
“Aku sudah pernah mengatakannya padamu: kita harus memiliki senjata. Lihat Algojo Langit, dia ahli menggunakan berbagai senjata. Yang kita andalkan hanya kemampuan pengendalian gravitasi. Bukannya ingin merendahkan kemampuan itu, tapi seandainya Grafit kehilangannya, skuad ini akan bubar.”
Jonathan kembali menundukkan kepalanya karena tak berani menatap mata Clara yang sudah melotot. Seperti mata itu akan mengeluarkan laser yang mematikan.
“Kita membentuk skuad ini karena Grafit memiliki kemampuan itu. Kalau ia tidak memilikinya lagi, makan skuad ini akan bubar dan kita akan menjalani hidup normal lagi. Senjata? Kau pikir menggunakan senjata asli sama dengan menggunakan senjata mainan? Banyak nyawa yang akan dipertaruhkan jika kita salah menggunakannya. Lihat apa yang dilakukan Algojo Langit, ia menghilangkan banyak nyawa. Meskipun mereka penjahat, mereka layak mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi orang yang lebih baik. Apakah kau tidak ingat dulu kita pernah menangkap pencuri yang terpaksa mencuri untuk keluarganya? Bahkan kita tidak menghilangkan nyawanya, tapi sampai sekarang Grafit merasa bersalah karena itu. Sekali lagi kau bahas tentang senjata untuk G:0, aku akan memecatmu dari skuad dan menyuruh Grafit menghilangkan semua ingatanmu tentang setahun belakangan.”
Omelan itu terasa seperti laser yang mematikan bagi Jonathan. Ia menyesal karena mengungkit tentang penggunaan senjata itu lagi. Sementara itu, Grafit hanya diam sambil membayangkan seperti apa rupa Sensei Ryuuto, sang ahli pedang. Dan jika memang sayatan yang ada pada semua korban Algojo Langit mirip dengan ciri khas jurus-jurusnya, kenapa chef Barney bilang tak mungkin ahli pedang itu adalah Algojo Langit.
Dan pertanyaan itu terjawab ketika mereka melihat sendiri sosok Sensei Ryuuto. Dia adalah pria tua yang tubuhnya kurus kecil dan sedikit bungkuk. Bahkan untuk melangkahkan kakinya saja ia sudah kesulitan. Tidak seperti sosok Algojo Langit yang sempat terekam beberapa media.
“Ya, ini memang sayatan khas jurus-jurus dari aliran Utsuryu. Saya berani jamin karena hanya aliran kami yang menggunakan pedang khusus dan cara memegang pedang yang unik. Meski banyak aliran baru yang mencoba meniru, tak ada yang seakurat sayatan ini.”
Clara dan Jonathan saling pandang. Memang mustahil jika Sensei Ryuuto yang selama ini berada di balik kostum Algojo Langit, tapi tidak menutup kemungkinan jika sosok asli pahlawan sadis itu juga menguasai aliran pedang Utsuryu.
“Apakah Sensei memiliki murid yang juga ahli dalam senjata api? Mungkin dia adalah seorang tentara atau sebagainya.”
Sensei Ryuuto berpikir cukup lama seakan ia sedang mencari sebuah nama di antara tumpukan memori di kepalanya. Akhirnya ia menemukan satu nama yang memiliki ciri-ciri yang disebutkan oleh tamu-tamunya itu.
“Dorman. Tubuhnya besar, seperti yang ada di video itu.” Sensei Ryuuto menyuruh salah satu muridnya mengambil album foto dan menunjukkan foto seorang pria yang memang memiliki postur mirip Algojo Langit. “Aku pernah melihat pistol jenis Glock. Aku tahu karena aku punya satu, hanya sepertinya beda kaliber. Punyaku kaliber .38. Sepertinya punya dia sedikit lebih besar. Kemungkinan besar kaliber .45. Kalian cek saja jenis peluru yang pernah ia gunakan untuk membunuh.”
“Bagaimana caranya kita memeriksa itu?” bisik Jonathan.
“Kalian belum melakukan uji balistik? Bukankah kalian polisi?”
Skuad G:0 bingung dengan ucapan sang ahli pedang. Padahal sejak awal mereka tidak pernah mengaku sebagai polisi. Mereka hanya bisa memaklumi faktor usia pria tua itu.
“Jadi, jika benar peluru yang digunakan adalah kaliber .45, kemungkinan besar Algojo Langit adalah Dorman?” Clara mencoba menyimpulkan informasi yang diberikan Sensei Ryuuto.
“Begitulah. Hanya saja, aku ragu jika dia menjadi pahlawan," kata Sensei Ryuuto mengejutkan skuad G:0. "Dia adalah seorang bajingan. Tak ada kebaikan sedikit pun di hatinya. Dia melakukan banyak sekali kejahatan dan itu adalah alasan aku mengusirnya dari dojo ini.”
