G:0

G:0
SECARIK UNDANGAN



Clara sedang menelepon Jonathan untuk membahas tentang keberadaan Pak Presiden di acara yang diadakan ibunya tiga hari yang lalu saat Grafit hampir selesai berpose untuk pemotretan salah satu brand sepatu olahraga. 


“Kau yakin ia sempat berbicara lama dengan Kapten Rian?”


[Yakin. Aku sudah memeriksa rekaman CCTV yang kau berikan tadi. Dan aku juga melihat bagaimana kerasnya kapten bermuka dua itu menjilat mamamu. Luar biasa menjijikkan.]


“Ya sudah, nanti kita bicarakan lagi tentang itu. Lalu, bagaimana perkembangan pencarian orang tua Grafit?”


[Seperti yang pernah kukatakan, cukup sulit meretas sistem komputer di kepolisian. Dan seperti yang pernah kukatakan, untung saja aku adalah jenius yang bisa meretas bukan hanya email atau situs, tapi sistem keamanan setingkat FBI. Eh, terlalu berlebihan. Tapi intinya, meretas sistem komputer sekelas polres tidaklah sulit. Sekarang aku sudah terhubung dengan database seluruh laporan yang pernah masuk. Sayangnya, data yang masuk hanya sampai dua puluh tahun terakhir. Kita tidak tahu kapan Grafit diculik. Jika terjadinya lebih dari dua puluh tahun yang lalu, bisa jadi berkasnya masih dalam bentuk hard copy.]


“Ya, aku lupa bilang kalau sia-sia mencari informasi dari polres Dragokarta. Kemungkinan besar orang tuanya melaporkan kehilangan itu di tempat kejadian. Kita harus mencari waktu khusus untuk ke sana dan mencari informasi di kantor polisi setempat.”


Grafit memanggil namanya untuk memberitahu kalau pemotretan sudah selesai. Clara sedikit terkejut dan berharap Grafit tidak mendengar percakapannya dengan Jonathan itu.


“Baiklah, kau ke mobil duluan. Aku ingin bicara sebentar dengan Dicky tentang jadwal pemotretan selanjutnya.”


Grafit tidak menunggu Clara begitu lama. Hanya beberapa menit setelah ia masuk mobil, Clara sudah datang. Ia langsung memberitahukan secara singkat konsep pemotretan selanjutnya. Setelah itu, mereka sepakat untuk singgah di sebuah supermarket guna membeli beberapa kebutuhan sehari-hari, termasuk cemilan.


Mesin mobil sudah dinyalakan dan Clara memasang sabuk pengamannya. Sebelum ia mengunci pintu mobilnya, tiba-tiba seorang pria membuka pintu belakang dan masuk. Ia langsung merebahkan tubuhnya di jok belakang. Clara dan Grafit yang terkejut segera membentaknya. Tapi pria itu tidak menggubris. Clara bahkan mengeluarkan ancaman untuk memanggil polisi. Mendengar kata polisi, pria itu membalikkan wajahnya. Kini mereka semakin terkejut.


“Pak Presiden?!”


*          *         *


Pandangan Tarjo mengitari ruang tamu apartemen Clara. Tubuhnya sedikit membungkuk dan mata kakinya tak berhenti naik turun, mengindikasikan kecemasannya. Tak tahu penyebabnya karena tatapan tajam Clara yang sedang duduk di seberang meja atau memang ia membawanya dari luar.


“Jadi, Pak Presiden?”


Tarjo tertawa cengengesan karena dipanggil Clara seperti itu. “Saya bukan Pak Presiden. Panggil saja saya Tarjo.” Pria itu langsung berhenti tertawa ketika Grafit ikut menatapnya tajam.


“Oh, saya pikir Bret Pit atau Jek Sperow,” sindir Jonathan. yang membuat Tarjo semakin malu. Rasa malu yang berubah menjadi takut ketika melihat Grafit.


“Maafkan aku, Grafit. Aku sudah membohongi kalian.”


“Kau tahu bagaimana perasaan guruku ketika tahu kau adalah penipu? Beliau sangat malu. Bahkan beliau sampai berpuasa sangat lama pada para leluhur karena merasa gagal menjaga martabat kaum Miel yang legendaris dan menganggap manusia rendah sepertimu sebagai dewa selama belasan tahun.”


“Maaf.”


“Kami takkan memaafkanmu! Kau tahu bagaimana kami rutin melakukan ritual bodoh untuk menghormatimu?”


Clara tak bisa menahan tawanya karena pernah melihat ritual itu. Jadi setiap sore menjelang awal bulan purnama, Grafit dan gurunya akan meletakkan sebuah nampan berisi barang-barang yang dibawa Tarjo lalu menghormat ke langit sambil menyenandungkan lagu We Are The Champion sambil menutup mata dengan wajah penuh khidmat. Clara selalu tertawa ketika mengingatnya.


