G:0

G:0
GEPPETTO



Menurut Kapten Rian, kongres yang diadakan Kraken tinggal dua bulan lagi. Meski gagal mendapatkan undangannya, ia berhasil mendapatkan informasi tentang lokasi kongres itu diselenggarakan. Ia dan beberapa pejuang dari daerah lain telah menyusun rencana penyerangan. 


“Wah, si brengsek itu sudah mau membagikan informasi rahasianya padamu. Pasti kalian sudah sangat dekat, ya,” sindir Jonathan ketika Clara membahas tentang kongres itu.


“Ada apa denganmu? Aku mendekatinya agar kita bisa mengikuti perkembangan tentang kongres itu. Kita harus ikut serta dalam penyerangan itu, meski tak diundang.”


“Kalau untuk informasi itu, kita bisa bertanya pada Dozo. Dia juga anggota perkumpulan para pejuang itu.”


“Justru Dozo yang menyarankanku untuk mendekati Kapten Rian karena bisa dibilang dialah pemimpin perkumpulan itu. Aku juga berusaha agar G:0 diakui oleh mereka dan bisa bergabung dengan mereka.”


“Hei, selama ini G:0 selalu berjuang sendiri dan tak pernah bergantung pada orang lain. Aku setuju jika kita menjalin hubungan pada sesama pejuang, tapi untuk bergabung dan terikat dengan mereka, aku menolak keras. aku cukup bahagia kita beraksi bertiga saja.”


“Dasar introvert busuk. Sampai kapan kita bergerak sendiri? Kraken bukanlah organisasi tingkat kotamadya seperti Black Samurai. Kau tahu sendiri seberapa besar organisasi itu. Bahkan mereka memiliki anggota yang menjabat sebagai menteri. Jika kita ngotot melawan tanpa bantuan orang lain, cepat atau lambat kita akan hancur.”


Jonathan masih berkeras dengan pendiriannya, pun demikian dengan Clara. Sementara Grafit, seperti biasa, tidak menunjukkan keberpihakan pada siapa pun. Ia sibuk dengan kartun Naruto yang sedang tayang di televisi. 


“Wanita itu memang menyebalkan,” gerutu Jonathan saat baru duduk di samping Grafit. Sedangkan Clara masuk ke kamar.


“Aku hanya bingung, kenapa kau sangat membenci Kapten Rian. Memang dulu ia bersikap brengsek, tapi menurutku akhir-akhir ini dia sudah semakin baik. Khususnya pada Clara.”


“Selama ini kita sudah sepakat untuk membencinya. Dia adalah pria brengsek. Meski tidak melakukan hal brengsek, dia tetap brengsek.”


“Bagaimana bisa dia brengsek kalau tidak melakukan hal brengsek?”


Jonathan berpikir sejenak. Benar kata Grafit, ia butuh alasan untuk menyebut seseorang brengsek. “Nama panggilannya yang brengsek. Kapten Rian? Sejak dulu pangkat kapten sudah dihapus dan diganti dengan AKP. Itu karena dia ingin para pria melihatnya seperti Captain America dan para wanita melihatnya sebagai Kapten Ri dari drama Korea itu. Bukankah itu brengsek?”


Bahkan Grafit yang polos itu tahu jika Jonathan terlalu memaksakan diri untuk mengatakan Kapten Rian brengsek. “Oh, jadi karena kau cemburu padanya.”


Mendengar tuduhan itu, Jonathan memanjangkan lehernya dan memasang wajah seolah tak sudi. “Aku tidak cemburu. Aku hanya tak terbiasa berpikiran positif tentangnya.”


Grafit tertawa melihat respons yang diberikan oleh temannya itu. “Aku jadi teringat dengan Rosa.”


“Maksudmu si bos begal itu?”


“Rosalia tidak seperti itu lagi. Sekarang ia hanya seorang montir,” ujar Grafit. “Dulu dia juga seperti itu, cemburu pada semua wanita yang dekat denganku meski kami belum punya komitmen apapun.”


“Jadi, bagaimana pandanganmu tentang sikapnya itu? Apakah kau berpikir itu menyebalkan?”


“Tentu saja menyebalkan. Sangat mengganggu.” Grafit memasang wajah kesalnya, lalu berubah menjadi sebuah senyuman. “Karena itu, aku mengajaknya untuk berkomitmen.”


“Maksudnya, kalian pacaran?” Grafit menjawab dengan anggukan. “Memangnya kau mengerti apa itu pacaran?”


“Tentu saja. Non Clara sudah sejak dulu mengajarkan tentang pacaran padaku. Non memang pakar dalam hal itu.”


“Tunggu, aku mencoba mencernanya dulu. Apakah itu artinya kau melupakan wanita itu?”


