
Clara baru saja selesai menceritakan tentang proyek Candy Boy yang ia dapatkan dari Yosia pada Kapten Rian. Hanya saja ia modifikasi sedikit agar Kapten Rian percaya kalau informasi itu berasal dari G:0. Pria itu sudah tahu kedekatan antara dirinya dengan sang pahlawan super itu. Jadi, ia takkan curiga jika mengatakan G:0 yang memintanya untuk menyampaikan informasi tersebut pada kepolisian.
“Akhirnya G:0 mengakui kalau ia membutuhkan polisi,” kata Kapten Rian sambil tertawa.
“Serius? Dari tadi aku bercerita tentang penjahat yang berencana meracuni seisi kota, kau hanya fokus tentang itu?” Clara menatapnya dengan kesal.
“Maaf.” Pria itu berhenti tertawa dan memasang wajah serius. “Baiklah, akan kami lakukan penyelidikan terkait orang yang bernama Candy Boy dan proyeknya itu. Percayalah, kami akan melakukan yang terbaik agar proyek itu bisa dicegah.”
“Baguslah kalau begitu. Tugasku sudah selesai, jadi aku pamit.”
Clara membalikkan badannya dan bersiap untuk pergi. Namun langkah terhenti ketika Kapten Rian menggenggam tangannya. “Apakah hubunganmu dengan G:0 serius?”
Pertanyaan itu membuat Clara menaikkan alisnya karena bingung. “Memangnya hubungan kami seperti apa?”
“Bukankah kalian memiliki hubungan romantis atau semacamnya?”
Clara tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini ia mendengar sebuah kemungkinan kalau ia berpacaran dengan G:0 alias Grafit. Baginya, itu adalah pemikiran yang paling kocak.
“Tidak, aku tidak punya hubungan seperti itu padanya. Kami berhubungan karena ia sering menyelamatkanku. Bahkan aku tak tahu wajah di balik topengnya.”
“Syukurlah. Wajar aku berpikir seperti itu. Kau pernah bilang sedang menyukai seseorang yang berada di atas levelku. Kupikir yang kau maksud adalah G:0. Apalagi saat kejadian robot raksasa itu, kau memeluknya dengan hangat, seperti pada seseorang yang sangat kau cintai.”
Kata-kata terakhir Kapten Rian menyentak hatinya. Benarkah terlihat seperti itu? Beberapa detik kemudian, ia menggeleng kepalanya untuk menyingkirkan pikiran-pikiran aneh.
“Itu tidak benar.”
“Kalau begitu, aku bisa mengajakmu berkencan?”
“Hei, aku benar-benar serius sedang menyukai seseorang. Jadi, jangan coba-coba mengajakku berkencan lagi karena pasti akan kutolak.”
“Aku tak pernah memaksamu untuk menyukaiku. Tapi aku akan terus mengajakmu berkencan setiap kali ada kesempatan karena aku tidak tahu kapan kau berhenti menyukainya dan mulai membuka diri untukku.”
Clara hanya bisa menggeleng kepalanya. Meski Jonathan juga sering melakukan hal seperti itu padanya, ia masih saja belum bisa menahan dirinya dari kekesalan.
* * *
Kapten Rian menatap papan investigasi dengan serius. Ia melihat berbagai foto dan tulisan yang melekat di sana. Sudah dua hari ia lembur untuk menyelidiki proyek yang dikatakan Clara, tapi hasilnya masih nihil. Seakan proyek itu tak pernah ada.
Kemajuan yang ia dapat hanya identitas Candy Boy. Nama aslinya adalah Candra Septiadi. Ia memiliki catatan kriminal yang cukup panjang. Prestasi itu ia ukir sejak masih remaja. Catatan itu terhenti ketika ia sudah mulai dewasa. Tentu saja bukan karena bertobat, tapi karena ia sudah semakin lihai.
Pada masa Black Samurai berkuasa, bisnis obat-obatan terlarangnya berada di bawah bayang-bayang Il Dio yang memiliki jenis usaha serupa, namun lebih stabil karena statusnya sebagai salah satu orang kepercayaan Kichigai. Bahkan gelar Candy Boy ia dapatkan dari Il Dio sebagai bentuk ejekan..
Setelah dinasti Black Samurai runtuh dan Il Dio dipenjara, bisnisnya berkembang sangat cepat. Sayangnya, kehadiran Kapten Rian yang sangat ketat dengan peredaran narkoba kembali menyurutkan penghasilannya. Puncaknya adalah ketika pihak kepolisian berhasil menggerebek salah satu pabrik terbesarnya sehingga membuatnya mengalami kerugian yang cukup besar.