Untuk tuduhan ini, Tarjo tidak terima. “Ya, aku memang mencuri batu itu dan memberikannya pada Kichigai. Tapi awalnya aku tidak tahu jika yang ia lawan adalah kau karena kupikir kau akan selamanya di hutan rahasia. Aku pikir ada kaum Miel yang lain. Makanya, ketika aku tahu G:0 adalah kau, aku tetap tidak memberitahukan identitasmu pada Kichigai. Bahkan binatang akan ingat dengan orang yang telah menyelamatkannya. Aku masih lebih baik dari binatang.”


Clara, Jonathan dan Grafit masih menatapnya tajam. Mereka harus berhati-hati agar tidak langsung percaya, meski Tarjo mengatakannya dengan meyakinkan. 


“Kalau kalian masih meragukanku, silakan saja Grafit menghilangkan ingatanku dan membuangku ke jalan. Meski pengalaman di hutan rahasia adalah kenangan terindah sepanjang hidupku, aku rela untuk melepasnya untuk selamanya,” lanjutnya. Mereka pun mulai luluh.


“Jadi, kenapa sekarang kau tiba-tiba datang menemui Grafit?”


“Eh, jadi begini, aku mengatakan sesuatu yang disalahpahami oleh orang sehingga orang itu memberikanku kesempatan untuk memindahkan suatu barang yang ternyata milik orang lain yang kebetulan sangat kejam dan tidak suka barang miliknya disentuh. Dan sekarang, aku dikejar oleh pemilik barang itu.”


“Bilang saja kau menipu dan mencuri,” bentak Clara sambil menggebrak meja, membuat Tarjo sampai melompat karena terkejut dan takut.


“I, iya.”


Clara masih menunjukkan kemarahannya, Jonathan menganga karena tidak percaya manusia seperti itu ternyata bukan mitos, sedangkan Grafit hanya bisa menggeleng kepala karena orang yang pernah ia hormati adalah pecundang sejati.


“Siapa yang kau tipu, apa yang kau curi, di mana barang itu sekarang dan siapa pemiliknya? Kami takkan sudi melindungimu jika tidak tahu kejadian sebenarnya. Kami tidak ingin dimanfaatkan. Jika kau menolak untuk menjawab atau menipu kami juga, kami akan menghilangkan ingatanmu dan membuangmu ke jalan sekarang juga,” ancam Clara.


“Baik, baik. Akan kuceritakan,” ujar Tarjo dengan nada ketakutan. “Beberapa hari yang lalu, salah satu temanku yang mabuk bercerita kalau ia ditugaskan untuk menjemput barang berharga yang akan diantarkan seseorang dari ibukota untuk salah satu pejabat di Dragokarta. Mendengar itu, aku berpura-pura menjadi temanku dan menjemput barang itu dari seseorang yang ciri-cirinya sesuai dengan yang diceritakan temanku itu. Untung saja, pengantar barang itu tidak mengenal temanku. Jadi, ia menyerahkan barang itu begitu saja padaku ketika aku memperkenalkan diri.”


“Barang apa itu?”


“Ternyata bukan barang berharga. Hanya amplop berisi secarik kertas undangan. Karena tak mungkin mengembalikannya, aku menyimpan amplop itu ke suatu tempat.”


“Lalu, siapa pemilik barang itu?”


“Aku juga tidak tahu. Yang pasti, orang itu sangat kejam. Ia bahkan membunuh temanku. Bayangkan, mereka membunuh temanku hanya karena secarik kertas undangan. Yang lebih mengherankan adalah: bahkan temanku sendiri tidak tahu kalau aku yang mengambil amplop itu. Bagaimana mereka bisa tahu dan mengejarku? Padahal aku hanya memberitahu Kapten Rian saja.”


“Kapten Rian?!” Clara, Jonathan dan Grafit berteriak karena mendengar nama itu.


“Ya, polisi yang sering masuk televisi itu. Aku adalah penjahat favoritnya karena sering menjadi informannya. Dan beberapa hari yang lalu, ia mengundangku ke sebuah acara dan menanyakan tentang amplop itu. Kebetulan, karena amplopnya ada padaku dan karena menurutku itu tidak berharga, jadi aku memberitahukan semuanya dan berencana menyerahkan amplop itu padanya.”


Clara dan Jonathan saling pandang. Mereka memiliki pemikiran yang sama setelah mendengar cerita dari Tarjo itu. Kemudian Clara mencoba menebak, “Apakah di undangan itu ada tulisan kongres, Kraken atau sejenisnya?”


“Ya, benar. Seperti katamu, di sana ada tulisan Kongres Kraken. Memangnya itu apa?”


Tidak salah lagi, itu pasti undangan kongres yang diadakan Kraken dan ditujukan untuk Kapten Rian, salah satu anggota mereka. Skuad G:0 benar-benar tidak menduga keberuntungan mereka datang dengan sendirinya. Akhirnya, mereka menemukan jalan untuk menemukan organisasi itu. Bau kemenangan sudah mulai tercium.