
Anggota dewan Prabu Arjuna baru keluar dari kantornya seraya mengurut belakang lehernya yang terasa pegal. Malam ini ia harus lembur karena harus mempelajari banyak dokumen untuk rapat besok. Ya, besok ia harus menyetujui apa yang selama ini ia tentang dan ia perlu mereset pandangannya untuk mengarahkan ke jalan yang berbeda.
Ia berjalan melalui pintu keluar dan seorang satpam memberikan salam padanya. Ia tahu, satpam itu bukanlah orang baik, melainkan salah satu anggota dari organisasi yang menculiknya beberapa minggu yang lalu.
Kemudian ia naik mobil dan melajukannya. Sopir pribadinya telah ia suruh pulang duluan karena tadi ia tak bisa memastikan akan pulang jam berapa. Melalui kaca spionnya, ia bisa melihat sebuah taksi mengikutinya sejak keluar dari pekarangan kantor dewan. Tentu saja, sopir taksi itu adalah anggota organisasi yang sama dengan satpam tadi. Mereka pasti ingin memastikan dirinya tidak melakukan tindakan yang melanggar kesepakatan mereka, seperti melaporkannya pada pihak lain. Polisi, misalnya.
Prabu Arjuna sampai di rumahnya, disambut dengan hangat oleh istri dan kedua putrinya.Ia masuk ke dalam dan membersihkan dirinya lalu makan malam bersama keluarganya. Ketika hari sudah larut malam, ia ke kamar tidurnya untuk beristirahat. Tidak terjadi sesuatu yang istimewa.
Tengah malam, Prabu Arjuna terbangun dan keluar dari kamarnya dengan perlahan agar tak membangunkan istrinya yang memang peka terhadap suara ketika tidur. Sekeluarnya dari kamar, ia berjalan dengan tetap perlahan sambil sesekali memeriksa sekelilingnya. Kemudian ia masuk ke ruang kerjanya.
Keadaan di dalam ruangan cukup gelap. Ia mencari tombol saklar dan menyalakan lampu. Meski sudah menduganya, ia masih saja terkejut ketika melihat sosok misterius sedang duduk di kursinya. Sosok itu sudah menunggu cukup lama dan Prabu Arjuna mengetahuinya.
“Aku akan membantumu jika kau bisa menjamin keselamatanku dan keluargaku,” kata sang anggota dewan pada sosok itu.
“Tentu saja. Kau pasti sudah tahu siapa aku dan bagaimana reputasiku.”
“Ya, karenanya aku percaya padamu, G:0.”
* * *
Beberapa jam sebelumnya
“Kau bisa melihatnya?” tanya Clara pada Grafit.
Saat ini mereka sedang berada di atap gedung studio foto yang kebetulan berhadapan dengan kantor dewan. Berdasarkan pantauan Cameron DiePie, kamera canggih terbaru buatan Jonathan, jendela ruangan Prabu Arjuna dapat dilihat dari jalan raya. Mungkin itu alasan orang-orang Kraken berkumpul di taman kota, karena itu adalah lokasi paling dekat dengan jendela kantor Prabu Arjuna di luar kawasan kantor dewan.
“Aku melihatnya.” Grafit sedang melihat bagian luar jendela kantor Prabu Arjuna dengan bantuan Cameron DiePie yang terhubung dengan kacamata yang ia kenakan sekarang.
“Kau bisa menggerakkan pena yang ada di dekatnya dan menuliskan sesuatu?”
“Tergantung angin.”
Grafit mulai berkonsentrasi dan melakukan yang diperintahkan Clara. Sangat sulit karena kemampuannya bukanlah menggerakkan benda dari jauh sesuai keinginannya. Ia hanya bisa mengendalikan gravitasinya. Artinya, ia tidak memiliki masalah menggerakkan benda secara vertikal, tapi ia membutuhkan bantuan angin untuk menggerakkannya secara horizontal.
Untungnya, Grafit berhasil melakukannya, meski tulisan yang ia buat cukup berantakan. Prabu Arjuna yang melihat bagaimana pena itu bergerak sendiri sejak awal sempat tercengang. Namun, ketika melihat ada nama G:0, ia merasa sedikit tenang. Ia sudah mendengar tentang pahlawan super itu dan ia yakin mereka memiliki prinsip kebenaran yang seiring.
Selain perkenalan diri, Grafit juga menulis tentang bagaimana ia tahu kalau sang anggota dewan sedang dalam tekanan organisasi jahat bernama Kraken. Ia juga tahu kalau banyak anggota Kraken yang berada di sekitarnya untuk mengintai. Selanjutnya, Grafit menuliskan beberapa instruksi yang harus dilakukan Prabu Arjuna agar mereka bisa bertemu dan berbicara secara langsung.
[Apakah ia mempercayai kita? Jangan-jangan ia justru melapor kepada Kraken dan mereka menjebak kita.] kata Jonathan dari seberang telepon.
“Untuk itu, kita juga tidak boleh terlalu mempercayainya. Kita tetap harus berhati-hati, karena saat ini hanya dialah harapan kita satu-satunya untuk mengetahui rahasia tentang Kraken. Demikian juga kita, harapan dia satu-satunya untuk menyelamatkannya.”
