G:0

G:0
PENA NARKOBA



Belasan tahun yang lalu


Sudah hampir sebulan Jonathan duduk di bangku SMP. Selama itu pula dia berkomunikasi dengan salah seorang seniornya. Hubungan mereka bermula ketika Jonathan menemukan sebuah pena berwarna merah dengan gambar yang girly di laci mejanya. Di tutupnya ada seutas tali yang berfungsi untuk mengalungkan alat tulis itu. Memang, pena semacam itu sedang digandrungi anak-anak remaja. Mengingat sekolahnya masih menerapkan sistem shift, yaitu kelas 1 masuk siang sedangkan kelas 2 dan 3 masuk pagi, Jonathan menebak pena itu adalah milik siswa kelas 3.


Mulanya Jonathan enggan mengembalikannya dan berniat menghadiahkannya untuk Clara akhir pekan ini, saat gadis itu datang ke rumahnya untuk belajar kelompok dengan Joice. Tapi, keesokan harinya ia menemukan secarik surat yang ditujukan padanya. Melalui surat itu, sang pemilik pena meminta Jonathan untuk mengembalikan penanya itu. Jonathan sempat menolak, tapi akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikannya. Sejak itu, mereka terus berkomunikasi melalui surat yang ditinggalkan di laci tanpa pernah bertemu atau bahkan mengetahui identitas satu sama lain.


Jonathan sangat senang jika menerima surat dari seniornya itu. Apalagi semua suratnya beraroma dan aromanya sangat menenangkan. Tak jarang konsentrasinya pada pelajaran hilang karena ia sibuk menikmati indahnya momen membaca suratnya itu.


“Kau tidak mau bertemu dengannya?” tanya Yosia, teman sebangku Jonathan yang tahu hubungan ‘jauh tapi dekat’ itu.


“Mau, tapi aku takut. Aku tidak tahu hubungan kami seperti apa. Mungkin dia tidak menganggap hubungan kami serius. Jika aku memintanya untuk bertemu, aku takut malah akan membuatnya tidak nyaman dan komunikasi kita akan berakhir.”


“Ya sudah, pancing saja.”


Jonathan tidak mengerti dengan ucapan Josia. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang dipancing, tapi ia pura-pura bertanya, “Bagaimana caranya?”


“Gampang. Kau bilang saja kau sayang padanya. Jika ia juga bilang sayang padamu, berarti ia juga ingin bertemu denganmu.”


Ide yang menurut Jonathan cukup cerdas. Ia melakukannya, tentu saja dengan diawali oleh serangkaian basa-basi. Tentu saja Yosia membantunya sampai tahap itu, apalagi dia dikenal dengan kemampuan merangkai kata yang cukup hebat untuk level anak pra remaja.


Keesokan harinya, sebuah kabar sukacita datang. Senior itu ‘memakan umpan’nya dengan mengatakan punya perasaan sayang juga pada Jonathan. Tak diragukan lagi, bahkan Yosia sampai mengesahkannya, bahwa senior itu juga ingin bertemu dengan Jonathan.


Keesokan harinya lagi, Jonathan sudah siap untuk bertemu dengan seniornya tersebut. Jeda antara jam pulang kelas pagi dan jam masuk kelas siang ada sekitar setengah jam. Artinya, ia rela datang setengah jam lebih cepat dari biasanya. 


Jantungnya berdebar kencang ketika ia akan mengintip ke jendela kelasnya. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Bagaimana jika seniornya itu tidak terlalu cantik, bahkan sangat jelek? Tidak apa-apa, cinta itu buta. Khususnya bagi anak laki-laki yang baru saja mengarungi masa-masa akil baliq. Pertanyaan yang lebih menyeramkan adalah: bagaimana jika seniornya itu menganggap ia jelek dan jauh dari ekspektasinya? 


Keinginan untuk membatalkan rencananya mulai timbul, tapi terlambat karena kini wajahnya sudah berada di depan kaca jendela, tepat di depan kursinya. Dada yang berdebar itu berubah menjadi sesak. Kepalanya mulai pusing dan rasanya ia ingin muntah.


“Cowok! Ternyata dia adalah cowok!”


*          *         *


“Apa maksudmu dengan informan?”


Clara hanya mengangkat bahunya untuk menjawab pertanyaan Jonathan itu. Pada kenyataannya, ia memang hanya mendapat informasi itu dari Kapten Rian karena selebihnya adalah rahasia internal kepolisian. Bahkan seharusnya informasi tentang Dimas Abimanyu itu tidak boleh diketahui oleh Clara. Kapten Rian harus mengatakannya karena ia tahu, Clara akan curiga karena seorang pengedar narkoba adalah keponakan dari seorang polisi dan akan mencari tahu kebenarannya sendiri. Kapten Rian berpikir Clara dekat dengan G:0 sehingga ia tidak ingin pahlawan super itu mengganggu penyelidikannya.


Meski pada akhirnya G:0 akan tetap mengganggu penyelidikannya.


