
“Kita harus segera menemukan papaku.”
Jonathan terkejut karena Clara mendadak muncul dari balik pintu sambil mengucapkannya. Sementara itu Grafit mengekorinya dari belakang.
“Aku sudah meretas kamera pengawas yang ada di sekeliling lokasi acara. Memang, papamu terlihat keluar dari tempat itu dengan panik sambil membawa pisau yang berlumuran darah. Sayangnya, bagian tengah taman adalah blind spot, jadi kita belum bisa memastikan kejadian sebenarnya.”
Kata-kata Jonathan terhenti ketika ia menyadari jika sejak tiba Clara hanya mengintip keluar melalui jendelanya. Clara sadar kalau Jonathan memperhatikannya.
“Jika pria itu tidak juga tertangkap, kemungkinan polisi akan menggeledah tempat ini dan mereka akan tahu tentang markas G:0. Bahkan jika kita bisa menyangkal punya hubungan dengan G:0, kita akan mendapatkan hukuman berat karena memasang kamera tersembunyi di seluruh kota tanpa izin.”
Jonathan dan Grafit mematung. Mereka memasang wajah tak percaya dengan ucapan Clara.
“Aku tahu kau membenci papamu, tapi apakah kau sama sekali tidak mengkhawatirkannya? Mungkin dia benar-benar dijebak atau bahkan mungkin saja saat ini ia sedang dalam bahaya.”
Clara merasa malu mendengar perkataan Jonathan itu. Bahkan Grafit yang tidak pernah merasakan bagaimana memiliki orang tua juga menghakiminya dengan tatapan. Tapi memang ia tidak mengkhawatirkan pria itu. Clara sudah berhenti mengkhawatirkannya sejak terbiasa melihat perbuatan-perbuatan negatifnya.
“Baiklah, baiklah. Kita akan menyelidiki terlebih dulu apa yang sebenarnya terjadi. Coba putarkan video rekaman TKP tadi.” Jonathan menuruti perkataan Clara dan memutarkan lagi tangkapan kamera yang disembunyikannya di kancing kemeja Grafit tadi. “Katamu tidak ada yang keluar dari lokasi acara sejak seorang saksi terakhir melihat Celina. Artinya, pelaku masih ada di sana saat jasadnya ditemukan. Berdasarkan banyaknya luka yang terdapat pada jasad, minimnya tanda-tanda perlawanan dan tidak ada barang berharganya yang hilang, bisa jadi motif pelaku adalah dendam dan Celina mengenalnya. Lihat, luka pada jasad Celina sebagian besar ada di bagian kanan tubuhnya, termasuk luka tusuk. Artinya, kemungkinan besar pelakunya adalah kidal. Melihat sudut tusukannya, diperkirakan tinggi korban di atas 170 cm. Kecuali di acara itu ada wanita kurus yang bisa mengangkat beban seberat sekitar lima puluh kilo dan menggantungnya di tugu, bisa dipastikan pelakunya adalah seorang pria. Dan kalian tahu? Papaku bukan kidal dan meski ia pria, sudah dua puluh tahun terakhir ia tidak bisa mengangkat beban di atas dua puluh kilogram karena punggungnya pernah cedera karena sebuah kecelakaan.”
Jonathan dan Grafit kembali mematung dan memasang wajah tak percaya. Sekarang mereka tak percaya dengan hipotesis cepat dan cukup detail dari Clara. Mungkin jika mereka mau menunggu sebentar lagi, Clara akan menjelaskan tentang kondisi psikologi dan ciri-ciri fisik pelaku.
“Memang tidak sia-sia kau menggilai novel dan film detektf selama ini. Aku harus mengacungi jempol untuk kemampuan penalaran deduktifmu,” puji Jonathan. Clara tersenyum lebar.
“Aku tidak mengerti dengan yang kau ucapkan, tapi aku kagum dengan kemampuanmu berbicara cepat dan tetap terlihat keren,” tambah Grafit.
"Tunggu, aku belum selesai," kata Clara seakan meminta rekan-rekannya menunda pujian untuknya. "Kenapa wanita itu ditusuk? Melihat luka-lukanya yang lain, sebenarnya wanita itu akan meninggal tanpa ditusuk. Menurut novel-novel yang pernah kubaca, ada dua alasan umum. Pertama, pelaku sangat dendam dengan korban. Kedua, pelaku memang membutuhkannya untuk menutupi kejahatannya, termasuk membuat kambing hitam. Lalu jas papa. Pria itu sangat menghargai jasnya. Apapun yang terjadi, ia takkan mau melepas dan menjatuhkan jasnya ke tanah. Mungkin si pembunuh tidak menduga papa melarikan diri sebelum ada yang menemukan jasad korban. Ia pun mengambil jas papa yang dari suatu tempat dan meninggalkannya di TKP agar orang-orang, termasuk polisi, langsung mencurigainya."
Jonathan dan Grafit kembali terbengong-bengong.
“Baiklah, sekarang kita selidiki para tamu yang masih di sana sebelum papa pergi,” kata Clara yang langsung ditanggapi dengan ketikan-ketikan cepat dari Jonathan.
“Bingo! Gianluigi Romano, seorang importir tekstil dari Italia yang sering memasok bahan untuk pakaian para desainer. Kau tahu apa julukannya?”
