G:0

G:0
SANG PENDONGENG



Berita di media beberapa hari ini diisi dengan kabar tentang ditemukannya sosok putri duyung di danau buatan Romansa. Meski tak seheboh kasus penculikan ‘alien’ lalu yang banyak dibumbui dengan cerita berbau mistis sampai konspirasi elit global, masyarakat tertarik dengan kasus kejahatan yang terinspirasi oleh salah satu tokoh dongeng terkenal itu.


Seperti pihak kepolisian, skuad G:0 sangat antusias menyelidiki kasus ini. Terlebih lagi mereka berhasil menggagalkan dua percobaan pembunuhan, bahkan sempat melihat sosok pelakunya, meski tersamarkan oleh kostum jubahnya. 


Sementara itu Grafit sedang serius membaca buku cerita yang berjudul Little Mermaid karena penasaran dengan tokoh yang disebut putri duyung itu. Karena kejadian kemarin, gambarannya tentang karakter tersebut menjadi seram dan Clara ingin memperbaikinya dengan menyuruh Grafit membaca buku itu. Sebagai penggemar Putri Duyung, Clara tak akan membiarkan siapa pun berpikir wanita setengah manusia dan setengah ikan itu adalah sosok yang menyeramkan.


"Pertanyaannya adalah: kenapa Putri Duyung?" tanya Clara ketika berdiskusi dengan Jonathan. "Lalu, kenapa korban sebelumnya diikat di sulur tanaman kacang? Aku yakin ini berpola, tapi kelihatan sangat random."


"Kesamaannya hanyalah kedua korban tidak mau memberikan sedikit saja petunjuk tentang pelaku. Aku yakin mereka mengenal siapa pelakunya," timpal Jonathan. 


Ketika mereka sedang sibuk berdiskusi, Grafit tidak sengaja menemukan salah satu buku yang judulnya menarik perhatian. 


“Jack dan pohon kacang. Ini novel tentang apa, Non? Kenapa di sampulnya ada gambar pohon yang menjulang sampai langit? Memangnya pohon kacang setinggi itu?” tanya Grafit sambil menunjukkan buku itu pada Clara. 


Pertanyaan itu seakan memberi Clara pencerahan. Ia berdiri dari kursinya dengan wajah berbinar. Jonathan sempat bingung melihatnya, namun akhirnya senang karena tahu wajah itu adalah wajahnya ketika sudah memecahkan sebuah teka-teki. 


“Kau bilang korban pertama adalah pegawai dinas perpajakan yang terindikasi korupsi, kan? Bagaimana dengan korban kedua?”


“Amanda Puspa Sari, mantan pramugari yang merupakan istri simpanan seorang pengusaha tambang kaya raya dan anak pejabat di salah satu daerah.”


“Sesuai dugaanku.” Clara segera mengambil dua dari tumpukan buku yang ada di hadapan Grafit. Little Mermaid dan Jack dan Pohon Kacang. “Korban didandani sebagai tokoh dongeng sesuai dengan perbuatan mereka di dunia nyata.”


Jonathan masih berpikir. Sesuai dengan ide dari Clara, ia menyambungkan dongeng yang dimaksud Clara dengan profil para korban. 


“Berarti maksud dari sulur di kasus sebelumnya adalah untuk mengidentikkan korban dengan Jack di cerita Jack dan Pohon Kacang? Lalu, apa hubungan antara Jack dengan korban yang bernama Wilson itu? Demikian juga Putri Duyung dengan Amanda.”


“Kau pernah membaca cerita Jack dan Pohon Kacang? Meski ia berperan sebagai protagonis yang membunuh raksasa, pada dasarnya Jack adalah penjahatnya. Memang, raksasa itu kejam dan suka memakan manusia. Tapi sebelumnya ia tinggal di negeri awan dan tidak pernah mengusik manusia, termasuk Jack. Namun yang dilakukan Jack adalah menyusup ke istananya dan mencuri barang-barang berharga milik sang raksasa.”


“Ah, aku tahu. Itu adalah gambaran Wilson yang suka menyelewengkan pajak dari orang-orang kaya,” tebak Jonathan yang mendapatkan jempol dan senyum manis dari Clara. "Lalu, bagaimana dengan Amanda?”


“Kau tahu kejahatan apa yang telah dilakukan Putri Duyung? Merebut tunangan orang. Ya, meski ia adalah orang yang menyelamatkan si Pangeran dan Pangeran bertunangan dengan wanita lain karena mengira wanita itu yang menyelamatkannya, tetap saja Putri Duyung bisa dicap sebagai pelakor. Status yang juga disandang oleh Amanda.”


