G:0

G:0
TERTANGKAPNYA PINOKIO



“Dia menolak untuk memberi kesaksian,” kata Clara menirukan ucapan Kapten Rian padanya tadi.


“Menolak? Bukankah kemarin dia sendiri yang berteriak-teriak memanggil nama penjahat itu?”


“Entahlah. Kondisinya saat ini seperti seseorang yang sedang ketakutan.”


Grafit belum memberikan pertanyaan atau pendapat apa pun. Ia hanya termenung membayangkan kondisi tubuh Tarjo. Meski telah dua kali mengkhianatinya, Grafit pernah sangat menghormati pria yang dipanggilnya Pak Presiden itu. Ia merasa iba dengan apa yang baru saja dialami Pak Presiden.


Kemudian Grafit mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan. “Aku harus bertemu dengannya.”


Clara dan Jonathan hanya memandangnya dengan mulut menganga dan mata terbelalak. Mereka tahu kalau itu tak mungkin. Kini Tarjo berada di bawah pengawasan ketat dari kepolisian. Takkan mudah untuk bertemu dengannya.


“Aku tahu kau mengkhawatirkan kondisinya. Tapi Kapten Rian tadi memastikan dia tidak apa-apa. Hanya beberapa luka yang tidak parah dan mentalnya yang masih sedikit trauma. Aku pasti akan mengatakan padamu jika ada sesuatu yang berbahaya. Kau tak perlu menjenguknya.”


“Tidak, aku tidak ingin menjenguknya. Aku ingin bertanya padanya tentang penjahat itu. Jika dilihat dari teriakannya kemarin, aku tahu kalau dia hanya bisa mengandalkanku. Mungkin jika aku yang bertanya padanya, ia mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa penjahat itu menyiksanya.”


Akhirnya Clara dan Jonathan mengerti, Grafit mengajukan permintaan itu bukan karena keinginan emosionalnya, tetapi untuk memecahkan kasus ini. Mereka pun berpikir kalau itu bukanlah ide yang buruk dan harus dicoba.


“Bisa saja, jika dia datang sebagai G:0,” kata Jonathan.


“Ya, benar. Aku akan segera menghubungi Kapten Rian.”


Clara segera mengambil ponselnya dan menghubungi polisi nyentrik itu. Setelah beberapa menit berbicara, akhirnya Clara menutup ponselnya sambil tersenyum. Terlihat ia memiliki kabar baik.


“Kapten Rian juga berpikir itu adalah ide yang sangat bagus. Membuat Tarjo membuka mulut akan sangat membantu kita untuk mengungkap identitas Sang Pendongeng. Kalau begitu, segera siapkan kostummu. Kami juga akan bersiap-siap di markas.” Clara dan Jonathan terlihat sangat antusias. Mereka segera membuka pintu rahasia markas. Namun Grafit belum bergerak sedikit pun.


“Sebaiknya aku pergi tanpa alat komunikasi. Bahkan aku butuh alat pengacau sinyal untuk memastikan tidak ada yang menyadap pembicaraan kami, termasuk polisi.”


Clara dan Jonathan mematung dan bingung harus memberi respons seperti apa. Mereka saling pandang dan akhirnya memaklumi keinginan Grafit itu. Sepertinya Grafit bukan hanya ingin membahas tentang Sang Pendongeng. Pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakannya pada Tarjo dan itu pasti sangat pribadi. 


“Baiklah. Tapi ingat, jika ada sesuatu yang berbahaya atau yang aneh, segera aktifkan alat komunikasinya,” pinta Clara yang dijawab dengan anggukan kepala Grafit.


Dan suasana di ruangan itu mendadak terasa suram.


*          *         *


Rumah sakit tempat Tarjo dirawat terlihat cukup sibuk. Kabar tentang rencana kedatangan G:0 ke tempat itu, entah bagaimana, sudah tersebar dengan cepat. Para wartawan sudah menunggu di luar rumah sakit. Sebelumnya mereka sudah memenuhi lobi dan beberapa di antaranya sempat memaksa untuk ke kamar Tarjo. Guna menghindari kekacauan yang tak diinginkan, Kapten Rian berinisiatif untuk ‘mengusir’ para wartawan dengan alasan kenyamanan para pasien yang lainnya. 


Kamar Tarjo sendiri kini dijaga ketat oleh beberapa polisi. Mereka bersiaga di depan pintu kamar dan dilarang masuk agar Tarjo bisa nyaman berbicara dengan G:0. Saat ini Tarjo sudah dalam keadaan sadar dan sedang menonton televisi. Sejak disampaikan oleh Kapten Rian kalau G:0 akan datang untuk berbicara dengannya, ia menjadi lebih tenang dan tak sabar menanti kedatangan pahlawan super itu.


Tiba-tiba angin bertiup kencang sehingga membuka jendela kamar. Tarjo sempat terkejut lalu kembali menonton. Ia sadar kondisi tubuhnya belum seratus persen pulih sehingga akan sangat melelahkan baginya untuk sekadar beranjak dari ranjang dan menutup jendela itu.


“Pak Presiden.”


Pose yang keren, batin Tarjo.


