G:0

G:0
MENGUASAI DUNIA ADALAH MIMPI TERBODOH



Bad Girl sedang merasa di atas angin. Ia berhasil memukul Siren. “Ternyata kemampuanmu hanya segitu. Aku tak menyangka kau bisa jadi salah satu lawan berat G:0”


[Bad Girl, jangan gegabah. Kemampuannya memang bukan bela diri, tapi lebih mengerikan daripada itu.]


“Dengarkan kata temanmu itu,” kata Siren sambil tersenyum. Clara, Jonathan dan Bad Girl terkejut karena ia mendengar percakapan mereka. Padahal alat komunikasi mereka diciptakan khusus oleh Jonathan agar hanya Bad Girl saja yang mendengar. Mereka pun teringat kejadian di rumah Muzic Box, ketika ia menyebut ‘teman-temanmu di markas’ pada G:0


Kemudian Siren melompat ke arah Dozo yang masih memulihkan tubuhnya setelah menerima pukulan dari Lyngbakr. Ia pun meletakkan telapak tangannya ke wajah Dozo, seperti yang ia lakukan pada Bad Girl tadi. Hanya saja kali ini hipnotisnya bekerja.


“Temanku Bad Girl, kupersembahkan Dozo untukmu.”


Dozo berdiri sambil mengangkat pedang dan tamengnya. Terlihat tatapannya kosong dan bisa dipastikan dia telah berada di bawah pengaruh hipnotis Siren. Bad Girl tidak gentar sedikit pun karena belum tahu kemampuan Dozo. Ia pun mengeluarkan sebuah tabung dari sabuknya, yang berubah menjadi pedang ketika ia menekan tombol yang ada di sana.


“Aku akan menerima Dozo dengan senang hati.”


[Bad Girl, sekali lagi kuperingatkan padamu untuk tidak gegabah. Dozo adalah petarung yang luar biasa. Dia bukan tandinganmu.]


Sayangnya, Bad Girl tidak mendengar peringatan dari Clara. Ia berlari ke arah Dozo sambil memainkan pedangnya. Ketika jaraknya sudah memungkinkan, Bad Girl melompat dan mengangkat pedangnya, bersiap untuk menebaskannya ke arah Dozo.


Ekspresi pria bertubuh besar itu tetap datar. Ia mengangkat tamengnya untuk menangkis serangan Bad Girl. Saat itu Bad Girl sadar kalau itu bukanlah tameng biasa dan bukanlah lawan yang sepadan untuk pedang portabelnya. Dengan hanya sekali benturan, senjata Bad Girl patah.


Melihat kondisi tidak menguntungkannya, Bad Girl mundur. Tindakannya itu tepat karena setelahnya giliran Dozo yang mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke Bad Girl. Meski berhasil menghindar dari sabetan pedang itu, Bad Girl kewalahan karena pedang itu mengenai lantai di depannya dan menghasilkan efek seperti sebuah ledakan. 


Bad Girl menyadari pandangan Dozo sedang terganggu karena serpihan lantai yang berterbangan akibat tebasannya sendiri. Ia pun berlari menjauh sebelum melemparkan beberapa shuriken ke arah Dozo. Seharusnya benda itu mengenai Dozo, seandainya tali karmantel sakti milik Agrio tidak menangkisnya.


“Jangan lukai Dozo. Dia ada di pihak kita,” kata Agrio sebelum ia disibukkan kembali oleh beberapa orang Kraken.


Bad Girl kebingungan. Bagaimana ia bisa mengalahkan Dozo tanpa melukainya? Jika ia tidak melakukannya bisa jadi malah ia yang terluka.


“Bagaimana? Sekarang kau sudah mengerti kenapa aku bisa menjadi salah satu lawan berat G:0?” tanya Siren dengan nada mengejek.


 Tentu saja Bad Girl kini sudah mengerti. 


*          *         *


“Mereka akan kalah,” ujar Clara pada Jonathan.


Sejak tadi mereka memperhatikan jalannya peperangan tersebut melalui salah satu cameron yang ditempel Jonathan di kostum G:0. Meski saat ini pertarungan terlihat imbang, tapi Clara merasa para pejuang beserta G:0 dan Bad Girl telah mengeluarkan kekuatan secara maksimal, sedangkan Kraken tidak. Mengingat bagaimana menyeramkannya organisasi itu digambarkan selama ini, Clara merasa Kraken bisa melakukan lebih baik dari ini.


“Ternyata kau juga melihatnya,” kata Jonathan. “Seandainya mereka melihat pertarungan ini seperti kita melihat, mungkin mereka akan memikirkan cara untuk melarikan diri.”


Kehadiran G:0 dan Bad Girl sempat mengangkat mental mereka, tapi pengaruhnya sangat sedikit. Apalagi saat ini mereka sedang kesulitan menghadapi Lyngbakr dan Siren. Bahkan seandainya G:0 tidak tertembak dan bisa mengalahkan Lyngbakr, mereka pasti akan tetap kalah.


“Jonathan, coba cari informasi tentang kondisi terkini beberapa kota ini,” kata Clara. Jonathan pun melakukannya.


Beberapa saat kemudian, Clara dan Jonathan terkejut membaca berita yang mereka cari. Wajah mereka mendadak pucat dan berkeringat, seakan sedang menghadapi kematian.


"Apakah proyek yang pernah kau usulkan padaku dulu sudah kau kerjakan?"


Jonathan menatap Clara seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Maksudmu, proyek 'itu'? Apakah kau yakin ini waktu yang tepat? Kau menghabiskan banyak uang untuk proyek itu."


"Tapi kita harus menolong G:0, Bad Girl dan para pejuang."