Maka dari itu, tidak seperti biasanya di mana ia akan bersikap skeptis terhadap suatu hal sebelum melihat buktinya, Kapten Rian langsung percaya kalau proyek itu benar-benar ada ketika Clara mengatakannya. Menurutnya, ada dua tujuan yang ingin dicapai Candy Boy dari proyek itu. Pertama, tentu saja untuk balas dendam padanya. Kedua, untuk membuat produk yang mau tak mau harus dibeli oleh orang banyak.
Ponselnya berdering. Ia melihat ada nama Clara. Awalnya ia merasa bahagia karena nama itu, tapi beberapa detik kemudian ia ragu untuk mengangkatnya. Wanita itu pasti ingin menanyakan perkembangan kasus itu dan ia belum mendapatkan sesuatu yang penting.
[Hei, bagaimana? Sudah menemukan detail proyek itu? Racun jenis apa yang akan disebar oleh Candy Boy? Bagaimana cara penyebarannya? Melalui persediaan air? Atau diledakkan di atas tower? Atau mungkin disuntikkan kepada seseorang lalu orang itu menularkannya ke yang lain?]
“Kami sudah memeriksa setiap persediaan air, tower, gedung tinggi serta beberapa rumah sakit di kota ini. Tidak ada yang mengindikasikan penyebaran zat aneh dan berbahaya. Hanya itu yang bisa kusampaikan karena aku tidak bisa memberitahukan hasil penyelidikan kami pada orang luar.”
[Kalau begitu, perhatikan saja gerak-gerik Candy Boy dan anak buahnya. Jika mereka tidak berniat untuk bunuh diri, tentu mereka sudah mereka sudah mempersiapkan diri untuk tidak ikut keracunan. Mungkin dari sana kalian bisa menemukan cara mereka menyebarkan racun itu atau setidaknya kalian bisa menemukan penawarnya.]
Ketika mendengar ide Clara itu, Kapten Rian langsung menghidupkan televisi dan memutar video yang direkam anak buahnya saat memata-matai gedung yang dicurigai menjadi sarang Candy Boy. Saat itu ia menyadari ada sesuatu yang aneh. Semua anak buah Candy Boy selalu memakai masker ketika hendak berkendara. Senyum di wajah Kapten Rian mulai mengembang.
* * *
Ada alasan Clara mendorong Kapten Rian untuk menemukan jenis dan cara penyebaran racun itu. Ia ingin pria itu memiliki kesibukan lain sehingga skuad G:0 bisa menangkap Candy Boy tanpa gangguan polisi. Menurut pantauan Cameron, kemarin Candy Boy masuk ke sebuah rumah mewah dan sampai sekarang belum keluar. G:0 menunggu kemunculan penjahat itu sebelum meringkusnya.
“Hei, sepertinya sejak berbicara dengan Yosia, kau selalu terlihat murung, Pasti sangat berat mengetahui seseorang yang kita sayangi telah berubah drastis.”
“Sebagai informasi, aku tak pernah menyayanginya. Memang aku terkejut dengan perubahannya, tapi bisa melupakannya dengan cepat. Aku hanya -”
Clara melihat lagi wajah murung rekannya itu. Kemudian ia menepuk pundaknya. “Hanya apa?”
“Aku hanya berpikir, seandainya saat itu aku benar-benar melihat seniorku yang memiliki pena itu, mungkin sekarang aku yang berada di posisi Yosia. Untung saja saat itu ia sedang ke toilet dan salah satu teman cowoknya menduduki kursinya.”
“Itu artinya sejak awal kau memang tidak ditakdirkan untuk menjadi orang seperti Yosia,” kata Clara yang membuat Jonathan tertegun. “Dan seandainya kau melihat senior pemilik pena itu dan berpacaran dengannya, aku yakin kau takkan menjadi seperti Yosia. Kau punya penyakit asma. Menghisap asap rokok saja kau takut, apalagi narkoba.”
Jonathan tertawa kecil dan Clara mengikutinya. Perasaannya saat ini sedikit lega.
[Mereka keluar.]
Clara dan Jonathan langsung melihat ke arah monitor. Candy Boy baru keluar dari markasnya. Ia mengenakan topi, jas, celana dan masker dengan motif sama, yaitu polkadot dengan warna dasar putih. Di tangan kanannya tergenggam sebuah tongkat untuk membantunya berjalan. Sampai mobil itu bergerak pergi hingga hanya meninggalkan asap hitam dari knalpotnya, G:0 hanya diam dan tak mengikutinya.
“Kenapa diam saja? Cepat ikuti mereka!” teriak Clara.
[Tidak, dia bukan Candy Boy.]