“Grafit. Lama tak bersua. Apa kabarmu? Seharusnya, jika kau menjenguk orang sakit, kau harus membawa buah. Tapi aku maklum karena kau adalah kau. Anggap saja itu pelajaran untuk ke depannya.”


Tak disangka, Grafit tidak bersikap ramah seperti biasanya. Ia menarik kerah baju Tarjo dan mengangkatnya. Tarjo sampai mengerang kesakitan karena bajunya yang tertarik mengenai permukaan kulit tubuhnya yang dipenuhi bekas luka. 


“Setelah kau mengkhianatiku dua kali, kau masih tidak merasa bersalah?”


Tarjo adalah penipu ulung. Dia menipu bahkan sebelum ia mengecap bangku sekolah. Sebagai seorang penipu, ia bukan hanya memiliki keahlian berpura-pura, tapi ia juga harus bisa membaca pikiran orang lain. Seperti saat ini, ia tahu G:0 alias Grafit tidak marah padanya karena ia berkhianat.


“Katakan saja sejujurnya. Apakah ada kaitannya dengan wanita bernama Patricia itu?”


Grafit terkejut karena yang dikatakan Tarjo sangat benar. Ia sedikit bersyukur karena saat ini Clara dan Jonathan tidak mendengar pembicaraan mereka.


“Apa saja yang telah kau katakan padanya?” tanya Grafit sambil mengencangkan genggaman tangannya pada kerah baju Tarjo.


“Tidak ada. Aku hanya mengatakan apa yang ingin kukatakan, dan kebetulan sama dengan apa yang ingin didengarnya,” jawab Tarjo santai, seakan tidak merasa terancam sedikit pun. “Siapa sangka dia adalah salah satu anggota terpenting Kraken. Aku masih ingat bagaimana tak berdayanya ia saat disandera oleh Kichigai. Dia sangat -”


Grafit seakan tidak membiarkan Tarjo melanjutkan ucapannya dengan mempererat genggamannya sehingga ia Tarjo kesulitan untuk berbicara. Ia sudah cukup marah kepada pria itu karena memberitahukan identitasnya sebagai G:0 pada Patricia. Meski Tarjo tak ada hubungannya dengan status Patricia sebagai Geppetto, kaki tangan Kraken, tapi karena pria itu Grafit hampir saja membunuh dan dibunuh oleh Patricia beberapa minggu yang lalu.


“Kita akhiri di sini saja,” kata Grafit. Ia membuka tangan kanannya dan segera menempelkannya ke wajah Tarjo.


“Tunggu! Kau ingin menghapus ingatanku? Aku punya informasi penting tentang Sang Pendongeng dan kau pasti sangat membutuhkannya. Jika kau menghapus ingatanku tentangmu, kau juga akan menghapus pembicaraanku dengannya karena aku memberitahukan identitas aslimu padanya.”


Grafit menghentikan gerakan tangan kirinya setelah mendengar laporan itu. Ia menunggu Tarjo menyelesaikannya. “Katakan semua yang kau ketahui tentangnya.”


Tarjo menghela napas lega. Ia tahu, pengetahuannya tentang identitas asli G:0 sangatlah berharga dan suatu saat akan memberikan keuntungan besar baginya. Tentu saja ia tak ingin kehilangan aset itu. Dan ia tahu, itu akan terjadi jika ia mengatakannya semua yang ia ketahui tentang Sang Pendongeng.


“Aku akan mengatakannya, tapi aku belum bisa mengingat semuanya. Mungkin karena aku masih sedikit trauma. Kau bisa datang kembali besok. Aku yakin besok aku sudah mengingat semuanya.”


Grafit menurunkan tangannya. Wajahnya diarahkan ke jendela, menunjukkan ia sedang berpikir. Tarjo tersenyum karena merasa berhasil mengendalikan situasi. Sekali lagi, ia berhasil menipu Grafit. Ia tinggal menyusun rencana agar besok Grafit tidak bisa menemuinya. Mungkin ia akan berpura-pura pada polisi kalau hari ini G:0 menghajarnya atau mengancamnya.


“Sepertinya aku tidak membutuhkan informasi darimu. Aku akan menangkap orang itu meski tanpa bantuanmu.” Kemudian Grafit kembali mengangkat telapak tangannya ke arah wajah Tarjo.


“Tunggu! Aku tahu rencananya. Bukan hanya kau yang diincarnya. Tapi Hansel dan Gretel!”


Dan telapak tangan Grafit pun menempel ke wajah Tarjo, menghapus seluruh ingatannya tentang Grafit, Clara, Jonathan, gurunya dan hutan rahasia. Ia berjalan pelan menuju jendela sambil membayangkan marahnya Clara dan Jonathan karena ia tak mendapatkan informasi apa-apa tentang Sang Pendongeng.


Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengar nama Sang Pendongeng disebut dalam sebuah breaking news dari televisi. Pembawa acara berita itu mengatakan baru saja terjadi penculikan di sebuah apartemen dan seseorang bernama Sang Pendongeng mengkonfirmasi bahwa dirinya bertanggung jawab untuk itu. Dia juga menantang G:0 untuk menemukannya. Grafit sangat familiar dengan alamat apartemen itu, karena itu adalah apartemen Clara.