G:0

G:0
CLAUSTRO



Beberapa tahun yang lalu


Grafit duduk bersila sambil memejamkan matanya. Tubuhnya sudah kebal akan timpaan konstan air terjun. Sudah hampir dua hari ia melakukannya. Ia telah mencapai visi yang diberikan gurunya, yaitu pikiran yang menyatu dengan alam.


“Kemampuan menghilangkan ingatan adalah kemampuan mengendalikan pikiran orang lain dan kita tak akan bisa melakukannya tanpa mampu mengendalikan pikiran kita sendiri. Musuh besar pengendalian pikiran adalah emosi dan keinginan. Kau harus mampu menghilangkannya untuk dapat mencapai penguasaan sepenuhnya terhadap pikiranmu itu.”


Grafit kecil mengangguk. Ia melakukan yang diperintahkan gurunya dengan sangat baik.


*          *         *


Semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Yang aneh adalah mereka seperti tidak menyadari keberadaan Grafit dan sang make up artist yang menuduhnya sebagai G:0. Wajar saja, karena semua orang sedang dalam pengaruh hipnotis.


Mereka masih saling berhadapan. Tak ada suara, tapi sepertinya mereka berseteru hebat melalui tatapan. Wanita itu tersenyum seakan memenangkan perseteruan, tapi ia merasa tidak nyaman dengan ekspresi datar yang ditunjukkan lawannya saat ini. Ekspresi yang wajar ditunjukkan Grafit dalam kondisi seperti ini bukanlah seperti itu, melainkan terkejut, bingung, takut atau mungkin berpura-pura tenang. Ya, datar dan tenang itu berbeda.


“Ayolah, beri komentar. Bukankah yang kukatakan tadi benar?”


Kemudian Grafit tersenyum, sama seperti senyum wanita bernama Siren itu. Bukan senyum yang menutupi kekalahan, tapi senyum yang menyimpan kemenangan.


“Ternyata wanita.”


Hanya dua kata yang diucapkan, tetapi membuat Siren kebingungan. Sekarang ia tidak tahu siapa yang berhasil menangkap siapa. Ia tidak mengerti maksud dari perkataan itu. Apakah selama ini pria bernama Grafit itu mencarinya juga? Sayangnya ia tidak bisa menunjukkan ekspresi datar untuk kondisi saat ini, tapi setidaknya ia mampu berpura-pura tenang.


“Surprise, surprise!” ujar Siren sambil melebarkan tangannya. “Jadi, kau benar-benar G:0?”


“Pasti sangat menyenangkan jika aku benar-benar G:0. Sayangnya tidak.”


“Jangan bohong. Sejak aku menyelesaikan tingkat terakhir ilmu hipnotisku, hanya ada dua orang yang tak bisa kuhipnotis: kau dan G:0.”


“Ternyata yang dimaksud dengan hipnotis adalah itu?”


Grafit tertawa seakan mengejek lawan bicaranya. Siren merasa dilecehkan karena tawa itu, tapi ia tahu itu adalah salah satu cara untuk mengintimidasinya.


“Bagaimana kau bisa kebal dari hipnotis sementara kau sendiri tidak tahu apa itu hipnotis?”


“Andai kau mengenal kaumku, kau takkan terkejut dengan itu,” kata Grafit. “Apa yang kau sebut hipnotis hanyalah sebuah jurus sederhana. Intinya adalah mengendalikan pikiran seseorang. Pikiran yang paling mudah dikendalikan adalah yang dipenuhi dengan emosi dan keinginan.”


“Maksudmu, kau dan kaummu tidak punya emosi dan keinginan?” tanya Siren.


“Bukan tidak punya, kami hanya dilatih untuk mengendalikannya,” jawab Grafit. “Semudah itu. Dan mungkin orang yang kau sebut sebagai G:0 itu juga melakukan hal yang sama.”


Kali ini giliran Siren yang tertawa. Kemudian ia berdiri dan menunjuk ke sebuah arah. Arah Clara.


“Terima kasih karena memberikan pelajaran penting padaku.” 


Siren mengambil sebuah pensil alis dari kotak peraknya dan bersiap untuk melemparkannya ke Clara. Dengan sigap, Grafit menahan Siren dengan menarik lengannya. 


