G:0

G:0
KERACUNAN



[Apa maksudmu dia bukan Candy Boy?]


“Dia menggunakan tongkat dengan tangan kanan, sedangkan menurut catatan, sementara menurut kabar yang beredar, kaki Candy Boy yang sedang terluka adalah kiri. Seharusnya tongkat itu berada di sisi kiri untuk menggantikan kakinya yang terluka untuk menopang tubuh,” kata G:0 yang akhirnya disetujui oleh Clara dan Jonathan. Mereka juga memuji analisis G:0. “Aku mempelajarinya dari Non saat menebak pelaku pembunuhan di fashion week yang lalu.”


[Baiklah, kemungkinan besar Candy Boy masih di rumah itu. Apa yang akan kita lakukan?]


G:0 tidak langsung menjawab pertanyaan Clara itu. Ia tersenyum sejenak lalu mengutarakan idenya, “Aku akan masuk ke rumah itu.”


Clara dan Jonathan setuju karena mereka yakin bos narkoba tersebut masih berada di rumah mewah itu. Apalagi dengan kepergian Candy Bar palsu, anak buahnya yang berjaga-jaga di tempat itu akan semakin berkurang.


Tak lama kemudian, G:0 sudah berada di pekarangan rumah itu. Ia masuk dengan mengendap-endap. Ternyata ia bisa masuk dengan mudah. Tak ada satu pun pengawal yang berjaga-jaga di sana. Setibanya di dalam, ia mulai memeriksa semua bagian rumah. Hingga akhirnya giliran sebuah ruangan dengan pintu yang lebih mewah dari pintu yang lainnya. G:0 membuka pintu itu pelan dan mengintip ke dalam.


“Luar biasa! Tempat apa ini?” gumam G:0.


[Sepertinya ini adalah laboratorium.]


Clara, Jonathan dan G:0 terkejut ketika melihat keadaan di dalam ruangan itu. Seperti kata Clara, ruangan itu terlihat seperti laboratorium karena memang berisi peralatan yang lazim ada di laboratorium. Yang paling banyak ditemukan adalah labu erlenmeyer berisi cairan berwarna ungu yang sedang dipanaskan di atas tungku kecil


[Pasti itu tempat mereka membuat obat-obatan terlarang.]


Tiba-tiba pintu ruangan itu terkunci dengan sendirinya. G:0 tidak bisa membukanya. Ia berusaha untuk tenang, tapi entah kenapa kepalanya perlahan pusing dan ia seakan mulai kehilangan kekuatannya.


[Benar katamu. Itu adalah tempat membuat obat-obatan terlarang. Wajar jika aroma di ruangan itu bisa membuat orang yang berada di sana mengalami efek yang sama dengan yang dirasakan oleh para pemakai. Lihat, dia sudah mulai berhalusinasi.]


Ucapan Jonathan itu benar. G:0 sudah mulai teler karena menghirup banyak uap dari bahan-bahan pembuatan narkoba di tempat itu. Kesadarannya terlihat memudar seiring dengan semakin kencang tawa cekikikannya. 


[G:0, jawab jika kau masih mendengar!]


“Ya, aku masih mendengar. Tapi sepertinya aku tak bisa lama lagi bertahan,” kata G:0 yang harus memegang dinding untuk bisa menopang tubuhnya.


[Apa yang harus kita lakukan?]


Jonathan tidak langsung menjawab pertanyaan yang diberikan Clara karena ia juga tidak tahu. Waktu mereka tidak banyak. Mereka harus menemukan solusinya sebelum G:0 pingsan di sana.


[Aku tahu! Di kartun Avatar, seorang pengendali air bernama Katara mengambil air dari udara. Tentu saja, itu karena udara mengandung berbagai gas dan salah satunya adalah uap air. Jadi rencananya begini, G:0 memisahkan air yang ada di udara dari gas lainnya dengan menggunakan pengendalian gravitasinya. Kemudian air itu ia gunakan untuk menyiram wajahnya sehingga ia bisa tetap dalam keadaan sadar. Bagaimana? Ide yang brilian, bukan?]