“Aku tak pernah melupakannya. Hanya saja, seperti kata Non, aku merelakannya. Dulu aku pernah mencoba untuk dekat dengannya dan itu hanya membuatnya menderita. Alasanku mau menjalin hubungan dengan Rosalia adalah karena dia wanita yang tangguh dan tahu identitasku sebagai G:0. Berbeda dengan Patricia.”


Setelah itu, suasana yang tersisa adalah hening. Jonathan tak lagi berani membahasnya dan Grafit terlanjur terperosok dalam kenangannya pada wanita dari masa lalunya yang bernama Patricia.


*          *         *


G:0 berdiri di atas sebuah menara telepon yang berhadapan dengan stasiun kereta api Dragokarta. Matanya sibuk menjelajah ke sekitar pintu keluar terminal dengan tetap bersembunyi di balik bayang-bayang malam.


Tadi siang Kapten Rian berkata kalau ia berhasil menangkap sebuah truk ilegal yang mengangkut benda mencurigakan. Menurut tebakan sang kapten, benda itu adalah materi Ungravity. Truk itu ditangkap ketika sedang bergerak menuju luar kota. Artinya, materi itu berasal dari Dragokarta.


Berdasarkan hasil temuannya itu, Kapten Rian melakukan investigasi lanjutan dengan menginterogasi sopir dan kernetnya di ruangan terpisah. Sang sopir bersikeras untuk menutup mulut, tapi tidak dengan kernetnya. 


Setelah dijanjikan keringanan hukuman, sang kernet mau menyebutkan asal benda yang mereka angkut itu. Ia menyebutkan sebuah nama, yaitu Geppetto. Dari nama itu, Kapten Rian melanjutkan penyelidikannya melalui beberapa tahanan yang memiliki kaitan dengan Kraken. 


Geppetto adalah produsen alat-alat dan senjata canggih yang digunakan oleh anggota Kraken. Selain Ungravity, kemungkinan ia juga yang menciptakan sepatu super yang digunakan oleh Dancing Shadow dan kostum super canggih The Vanishers. Meski tidak memiliki jabatan yang tinggi, ia adalah salah satu pilar organisasi itu. Ia adalah tipe pemain di balik layar. Selama ini wujudnya misterius dan tidak banyak informasi tentangnya. Bahkan hanya beberapa petinggi Kraken yang pernah melihat wajahnya.


“Untung saja salah satu tahanan memberikan sebuah informasi langka terkait Geppetto. Katanya, tiap minggu pagi ia selalu pergi ke kota Prunustrium menggunakan kereta api.dan malamnya kembali.”


“Hanya itu? Pengunjung stasiun Dragokarta ada ratusan, bahkan ribuan. Bagaimana kita bisa menemukannya?” tanya Jonathan yang sejak awal memang menunjukkan sikap skeptisnya.


“Kereta api dari Prunustrium hanya sekali yang tiba pada malam hari, yaitu pukul delapan atau sebentar lagi. Kita hanya perlu melihat orang-orang yang keluar dari stasiun sekitar jam itu.”


“Tetap saja masih terlalu banyak. Kita tak mungkin mencurigai semua orang yang keluar dari stasiun sekarang.”


“Ada satu informasi penting lagi yang didapatkan Kapten Rian. Menurut rumor yang beredar di antara para anggota Kraken, Geppetto pernah mengaku pada para petinggi Kraken kalau ia punya semacam hubungan baik dengan G:0. Kita hanya mencari orang yang G:0 kenal. Mungkin salah satu penjahat yang pernah ia kalahkan.”


“Wah, kapten brengsek itu memberikan informasi yang sangat penting padamu. Apakah ia tidak melanggar aturan tentang memberikan informasi terkait penyelidikan pada warga sipil?”


“Kapten Rian menyelidiki Kraken atas nama pribadi dan sama sekali tidak berkaitan dengan institusi tempatnya bekerja. Jadi, ia punya hak untuk memberitahukannya padaku.’


Jonathan menatapnya tajam, seakan kesal karena sadar saat ini berada di posisi yang berseberangan dengan Clara karena Kapten Rian. Ingin rasanya ia melanjutkan sindirannya tentang kapten itu dengan mengatakan sang polisi telah menggunakan fasilitas kepolisian untuk kepentingan pribadi, tapi ia tidak ingin lagi mendengar Clara membelanya.


“G:0, bagaimana hasilnya? Kau melihat seseorang yang kau kenal?” tanya Jonathan mencoba mengakhiri perdebatannya dengan Clara.


G:0 tidak menjawab. Jonathan sampai mengecek kondisi alat komunikasinya. Tidak ada masalah dan tersambung dengan baik. Ia pun mengulang pertanyaannya itu. G:0 menjawabnya sekitar semenit setelah itu.


[Teman-teman, sepertinya aku tahu siapa Geppetto.]


Clara dan Jonathan saling pandang. Kemudian Clara bertanya, “Siapa dia?”


[Patricia.]