“Jangan bilang julukannya adalah Il Capitano,” kata Clara sambil menunjuk Jonathan. Sedangkan Jonathan memberikan senyum penuh makna sambil balas menunjuk Clara.
“Seperti yang kukatakan tadi, bingo!”
* * *
Beberapa saat kemudian, sebuah kapal nelayan datang dan bersiap merapat di dermaga tersebut. Para pekerja Il Capitano memasang beberapa pasang papan yang menghubungkan kapal dengan dermaga. Kemudian satu per satu keranjang berisi ikan meluncur dari kapal yang langsung disambut para pekerja Il Capitano dari bawah dan dibawa ke suatu tempat.
“Bandar narkoba mengurus kapal ikan? Kecuali ia sudah bertobat dan beralih ke bisnis ikan, ini sangat mencurigakan,” kata Clara yang disetujui oleh Jonathan.
“Kecuali jika ia ‘memberi makan’ sesuatu yang sangat penting pada ikan-ikan itu.” Clara dan Jonathan saling bertatapan lalu Jonathan memberi perintah pada G:0. “Ambil salah satu ikan tangkapan mereka.”
Dengan cepat G:0 mendekati salah satu tempat di mana keranjang-keranjang itu disimpan. Ia mengambil satu ikan dan membelahnya. Benar saja, sebuah benda putih di dalam bungkusan kecil bersembunyi di perut ikan itu. Benda yang mirip dengan yang diberikan papa Clara pada G:0.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Jonathan pada Clara.
“Ambil foto kegiatan mereka dan ikan berisi heroin itu lalu bersiap untuk mengirimnya ke Kapten Rian. Kita masih harus menunggu petunjuk keberadaan papaku.”
Mereka menunggu sebentar lagi dan terlihat Il Capitano menjauh dari kapal setelah mengangkat telepon. Clara menyuruh Jonathan untuk mendekatkan salah satu Cameron pada pria itu agar dapat mendengar percakapan teleponnya.
“Ya, aku sudah membereskannya. Saat ini dia yang paling dicurigai dan sudah masuk ke daftar pencarian orang. Memang aku tak menduga ia bisa kabur dari tempat itu sebelum mayat Celina ditemukan, tapi ia takkan bisa bersembunyi lama. Memang aku yang membunuh Celina, tapi aku sudah menyewa seorang penghipnotis yang mensugestinya untuk menikam mayat wanita itu dalam keadaan setengah sadar. Ya, aku mengerti. Sampaikan salamku untuk Il Dio.”
“Il Dio?” Clara mengernyitkan dahinya, sementara Jonathan langsung mencari informasi tentang nama itu.
“Il Dio, salah satu mantan tangan kanan Kichigai yang tertangkap sekitar satu setengah tahun yang lalu, sebelum G:0 muncul dan melawan Black Samurai. Satu-satunya anggota organisasi itu yang menolak memakai panggilan dari Jepang dan memilih julukan dari bahasa Italia. Ia membentuk sub organisasi yang para anggotanya juga menggunakan julukan dari bahasa negara itu. Sebelumnya, ia dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin yang selalu mendapat tugas membantai orang-orang yang berusaha melawan Black Samurai.”
“Bagaimana seorang pembunuh andalan Kichigai bisa berakhir di penjara?”
Jonathan tertawa kecil tapi langsung bersikap serius saat Clara melihatnya. “Papamu tanpa sengaja merekam aksi pembunuhan yang dilakukan Il Dio saat sedang live streaming untuk kanal Youtube miliknya. Polisi segera mengusut transaksi itu dan sang pembunuh tertangkap. Sejak saat itu kanal Youtube papamu mulai diikuti banyak orang dan popularitasnya yang hampir redup kembali naik.”
“Maksudku, saat itu Black Samurai mengendalikan kepolisian kita, bagaimana mungkin Kichigai membiarkan anak buahnya -” Ucapan Clara terputus saat ia kepikiran sesuatu yang menjawab pertanyaannya. “Ya, Bojan. Saat itu Bojan yang mengusulkan papa untuk live streaming di gedung bekas bioskop itu. Pasti ia mendapat perintah secara langsung dari Kichigai untuk mengatur penangkapan Il Dio dan mereka memperalat papa.”
“Wah, mantan tunanganmu itu memang brengsek. Ia membahayakan calon mertuanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tidak seperti aku yang sayang pada papa dan mamamu.”
“Tapi sayangnya, mereka menyukai Kapten Rian,” celetuk Clara yang membuat Jonathan terkejut hingga berdiri dari tempat duduknya. “Sekarang kirim foto-foto itu pada kapten Rian. Tambahkan juga rekaman percakapan Il Capitano di telepon tadi. Dan G:0, sekarang waktunya. Lumpuhkan mereka agar tak bisa melarikan diri sampai polisi datang.”
G:0 segera menjalankan perintah. Ia menampakkan diri pada para pekerja Il Capitano dan para kru kapal ikan itu. Tanpa perlawanan berarti, G:0 berhasil membuat mereka tak bergerak dengan memperberat kaki mereka. Termasuk sang bos yang hampir saja melarikan diri.
“Oke, urusan dengan Il Capitano selesai. Lalu bagaimana dengan ayahmu?”
Clara tidak langsung menjawab. Ia terlihat berpikir sejenak lalu tersenyum kecil dan berkata, “Sepertinya aku tahu di mana dia sekarang.”