Clara menatap Jonathan dengan wajah kesal, seakan hendak menghajar wajah yang merasa tak berdosa itu. [Apakah kau benar-benar jenius? Untuk mengubah uap air menjadi air harus melewati proses pengembunan dan itu terjadi jika kau bisa mendinginkan atau meningkatkan tekanan uap. Sekarang kutanya, apakah G:0 akan mengerti hal itu?]


Jonathan menggeleng dengan wajah ketakutan. Takut di’mangsa’ oleh predator bernama ‘ucapan pedas Clara’. Perhatian mereka teralihkan ketika menyadari G:0 dengan mengarahkan telapak tangannya ke meja yang penuh dengan bahan-bahan kimia. Ia mencoba mengendalikan salah satu labu erlenmeyer berisi cairan ungu yang sedang mendidih karena tungku di bawahnya.


[Jangan pakai itu! Itu adalah bahan yang berbahaya dan panas.]


Clara menampar bagian belakang Jonathan tanpa peringatan. Ia semakin kesal setiap kali pria itu membuka mulutnya.


Tapi Jonathan benar-benar berhenti berbicara ketika G:0 membalikkan labu itu sehingga cairan yang ada di dalamnya tumpah ke tungku yang ada di bawahnya sehingga apinya padam. Ia melakukan hal serupa pada tungku-tungku yang lain. Sebagai penutup, ia melempar labu terakhir ke sekring yang ada di dekat pintu yang mengakibatkan korsleting dan memadamkan listrik di rumah itu. Tak lama kemudian, G:0 membuka pintu tanpa kesulitan lagi. Ternyata pintu-pintu itu menggunakan kunci elektromagnetik jenis fail secure yang akan terbuka ketika aliran listrik terputus.


Clara dan Jonathan saling memandang dengan raut muka tegang layaknya orang yang baru saja melihat hantu.


[Kadang aku berpikir, jangan-jangan dia lebih jenius dari kita.]


[Ya, ingatkan aku untuk memeriksa IQ nya suatu hari.]


Meski masih berjalan sempoyongan, kesadaran G:0 sudah mulai kembali. Ia kembali menyusuri rumah itu dalam keadaan gelap. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dan sebuah benda mengenai tubuh G:0. Ternyata sebuah peluru. Untungnya tidak melukainya.


Dengan bantuan kacamatanya, G:0 bisa melihat dari kejauhan dan dalam kondisi gelap. Tidak salah lagi, penembaknya adalah Candy Boy. G:0 melambaikan tangan padanya sebelum melumpuhkan pria itu. 


[Kau tidak apa-apa?]


“Aku baik-baik saja. Peluru itu tidak terbuat dari Ungravity,” kata G:0.


*          *         *


[Terima kasih atas sarannya. Berkatmu, aku mendapat petunjuk berharga dan berhasil memecahkan teka-teki tentang bagaimana Candy Boy menyebarkan racun.]


“Benarkah? Bagaimana caranya?” tanya Clara. “Itupun kalau boleh.”


[Karena kau berperan besar, aku akan memberitahunya secara singkat. Anak buah Candy Boy bekerjasama dengan beberapa supir tangki bahan bakar untuk memasukkan racun itu ke dalam bahan bakar yang akan diecerkan ke masyarakat. Jadi, dia menyebarkan racunnya melalui asap pada knalpot. Menurut pengakuan supir tangki dan anak buah Candy Boy, ini adalah kali pertama mereka melakukannya. Kami akan melakukan investigasi ke seluruh SPBU di kota ini.]


“Baguslah jika semua sudah berakhir. O ya, aku mendapat pesan dari G:0 kalau dia berhasil menangkap Candy Boy dan akan mengirimnya ke kantor polisi sebentar lagi.”


Sementara itu, G:0 sudah berada di depan kantor polisi dengan pria yang baru saja meneror Dragokarta itu. Sebelum meninggalkannya, Jonathan memberikan sedikit pesan melalui mulut G:0, “Selamat menikmati liburanmu di penjara.”