Jonathan tertawa seakan puas karena mereka berhasil membaca pola kejahatan si sosok berjubah. 


“Jadi si sosok berjubah itu sedang ingin menghukum korban menurut karakter yang sesuai dengan yang ada di dongeng.”


“Sebelum para korban berani membuka mulut, kita hanya bisa mengandalkan kamera pengawas kita untuk menemukannya.”


*          *         *


Jonathan telah membuat beberapa kamera dan monitor tambahan sesuai perintah Clara agak pencarian sosok berjubah itu bisa lebih maksimal. Kali ini Clara tidak mengeluarkan uangnya. Ia menggunakan uang penghasilan Grafit sebagai model. 


“Ibuku sedang memblokir kartu kreditku karena baru beberapa minggu yang lalu aku meminta banyak uang untuk mengganti kamera kita yang lama. Ia curiga aku menggunakan uang itu untuk diberikan pada mantan suaminya. Papaku.”


Jonathan dan Grafit tertawa ketika mereka diingatkan oleh chef Barney, yang suaranya sangat lucu ketika menjadi juri di acara lomba memasak. Awalnya Clara merasa terganggu karena mereka selalu tertawa mengejek setiap kali papanya dibahas. Tapi sekarang ia sudah terbiasa.


Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan oleh berita di televisi tentang ditemukannya seseorang yang diduga korban ketiga dari sosok berjubah itu di salah satu gudang kayu. Clara, Jonathan dan Grafit mendekati televisi dan merasa takjub dengan dandanan korban kali ini.


“Pinokio,” celetuk Grafit.


Benar, seluruh tubuh korban diberi cat coklat dengan dihiasi beberapa guratan seperti kulit kayu. Ia mengenakan pakaian anak-anak Eropa di abad pertengahan lengkap dengan topi yang berbunga, mirip dengan kostum yang sering dikenakan oleh tokoh dongeng bernama Pinokio. Menjadi semakin jelas karena hidungnya yang panjang.


“Tunggu, sepertinya aku mengenal pria itu. Siapa, ya?”


Mereka saling pandang dengan wajah terkejut. Beberapa detik kemudian, mereka sama-sama meneriakkan satu nama, “Pak Presiden!”


Tak salah lagi, itu adalah Tarjo si Pak Presiden. Dia adalah penipu ulung dan skuad G:0 baru-baru ini menjadi korbannya. Mereka masih tidak percaya sosok itu kini menjadi pesakitan dengan tubuh tak berdaya dan bersiap untuk dimasukkan ke dalam mobil ambulance.


Jika berbicara tentang orang yang layak mendapat gelar Pinokio, memang tidak heran jika nama Tarjo menjadi kandidat terbaik untuk itu. Tapi Tarjo bukanlah orang yang mudah untuk ditangkap. Bahkan ia mampu membaur ke dalam organisasi Kraken tanpa mengalami kesulitan, seperti yang pernah diceritakan oleh Patricia. Maka wajar skuad G:0 bertanya-tanya bagaimana pria itu bisa tertangkap, bahkan sampai disiksa sekeji itu


“Dia adalah Sang Pendongeng! Dia adalah Sang Pendongeng! Tolong lindungi aku! Tolong lindungi aku! Sanpaikan pada G:0 kalau aku dalam bahaya! Sampaikan padanya! G:0, lindungi aku! Lindungi aku!”


Ia berteriak-teriak sebelum strecher yang mengangkut tubuhnya dimasukkan ke dalam ambulance. Kemudian mobil itu pergi meninggalkan TKP. Clara, Jonathan dan Grafit tak lagi mendengar narasi dari reporter berita itu. Pikiran mereka masing mengawang-awang.


“Sang Pendongeng? Baru kali ini ada korban yang memberikan identitas sosok berjubah itu,” kata Jonathan.


“Tentu saja. Dia adalah Tarjo. Meski nyawanya sedang terancam, dia pasti memiliki sebuah rencana,” timpal Clara. “Dan dari caranya meminta pertolongan G:0 di depan publik, aku merasa ia ingin mempertemukan G:0 pada Sang Pendongeng.”


Clara, Jonathan dan Grafit kembali saling pandang. Mereka seakan sedang meyakinkan satu sama lain bahwa sebentar lagi mereka akan berhadapan dengan sosok berjubah itu dan mereka tahu ia bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh.