G:0

G:0
SESEORANG DI KAMAR PEMBALASAN DENDAM



Beberapa jam sebelum acara Karma


“Kalau kau disuruh memilih, siapa yang akan kau pilih?”


Pertanyaan yang Jonathan lemparkan pada Grafit itu merujuk pada siapa yang paling dibenci sehingga jika mengalami kondisi seperti yang Clara alami beberapa hari yang lalu, ia akan memilih orang itu untuk diculik dan disiksa.


“Tidak ada. Aku tidak pernah membenci seseorang,” jawab Grafit yang sebenarnya tidak perlu diragukan lagi.


“Seandainya Kichigai masih hidup dan ia berhasil melukai Patricia -” Jonathan sadar menyebutkan nama Patricia saat ini akan sangat berbahaya jika Grafit menanggapinya salah. Untung saja, dari wajah Grafit yang santai, Jonathan merasa aman untuk melanjutkan pertanyaannya. “Apakah kau akan menyebut namanya?”


“Kau perlu memahaminya. Aku tidak pernah membenci Kichigai atau siapa pun. Memang, ketika seseorang melakukan kejahatan yang bisa membahayakan orang lain, aku akan melawannya, meski harus sampai melukainya. Tapi aku tak pernah membencinya. Kichigai, pak Presiden, Puzzle, Candy Boy, Lucid, Siren dan penjahat lainnya, aku tidak pernah membenci mereka.”


“Termasuk Kapten Rian?”


“Ya, tentu saja termasuk Kapten Rian. Bagiku, dia adalah orang baik, meski sedikit menyebalkan.” Grafit menatap Jonathan seakan menyadari sesuatu. “Apakah kau akan memilih namanya?”


“Aku memang membencinya. Tetapi ia tidak terlalu penting bagiku sehingga belum cukup layak untuk mendapatkan kehormatan itu.”


“Lalu, siapa yang akan kau pilih?”


Jonathan tidak langsung menjawab, melainkan melemparkan senyumnya terlebih dulu. “Mungkin orang-orang yang pernah merundungku dulu. Mungkin juga kedua orang tuaku.”


Grafit terkejut mendengar kalimat terakhir itu. Ia sampai marah pada temannya tersebut. “Kenapa kau sampai berpikir seperti itu. Sejahat apapun perbuatan mereka, bukankah seharusnya kau tidak boleh berpikiran sejahat itu? Lihat yang telah dilakukan oleh Non Clara pada chef Barney.”


“Aku juga tidak mengerti,” kata Jonathan. Matanya menerawang ke langit-langit ruangan seakan sedang mencari jawaban untuk pertanyaan Grafit karena ia juga tidak memiliki jawaban yang pasti. “Entahlah, merasa dibenci oleh orang yang kita kasihi setiap hari itu sangat melelahkan. Seberapa keras aku meyakinkan diriku kalau yang mereka lakukan adalah karena kesalahanku, aku tetap kesulitan untuk terbiasa. Dan ketika aku mulai dewasa dan merasa semuanya bukan salahku, rasa benci itu tak tertahan. Bagiku, mereka hanya memberiku penderitaan. Aku ingin semua ini segera berakhir, meski harus kehilangan mereka.”


Tidak ada lagi kata-kata menentang dari Grafit. Seperti petuah gurunya, kita tidak boleh langsung menghakimi pemikiran seseorang, seburuk apapun itu bagi kita. Tidak semua hal tentang hitam atau putih. Setiap sudut pandang lahir dari pengalaman masing-masing orang. Kita yang tidak menjalani hidup mereka tidak berhak menjatuhkan penghakiman, apalagi penghakiman dini, karena kita sendiri juga tidak mutlak berada di jalan yang benar.


*          *         *


Seorang pria bertubuh besar berdiri di hadapan para tamu dengan jubah yang menutupi bahu, bagian belakang dan sedikit bagian depan tubuhnya. Ia memegang sebuah tongkat seperti yang dimiliki para bangsawan. Wajahnya yang terlihat cukup menyeramkan berusaha tersenyum ramah, meski masih terlihat cukup menyeramkan. Ia bertindak sebagai pembawa acara ini. 


“Para hadirin, pertunjukan kali ini dipersembahkan oleh Nona Clara Gabriella Soetjipto selaku sutradara baru kita dengan aktornya yang bernama Dodo Prayogi.”


Clara memberi hormat dengan sedikit membungkukkan tubuhnya setelah mendapatkan tepuk tangan dari tamu lainnya. Ia merasa sedikit lucu dengan istilah ‘sutradara’ dan ‘aktor’ yang baru didengarnya. 