“Ya, kau juga. Mungkin sebentar lagi efek dari racun itu akan kelihatan.”


G:0 bingung dengan ucapan Candy Boy. Apa maksudnya dengan racun? Kemudian ia merasakan nyeri di dada sebelah kirinya, bekas tembakan Candy Boy tadi. 


“Jangan-jangan kau tadi menembakku bukan dengan peluru biasa, tapi -”


“Kau pikir aku tidak tahu kabar tentang kekebalanmu dan Ungravity yang menjadi satu-satunya materi yang bisa menembus tubuhmu? Aku juga menggunakannya, meski hanya sebesar jarum.”


“Dasar kau -” Ucapan G:0 terhenti karena dua orang polisi menyadari kedatangan mereka dan berlari ke arah mereka. 


“Simpan tenagamu dan beristirahatlah terlebih dulu. Puncak dari efek racun itu masih seminggu lagi. Kau akan mati saat itu. Aku akan memberikan antidotnya jika kau mau membantuku.”


“Sial, lebih baik aku mati daripada membantu penjahat sepertimu.”


“Aku tak akan memaksamu. Tapi aku takkan bisa melayatmu nanti karena aku ada di penjara.”


G:0 ingin sekali membawanya kembali untuk memaksanya memberikan antidot yang dikatakan penjahat itu. Tapi ia sadar kekuatannya sudah mulai berkurang dan ia takkan sanggup membawa penjahat itu lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkannya.


“Ingat, aku akan kembali padamu. Terserah kau mau memberikannya atau tidak, tapi aku akan pastikan untuk menyelesaikan urusan di antara kita pada pertemuan berikutnya.”


Kemudian G:0 pergi, meninggalkan Candy Boy yang sedang tertawa terbahak-bahak.


*          *         *


“Grafit!”


Clara menjerit ketika melihat Grafit yang masih berkostum G:0 datang dengan wajah pucat. Ia memegang dada kirinya. Untung saja ia tiba tepat waktu, sebelum tubuhnya tidak bisa merespons apa-apa lagi. Jonathan membantunya untuk merebahkan diri di atas sofa dan melepaskan kostum bagian atasnya.


“Di sini, ada luka seperti bekas suntik. Kau merasa sakit di sini?” tanya Jonathan sambil menekan luka itu. Grafit menjerit kesakitan. Clara datang dari dapur dengan kantong es lalu mengompres luka itu.


Grafit mulai tenang, namun wajahnya semakin pucat. Keringat memenuhi setiap sudut wajah pucatnya itu dan napasnya tersengal. Ternyata suhu tubuhnya meningkat drastis. Clara kembali ke dapur untuk mengambil kantong es lain yang akan diletakkannya di atas dahi Grafit.


“Jonathan, ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Grafit dengan napas yang putus-putus, seperti seseorang yang sedang berada di ujung maut dan hendak menyampaikan pesan terakhirnya.


“Apa? Tanyakanlah.” Jonathan mempersilakan sambil mendekatkan telinganya ke mulut Grafit. Tanpa sadar, air matanya sudah mengalir.


“Kenapa kita -” Grafit berhenti berbicara seakan hendak mengatur pernapasannya yang sudah sangat berat dan mengganggu.


“Kenapa apa!?” Jonathan sudah mulai cemas Grafit tidak bisa menyelesaikan pertanyaannya.


“Kenapa kita menyebut WC dengan wese?” tanya Grafit. Jonathan berhenti menangis karena sibuk memahami pertanyaan itu. “Jika dalam bahasa Inggris, seharusnya disebut dabel yu si. Jika tidak, maka seharusnya disebut wece.”


Jonathan menatapnya sebentar lalu memukul kepalanya sebelum pergi. Clara yang baru datang dari dapur dengan kantong es ditangannya sampai bingung melihat sikapnya. “Ada apa? Kau menangis?”


“Tentu saja. Aku melankolis!”