berputar-putar menghancurkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.


Kafe tempat Grafit dan Rosalia berada kini hanya berjarak sekitar seratus meter lagi dan benda itu sedang menuju ke arah kafe itu. Setelah saling pandang, Rosalia segera membantu mengarahkan para pengunjung untuk segera keluar kafe, sementara Grafit mencari tempat yang sepi untuk berganti kostum.


“Ingat, pembicaraan kita belum tuntas. Jadi, kalahkan monster itu dan tetaplah selamat,” kata Rosalia sebelum mereka berpisah.


Grafit sudah berada di kamar mandi kafe. Ia segera menghubungi Clara dan menceritakan apa yang terjadi. Clara pun segera ke markas dan menghubungi Jonathan. Untuk sementara, ia akan sendirian menavigasi G:0.


[Kau sudah siap?]


“Siap,” jawab Grafit yang telah berganti kostum menjadi G:0.


Ia keluar dari kafe melalui sisi lain lalu menuju ke hadapan makhluk itu. Dari dekat, makhluk itu tidak hanya terlihat seperti ular biasa, tetapi lebih menjurus ke naga. Dan dari dekat juga G:0 menyadari kalau naga itu adalah sebuah robot.


“Wah, sepertinya kita akan melawan robot raksasa lagi kali ini,” kata G:0.


Tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari robot itu, “Halo, G:0. Sudah siap untuk mati?”


G:0 dan Clara terperangah. Ternyata robot yang mereka hadapi sekarang tidak sependiam dulu.