G:0

G:0
SISI LAIN WANITA YANG BERNAMA PATRICIA



“Bagaimana bisa kalian terkurung di sini? Padoha juga menangkap kalian?” tanya G:0.


Clara dan Jonathan tidak menjawab, malah mereka menundukkan wajah dan pura-pura tidak mendengar. Rosalia melihat mereka berdua dan menunggu mereka menceritakan yang sebenarnya terjadi. Tapi mereka tetap diam sehingga ia tak tahan untuk tidak berkomentar.


“Dua orang yang selalu kau bilang sebagai orang terpintar di dunia ini menginjak sebuah tanda bertuliskan BAHAYA! DILARANG BERDIRI DI SINI! Dan benar saja, tanda itu yang membawa kami ke sini.”


G:0 menatap mereka berdua seakan tak percaya dengan ucapan Rosalia, tapi tak ada bantahan dari mereka, menandakan ucapan tersebut benar. “Ternyata tak selamanya kalian pintar.”


“Bukankah sebaiknya sekarang kita menatap masa depan dan melupakan yang telah berlalu?” tanya Jonathan berusaha  mengakhiri pembahasan tentang bagaimana mereka bisa berada di tempat ini.


“Baiklah,” kata G:0 yang sudah mempersiapkan topik pembicaraan yang lain. Sementara itu, Rosalia masih belum menerima masalah itu berakhir begitu saja sebelum kedua orang itu mendapatkan suatu ‘hukuman’.


“Kau tahu apa yang ada di atas tempat ini?”


G:0 berpikir sejenak lalu menjawab, “Bekas pabrik mainan milik Patricia?”


“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”


“Dia sudah menemuiku di sini.”


“Apakah dia sudah tahu kalau kau adalah Grafit?”


“Belum,” jawab G:0. “Kalau dipikir-pikir, sepertinya dia tidak tertarik denganku. Dia sama sekali tidak ingin tahu siapa sosok di balik kostum ini.”


Seseorang datang sebelum ada yang memberikan respons terhadap pendapat G:0 itu. Seorang wanita cantik yang mengenakan kostum ketat. Ia adalah Patricia.


“Lihat, dia jauh lebih cantik darimu. Jadi, tidak salah jika Grafit memutuskanmu demi dia,” bisik Jonathan pada Rosalia yang langsung dihadiahi sebuah pukulan dengan sikut yang pelan namun mematikan di rusuk kirinya.


“Wah, ada tamu tak diundang,” kata Patricia sambil tersenyum. “Siapa kalian? Bagaimana bisa kalian ada di sini? Apakah kalian punya  hubungan dengan G:0?”


Mereka terlihat kebingungan dan saling pandang. Untung saja Clara memiliki jawaban yang cukup masuk akal. “Kami adalah anggota fans club G:0. Kami melihat bagaimana robot ular itu menangkapnya dan mulai mencarinya. Lalu, kami sampai di sini.”


Alasannya terlihat sempurna, kecuali tentang satu pertanyaan, “Bagaimana kalian bisa tahu ini tempat G:0 ditahan?”


Mereka kembali terlihat kebingungan dan saling pandang. Jonathan punya jawaban yang cukup bagus, tapi kurang masuk akal. “Kami mengetahuinya karena menurut BMKG, pusat gempa terjadi di sekitar daerah ini.”


“Maksudmu, menggunakan seismograf?” Jonathan tahu kalau Patricia adalah orang yang cerdas. Seismograf bekerja jika alat itu dipasang terlebih dahulu. Hanya ada sekitar dua ratus seismograf yang terpasang di negeri ini dan daerah tempat mereka berada saat ini bukan salah satunya. Untungnya, Patricia terlalu cerdas. “Akhirnya mereka berhasil menemukan alat itu. Aku sudah membuat konsep pendeteksi gempa untuk radius sekitar dua juta kilometer persegi saat kuliah dulu sehingga tidak perlu seperti seismograf yang harus dipasang di seluruh penjuru negeri, tapi banyak yang menentangnya karena merasa alat seperti itu tidak mungkin ada. Sepertinya sekarang mereka menjilat ludah mereka sendiri.”


Clara dan Jonathan menghela napas lega. Mereka berhasil mengelabui Patricia. Sementara Rosalia masih asyik menatap dan membanding-bandingkan wanita itu dengan dirinya. Ia sakit hati setelah tahu kalau wanita itu yang membuat Grafit memutuskannya.


