
[Bad Girl, jangan dengar kata-katanya. Ia memang memiliki mulut pedas seperti ibu-ibu di warung. Kami sudah beberapa kali terintimidasi oleh ucapannya dan kesimpulannya adalah sia-sia menanggapinya.]
[Ya, bahkan Clara yang cerdas bisa tertipu ucapannya sehingga mau menjadi pacarnya. Aduh!]
Terdengar suara hantaman di akhir perkataan Jonathan itu. Clara memukul kepalanya dengan cukup kencang.
Bad Girl masih terpaku. Ia tidak memperhatikan ucapan rekan-rekannya. Harga dirinya sedikit hancur karena ia sempat berpikir telah menjadi pahlawan, namun ternyata hanya seorang pengganggu seperti yang Kapten Rian katakan.
Sementara itu, Kapten Rian mengeluarkan borgolnya. Bukan untuk Pandu yang telah berbuat kejahatan dengan menggunakan alias Muzic Box, tapi untuk Bad Girl. Ia ingin menyingkirkan wanita itu agar ia tidak berkembang menjadi lebih merepotkan lagi dan tak bisa dikendalikan seperti G:0. Baginya Pandu bukanlah ancaman serius lagi karena ia hanyalah boneka. Bahkan mungkin suatu saat ia bisa membawa Kapten Rian bertemu Siren dan menangkapnya.
Kemudian mereka dikejutkan oleh suara tawa. Tawa seorang wanita. Kapten Rian dan Bad Girl mencari sumber suara itu dan mendapati Pandu sedang tertawa dengan sumpalan mulutnya sudah tergeletak di lantai. Ia pun berdiri lalu dengan mudahnya melepas ikatan yang ada di tubuhnya. Bad Girl cukup terkejut karena ikatan yang ia buat itu termasuk ikatan yang sulit dilepas.
“Padahal tujuanku adalah bertemu dan mengungkap identitas G:0, ternyata yang kudapat adalah identitas pemimpin Persekutuan Sembrani. Aku seperti tanpa sengaja menemukan harta karun.”
Wajah Kapten Rian mendadak pucat ketika mendengar nama itu. Selama ini tidak ada yang pernah mengetahui, apalagi menyebutkan nama itu kecuali sepuluh pendiri persekutuan itu yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Orang-orang hanya mengenal mereka dengan sebutan pejuang.
“Sepertinya kau bukan Pandu. Siapa kau? Siren?” tanya Kapten Rian. Ia mengacungkan pistolnya pada pria berkacamata itu.
Di markas, Jonathan akhirnya menemukan foto asli Pandu. Meski dandanan mereka sama, bisa dipastikan Pandu di foto itu berbeda dengan Pandu yang saat ini bersama dengan Bad Girl dan Kapten Rian. Mereka juga membuka rekaman ketika G:0 bertarung dengan Siren. Tak salah lagi, pria itu, atau lebih tepatnya wanita yang menyamar sebagai pria itu adalah Siren.
[Bad Girl, dengar kami. Dia adalah Siren, salah satu anggota Kraken yang berbahaya. Kami pikir kau akan kesulitan melawannya. Bukan tentang kemampuan bela diri, tapi ia adalah master hipnotis. Tau takkan bisa mengatasinya. Jika ada kesempatan, kaburlah dari tempat itu.]
Bad Girl yang sejak tadi terjebak dalam khayalannya tersadar. Ia menyetujui saran dari Clara dan mundur pelan-pelan ketika Kapten Rian dan penjahat itu sedang berbincang-bincang.
“Ayolah, Kapten, kita berbincang-bincang dulu. Bukankah selama ini kau sudah lelah karena terlalu keras berusaha untuk menghancurkan Kraken namun selalu berujung sia-sia? Untuk kau ketahui, bukan hanya G:0 dan wanita berkostum ini yang selama ini meremehkanmu, tapi aku juga. Dan sekarang aku akan memberikan penghormatan yang layak untukmu. Atas nama Kraken, aku akan membunuhmu.”
Kapten Rian melepaskan peluru dari pistolnya dan melesat ke arah Siren. Dengan sigap, Siren berhasil menghindar. Tiba-tiba ia sudah muncul di hadapan sang kapten. Belum sempat Kapten Rian mengubah arah moncong pistolnya, Siren sudah mendaratkan telapak tangannya ke wajah polisi itu lalu kembali menghilang.
Kapten Rian mengusap wajahnya yang baru disentuh oleh Siren. Matanya kembali mencari sosok itu dan akhirnya ketemu. Siren sedang duduk santai di atas sofa. Kemudian Kapten Rian kembali membidiknya. Kali ini Siren tidak menghindar. Ia justru tertawa sambil menunjuk ke arah Bad Girl yang sudah mendekati jendela dan bersiap kabur.
Tiba-tiba pistol itu berubah arah. Terlihat wajah Kapten Rian sedang kesulitan mengendalikan pistolnya. Hingga akhirnya pistol itu mengarah pada Bad Girl, sama dengan arah Siren menunjuk.
Bad Girl yang sudah mengangkat satu kakinya ke jendela berhenti bergerak. Ia sadar jika ada bahaya yang sedang mengarah padanya. Pikirannya pun bekerja dengan cepat dan memutuskan agar ia berhenti berpikir untuk kabur. Ia harus melawan, meski menurut Clara dan Jonathan ia takkan bisa menang melawan Siren.
