G:0

G:0
PENJARA HERIOTZA



Media sedang dihebohkan dengan berita tentang hilangnya polisi nyentrik yang selalu menarik perhatian publik, Kapten Rian. Menurut kantor tempatnya bertugas, sudah seminggu lebih ia absen tanpa kabar. Reality Show tentang kehidupan polisi yang ia bintangi dan tayang setiap hari Rabu harus libur karenanya, membuat masyarakat kota Dragokarta semakin merasakan kehilangan akan sosoknya. Beberapa fansnya malah secara terang-terangan meminta G:0 untuk menyelamatkan polisi kesayangan mereka itu.


Skuad G:0 memang sedang sibuk memikirkan cara untuk menyelamatkan Kapten Rian. Tapi itu bukan karena permintaan fans-fansnya, melainkan karena janji yang kepalang mereka buat kepada Persekutuan Sembrani. Karena janji itu, mereka tidak dilibatkan di Misi Perseus secara langsung.


“Setidaknya kita terlibat secara tidak langsung,” kata Clara yang lelah mendengar gerutuan Jonathan.


“Bagaimana bisa? Jika G:0 dan Bad Girl tidak ikut dalam misi itu, itu artinya kita tidak terlibat. Tidak ada istilah terlibat secara langsung atau tidak langsung.”


“Biar bagaimana pun, Kapten Rian adalah otak misi itu. Meski anggota Persekutuan Sembrani bisa menjalankan misi itu tanpanya, situasinya akan berbeda jika ia ada di dalam misi itu. Lagipula, jika kita berhasil menemukan Kapten Rian lebih cepat, kita bisa bergabung dalam misi itu,” hibur Clara.


“Ini semua karena si polisi bodoh itu. Seandainya mulut arogannya itu tidak membocorkan identitasnya di depan Siren, kita tidak perlu kerepotan seperti ini.”


“Sudah, berhenti mengeluh. Sekarang ceritakan tentang penjara Heriotza.”


Jonathan menghela napasnya dengan wajah masih kesal. Kemudian ia mengeluarkan tablet dan mengetik sesuatu.


“Penjara Heriotza adalah penjara ilegal karena dibangun oleh warga sipil, bukan pemerintah. Sangat sedikit informasi tentang penjara ini. Konon lokasinya dirahasiakan dan tidak ada tawanan yang pernah lolos dari penjara Heriotza sehingga tidak ada yang pernah bercerita secara detail tentangnya. Bahkan karena kurangnya bukti tentang keberadaannya, penjara Heriotza dianggap sebagai mitos,” kata Jonathan sesuai dengan hasil pencarian yang ia lakukan beberapa jam belakangan.


“Hanya ada satu informasi yang penting tentang tempat itu,” kata Clara. “Namanya.”


Jonathan, Grafit dan Rosalia tidak mengerti dengan maksud perkataan Clara. “Tentu saja. Tapi apa yang bisa kita dapatkan hanya dari nama saja?”


“Rumor tentang penjara Heriotza baru beredar beberapa tahun belakangan. Artinya, orang yang pertama kali menyebarkan nama tempat itu ke publik kemungkinan masih hidup. Jonathan, mungkin kau bisa mencari artikel pertama yang membahas tentang penjara Heriotza.”


Wajah Jonathan, Grafit dan Rosalia yang tadi bingung kini berubah menjadi cerah. Apa yang dikatakan Clara sangat masuk akal. Untuk kesekian kalinya, mereka mengakui kecerdasan Clara di saat-saat seperti ini.


“Artikel khusus tentang penjara Heriotza pertama kali ditulis oleh seorang jurnalis dari majalah Detak. Tapi isinya terkesan dilebih-lebihkan karena terlalu imajinatif. Misalnya, lorong yang penuh jebakan dan jika kaki kita menginjak salah satu jebakan itu, belasan anak panah akan keluar dari dinding dan menyerang kita.”


“Mirip dengan salah satu adegan di film Indiana Jones,” timpal Rosalia.


“Tapi ada satu artikel yang lebih dulu  menyebut penjara Heriotza, meski tanpa menjelaskannya secara detail. Ini adalah artikel tentang sisi gelap organisasi Kraken. Ditulis di majalah Selubung oleh seorang jurnalis bernama Syamsuddin Mulya. Dia dikenal sebagai jurnalis yang anti terhadap Kraken. Tulisan-tulisannya selalu menyudutkan Kraken dan mengekspos kejahatan-kejahatan yang dilakukan organisasi itu. Konon sudah beberapa kali ia hendak dibunuh, tetapi selalu diselamatkan oleh Fantome, pahlawan super di kota tempatnya tinggal. Sepertinya ia bisa membantu kita memberikan informasi tentang penjara Heriotza.”


“Ya sudah, tunggu apa lagi? Kita ke tempatnya,” ajak Clara.


*          *         *


Seorang pria paruh baya membawa gembor hijau dan mendekati tanaman-tanaman di halaman rumahnya. Sambil menyenandungkan sebuah lagu melalui siulannya, ia menyiram tanaman-tanaman itu. Terlihat wajahnya sangat menikmati momen seperti itu, meski ia melakukannya hampir setiap pagi.


