G:0

G:0
GURU YANG BAIK BAGI MURID-MURIDNYA



Sudah seminggu sejak petualangan skuad G:0 ke Feliopolis. Pengalaman di sana sangat berkesan bagi mereka, meski Grafit semakin penasaran karena di sana ia harus mengalami kekalahan dari pimpinan Dancing Shadow yang tidak menggunakan Ungravity sama sekali.


“Setidaknya kau berhasil mengalahkan banyak anak buahnya. Mereka selevel dengan Dancing Shadow yang kau hadapi di sini,” hibur Jonathan yang mulai kembali jenuh dengan rutinitas mereka. “Tapi aku jadi ingin benar-benar pergi liburan. Yang kita lakukan minggu lalu itu bukanlah liburan. Aku bahkan harus pingsan beberapa jam di sana.”


Mereka menatap ke arah Clara seakan berharap ada keputusan yang menyenangkan hati mereka dari mulut wanita itu. Tapi Clara hanya memasang wajah cemberut sambil memandang ponselnya. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius. 


“Ada masalah?” tanya Jonathan. Ia mengulang pertanyaannya dua kali dengan nada yang lebih tinggi karena Clara tidak mendengarnya.


“Sedikit,” jawab Clara yang memaksa tersenyum. “Pak Dodo memintaku mengajar lagi.”


“Kepala sekolah sialan itu? Kenapa? Apakah dia sudah tahu kalau kau adalah anak pemilik yayasan tempatnya mencari nafkah?”


“Bukan, tapi permintaan murid-muridku yang diteruskan oleh orang tua mereka.”


Jonathan sadar kalau ia harus menahan candaannya ketika melihat mata Clara yang berkaca-kaca. Mata itu seakan sedang menceritakan sesuatu yang sangat baik. Clara takkan pernah memiliki mata seperti itu kalau bukan karena sesuatu yang menyentuh hatinya yang keras itu. Sesuatu yang membuatnya terharu.


“Bukankah itu bagus? Artinya kau berhasil menjadi seorang guru,” kata Jonathan sambil menepuk pundaknya tanda ikut senang.


Dan akhirnya wanita itu tak dapat menahan air matanya. Sebelum Grafit bertanya, Jonathan menjelaskan jika itu adalah air mata bahagia dan kata tanya ‘kenapa malah menangis?’ akan merusak suasana. Grafit pun mengangguk tanda mengerti.


“Padahal selama ini aku berpikir mereka membenciku. Dari semua guru di sana, akulah yang paling galak dan suka marah.”


Jonathan tersenyum. Ia mengelus punggung Clara untuk membantunya mengendalikan emosi yang melimpah ruah itu. “Dulu guru yang paling kutakuti adalah bu Ani, guruku di kelas satu SD. Mungkin kau mengenalnya juga. Setiap pagi aku enggan pergi ke sekolah karena membayangkan akan bertemu dengan beliau. Suatu hari bu Ani sakit dan digantikan dengan guru lain. Guru itu baik dan sabar. Ia tidak marah walau teman-temanku berbuat nakal. Saat itu aku merindukan bu Ani. Aku sadar kegalakannya itu justru membuat kelas lebih tertib dan kami bisa bersikap lebih baik. Aku juga sadar, bu Ani hanya marah ketika kami berbuat salah dan itu adalah bentuk ketulusan serta kasih sayangnya pada kami. Lagipula, cara dia mengajar jauh lebih mudah dimengerti dibandingkan dengan guru pengganti itu. Kau adalah ‘bu Ani’ bagi murid-muridmu.”


Clara mengangguk. Akhirnya ia sadar kalau selama ini ia menyayangi murid-muridnya dan mereka merasakan hal itu. Ia pun tersenyum sambil mengenang wajah para muridnya satu per satu. Tak mungkin ia menolak tawaran untuk kembali mengajar.


Tiba-tiba wajahnya berubah dan menatap Jonathan seperti hendak menerkamnya. “Kau pikir aku tidak sadar kalau tanganmu mulai bergerak turun? Sejengkal lagi kau turunkan tanganmu, aku akan mematahkannya.”


Jonathan langsung menarik tangannya dari punggung Clara dan pergi dengan wajah ketakutan.


*          *         *


Clara melangkah ke dalam pekarangan sekolah dengan perasaan senang. Sudah lebih dari sebulan ia tidak menginjak tempat itu. Matanya langsung menjelajah sambil membandingkan keadaan sekitarnya dengan yang terakhir ia lihat. Tidak banyak perubahan dan menurutnya itu bagus.