Pistol itu telah ditembakkan. Namun Bad Girl berhasil menghindar sebelum peluru menghantam tubuhnya. Ia mengeluarkan shuriken yang telah dimodifikasi Jonathan sehingga bisa juga mengalirkan listrik dan melemparkannya ke arah Siren. Wanita itu berhasil menghindar, bahkan sambil mengendalikan Kapten Rian untuk memberikan tembakan susulan pada Bad Girl.
Kemudian Bad Girl mengeluarkan dua tongkat kecil dari sabuknya. Ketika sebuah tombol kecil yang ada di sana ia tekan, tongkat-tongkat itu berubah menjadi semacam senjata pengait. Sambil menghindari tembakan yang diberondongkan oleh Kapten Rian, Bad Girl berlari ke arah Siren dan mencoba untuk menyerangnya.
Tanpa diduga, Siren berhasil menghindar dari serangan itu dengan gerakan yang sangat anggun dan malah balik menyerang dengan sebuah tendangan keras. Kini Bad Girl semakin tersudut karena Kapten Rian akhirnya berhasil menyarangkan sebutir peluru ke kakinya. Kini sasaran pistol Kapten Rian berikutnya adalah kepala Bad Girl.
Tiba-tiba terdengar suara hantaman keras dari pintu. Mereka yang ada di dalam apartemen melihat ke arahnya dan menemukan seseorang dengan jubah serba hitamnya. Mereka sangat mengenal sosok itu.
“Maaf, aku terlambat. Jalanan kota sedang macet.”
* * *
Beberapa saat sebelumnya
Grafit duduk di belakang plang nama Kampung Purnama untuk menghindar dari sinar matahari. Ia disuruh untuk bersiap-siap jika suatu waktu Rosalia yang sedang bertugas sebagai Bad Girl membutuhkan bantuannya. Ia tidak terlalu banyak terlibat pembicaraan tiga arah antara dirinya, Bad Girl dan markas. Tentu saja, karena ia sedang serius menonton episode terbaru anime One Piece dari ponselnya. Sebenarnya ia kesal karena Jonathan yang lebih dulu menonton telah menyebutkan sebuah spoiler yang sangat penting tadi malam.
“Zunesha adalah rekan Joy Boy pada 800 tahun yang lalu.”
Kata-kata itu mengiang di kepala Grafit selama ia menonton. Meski sudah mengetahuinya, ia terus menunggu momen itu muncul. Tapi ia harus berhenti menonton ketika mengetahui Kapten Rian datang ke apartemen Muzic Box dan bertemu dengan Bad Girl.
Grafit langsung berganti kostum menjadi G:0 dan bersiap pergi menyusul Bad Girl, sebelum seorang nenek menghampirinya.
“Bukankah kau G:0, si pahlawan super itu?”
“Iya, Nek,” jawab G:0 sopan. Ia bersiap menerima pujian atau kesaksian tentang perbuatan heroiknya dari mulut nenek tersebut. Tapi ternyata bukan itu yang ia dapat. “Tolong bantu nenek membawa itu ke rumah.”
Sang nenek menunjuk ke arah gerobak yang berisi barang-barang bekas. G:0 yang merasa Bad Girl belum terlalu dalam bahaya akhirnya mengabulkan permintaan sang nenek. Ia tidak menyangka kalau rumah sang nenek cukup jauh. Untuk mempercepat langkahnya, ia pun ikut mengangkat sang nenek.
Selesai mengantar nenek itu beserta gerobaknya, G:0 segera berlari menuju lokasi Bad Girl. Apalagi ia mendengar Pandu yang ditangkap Bad Girl bukanlah Pandu yang asli. Lebih parahnya, kemungkinan ia adalah Siren. Ia tidak peduli warga sekitar melihatnya berlari di jalanan kampung. Sulit baginya untuk terbang mengingat tidak ada gedung tinggi, sebagian besar atap rumah warga terbuat dari bahan yang rapuh serta tidak banyaknya angin yang berhembus.
Ia harus menghentikan langkahnya ketika beberapa anak berbaris dan membentuk barikade di depannya. Mereka memang sengaja ingin menghentikan G:0.
“Ada apa?”
“Om bisa terbang, kan? Tolong ambilkan layangan kami, Om,” kata salah satu anak yang diikuti kata ‘tolong’ oleh anak-anak yang lain. G:0 pun terpaksa menurutinya.
Selesai mengambil beberapa layangan dari atas pohon dan kabel-kabel listrik, perjalanan G:0 untuk menyelamatkan Bad Girl kembali terhalang ketika beberapa warga datang dan meminta berfoto dengannya. Parahnya, hanya satu warga yang memiliki ponsel dan mereka harus mengambil foto secara bergantian. Ia pun terpaksa meninggalkan mereka setelah mendengar Kapten Rian mengarahkan pistol ke Bad Girl.
“Dasar pahlawan sombong. Mentang-mentang punya kekuatan super,” teriak salah satu warga diikuti sorak cemoohan dari warga lainnya.
“Bagaimana kalian bisa mengatakan hal itu setelah aku menolong kalian?”
G:0 merasa tidak terima karena dicap negatif oleh para warga. Tapi ia harus pergi untuk menyelamatkan temannya.