Perhatiannya teralihkan oleh sebuah mobil yang berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Dua orang pemuda turun dari mobil itu lalu melemparkan senyuman padanya. Clara dan Jonathan akhirnya menemukan alamat rumah Syamsuddin Mulya, salah satu jurnalis legendaris yang berasal dari kota Groaza. Mereka sengaja meninggalkan Grafit dan Rosalia karena mereka berpikir jika banyak orang yang datang akan mengurangi kenyamanan sang jurnalis.


“Selamat pagi, Pak. Dengan Bapak Syamsuddin Mulya?”


Clara dan Jonathan mengikuti langkah pria paruh baya itu dan perjalanan mereka berakhir di kursi kayu model antik yang ada di teras. Dari tempat itu mereka bisa menikmati asrinya pekarangan rumah pak Mul yang dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan hijau yang ditata sangat rapi.


“Ada perlu apa, ya?”


Clara mengatur napasnya sambil melihat ke arah Jonathan. Ia tahu, topik yang ingin dibahasnya ini cukup sensitif dan besar kemungkinan pak Mul akan menolak untuk membicarakannya. Untuk itu, ia harus menggunakan kata dan sikap yang benar. Mereka sangat membutuhkan setiap informasi yang diketahui oleh mantan jurnalis itu.


“Tentang penjara Heriotza. Apakah Bapak punya informasi tentang tempat itu?”


Pak Mul terkejut ketika mendengar nama itu. Kemudian senyum perlahan mengembang di bibirnya. Ia tahu, orang-orang Kraken tidak mungkin melemparkan pertanyaan itu padanya. Karenanya ia tahu kalau kedua tamunya tersebut bukanlah anggota organisasi kejahatan itu.


“Tidak ada yang spesial dari penjara itu. Hanya sebuah tempat yang berada di sebuah pulau kecil yang dikelilingi oleh samudera. Penjagaannya cukup ketat, tapi tidak terlalu menyeramkan. Tidak ada jebakan-jebakan aneh atau tentara berkekuatan super yang menjaganya. Hanya denahnya saja yang membingungkan, seperti sebuah labirin. Semakin kau berjuang keluar, semakin kau tersesat. Tapi bukan itu yang membuatnya mengerikan.” Pak Mul berhenti berbicara untuk menyalakan rokoknya. Setelah rokok itu menyala dan mendapatkan satu tarikan darinya, Pak Mul melanjutkan ceritanya. “Orang-orang yang masuk ke dalam penjara itu takkan pernah kembali lagi ke rumahnya.”


Wajah Clara dan Jonathan memucat ketika mendengar perkataan itu. Ternyata apa yang diucapkan oleh para anggota Persekutuan Sembrani itu benar. Mereka pun mulai membayangkan kemungkinan kondisi Kapten Rian dan mulai kasihan pada pria itu.


“Dari mana Bapak mendengar cerita tentang penjara itu? Apakah Bapak tahu lokasi pastinya?”


“Kalian pasti tidak menyangka siapa yang memberitahukanku tentang penjara itu.” Pria itu kembali menghisap rokoknya seakan sengaja membuat Clara dan Jonathan penasaran. “Kapten Rian. Orang yang diberitakan hilang beberapa waktu yang lalu.”


Clara dan Jonathan benar-benar terkejut mendengar jawaban itu. Mereka tidak menyangka Kapten Rian mengetahui banyak tentang Kraken. Mereka pun kembali ingat dengan ucapan para pahlawan tentang ayah Kapten Rian. Jika benar ia adalah anak dari mantan pemimpin Kraken, memang masuk akal jika ia juga tahu tentang penjara rahasia itu.


Pak Mul berdiri dan melangkah masuk. Clara dan Jonathan bingung dengan maksud tindakan pria itu. Apakah ia hendak melakukan sesuatu di dalam atau hanya sebuah cara halus untuk mengusir mereka? Clara dan Jonathan berbisik dan mulai mendiskusikan untuk pergi dari tempat itu.


“Pak, kami permisi pulang du-” 


Ucapan pamit Clara itu terhenti ketika ia melihat Pak Mul sudah kembali dan kini berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah kotak kaleng. 


“Mau pulang? Apakah kalian sudah mendapat cukup informasi? Padahal saya punya peta lokasinya.”


Clara dan Jonathan kembali duduk dan menunggu pak Mul juga duduk dengan wajah tersenyum. “Kami belum ingin pulang.”


Pak Mul membuka kotak kaleng berwarna hitam yang kini sudah berada di pangkuannya. Ia mencari sesuatu di antara tumpukan kertas yang ada di dalamnya. Kemudian ia tersenyum ketika menemukan yang ia cari. Tangannya menarik secarik kertas dan memberikannya pada Clara.


“Ini adalah peta dan blue print penjara Heriotza yang diberikan oleh pria bernama Rian itu. Saat memberikannya, ia berpesan untuk tidak pernah memberikannya pada orang lain kecuali jika itu bisa menyelamatkannya. Aku rasa kalian sedang ingin menyelamatkannya.”


Clara menerima peta itu. Ia membukanya dan Jonathan ikut melihat ke dalam. Seperti kata pak Mul tadi, lokasi penjara itu benar-benar berada di tengah lautan.


“Ia juga berpesan pada orang yang akan menyelamatkannya. Katanya, jika mereka menemukannya di penjara, bebaskan dia. Tapi jika mereka melihatnya di sebuah tempat terhormat sebagai seorang anggota Kraken, ia memohon agar mereka membunuhnya.”