Melihat keseriusan Clara, Jonathan pun menurut. Ia mengambil sebuah kotak kecil dari dalam lemarinya yang biasa terkunci. Di dalam kotak itu ada sebuah tombol yang langsung diserahkan pada Clara. 


"Aku tak tahu apakah ini sudah sempurna atau belum, tapi bisa kupastikan kalau ini berfungsi."


Clara dan Jonathan saling menatap. Suasana di antara mereka saat itu sangat menegangkan. Mereka seakan bisa melihat masa depan mengerikan yang sedang menunggu di depan mereka. 


*          *         *


Bad Girl menahan sakit di bahunya akibat menahan tebasan pedang Dozo yang luar biasa kuatnya. Bahkan tangannya kini sudah mulai gemetar. Ia nyaris tidak bisa mengangkat tangannya lagi. 


Bagaimana caranya aku bisa mengalahkannya tanpa harus melukainya? Menyebalkan! Bad Girl menggerutu. 


Kemudian matanya terpaku pada sosok di belakang Dozo. Ia punya ide. Dikeluarkannya sisa shuriken dari sabuknya. Ia melihat Agrio dan pejuang lainnya. Tidak ada yang mengawasinya. Dengan cepat ia melemparkan shuriken itu ke arah Dozo. 


Agrio melihat, namun terlambat baginya untuk melindungi Dozo. Ia bersiap untuk memarahi Bad Girl karena tindakan gegabahnya. Tapi amarahnya berubah ketika melihat shuriken itu melewati Dozo dan mengarah ke Siren. Wanita penghipnotis itupun tidak menduga dan menjerit kesakitan karena shuriken itu menancap di dada kirinya. 


"Bagaimana cara mengalahkan sebuah wayang? Tentu saja dengan melumpuhkan dalangnya," ujar Bad Girl sambil tersenyum. 


Dozo tersungkur sebentar. Kemudian ia bangun dalam kondisi bingung. Itu artinya ia sudah terlepas dari pengaruh hipnotis Siren. 


Bad Girl mengalihkan perhatiannya pada pertarungan antara G:0 dan Lyngbakr. Terlihat rekannya itu sedang dalam keadaan tersudut. Perutnya mengeluarkan darah segar dan posturnya tidak sempurna lagi. Lawan yang dihadapinya berhasil mendominasi.


"Hei, butuh bantuan?" tanya Bad Girl yang dijawab dengan isyarat tangan yang berarti tidak. 


"Bantu saja yang lain."


Bad Girl tahu, G:0 serius ketika mengatakannya. Itu artinya G:0 masih yakin bisa mengatasi lawannya. Bad Girl pun menurut dan membantu para pejuang lainnya. 


"Sudahlah, mengaku saja kalah," kata Lyngbakr mencoba mengintimidasi. "Aku tahu kau punya potensi besar. Bahkan jika aku berhasil menjadi pemimpin Kraken, aku berniat untuk mengajakmu bergabung. Bayangkan, kita akan membawa Kraken menguasai dunia."


G:0 tertawa di tengah napasnya yang mulai tersengal, membuat Lyngbakr merasa sedang diejek. 


"Menguasai dunia? Mimpi klise para penjahat yang ada di film-film. Padahal dunia ini terlalu luas untuk dikuasai oleh satu orang. Kau takkan bahagia karena sibuk memikirkan satu dunia yang kau kuasai." G:0 mengatur napas lalu kembali menatap Lyngbakr tajam. "Lagipula aku tak memiliki sifat pengkhianat sepertimu."


Peluru itu semakin masuk ke dalam dan seakan mengobok-obok organ dalam tubuhnya. Ia harus segera mengeluarkannya.


"Ayolah, aku tahu lukamu itu sangat menyakitkan. Kau bahkan tidak bisa apa-apa jika sekarang kuarahkan pistolku ke kepalamu."


Lyngbakr benar-benar mengarahkan pistolnya ke kepala G:0. Ia bersiap untuk memecah kepala G:0 jika pahlawan super itu tidak mau menyerah. 


Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. G:0 mulai tertawa. Awalnya hanya terkekeh-kekeh, lama kelamaan menjadi terbahak-bahak.


“Seharusnya kau lebih mengenalku. Aku pernah menghadapi situasi seperti ini. Ketika aku untuk pertama kalinya membunuh musuhku, yaitu Kichigai dari Black Samurai.”


G:0 menutup matanya. Ia mulai berkonsentrasi dan memasang kuda-kuda. Sementara itu ketakutan menyergap perasaan Lyngbakr. Tubuhnya mulai gemetar. Ingin rasanya ia segera meledakkan kepala G:0 dengan pistol Kraken yang ada di tangannya. Tapi tubuhnya seakan membeku. 


Ya, tubuhnya memang membeku. Bukan hanya karena ketakutannya, melainkan karena sesuatu yang dilakukan G:0. Dan kini tubuhnya bergerak di luar kendalinya. Pertama-tama ia menjatuhkan pistolnya, kemudian menampar dirinya sendiri. Lyngbakr pun mulai berteriak karena ketakutan. 


“A, apa yang kau lakukan?” teriak Lyngbakr panik


“Kau tahu apa persamaanmu dengan Kichigai? Kalian sama-sama berpikir kalau baju bodoh seperti itu membuatku tidak bisa menyentuh kalian.”


Tiba-tiba Lyngbakr merasa mual. Ia pun memuntahkan isi perutnya. Tanpa ia duga, G:0 berhasil memainkan gravitasi pada organ dalam tubuhnya.


Siren yang sedang terluka melihat dari kejauhan. Ia tahu, itu bukan karena hipnotis. Ia benar-benar tak tahu bagaimana bisa menolong bos barunya itu. Tidak ada cara lain, pertarungan ini harus berakhir. Siren mengeluarkan sebuah tombol dari jubahnya dan bersiap untuk menekannya