Mendengar hal itu, Clara tanpa sadar tersenyum seakan senang mengetahui kemungkinan Algojo Langit bukanlah orang baik, melainkan psikopat yang membunuh penjahat demi memenuhi insting jahatnya.
“Apakah Sensei tahu alamat tempat ia tinggal sekarang?”
“Ah, aku juga baru ingat kalau beberapa tahun yang lalu ada yang mengatakan Dorman telah dibunuh oleh sebuah geng mafia.”
* * *
“Dia pasti zombie,” celetuk Jonathan saat mereka dalam perjalanan pulang. “Dia pasti bangkit dari kematiannya. Mungkin karena telah melalui perjalanan spiritual melewati surga dan neraka, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan kedua yang diberikan Ilahi padanya dengan menyelamatkan banyak orang.”
“Menyelamatkan dengan cara membunuh. Bukankah itu tetap akan semakin mengukuhkannya sebagai penghuni neraka?” Clara mencoba membantah teori konyol Jonathan sebelum semakin liar. Kemudian perhatiannya teralihkan oleh wajah berpikir Grafit yang ia lihat melalui spion tengah. “Ada apa, Grafit? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”
“Tidak begitu penting. Aku hanya merasa Algojo Langit sama seperti kita.”
Mendengar pernyataan itu, Clara seakan tidak terima. Ia sangat menolak pernyataan yang menyamakan G:0 dengan pembunuh itu. “Apakah kau sudah dipengaruhi oleh Jonathan? Bukankah sudah berulang kali kukatakan kalau kita berbeda dengannya. Kita tidak pernah membunuh!”
“Bukan, bukan tentang membunuhnya. Hanya saja, dia terlalu cepat. Apakah kalian tidak menyadarinya? Di beberapa video aksinya yang terekam menunjukkan kalau ia sudah berada di lokasi kejahatan tak lama setelah para penjahat itu melakukan kejahatan. Misalnya saat ia membunuh seorang penjambret tas. Baru saja beberapa langkah penjambret itu berlari setelah merebut tas itu, Algojo Langit sudah ada di hadapannya. Mungkin ia punya skuad yang juga memantau seisi kota dengan kamera pengawas seperti yang kita lakukan selama ini. Bahkan kita tidak pernah secepat itu.”
Clara dan Jonathan saling memandang seakan baru saja menemukan sebuah harta yang berharga. Mereka memiliki analisis sendiri yang lebih masuk akal dibandingkan dengan kesimpulan yang barusan Grafit sampaikan.
“Benar, itu terlalu cepat. Bahkan terlalu cepat jika menggunakan metode yang kita gunakan, tak peduli dengan alat secanggih apapun. Kecuali -”
“Kecuali Algojo Langit sudah tahu kejadian itu sebelumnya.” Jonathan menyambung ucapan Clara.
Kedua orang itu saling melemparkan senyum girang. Mereka memecahkan satu misteri. Tapi masih ada misteri lain yang harus mereka pecahkan, misalnya saja identitas asli Algojo Langit.
“Apakah Sensei Ryuuto atau muridnya tidak membuka cabang? Bisa jadi ada murid aliran Utsuryu yang tidak diketahui Sensei Ryuuto.”
Kemungkinan yang dilontarkan Jonathan itu segera patah setelah mereka ingat dojo Aliran Utsuryu hanya ada satu dan Sensei Ryuuto, meski sudah setua itu, mengenal semua murid yang pernah belajar di dojo itu.
Pembicaraan tentang siapa Algojo Langit harus terhenti karena adanya laporan kehadiran sosok itu yang mereka dengar dari alat penangkap sinyal radio kepolisian milik Jonathan. Seorang polisi mengatakan terjadi sebuah pertarungan sengit. Sepertinya kali ini tugas Algojo Langit tidak mudah. Ia harus melawan belasan preman yang memiliki kemampuan bela diri yang cukup baik juga.
Saat itu hari sudah gelap. Clara bertanya pada Grafit apakah sekarang siap untuk beraksi untuk dua alasan, mengalahkan para preman sekaligus mengungkap siapa Algojo Langit sebenarnya. Grafit tidak keberatan. Ia meminta Clara untuk menurunkannya di tengah jalan. Untungnya, ia sedang mengenakan kostum kamuflase.
“Lokasinya di dermaga nomor tiga puluh. Sudah tak jauh dari sini. Meski tidak maksimal, kami akan membantumu dari mobil karena akan memakan waktu lama jika harus ke markas dulu,” kata Jonathan.
“Hati-hati!”
Grafit yang sudah bertransformasi menjadi G:0 mengangguk dan langsung terbang menuju lokasi kejadian. Inilah saatnya mereka bisa mengungkap sosok asli Algojo Langit. Mereka sudah tidak sabar mengungkap kebenaran itu.