G:0

G:0
PRA KEJADIAN



Clara, Jonathan, Grafit dan Rosalia hanya bisa tercengang ketika melihat berita di televisi tentang rencana sebuah perusahaan bernama Kraken yang menawarkan diri untuk membantu beberapa bank dengan menyuntikkan dana besar. Di kepala mereka sudah terbayang bagaimana Kraken akan semakin berkuasa di Dragokarta.


“Kita harus segera menemukan Muzic Box dan mengungkapkan kejahatannya,” kata Clara. “Jo, kau punya petunjuk baru?”


Jonathan mengangkat laptopnya dan mulai memainkan jemarinya di atas keyboard. Ia lalu mengarahkan monitornya pada Clara. “Aku berhasil menemukan celah enkripsi alamat IP-nya dan sedang dalam proses dekripsi. Hanya saja sepertinya akan memakan waktu yang cukup lama. Tapi berdasarkan hasilnya untuk sejauh ini, kita mendapatkan setidaknya ratusan kemungkinan alamat IP-nya.”


“Dengan kata lain, kita bisa mempersempit tersangka. Hanya saja, ratusan masih jumlah yang cukup besar. Kita perlu faktor untuk mengeliminasi lebih banyak lagi.”


Rosalia yang sejak tadi tidak berani banyak bicara karena masih merasa bersalah atas perbuatannya terhadap Grafit mulai bersuara, “Beberapa hari yang lalu aku pernah berkata tentang beberapa kejadian yang sebenarnya menjadi penyebab Rush Money dan lagu dari Muzic Box hanyalah pemicunya. Apakah ada kemungkinan kalau kekacauan yang disebabkan oleh lagu Muzic Box lainnya punya ‘pra kejadian’ juga?”


“Mungkin saja. Lagu-lagu bukanlah cara hipnotis yang cukup kuat, bahkan oleh penghipnotis selevel Siren sekalipun. Ia membutuhkan beberapa kejadian pendukung untuk memberikan sugesti pada korbannya.”


Clara dan Jonathan saling pandang. Yang dikatakan Rosalia sangat masuk akal dan membantu.


“Ya, kita harus cari tahu tentang itu. Mungkin kita akan menemukan orang yang sama terlibat dalam beberapa kejadian tersebut. Jonathan, kau periksa kejadian sebelum kasus pengeboman. Rosalia, kejadian sebelum kasus pemerkosaan. Aku akan mengusut kejadian sebelum kasus ratusan pelajar yang membolos dan penusukan seorang hakim.” Clara memandang Rosalia dengan senyuman sambil menepuk pundaknya. “Kerja bagus, Kawan.”


Mereka pun sama-sama sibuk mengutak-atik laptop dan ponsel masing-masing untuk mencari semua kejadian yang berkaitan dengan kekacauan yang ditimbulkan oleh lagu-lagu Muzic Box. Hanya Grafit yang terdiam saja sambil melihat mereka karena tidak memiliki gawai pribadi dan masih cukup gaptek untuk mencari-cari informasi melalui alat-alat komunikasi canggih itu.


“Pada kasus pengeboman beberapa kantor polisi, sebelumnya ada berita tentang pemuda yang dihajar oleh oknum polisi karena melakukan unjuk rasa sendirian untuk menuntut sebuah perusahaan rekaman. Menurut pengakuan oknum polisi tersebut, ia terpaksa melakukannya karena si pemuda sudah mulai bertindak anarkis. Kemudian ada beberapa kabar tentang lambatnya polisi dalam memproses laporan dari masyarakat sehingga ramai tagar #janganlaporpolisi di internet.”


“Untuk kasus meningkatnya pemerkosaan, aku mulai berkonsentrasi sebelum lagu Cinta Kita Kuat Bagai Maut. Selama seminggu sebelum lagu itu rilis, tiba-tiba muncul beberapa konten-konten vulgar di beberapa akun media sosial. Menurut para pemilik akun, mereka tidak pernah memposting konten-konten tersebut. Selain itu, di media sosial ramai pembahasan dengan tema sensitif tentang wanita yang disalahkan dalam kasus-kasus pemerkosaan karena banyak di antara mereka yang menggunakan pakaian-pakaian seksi. Ramai sekali netizen yang terlibat dalam perdebatan tentang topik itu.”


“Untuk kasus ratusan siswa yang bolos, aku menemukan ada rumor tentang kebijakan dari dinas pendidikan tentang penambahan jam sekolah dan larangan bagi siswa untuk membawa ponsel ke sekolah. Dan rumor itu tidaklah benar. Sedangkan untuk kasus penusukan hakim, hanya ada berita tentang ayah pelaku yang pernah dihukum oleh hakim korban penusukan dan mereka merasa vonis yang diberikan tidak adil. Tapi yang menariknya adalah si pelaku sebelumnya tidak suka mendengar musik dan lagu Nyanyian Anarki Sore Ini adalah lagu favorit pertamanya yang direkomendasikan oleh seorang teman Facebook-nya.”