“Emosi dan keinginan, kau sudah memenuhi syarat.” Siren menatap mata Grafit tajam seakan hendak menembus jiwanya. “Tenang, aku hanya ingin tahu apakah kau benar-benar G:0 atau bukan.”


Tiba-tiba kesadaran Grafit memudar dan akhirnya hilang.


*          *         *


Grafit tersadar dengan kondisi kepanasan dan sesak. Ia melihat ke sekelilingnya, ruangan sempit berdinding papan kayu. Ia menggedor dinding-dinding itu sambil memanggil nama Clara, tapi tak ada jawaban. Ada sesuatu yang aneh. Tangannya pun membelai dinding-dinding itu dan indranya yang lain dimaksimalkan. Ia tahu di mana ia berada saat ini.


[Halo, pria model. Apa kabarmu? Aku tahu kau sudah sadar.]


Sebuah suara dari kotak hitam kecil mengejutkan Grafit. Meski baru sekali mendengarnya, ia tahu kalau itu adalah suara Siren, wanita yang menyamar sebagai make up artist dan pria feminin bernama Caesar di fashion week.


Grafit mendengar suara tawa dari seberang sana. Tawa itu menyimpan nada kesal yang tertahan. Grafit mulai yakin jika wanita itu masih belum tahu alter egonya sebagai G:0.


[Kau lebih tangguh dari yang kukira. Dan kau tahu? Lawan yang tangguh adalah lawan yang menyebalkan. Dan siapapun yang bersikap menyebalkan harus dihukum.]


Tempaan selama belasan tahun dari jurus-jurus legendaris yang diturunkan oleh nenek moyang kaum Miel membuatnya jauh lebih tangguh dari yang terlihat. Sehebat apapun orang itu, mereka takkan bisa mengendalikan pikiran kaum Miel. Bahkan sesama mereka hanya bisa menghilangkan kesadaran satu sama lain. Grafit yakin Siren mengalami kesulitan untuk mengorek identitasnya meski berhasil membuatnya pingsan selama beberapa saat.


“Baiklah, aku mengaku kalau aku adalah G:0. Sekarang lepaskan aku dari sini.”


[Hhah, psikologi terbalik. Aku tahu kau ingin membuat pikiranku ragu. Ingat, aku juga punya gelar mastermind atau si pengendali pikiran. Sia-sia jika kau menggunakan teknik psikologi sederhana seperti itu. Sebaiknya kau coba yang lebih baik lagi.]


Bahkan Grafit tidak mengerti arti psikologi, apalagi psikologi terbalik.


“Baiklah, sekarang apa maumu? Mengurungku sampai kau tahu aku G:0? Kapan itu? Bahkan kau tidak percaya jika aku mengakuinya.”


Sempat tidak ada jawaban selama beberapa puluh detik. Kemudian Siren berdehem, menandakan ia masih eksis di dalam percakapan itu.


[Tidak, aku tahu itu akan sia-sia. Mengingat kau punya kemampuan pertahanan pikiran yang sangat kokoh, aku bisa menebak kau sering bermeditasi. Biasanya orang setingkatmu dapat bertahan lama bahkan jika dikubur selama beberapa hari. Aku tak ingin menghabiskan waktu lama untuk menunggunya.]


“Aku masih menunggu kau menjawab pertanyaanku: apa maumu?”


[Tak ada pilihan lain, aku akan menggunakan alat yang sama, yaitu gadis itu. Saat ini nasibnya sama denganmu. Ia sedang dikubur entah di mana.]


Grafit tersentak. Pikirannya langsung tertuju pada Clara. Melihat kegilaan wanita itu, ia yakin Siren bisa melakukan sesuatu yang buruk pada Clara. Ia mulai panik dan mengkhawatirkan Clara. Tangannya mulai menggedor-gedor dinding yang menghimpitnya seraya memanggil nama rekannya itu.


Tiba-tiba ia merasakan perubahan yang cukup aneh. Mendadak udara di sekitarnya terasa sesak dan suhu di dalam ruangan itu meningkat drastis. Kepalanya juga mulai pusing. Grafit semakin panik ketika membayangkan hal serupa sedang dialami oleh Clara. Ia mulai mengeluarkan ancaman pada Siren.