“Di kehidupan nyata, sang aktor adalah bos dari sutradara. Ia adalah bos yang sangat kejam. Selain suka bertindak semena-mena dan tidak pernah menghargai anak buahnya, sang aktor juga sering memberikan beban kerja yang lebih berat daripada yang seharusnya. Ia sering memakan bantuan dari pemerintah yang ditujukan untuk para guru. Puncak kebencian sutradara adalah ketika ia dipecat secara sepihak oleh sang aktor. Para hadirin, mohon berikan penilaian, apakah pria ini pantas mendapatkan karmanya malam ini atau tidak?”


Clara terkejut ketika semua undangan mengangkat papan bulat yang melekat pada tiang kayu kecil. Papan bulat itu bertuliskan tanda ceklis, yang artinya pak Dodo akan menerima karma dari perbuatannya selama ini.


“Baik, sudah diputuskan bahwa sang aktor akan mendapatkan karmanya malam ini dan …”


“Pertunjukan dimulai,” kata para tamu serentak melanjutkan ucapan pria itu.


“Untuk pertunjukan pertama, silakan sutradara menekan tombol.”


Kaca pembatas ruangan itu kini berubah menjadi seperti sebuah televisi yang menampilkan tabel 3x3 yang mana masing-masing kotak berisi tulisan tentang berbagai hukuman. Namun demikian, tampilannya sedikit transparan sehingga keadaan di ruangan sebelah masih terlihat. Kemudian seorang kru memberikan tombol padanya diiringi oleh sorakan para tamu yang berulang kali berkata, "Hukum! Hukum!"


Clara pun menekan tombol sambil menutup mata. Sebuah suara seperti derap kuda bergema di seluruh ruangan, sepertinya berasal dari televisi itu. Lalu suara itu berhenti bergema, berganti teriakan si pembawa acara. 


“Gladiator!”


Semua tamu kembali bersorak ketika mendengar ucapan si pembawa acara. Sepertinya mereka tahu maksud perkataan itu, tidak seperti Clara yang masih bingung. Akhirnya ia mulai paham ketika layar televisi menghilang dan berganti dengan kondisi di ruangan sebelah. 


Tali yang mengikat pak Dodo terlepas. Pria itu sempat tersungkur sebelum berusaha berdiri dengan wajah yang cukup frustrasi. Tiba-tiba seekor singa masuk melalui sebuah pintu dan mendekatinya. Pak Dodo berteriak dan mencoba kabur, membuat semua tamu tertawa gembira. 


Dari ruangannya, Clara bisa melihat jelas kalau singa itu hanyalah sebuah hologram. Namun ia paham dengan kondisi psikologis pak Dodo yang kacau sehingga membuatnya tak bisa berpikir jernih. 


Akhirnya Clara mengerti seperti apa acara Karma itu. Sebuah acara yang dipersembahkan untuk para psikopat yang menikmati penderitaan orang lain yang seakan sedang menghadapi ajalnya. Ia melihat wajah para tamu satu per satu sambil berpikir bagaimana bisa mereka yang penampilannya sangat berkelas memiliki hati sekeji itu. 


Si pembawa acara menyadari ketidaknyamanan kliennya dan ia sangat tidak menyukai hal itu. Kemudian ia memberikan sedikit informasi yang mungkin bisa membantu. “Kita tetap pastikan para aktor tidak mengalami luka fisik sedikit pun. Kami juga memiliki alat khusus yang dapat membuatnya melupakan semua yang terjadi di sini. Jadi, semua yang terjadi di Karma -”


Clara berpura-pura tersenyum agar mereka tidak mencurigainya. Kemudian ia melihat jepit rambutnya yang sedikit melayang di atas pangkuannya. Ia merasa ini sudah waktunya, apalagi setelah mendengar ia harus menekan tombol itu kembali untuk 'pertunjukan' berikutnya.


Inilah rencana skuad G:0. Clara akan masuk tanpa penyadap dan alat komunikasi lainnya. Ia hanya mengandalkan jepit rambut yang sudah G:0 kenal bentuk dan beratnya melalui pengendalian gravitasi jarak jauh. Itu akan menjadi satu-satunya media komunikasi mereka. 


Prosedurnya adalah G:0 akan mencari jepit rambut itu dari luar gedung pertunjukan beberapa menit setelah Clara memasukinya. Ia akan menerbangkannya sedikit. Jika Clara memutar benda itu -yang mana bisa G:0 rasakan- itu artinya sudah waktunya bagi G:0 untuk beraksi. 


"Kita akan masuk ke pertunjukan selanjutnya. Silakan sutradara kembali menekan tombolnya."


Clara tersenyum. Tangan kanannya sudah berada di atas tombol, sementara tangan kirinya sedang memutar jepit rambut. 


“Upright jerker. Digunakan di Amerika Serikat pada abad ke-19 dan 20. Tekniknya sama dengan hukuman gantung. Bedanya, kalau hukuman gantung diturunkan secara tiba-tiba ke bawah, sesuai namanya, leher terdakwa akan ditarik ke atas secara tiba-tiba.”