“Kalau mobil biasa, belum pernah coba. Tapi Elon Musk pernah meminta tolong padaku untuk menyempurnakan sistem autopilot pada mobil otonom keluaran Tesla.”


Rosalia berpikir sejenak kemudian menggeleng kepala tanda menyerah total. “Sial.”


“Apa yang akan kau lakukan pada G:0? Jika kau musuhnya, kau pasti akan membunuhnya, bukan hanya menangkapnya. Dan yang lebih mencurigakannya lagi adalah kau tidak berusaha membuka topengnya. Padahal seluruh negeri pasti ingin mengetahuinya, terutama musuhnya.”


Patricia tertawa setelah Clara selesai berbicara. Mereka bingung melihat tingkahnya itu.


“Seluruh negeri? Kalian memang fans buta. G:0 bukanlah sesuatu yang spesial di negeri ini. Ia memang hebat di Dragokarta dan berhasil menghancurkan organisasi Black Samurai. Banyak orang-orang dengan kekuatan super yang lebih hebat dari G:0 di seluruh negeri ini. Dan sama seperti G:0, mereka tidak berdaya di hadapan Kraken.”


Clara dan Jonathan seakan marah mendengar pernyataan Patricia. Memang mereka telah mendengar banyak tentang para pejuang dari cerita Dozo dan Kapten Rian, tapi mereka sakit hati karena G:0 dan para pejuang itu dianggap lemah di hadapan Kraken. Meski pada kenyataannya belum ada di antara mereka yang benar-benar berhasil menghancurkan Kraken.


Naga Padoha bergerak mendekati Patricia dan berkata, “Kapan aku bisa membunuh G:0, Bos? Aku sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama.”


Melihat hal itu, Jonathan langsung berteriak kagum. “Apa? Jadi robot itu  bergerak dan berbicara tanpa dikendalikan? Hebat! Sudah sejak dulu aku bermimpi bisa bertemu robot seperti ini. Sejak aku menonton film Transformers.”


Tiba-tiba Padoha menyerang jeruji sel Jonathan dengan keras sehingga menghasilkan benturan yang keras. Tubuhnya pun dialiri listrik dari jeruji itu, namun ia tidak terpengaruh. Ia menunjukkan wajah seramnya seakan hendak menerkam Jonathan. Mereka bertiga sampai terjatuh karena terkejut dan ketakutan.


“Ia benci dipanggil robot,” kata Patricia. Kemudian ia mengenakan sarung tangan hitamnya lalu mendekati Padoha dan membelainya. “Belum waktunya. Aku masih membutuhkannya.”


Patricia mengajak Padoha menjauh dari mereka dan mengajaknya berbicara. Ia terlihat seperti membujuk robot naga itu. 


“Luar biasa! Bahkan ia bisa dibujuk. Ia benar-benar terlihat hidup,” kata Jonathan yang masih mengagumi Padioha. Kemudian ia melihat ke arah G:0. “Kau bisa mendengar apa yang mereka katakan?”


“Memangnya kau memberikan alat seperti itu di kostumku?”


“Tidak, maksudku, kau bisa membaca gerak bibir Patricia?”


G:0 menatap ke arah Patricia dan memperhatikan gerak bibirnya. “Emm, kau tahu? Pria berkacamata itu terlihat bodoh dan mesum. Ia akan mati karena dua hal itu, jadi kau tak perlu membunuhnya.”


Clara dan Rosalia tertawa mendengar perkataan G:0. Sementara itu Jonathan kesal karena sedang dikerjai. Ia pun pura-pura tersenyum dan menunjuk-nunjuk G:0. “Kau sudah semakin kurang ajar padaku, ya. Baru beberapa bulan yang lalu kau bilang aku adalah pria yang paling kau hormati setelah gurumu. Memang, berpacaran dengan bos begal membuat sopan santunmu rusak.”


Rosalia hendak menghajarnya, namun urung dilakukan ketika ia melihat Jonathan melepaskan Cameron untuk mendekati Patricia dan robot naga itu. Setelah Cameron sampai di tujuannya, Jonathan dan yang lainnya bisa mendengar percakapan mereka.


[Ingat kata para petinggi Kraken, prioritas utama kita adalah pusaka itu. Aku membutuhkannya untuk mengembalikan ingatanku yang pernah dihilangkannya karena di dalam ingatan itu ada lokasi di mana aku menyimpan pusaka itu. Kau harus bersabar. Jika aku telah mendapatkan ingatan itu, ia akan menjadi milikmu.]


Ucapan Patricia itu sangat mengejutkan bagi mereka.