“Biar kutebak, temannya itu bernama Pandu.”


Clara menatap Pandu lalu melebarkan senyumannya. “Benar sekali. Saat aku menelusuri akun Facebook-nya, ia pernah membagikan berita tentang kebijakan hoaks dari dinas pendidikan tersebut. Apakah dia adalah seseorang yang spesial?”


“Ya, dia adalah pemuda yang melakukan unjuk rasa sendirian dan dihajar oleh oknum polisi itu. Dia juga pernah menyebarkan konten-konten vulgar di media sosialnya. Aku akan mencoba melacak alamat IP-nya. Jika identik dengan salah satu alamat IP yang sedang kudekripsi, maka tak diragukan lagi kalau dia adalah Muzic Box.”


Jonathan kembali menenggelamkan diri dengan laptopnya. Terdengar bunyi hentakan jari-jarinya yang diiringi oleh harapan dari rekan-rekannya yang lain. Hingga akhirnya ia berhenti mengetik dan menunjukkan wajah tersenyum.


*          *         *


“Pandu Nirwana, seorang mantan pegawai di sebuah manajemen artis terkenal yang salah satu artisnya adalah Foxtrot, DJ terbaik di Dragokarta sebelum Muzic Box muncul. Dia dipecat karena dituduh menipu dan mencuri uang kantor. Beberapa minggu setelah dia dipecat, lagu perdana Muzic Box dirilis. Menurutku itu bukan sebuah kebetulan.”


Clara, Grafit dan Rosalia setuju dengan pendapat Jonathan. Mereka sangat yakin jika pria yang bernama Pandu itu adalah Muzic Box mengingat sudah terlalu banyak kebetulan-kebetulan yang mengarah padanya. Apalagi setelah mereka mendengar kabar tentang merosotnya penjualan album terbaru Foxtrot yang berimbas pada jatuhnya saham bekas manajemennya, mereka yakin Siren memanfaatkannya untuk membuat kekacauan sebagai Muzic Box.


“Kau mendapatkan alamatnya?” tanya Clara.


“Jika sudah mendapatkan alamat IP-nya, tidak sulit bagiku untuk melacak posisinya. Menurut aktivitas komputernya, ia terakhir online tadi malam sekitar pukul sepuluh di kampung Purnama, sekitar pinggir kota. Aku tak bisa mendapatkan alamat pastinya karena itu adalah kawasan kumuh yang tidak terdeskripsi oleh layanan peta online mana pun.”


“Akan sulit bagi G:0 untuk ke sana tanpa mengetahui lokasi pastinya. Apalagi ia tidak pernah ke sana. Kehadirannya akan terlihat mencolok bagi warga sana, terutama di siang hari” gumam Clara.


“Biar aku saja. Aku kenal daerah itu dan sering ke sana,” usul Rosalia.


“Berarti kau ke sana sebagai Rosalia? Itu sangat berbahaya. Clara, segera buat kostum kamuflase untuk Bad Girl,” kata Jonathan dengan nada panik. Clara tidak menjawab, ia hanya tersenyum.


“Kau tak perlu mengajari ikan berenang.”


Clara menarik salah satu kancing baju Rosalia dan dengan cepat seluruh pakaian kasualnya berubah menjadi kostum Bad Girl. Semakin lengkap ketika ia mengeluarkan topeng dari saku dan mengenakannya.


“Luar biasa!” kata Jonathan yang tercengang bersama Grafit. “Lebih cepat berubah dibandingkan kostum G:0.”


“Tentu saja, karena desainnya yang sederhana dan tubuh Rosalia yang bisa dikatakan sangat proporsional, jadi perubahannya bisa dibuat seefisien mungkin. Yang rumit adalah sabuknya, karena berisi berbagai macam senjata dan sangat sulit untuk menyembunyikannya. Ia harus membawa-bawa sabuk itu di tasnya dan menurutku itu sangat merepotkan. Tapi aku akan segera menemukan solusinya.”


“Ada masalah yang lebih penting untuk saat ini. Bagaimana jika mereka memasang jebakan yang sama dan Bad Girl dihipnotis lagi?” tanya Grafit


“Tenang saja, aku sudah punya solusinya,” ujar Jonathan sambil tersenyum membuat rekan-rekannya penasaran dengan solusi yang ia maksud. “Panic! at the Disco.”