Kemudian dari atas turun sebuah tali virtual yang sudah tersimpul dan kini berada di hadapan pak Dodo yang kelelahan karena dikejar oleh singa virtual. Para tamu bertepuk tangan seakan memberi semangat pada sang aktor untuk kembali menghadapi kematian semunya. 


Tiba-tiba terdengar benturan dan teriakan kesakitan dari luar ruangan. Si pembawa acara dan para tamu terkejut. Tak lama kemudian, pintu ruangan itu roboh dan terlihat sosok dengan pakaian serba putih melambaikan tangan pada mereka. 


“Halo, saya petugas KPI memberikan peringatan untuk acara ini karena menampilkan kekerasan yang sangat tidak mendidik dan dikhawatirkan memberikan pengaruh buruk, khususnya bagi anak-anak di bawah umur.”


Tidak seperti biasanya, Clara menganggap kata pembuka yang dibuat oleh Jonathan kali ini terdengar keren. Ia mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.


*          *         *


Tidak seperti biasanya, kali ini skuad G:0 tidak mengantar para penjahat ke kantor polisi. Clara menelepon Kapten Rian untuk menjemput para penjahat itu ke lokasi. Selain karena banyak, polisi juga harus tahu lokasi penculikan dan penyiksaan sadis itu untuk penyelidikan lebih lanjut. 


“Jadi, Kapten Rian setuju untuk tidak menghukummu?” tanya Jonathan. 


“Iya. Aku bilang, G:0 meminta bantuanku untuk menyamar. Ia mengerti dengan cara kerja G:0. Meski bertentangan dengan prosedur hukum, itu lebih baik daripada membiarkan kejahatan ini terus berlangsung. Ia berjanji takkan memasukkan namaku dan G:0 di laporannya. Katanya, ia mulai menganggap G:0 sebagai rekan kerjanya dan berharap bisa selalu bekerjasama untuk memberantas kejahatan."


“B-A-C-O-D, B-A-C-O-D.” Jonathan mengeja huruf-huruf dari kata itu dengan menggunakan nada. 


“Lha, iklan Sh*pee COD, ya?” tanya Grafit sambil tertawa mengingat iklan yang sering ia lihat ketika menonton video di Youtube. 


“Dia juga bilang kalau aku juga sudah memberikan kontribusi yang luar biasa untuk kasus ini dan berjanji untuk memberiku hadiah. Manisnya.”


“Omomo bacot.” Jonathan juga mengatakannya dengan nada. 


“Oh, itu lagu barunya Yuju, kan?” Kembali Grafit menebak meski Jonathan tidak sedang bermain tebak-tebakan. 


“Ayolah, jangan terlalu membencinya,” bujuk Clara sambil menarik lengan baju Jonathan. 


“Dia tidak terlalu membenci Kapten Rian. Katanya, dia takkan memilih nama polisi itu seandainya para penculik itu meminta nama untuk diculik dan disiksa.”


Clara terdiam. Ia tidak sedang memikirkan ucapan Grafit, tapi sesuatu yang disadarinya karena ucapan itu. 


“Sepertinya aku harus meminta maaf pada pak Dodo,” kata Clara. 


“Untuk apa? Anggap saja itu balasan atas kelakuan buruknya padamu selama ini,” ujar Jonathan. 


Namun Clara seakan tidak setuju dengan saran Jonathan itu. Matanya seakan menatap kosong dan ia termenung cukup lama. 


“Saat berada di gedung itu dan melihat betapa mengerikannya penyiksaan yang dialami pak Dodo, aku menyadari sesuatu. Kita takkan pernah bahagia karena dendam itu dibalaskan. Awalnya terasa memuaskan, seperti menghukum orang yang pantas dihukum. Tapi selanjutnya kita hanya merasa menjadi orang berikutnya yang layak menerima hukuman itu. Dan saat itu aku membayangkan, seandainya orang yang kutempatkan saat itu bukan pak Dodo, tetapi seseorang yang sebenarnya kusayangi namun pernah menyakiti hatiku.”


Jonathan tersentak dengan kata-kata itu. Ia menyesal pernah berkata untuk menempatkan kedua orang tuanya di kamar pembalasan dendam itu. Ia membayangkan, seandainya itu terjadi, ia pasti takkan bisa memaafkan dirinya sendiri. 


Kemudian Jonathan menelepon ibunya untuk bertanya lauk apa yang tersedia hari ini di rumah. Dan sesuai dugaannya, ia mendapatkan makian dari ibunya. Namun ia hanya tersenyum. Sama seperti Clara yang sedang mendapatkan sindiran dari pak Dodo karena tidak datang menjenguknya, meski baru Clara anak buahnya yang menelepon dia.


Grafit tersenyum melihat kedua sahabatnya itu. Seandainya gurunya ada di sini sekarang, beliau pasti berkata kalau tidak ada yang layak untuk kita tempatkan di kamar pembalasan dendam.