Tapi suasana yang paling dirindukan Clara adalah ketika pertama kali masuk ke kelasnya. Menurut miss Nia, penggantinya selama ia keluar, kelas itu berubah menjadi kacau dan banyak guru yang tak sanggup mengatasinya.


“Miss Clara!”


Salah seorang murid berpipi tembem bernama Chris berteriak sambil menunjuk Clara yang sudah berdiri di ambang pintu. Teriakannya mengundang murid yang lain untuk melihat ke arahnya menunjuk dan ikut berteriak lalu berlari memeluk Clara. Untuk pertama kali sejak dipecat pak Dodo, ia tertawa begitu lepas..


Di tengah kebahagiaannya, ia melihat ke sekitar. Matanya mencari seorang siswa yang bernama Jocelyn. Sebelumnya, anak perempuan itu adalah murid yang paling sulit Clara tangani. Mereka kerap kali berdebat. Clara memarahinya karena berbuat salah, sedangkan Jocelyn selalu merasa benar dan selalu memberikan pembelaan diri.


Anak perempuan itu duduk di sudut dengan wajah cemberut, seakan ingin menunjukkan ketidaksukaannya atas kehadiran Clara. Tapi Clara malah melambaikan tangan padanya sambil tersenyum.


Menurut cerita salah satu guru, anak itu yang paling sering mencari Clara. Ia juga pernah berkata pada ibunya kalau Clara keluar karena kenakalannya. Ibunyalah yang pertama kali mencetuskan tuntutan untuk membawa Clara kembali ke sekolah itu dan ternyata diikuti oleh orang tua murid lainnya. Tak bisa disangkal, meski Clara adalah guru paling galak, kelasnya adalah yang paling tertib, murid-muridnya yang paling pintar, jarang terdengar kasus anak terluka serta tidak pernah mendapat protes dari orang tua murid.


Aku akan menjadi guru yang baik bagi murid-muridku, janji Clara dalam hatinya.


*          *         *


Bel tanda jam pelajaran berakhir sudah berbunyi. Para siswa bersorak gembira menyambutnya. Para orang tua sudah berdiri di depan gerbang menunggu anak mereka. Setelah berdoa dan mengucapkan salam, seluruh anak berbaris. Guru piket yang berdiri di gerbang memanggil anak yang orang tuanya telah menunggu satu per satu melalui pengeras suara.


Dari kelas Clara, Jocelyn adalah murid terakhir yang dijemput. Memang, orang tuanya datang terlambat jika kios ponsel mereka sedang ramai saat itu. Clara sangat senang karena sejak teman terakhirnya dijemput, ia tidak melepaskan genggaman tangannya pada Clara.


“Jocelyn tidak kangen dengan miss, ya? Kok dari tadi wajahnya cemberut saja?” tanya Clara memancing percakapan dengan Jocelyn. Anak perempuan itu diam dan hanya memegang rambutnya yang  dikuncir dua sehingga terlihat semakin imut. “Atau besok miss tidak usah datang lagi, ya?”


“Jangan. Miss tidak boleh tidak datang besok,” katanya mendadak terkejut dengan ucapan Clara yang terakhir. Clara tak dapat menahan senyumnya melihat keimutan itu.


Beberapa saat kemudian, ibunya datang. Jocelyn segera berlari ke arah ibunya dan langsung memeluk. Clara menghampiri wanita berbadan kurus tinggi itu dan menceritakan sedikit aktivitas yang dilakukan Jocelyn sepanjang hari. Tidak lupa ia berterima kasih atas dukungan ibu Jocelyn agar ia kembali ke sekolah ini.


Clara masih melihat Jocelyn yang langsung bercerita banyak pada ibunya saat mereka menuju mobil. Perasaan senangnya masih belum hilang. Ia bersyukur memutuskan untuk kembali ke pekerjaan ini. Meski demikian, ia merasa malu sendiri karena  berulang kali berkata pada ibunya dengan lantang kalau ia tidak suka menjadi guru TK.


Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan. Clara segera memalingkan wajahnya. Ia melihat seorang pria bertopeng sedang menarik Jocelyn dari genggaman ibunya. Clara segera berlari untuk menyelamatkan muridnya tersebut. Namun sayang, penculik itu sudah berhasil merebut Jocelyn dan segera berlari ke sebuah mobil van berwarna hitam.


Ibu Jocelyn yang terjatuh menangis sembari berteriak minta tolong dengan suara keras. Sementara Clara hanya bisa mematung karena murid yang sangat ia sayangi diculik di depan matanya.