“Menurut pengakuan Kapten Rian, pena itu hanya mengandung kafein yang dapat membangkitkan stamina yang menghirup aromanya. Hal itu memberi kesan yang sama dengan narkoba, meski efek sebenarnya hanya seperti meminum kopi.”


“Tidak mungkin. Lalu kenapa siswa yang di depan Grafit tadi sampai sempoyongan dan bahkan terjatuh?”


Clara tersenyum sambil menepuk pundak Jonathan. “Keanehan adalah petunjuk terbaik dalam sebuah penyelidikan. Untuk itu, mari kita cari tahu.”


Mereka berdua pun mulai meneliti kembali video rekaman di sekolah tadi. Berhubung mereka sedang sibuk, G:0 berpatroli tanpa pengawasan. Pesan Clara hanya satu: jauhi kejahatan yang terlihat berbahaya.


“Memangnya ada kejahatan yang tidak berbahaya?” gerutu Grafit sesaat setelah mendengarnya.


Ketika hampir tengah malam, penyelidikan mereka membuahkan hasil. Jonathan melihat seorang siswa yang menunjukkan gelagat yang mencurigakan, bahkan lebih mencurigakan dibandingkan dengan sikap Dimas.


“Dan sepertinya narkoba yang ia jual tidak dalam bentuk pena. Lalu, bagaimana caranya sehingga barang dagangannya tidak terdeteksi pihak sekolah?”


Mata Clara tak lepas dari gerak-gerik siswa yang dicurigai sebagai pengedar itu. Ia menemukan adegan ketika siswa itu sedang melakukan transaksi dengan siswa lain, tapi durasinya sangat singkat dan tidak terlalu jelas. Mereka hanya bersalaman dan tak terlihat adanya pertukaran uang dan barang apa pun.


[Teman-teman, bukannya ingin mengusik kesibukan kalian, tapi sepertinya kalian harus melihat apa yang kutemukan barusan.]


Panggilan dari G:0 membuat Clara dan Jonathan menghentikan aktivitas mereka sejenak dan memasang kamera yang terhubung dengan kacamata G:0. Terlihat telapak tangan G:0 sedang memegang sebuah benda seperti selembar kertas.


“Apa itu? Terlihat seperti koyo.”


[Ternyata tanpa bantuan dari markas, aku kesulitan menemukan tindak kejahatan. Jadi, aku teringat dengan perbincangan beberapa siswa di sekolah tadi tentang Sunshine Club. Daripada menganggur, aku pergi ke tempat itu.]


“Lalu?”


[Aku bertemu dengan siswa yang tadi sempoyongan. Kulihat dia menempelkan benda ini di punggung tangannya lalu melepas dan membuangnya. Setelah itu, ia berulang kali menghirup punggung tangannya itu.]


“Itu adalah narkoba!” teriak Clara dan Jonathan bersamaan. Mereka tersenyum senang karena berhasil menemukan yang mereka cari.


“Tentu saja benda itu sulit terdeteksi. Itu terlihat seperti sticky note dan banyak siswa yang memilikinya.”


“Cara menggunakannya sangat mudah dan bisa dilakukan di mana saja, kapan saja.”


“Benar-benar cerdas.”


Sementara itu, G:0 masih diam menunggu perintah sambil mendengarkan pujian yang diberikan rekan-rekannya pada narkoba itu. Karena sepertinya mereka lupa, G:0 pun berinisiatif untuk bertanya.


[Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?]


“Siswa itu hanyalah pengedar. Kita harus mencari orang yang berada di hierarki yang lebih tinggi.”


“Ganti pakaianmu ke mode Grafit dan masuk ke klub itu.”


G:0 menurut. Ia pun mengubah kostumnya menjadi pakaian kasual dan masuk ke klub itu sebagai Grafit.. Untungnya, klub itu bukanlah klub eksklusif sehingga Grafit tidak kesulitan untuk masuk ke sana. Clara dan Jonathan memperhatikan apa yang Grafit lihat di dalam sana.


Musik kencang dan lampu warna-warni yang berkedip menyambut kedatangan Grafit. Klub itu sangat ramai dengan pengunjung. Sebagian besar pengunjungnya adalah anak muda. Grafit sampai bingung harus ke mana dan berbuat apa. Ia juga kesulitan mendengar percakapan dari markas. Ia hanya mendengar perintah Clara agar dia terus menjelajahi tempat itu dan jangan berhenti terlalu lama.


“Grafit, berhenti. Coba kau memutar ke arah kiri,” kata Jonathan.


“Ada apa?” tanya Clara.


Jonathan tidak menjawab. Ia hanya mematung dengan mulut ternganga ketika tampilan di monitor terfokus pada seorang pria berpakaian necis yang sedang santai meminum minuman keras. Beberapa orang secara bergantian mendatangi dan bersalaman dengannya.


“Dia adalah pengedarnya,” seru Clara.


“Bukan hanya pengedar, dia adalah Yosia, teman sebangkuku di SMP dulu.”