[Ternyata kau benar-benar bodoh. Semakin kau panik dan melakukan gerakan-gerakan tak perlu itu, maka tubuhmu akan semakin membutuhkan lebih banyak oksigen. Dengan kata lain, persediaan oksigen di tempat itu akan lebih cepat habis. Hal itu akan menyebabkan sesak napas dan pusing, bahkan berpotensi menghilangkan kesadaran. Ritme jantung dan peredaran darahmu juga akan berubah sehingga membuat denyut jantungmu semakin cepat. Hal itu bisa menyebabkan pembuluh darahmu menyempit dan kau berpotensi merasakan sensasi terbakar dari dalam.]


“Aku tak mengerti dengan ucapanmu. Sebaiknya kau tidak melakukan hal yang buruk pada Non Clara atau kau akan menyesalinya.”


Siren tertawa. Ia sama sekali tidak peduli dengan ancaman yang dilontarkan Grafit untuknya. Justru ia seperti sedang menikmati penderitaan yang sedang Grafit alami.


[Baiklah, aku akan berkeliling kota dulu untuk membuat sedikit kekacauan. Doakan saja G:0 muncul. Jika tidak, aku akan menganggap kau adalah dia dan aku akan membuatmu serta kekasihmu terkubur selamanya.]


Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Siren melalui kotak hitam kecil itu. Grafit ingin kembali berteriak dan mengancam, tapi ia tahu hal itu akan sia-sia.


Kondisi ruangan gelap itu semakin panas. Pasokan oksigen semakin menipis sehingga membuat Grafit terlihat semakin panik. Tubuhnya yang gemetaran telah dibanjiri oleh keringat dan napasnya terputus-putus. Ia menggedor dinding-dinding kayu sempit yang membatasi ruang geraknya. Tak ada yang mendengarnya dan sepertinya takkan ada.


“Non! Non!”


Kembali ia meneriakkan kata-kata itu, meski ia tahu kalau teriakannya tersebut akan berakhir sia-sia. Tapi ia tetap meneriakinya sambil berharap ada keajaiban yang datang. Dan sekali lagi ia harus kecewa dengan harapannya. Ia sadar saat ini ia merasakan sesuatu yang pernah dengan angkuhnya ia katakan tak pernah merasakannya, yaitu ketakutan.


Efek dari kekurangan asupan oksigen mulai terasa. Kepalanya pusing dan mual. Jantungnya berdebar kencang dan ia semakin sulit bernapas. Tak ada lagi gedoran, ia hanya mampu mencakar dinding-dinding ruangan itu. Tak ada lagi teriakan, ia hanya mampu bergumam. Ia benar-benar sudah mulai lelah dan kesadarannya perlahan menghilang. 


Halusinasi mulai menguasai pikirannya. Kilas balik kehidupannya, terutama saat masih berada di hutan rahasia, terproyeksikan di otaknya. Kemudian halusinasinya berubah, Dalam khayalannya saat ini, yang ada di hadapannya hanyalah sosok Clara yang membuka lebar tangannya seakan memintanya untuk memeluk.


Suara Grafit tak lagi bisa keluar. Mulutnya telah kering. Tapi ia berusaha untuk memanggil seseorang, yaitu Clara.


Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang sangat familiar di telinganya. Suara seseorang yang berisik tapi ramah. Suara yang selalu menuntunnya bersama suara Clara.


[Grafit! Grafit! Di mana kalian? Apakah kalian berkencan? Kalian tidak tahu kalau sekarang waktunya patroli? Kalian harus menghormati komitmen kita. Melindungi kota jauh lebih penting daripada berkencan! Baiklah, aku mengaku gagal berkencan dengan Sarah karena wajahku tak sebaik yang digambarkan Joice padanya. Tapi, benarkah kalian berkencan? Grafit, Clara tidak mendengarku, kan? Kau tidak boleh berkencan dengannya. Dia adalah wanita yang mengerikan. Hidupmu akan hancur berantakan jika berkencan dengannya. Clara benar-benar tidak mendengarku, kan?]


Suara yang akan menyelamatkannya.