* * *
“Aku juga baru tahu kalau organisasi itu benar-benar ada dan benar-benar mengerikan. Jauh lebih mengerikan dari yang kubayangkan. Mereka tak segan-segan untuk membunuh. Bukan, bukan hanya membunuh, mereka bisa melakukan lebih kejam dari itu. Mereka menghancurkan hidup seseorang hingga orang itu berharap mati tapi tidak bisa mendapatkannya. Selama seminggu aku dipertunjukkan hal-hal yang tak pernah dan tak ingin kulihat seumur hidupku.”
Clara dan Jonathan saling menatap. Ia tidak menyangka penggambaran Kraken dari orang yang pernah melihatnya seseram itu. Ketakutan yang dulu pernah ada di hati mereka terhadap organisasi itu kembali muncul. Padahal cerita yang mereka dengar belum terlalu detail.
“Apakah mereka benar-benar menyusup di lembaga-lembaga pemerintahan?” tanya G:0 sesuai arahan Clara.
“Menyusup? Mereka menguasai pemerintah. Eksekutif, legislatif dan yudikatif sudah berada di bawah kaki mereka. Segala keinginan mereka akan terwujud melalui peraturan dan undang-undang. Sektor-sektor penting berjalan di dalam kendali mereka. Memang ada beberapa pejabat yang berada di luar mereka, tapi mereka akan hidup jika tidak mengusik keinginan Kraken. Banyak contoh pejabat yang mencoba menentang, tapi akhir hidupnya buruk. Kondisi sepertiku saat ini merupakan hukuman terbaik yang bisa mereka berikan.”
G:0 tidak hanya diam, menunggu perintah dari Clara dan Jonathan yang semakin takut pada penjelasan terbaru tentang Kraken. Tapi mereka kembali sadar setelah G:0 memanggil.
“Lalu, apa yang mereka rencanakan terkait undang-undang tentang modernisasi sistem pendidikan nasional?”
“Mungkin kau pernah dengar kalau sebelum diculik, aku menentang rancangan undang-undang itu. Kecurigaanku selama ini ternyata benar, bahkan lebih parah. Kraken berencana mendoktrin para generasi muda tentang kebaikan narkoba, judi, prostitusi, game online dan kehidupan modern lainnya yang tentu saja sangat menguntungkan bisnis-bisnis gelap mereka. Bahkan mereka juga berencana untuk memotivasi para generasi muda bergabung dalam sebuah pertempuran dan pada akhirnya itu akan menggiring mereka untuk menjadi anggota Kraken. Tentu saja mereka melakukannya dengan cara yang sangat halus dan terlihat secara kasat mata.”
Ketika mereka sedang berbicara, sebuah benda menerobos ke ruangan itu melalui jendela. G:0 langsung menyadari jika benda itu berbahaya dan melemparnya kembali ke luar. Dan benar saja, benda itu meledak. G:0 dengan sigap memasang badannya sebagai tameng untuk melindungi sang anggota dewan.
“Katamu sudah aman!” teriak Prabu Arjuna. Demikian juga yang dikatakan G:0 pada Jonathan.
[Sial, dia memasang penyadap di tubuh pak Prabu tanpa beliau ketahui. Alat pendeteksi sinyalku tidak cukup canggih untuk mendeteksi penyadap di dalam tubuh seseorang.]
Tiba-tiba lima orang dengan pakaian ala robot melompat masuk ke ruangan tersebut melalui jendela yang sudah hancur karena ledakan tadi. Jonathan segera mendeteksi wajah mereka, dan tak salah lagi kalau mereka adalah Hartono, Dahlan, Ferry, Cahyo dan Toni.
“Wah, wah, wah, sepertinya ada yang baru melanggar janji,” kata Toni yang memegang sebuah pistol berukuran besar.
“Siapa kalian?” tanya G:0 pada para pria berkostum aneh itu..
“Kami adalah Vanishers. Tugas kami adalah melenyapkan para pengkhianat sepertinya.”
“Vanishers? Bahasa apa itu?” tanya G:0 pada Clara dan Jonathan.
[Itu adalah bahasa asing.]
“Ada apa dengan para penjahat ini? Black Samurai, Kichigai, Kraken, Dancing Shadow dan sekarang The Vanishers. Kenapa kalian tidak pakai nama lokal saja? Apakah kalian tidak mencintai negeri ini? Aku benci bahasa asing,” gerutu G:0 yang membuat The Vanishers kebingungan. “Apapun itu, aku akan menghajar kalian. Musik!”
Clara bingung dengan kata terakhir yang diucapkan G:0. Sementara itu Jonathan tersenyum sambil menekan salah satu tombol di keyboardnya. Kemudian terdengar lagu Blue Bird yang disenandungkan sebuah band Jepang bernama Ikimono Gakari dan lebih dikenal sebagai lagu pembuka anime Naruto.
Lalu G:0 mulai berlari ke arah The Vanishers untuk melepas serangan.